Alexander Harper Point of View
Sudah hampir empat puluh menit setelah kami semua menghabiskan hidangan malam ini. Namun tidak ada satupun yang memilih untuk beranjak pergi mengingat betapa seru mendengar cerita masa muda seorang Mike Sterling. Bahkan kami semua begitu tidak percaya bahwa kisah cinta Mike dan juga istrinya begitu menarik. Terutama saat aku mendengar bahwa Mike dulu juga kesulitan untuk mendekati istrinya yang bernama Kimberly itu begitu polos sebelum semuanya berbalik seperti boomerang hingga Kimberly yang pada akhirnya melamar Mike, dengan bantuan Lucas dan Alicia Graves.
Aku terkekeh kecil dan menggelengkan kepala samar. Sesuatu baru saja melintas dalam benakku membuatku memilih untuk berguru kepada Mike, mengingat Jace bukanlah seorang wanita yang muda di dekati. Tanpa berpikir panjang aku segera bertanya, "Apakah ada saran yang bisa kau berikan padaku Paman Mike?"
"Oh kau ingin mendekati seseorang?" Mike balik bertanya padaku sebelum menyesap sedikit anggur merah yang baru saja diisi oleh seorang waitress tanpa mengalihkan pandangan.
"Untuk saat ini, mungkin aku hanya ingin mengenalnya lebih jauh. Hanya saja..." Aku dengan sengaja memberi jeda pada kalimatku. Aku melirik kearah Jace yang duduk di hadapanku sambil memberikan tatapan menyelidik pada wanita itu sebelum menambahkan, "Wanita itu mendadak berubah menjadi singa yang siap menerkam mangsa setiap kami berdua bertemu. Aku jadi sedikit kesulitan untuk mendekatinya."
Benedict dan juga Jean yang sudah paham apa maksud tersembunyi di balik kalimat terakhirku itu langsung menundukkan kepala sembari berusaha menahan senyum. Sementara Jace, aku sudah menduga jika wanita langsung memberikan tatapan tidak mengerti. Namun saat dia menyadari apa maskud dari perkataanku itu. Ia mendengus kesal. Ia melipat tangannya di depan d**a sebelum menyandarkan tubuh. "Wanita itu pasti punya alasan mengapa ia berubah menjadi singa saat bertemu denganmu." balasnya dengan nada tidak mau kalah.
Aku mengangkat sudut bibirku. "Jadi katakan padaku... Kira-kira apa alasan wanita itu berubah menjadi singa saat bertemu denganku?" tanyaku seolah kami berdua benar-benar membicarakan wanita lain, bukan Jace.
"Alasannya sederhana. Kau ingin mengenal wanita itu sementara dia tidak ingin mengenal dirimu. Jadi ia berubah menjadi singa yang siap menerkam agar kau pergi dari kehidupannya. Apalagi, sejauh yang kulihat, kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang melebihi batas rata-rata manusia pada umumnya dan mungkin itu sangat mengganggu." jawabnya. Ia menekankan dua kata pada akhir kalimat membuatku mengerutkan kening samar. Sementara Jace mengangkat sebelah bahu sebagai tanda ia benar-benar serius dengan perkataanya.
Aku jadi mulai berpikir apakah benar selama ini perbuatanku mengganggunya? Bukankah seharusnya dia senang jika aku berusaha untuk mengenalnya di saat wanita lain juga pasti menginginkan hal yang sama?
"Hmmm masuk akal." sahut Mike sambil mengangguk-anggukan kepala membuat Jace tersenyum penuh kemenangan. Namun senyuman itu pergi secepat senyuman itu terukir di bibir Jace saat Mike menambahkan, "Tapi, bersikap seperti itu tidak membenarkan perbuatan wanita itu."
Kini giliran diriku yang mengukir senyuman penuh kemenangan kepada Jace sebelum aku beralih pandangan untuk menatap Mike. "Bukan salahku juga jika aku ingin mengenalnya bukan?" tanyaku mencari pembelaan. "Aku punya hak untuk tertarik dengan wanita itu."
