bc

OBSESI CINTA MUSUH BEBUYUTAN

book_age18+
359
FOLLOW
1K
READ
arranged marriage
heir/heiress
drama
bxg
campus
city
selfish
like
intro-logo
Blurb

Dijodohkan dengan rival bisnis sekaligus musuh bebuyutannya sejak SMA, Gianina—atau biasa di panggil Nina—menolak menerima takdir yang dipaksakan padanya. Ia melakukan segala cara untuk menggagalkan perjodohan itu. Namun Arya Diaskara justru melakukan hal sebaliknya: menggagalkan setiap rencana Nina demi melanjutkan pernikahan mereka.Satu per satu upaya Nina berakhir gagal, membuatnya putus asa hingga nekat melarikan diri ke luar negeri. Tetapi pelarian itu tak serta-merta membebaskannya. Arya tidak berniat melepaskannya begitu saja.Akankah Nina benar-benar berhasil melarikan diri dari pria yang paling ia benci? Ataukah Arya akan menemukannya dan memaksanya kembali ke dalam ikatan yang tak pernah ia inginkan?

chap-preview
Free preview
Bab 1
“Apa? Menikah?” Nina berdiri tiba-tiba, menatap kedua orang tuanya dengan pandangan tak percaya. “Apa-apaan ini? Kenapa Papa sama Mama tiba-tiba menjodohkan aku dengan dia?” Ratna dan Bagas langsung menunjukkan ekspresi tak enak hati. Terlebih karena ledakan emosi Nina terjadi di hadapan kedua calon besan mereka, Viona dan Jordi. Bagas buru-buru berdiri, berusaha menenangkan putrinya yang masih menunjuk Arya dengan wajah penuh amarah. “Pelan-pelan, sayang. Kita bisa bicara baik-baik,” bisik Bagas sambil menepuk lengan Nina. Nina menurunkan tangannya, menatap Bagas dengan sorot mata penuh penolakan. “Baik-baik?” ulangnya getir. “Papa sama Mama menjodohkan aku tanpa persetujuanku, lalu Papa minta aku bicara baik-baik?” Ia menggeleng tak percaya. “Kalau pria itu orang lain, mungkin aku masih bisa menolak dengan sopan. Tapi dia?” Nina menunjuk Arya lagi. “Papa sama Mama tahu, kan, seperti apa hubunganku sama dia? Bisa-bisanya kalian menyuruh aku menikah dengan orang yang jelas-jelas jadi musuhku! Big no! Aku lebih baik mati!” “Nina!” hardik Ratna panik. “Sebentar, sebentar.” Viona berdiri, memotong ketegangan sebelum semakin memanas. Ia menatap Nina dengan senyum lembut. “Nak, maafkan orang tuamu. Ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Tante yang meminta perjodohan ini.” Viona menoleh sekilas ke arah Arya, lalu kembali pada Nina. “Kalau anak Tante pernah berbuat salah, Tante minta maaf. Tante sangat berharap kamu mau menjadi menantu Tante.” Nada bicara Nina melunak saat menoleh ke arah Viona. “Tante tidak perlu minta maaf soal masalahku dengan anak Tante.” Ia menarik napas. “Aku bukannya tidak mau jadi menantu Tante. Tapi aku memang tidak bisa menjalin hubungan dengan dia. Bukan hanya karena masalah di antara kami.” Nina menggeleng pelan. “Tipe aku bukan dia. Dan dia juga tidak suka sama aku. Intinya, kami tidak saling suka dan tidak akan pernah bersama.” Jordi mengerutkan kening. “Om minta maaf kalau lancang. Tapi, Nak, perasaan itu bisa tumbuh seiring waktu. Tidak harus saling suka di awal. Setelah menikah nanti, kebersamaan bisa menumbuhkan cinta.” Nina kembali menggeleng. “Tetap tidak bisa, Om. Apa pun alasannya, aku tidak bisa menikah dengan dia.” “Nina,” panggil Bagas lembut sambil menyentuh tangan putrinya. Viona menghela napas pelan, lalu mendekat. “Sayang, Tante tahu kamu marah pada Arya. Karena itu Tante minta maaf. Kalau kamu mau menghukumnya, silakan. Kalau kamu menikah dengannya, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan.” Nina menoleh, menatap Viona beberapa detik sebelum berkata lirih, “Maaf, Tante.” Ia terdiam sejenak. “Aku tetap tidak bisa.” Setelah itu, Nina berbalik dan pergi. “Nina!” panggil Ratna panik. Saat Ratna hendak menyusul, sebuah suara menghentikannya. “Biar aku saja yang