"Benar. Kau punya hak. Jadi seharusnya itu bukanlah masalah. Lalu, untuk masalah kepercayaan diri yang sempat Jace katakan. Sudah sepantasnya jika seorang pria memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Apalagi mengingat Alex adalah seorang pop superstar dengan segala kelebihannya." jawab Mike sambil mengulurkan tangannya padaku seolah menunjukkan pada semua orang apa yang diucapkannya berdasarkan fakta. "Benar bukan, Gabe?"
Gabe mengangguk-anggukan kepala seperti anak kecil. Ia tersenyum lebar selebar bintang iklan pasta gigi. "Benar sekali. Alex dengan segala kelebihannya." jawabnya sebelum meletakkan sebelah siku di atas meja agar dapat bertopang dagu. Kemudian ia mengedipkan sebelah mata membuat Jace melirik sinis kearah pria itu dan menggelengkan kepala tidak percaya.
Aku terkekeh geli. "Aku akui, aku memang memiliki banyak sekali kelebihan." balasku penuh percaya diri. Mungkin bisa dikatakan lebih seperti menyombongkan diri.
Saat itu, Jean yang terlebih dahulu mengetahui jika kakak perempuannya menanggapi jawaban singkat ku dengan dengusan langsung menimpali, "Sepertinya, Jace tidak setuju dengan pendapat paman."
Aku yakin sekali jika saat ini Jace sedang memaki Jean dalam hati. Terbukti dari tatapan matanya yang tajam diarahkan pada gadis itu membuatku berusaha menahan senyum. Kemudian Jace memutar mata sebelum menatap mataku sekilas. "Aku bukannya tidak setuju. Kepercayaan diri memang bagus untuk siapapun. Hanya saja manusia juga perlu untuk merendahkan diri atau kalau tidak hidupnya akan terjerumus ke dalam lubang hitam."
Aku menganggukkan kepala kecil, mengusap dagu. "Kalau begitu, beri aku masukan agar aku tidak terjerumus kedalam lubang hitam seperti yang kau katakan karena terlalu percaya diri" balasku.
"Mudah sekali." kata Jace sambil melipat tangan di depan d**a.
"Mudah sekali..." balasku mengulang kata-kata wanita itu sambil menganggukkan kepala samar. "Baiklah, akan ku dengarkan."
"Seperti kataku sebelumnya. Kau hanya perlu menyadari bahwa tidak semua orang menyukaimu. Buktinya kau tidak hanya memiliki penggemar namun juga pembencimu."
"Sejujurnya, Alex tidak memiliki pembenci." timpal Gabe mencicit membuat Jace segera menoleh menatap pria itu.
"Dia apa?" Jace balik bertanya karena ia merasa tidak percaya dengan perkataan Gabe. Ia kemudian beralih menatap Benedict berusaha untuk mencari jawaban.
Benedict mengangkat sebelah bahu dengan santai. "Gabe mengatakan sesuatu yang benar. Alex tidak memiliki pembenci."
"Kalau begitu, aku katakan pada kalian semua..." Jace menatap kami bergantian satu persatu. "Sekarang, dia memiliki pembenci." tambahnya sambil mengulas senyum licik.
"Siapa?" tanya Gabe heran seolah mewakili apa yang saat ini juga dipikirkan oleh Mike. Terbukti dari ekspresi wajahnya yang kebingungan dengan perkataan Jace. Padahal, yang lainnya seperti Laura dan dua orang dari timku -selain Benedict dan Jean yang memang sejak awal tahu apa yang sedang kami perbincangkan- tampak mulai memahami situasi.
Aku mengangkat bibir nyaris membentuk seringaian ke arah Jace. Aku berdehem pelan untuk berpikir selama beberapa detik. "Aku tidak masalah memiliki pembenci. Tapi..." aku menatap Jace dengan pandangan menyipit sebelum aku menambahkan. "Aku yakin kau pasti tahu jika benci dan cinta itu sangat beda tipis."
Tidak ada sepatah kata keluar dari bibir Jace. Ia malah mengatupkan bibir mungil itu sebelum membuang pandangan ke arah lain dan mendengus pelan. Ia menggelengkan kepala tidak percaya. Sementara Mike, tiba-tiba pria itu bertepuk tangan membuat kami semua mengalihkan pandangan dengan bingung. Bahkan Jace sendiri juga ikut kebingungan.
"Kenapa paman bertepuk tangan?" tanya Jean mewakili kami semua.
Mike menoleh menatap kepadaku dengan takjub. Ia menggeleng kecil sebelum melipat kedua tangannya di depan d**a. "Baru kali ini aku melihat ada orang lain selain Lucas yang berhasil mengalahkan perdebatan kecil dengan Jace."
"Oh aku baru menyadarinya." timpal Jean setengah berseru diikuti dengan Jace yang menatap tajam adik perempuannya itu, lagi.
"Benarkah?" tanyaku pada mereka berdua dengan perasaan bangga.
"Tidak benar. Aku hanya malas berdebat denganmu." balas Jace cepat sebelum Mike ataupun Jean sempat menjawab. "Jadi jangan merasa puas." tambahnya sebelum mencebikkan bibir.
Aku merasa tertantang saat mendengar kalimat itu. Aku tersenyum miring ke arah Jace sambil menelengkan kepala. "Baiklah, kalau menurutmu begitu. Kita lihat saja nanti."
Jace bangkit berdiri sambil menarik serbet berwarna hitam dengan jahitan bordir logo resotran emas pada bagian ujungnya dari atas pangkuan. Ia mengambil Dior Saddle yang sejak tadi berada di belakang tubuhnya saat duduk sebelum menyampirkannya sebatas siku. "Ya. Kita lihat saja nanti." katanya singkat.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Mike.
"Hidangan penutup bahkan belum keluar." timpal Jean sambil mengedarkan pandangan ke seluruh meja. Kemudian kembali mendongak menatap Jace dengan sebelah alis terangkat.
"Aku ada urusan di Wyatt."
"Kalau begitu, Alex akan mengantarkanmu. Aku yakin dia tidak keberatan." kata Jean sembari menendang kakiku dari bawah meja ntuk memberi kode bahwa ini adalah sebuah kesempatan emas untukku.
"Nah! Itu ide yang bagus." tambah Mike sambil menjentikkan jemari. "Tidak baik untuk wanita seorang diri menggunakan kendaraan umum."
Aku mengangguk cepat. "Aku tidak keberatan untuk mengantarmu. Sekalian, ada sesuatu yang harus kubeli di Wyatt." jawabku dengan penuh percaya diri tanpa mengetahui Jace sudah menyiapkan sebuah jawaban yang membuatku segera di jatuhkan dari atas langit.
"Terima kasih kalian semua sudah sangat perhatian kepadaku. Tapi itu semua tidak perlu." Jace sedikit menatapku sekilas sebelum menatap Jean dan Mike bergantian sambil melihat ke arah Lady-Datejust koleksi terbaru Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kananya. "Ryan sudah menungguku di depan."
"Ryan menjemputmu?" Jean melontarkan pertanyaan pada Jace dengan kening berkerut. "Sejak kapan kalian berdua dekat?" tambahnya.
Jace terdiam beberapa detik. Ia mengangkat sebelah bahu dengan santai. "Entahlah. Aku tidak ingat sejak kapan kami berdua mulai dekat." jawabnya. Seolah dengan sengaja, Jace mengalihkan pandangan ke arahku. Ia mengangkat sudut bibir. "Aku hanya ingat kapan aku mulai menyukainya."
Detik itu aku tersedak salivaku sendiri setelah mendengarkan perkataan wanita itu. Jace menyukai pria lain? Aku tidak dapat mengeluarkan sebuah pemikiran bahkan sebuah kata saat Jace melenggang pergi meninggalkan kami semua- lebih tepatnya aku, Benedict, Jean dan Mike sebuah pertanyaan besar yaitu apakah Jace dan pria itu sudah memutuskan untuk berkencan?
Aku hanya bisa memaki dalam hati.
...
Aku sudah melakukan beberapa upaya yang sekiranya dapat membantuku untuk tidur malam ini. Mulai dari membaca buku, mendengarkan musik, minum teh chamomile. Namun semua itu benar-benar tidak membuahkan hasil sama sekali dan malah membuatku semakin terjaga.
Sebenarnya, tujuanku berusaha untuk tidur di pukul sebelas malam ini hanya sebagai cara untuk melarikan diri dari pikiran menyebalkan yang menggangguku sejak makan malam tadi. Lebih tepatnya disaat mengetahui fakta bahwa Jace menyukai seorang pria.
"Apakah pria itu lebih baik dariku? Lebih tampan dariku? Siapa namanya tadi? Ryan?" tanyaku entah pada siapa.
Aku berguling di atas ranjang hingga posisiku tengkurap. Wajahku yang terbenam di bantal berhasil meredam suara teriakan frustasiku karena sangat penasaran sebelum akhirnya aku terbangun. Aku mengayunkan kaki turun dari atas ranjang sebelum berlari kecil menuju ruang kerja yang berada di seberang kamar tidurku. Ruang kerja yang sebenarnya lebih dibuat untuk Benedict ketimbang diriku.
Tanpa menyalakan lampu dan hanya mengandalkan cahaya dari jendela besar dengan pemandangan kota malam Manhattan, aku setengah menjatuhkan diri di atas kursi beroda hingga aku harus sedikit menarik ujung meja untuk mendekat. Setelah menyalakan iMac, aku segera membuka mesin pencarian internet dan mengetikkan nama pria itu.
Detik berikutnya hanya muncul sederet berita mengenai biodata singkat Ryan Wyatt -nama yang akhirnya ku ketahui setelah bertanya pada Jean- yang merupakan pemilik waralaba toko buku dan alat musik terbesar di benua Amerika beserta sederet penghargaan yang diterima perusahaan miliknya itu. Bahkan laman pencarian hanya menampilkan tidak mencapai sepuluh halaman membuatku mengerjap beberapa kali. "Hanya ini?" tanyaku bingung.
Aku dengan cepat menekan tombol untuk memuat ulang halaman pencarian. Namun tidak ada pencarian lain yang keluar. "Bahkan laguku lebih banyak dibandingkan seluruh informasi yang muncul di internet." tambahku menggerutu.
Aku mendengus geli sebelum menghela napas lega mengetahui pria bernama Ryan Wyatt itu bukanlah tandingan yang sebanding denganku. Apalagi mengingat Jean mendukungku penuh membuatku merasa lebih tenang.
Saat itu aku hendak menghapus seluruh halaman berita sebelum keluar dari mesin pencarian. Namun tanganku tanpa sengaja menekan pencarian gambar atas nama Ryan sehingga layar langsung menampilkan banyak sekali foto. Dari semua foto yang ada, mataku langsung terfokus pada satu foto dimana Ryan dan Jace berdiri berdampingan tanpa ada jarak sedikitpun. Mereka tampak sedang memegang gunting besar seolah berusaha memotong pita sebagai simbol peresmian toko buku dan alat musik yang menjadi tempatku pertama kali bertemu dengan Jace.
Kepercayaan diriku yang tadinya sudah kembali hingga membuatku berpikir aku dapat tidur nyenyak setelah ini, langsung lenyap seketika. Aku tetap tidak dapat memungkiri bahwa besok atau kedepannya aku masih harus meratapi kekalahanku mengingat Jace sendiri mendeklarasikan bahwa ia menyukai Ryan Wyatt.
...