menyusul, Tante,” ucap Arya sambil berdiri. Sejak tadi ia hanya diam di sofa di samping ibunya. “Aku akan bicara dengan Nina.” Tanpa menunggu jawaban, Arya melangkah pergi. Viona tersenyum lega, lalu menatap Ratna dan Bagas dengan pandangan menenangkan. “Jangan khawatir. Bisa saja Arya berhasil membujuk Nina. Kalau Nina benar-benar tidak mau, Arya tidak akan memaksanya.” Ratna dan Bagas menghela napas lega. ***** Di taman belakang, Nina duduk sambil memetik kelopak mawar merah satu per satu, seolah sedang menghitung atau meramal sesuatu. Meski tidak menoleh, Nina sadar Arya sudah berdiri di belakangnya. Tak lama kemudian, pria itu duduk di kursi di sampingnya. “Lagi ngapain?” tanya Arya basa-basi. Nina meliriknya tajam. “Kamu yang ngapain? Ngapain ke sini?” Arya tersenyum kecil. “Ini rumahku. Jadi aku bebas duduk di mana saja.” “Terserah. Tapi nggak harus di sebelahku. Kursi lain masih banyak.” “Ya sudah, kamu saja yang pindah.” “Oke,” jawab Nina menantang sambil berdiri. Namun baru selangkah, Arya menahan pergelangan tangannya. “Aku cuma bercanda.” Nina menatap tangannya dingin. “Lepasin.” Arya langsung melepaskannya. “Duduklah.” Entah kenapa, Nina menurut. Ia kembali duduk setelah membuang mawar di tangannya dengan kesal. “Kamu ke sini buat bilang kalau kamu juga nggak setuju sama perjodohan ini, kan?” ujar Nina yakin. “Kita ini musuh. Kamu juga benci aku. Perjodohan ini jelas bukan yang kita inginkan.” Ia menatap Arya tajam. “Jadi kamu yakinkan orang tuamu, aku yakinkan orang tuaku. Kita batalkan perjodohan ini. Aku pun nggak sudi menikah sama kamu.” Arya menyandarkan punggungnya santai. “Kenapa kamu yakin aku bakal menolak perjodohan ini?” Nina menoleh kaget. “Apa maksud kamu? Memang seharusnya kita menolak, kan?” Arya menatap mata Nina, lalu tersenyum miring. “Kita memang musuh. Dan justru karena itu, kalau kamu menolak, jangan harap aku berpikiran sama dengan kamu.” Ia berhenti sejenak, menikmati ekspresi Nina. “Aku akan menyetujui perjodohan ini. Dan aku akan menggagalkan semua rencanamu.” “Kamu—!” Nina mengepalkan tangan marah. “Aku nggak akan membiarkan kamu menggagalkan rencana orang tua kita. Aku nggak akan membiarkan kamu menang.” Arya berdiri, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Nina yang terdiam dengan amarah yang mendidih. “Sialan!” umpat Nina kesal. Benar-benar di luar ekspektasinya. Ia pikir kali ini Arya bisa diajak bekerja sama. Tapi ia lupa satu hal—mereka tetap musuh, di mana pun dan kapan pun. ***** Setelah sampai di rumah, Nina langsung menghubungi sahabatnya, Yuli. “Yul, tolong aku. Aku nggak mau menikah sama rivalku sendiri. Kamu tahu kan seberapa bencinya aku sama dia?” ucap Nina putus asa. “Terus kamu mau gimana?” tanya Yuli. “Aku bisa bantu kamu kabur dari rumah, asal jangan bawa apa pun—” “Nggak, nggak,” potong Nina cepat. “Aku nggak bisa kabur. Kalau aku sampai melakukan itu, orang tuaku pasti mendatangi orang tuamu. Mereka bakal langsung tahu kalau kamu yang bantu aku.” Yuli terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju. “Kamu benar juga. Kalau gitu, kita telepon Tomi saja. Siapa tahu dia punya ide brilian.” Nina terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Ia langsung menghubungi nomor Tomi. “Halo, Tom. Kamu di mana?” “Halo, Nin. Aku lagi di kafe. Ada apa?” jawab Tomi dari sebrang telpon. “Kebetulan banget,” Nina menghela napas lega. “Aku butuh kamu. Aku ke sana sekarang.” Ia mematikan sambungan, mengambil tas dan kunci mobil, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Saat menuruni tangga, sebuah suara menghentikan langkahnya. “Mau ke mana kamu?” Nina langsung membeku.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook