Bab 2

1124 Words
“Nina, jawab Mama. Kamu mau ke mana?” Ratna mengikuti Nina yang terus melangkah ke depan tanpa menoleh. Menyadari ibunya tak akan berhenti bertanya, Nina akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik. “Aku cuma mau ketemu teman,” jawabnya santai. “Biasanya juga aku sering keluar, kan?” Ratna mengamati penampilan Nina dari ujung kepala sampai kaki. “Ini sudah malam. Kamu juga belum ganti baju sejak makan malam tadi.” Ia menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius. “Mama mau kamu tahu, perjodohan kamu dan Arya itu demi kebaikan masa depan kalian berdua. Ini bukan keputusan sembarangan.” Ratna melangkah mendekat. “Perusahaan keluarga kita bergerak di bidang yang sama. Kalau kalian bersatu dan bekerja sama, perusahaan itu bisa berkembang jauh lebih besar.” “Nina, lupakan dendam dan kebencianmu pada Arya. Pikirkan masa depanmu. Pikirkan anak-anakmu nanti. Arya akan jadi suami dan ayah yang baik. Dia tidak akan menyakitimu, apalagi mengkhianatimu.” Ratna menatap putrinya penuh keyakinan. “Ingat, cinta itu tidak harus datang di awal. Papa dan Mama juga dulu dijodohkan. Tapi lihat sekarang.” Ia tersenyum tipis. “Kamu dan Arya juga bisa seperti itu. Kamu—” “Ya, ya, ya,” potong Nina cepat sebelum kepalanya benar-benar pening. “Aku tahu, Ma. Aku tahu semua itu.” Ia mengangkat tangan sedikit. “Jadi sudah, ya. Stop. Aku nggak akan kabur seperti yang Mama takutkan. Aku nggak akan pergi dari rumahku sendiri.” Ratna menghela napas pelan. “Mama percaya. Mama cuma mau mengingatkan satu hal lagi. Semua ini demi kebaikan kamu, bukan demi Mama.” “Iya, iya,” jawab Nina terburu-buru. “Mama lanjutin nanti saja, ya. Aku benar-benar buru-buru. Temanku sudah nunggu.” Tanpa menunggu balasan, Nina melangkah pergi. Ratna menatap punggung putrinya sambil menggeleng pelan. Dalam hatinya, ia hanya berharap Nina benar-benar menemui temannya—bukan melarikan diri dari perjodohan yang telah mereka rencanakan. “Hai, Tom.” Begitu tiba di kafe, Nina langsung menyambar gelas di hadapan Tomi dan meneguk isinya tanpa permisi. Ia meminumnya dengan rakus, seolah sudah berjam-jam tak menyentuh air. “Kamu kenapa lagi sih, Nina?” tanya Tomi heran. Nina meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja, lalu duduk di kursi tepat di hadapan Tomi. Pria itu langsung menutup laptopnya dan mengalihkan seluruh perhatiannya pada Nina. “Mau pesan minum lagi?” tawarnya. Nina mengangguk. “Boleh. Wine saja kalau ada. Aku lagi butuh itu.” Tomi mengangkat bahu. “Terserah kamu.” Ia lalu memanggil pelayan untuk memesan minuman sesuai permintaan Nina. “Kamu bermasalah sama Arya lagi?” tanya Tomi kemudian. Nina menjentikkan jarinya, memberi isyarat bahwa tebakan Tomi tepat sasaran. “Masalahku memang sama dia lagi. Tapi kali ini beda.” “Beda gimana?” Tomi mengangkat alisnya. “Bayangin saja,” Nina mendesah kesal. “Papa dan Mamaku tahu aku benci setengah mati sama Arya. Aku sama dia musuhan sejak SMA. Tapi mereka malah sengaja menjodohkan aku dengan dia, dengan alasan demi kebaikanku.” “Pffft—” Tomi hampir tertawa, tapi langsung menghentikannya saat melihat tatapan tajam Nina. “Terus kamu mau gimana?” tanya Tomi, kali ini lebih serius. “Kalau kamu nggak mau, kamu tinggal bilang ke orang tua kamu dan kasih alasan yang kuat supaya mereka nggak maksa.” Nina menggeleng lemah. “Gimana caranya nolak? Mamaku saja sudah mewanti-wanti aku supaya nggak kabur.” Ia mendesah panjang. “Kamu tahu sendiri kan kalimat andalan orang tua? ‘Ini demi kebaikan kamu.’ ‘Orang tua lebih tahu yang terbaik buat kamu.’ ‘Kami sama orang tuanya sahabat baik.’” Nina tertawa hambar. “Terus aku harus jawab apa? Mereka selalu punya bantahan yang nggak bisa aku patahkan.” Tomi mengangguk paham. “Jadi,” katanya kemudian, “kamu ke sini nggak cuma buat ketemu aku, kan?” Tepat saat itu, minuman Nina datang. Ia langsung mengambil gelas wine-nya dan menyesapnya perlahan, lalu menatap Tomi dengan wajah serius. “Aku ke sini karena butuh bantuan kamu,” jawabnya. “Bantuan apa?” Nina mengangkat bahu. “Siapa tahu kamu punya ide.” Tomi terdiam. Ia bersandar ke kursi, meletakkan telunjuk di dagu, berpikir keras. Sementara itu, Nina terus menyesap wine-nya tanpa peduli apa pun. Beberapa saat kemudian, Tomi berdiri. “Aku ada ide.” “Ide apa?” tanya Nina tanpa menoleh, masih sibuk dengan minumannya. Tomi mengambil selembar kertas dan menuliskan sebuah alamat, lalu menggesernya ke hadapan Nina. Nina akhirnya fokus. Ia mengerutkan kening, membaca alamat itu dengan saksama. “Besok siang kamu datang ke sini,” ucap Tomi serius. “Aku akan mengenalkanmu pada seseorang yang bisa dipercaya.” Ia menatap Nina mantap. “Aku yakin, orang ini bisa membuat kedua orang tua Arya mengubah keputusan mereka begitu tahu kebenarannya.” Nina berkedip beberapa kali, mencerna kata-kata Tomi. Perasaan lega perlahan menyusup di dadanya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa punya peluang. ***** Ratna berdiri di taman belakang, jemarinya telaten menyeka debu di daun-daun mawar dengan kain lembap. Sudah dua hari berlalu sejak kejadian itu, namun pikirannya masih terus berkutat di sana. Ponsel ia selipkan di antara bahu dan telinganya. “Viona, aku masih kepikiran kejadian dua hari lalu,” ucap Ratna pelan sambil merapikan pot bunga. “Nina memang keras kepala, tapi aku yakin itu cuma karena emosinya belum reda.” Ia berhenti sejenak, menatap kelopak bunga yang mulai mekar. “Aku cuma berharap dia bisa melihat semua ini sebagai masa depan—” “Nyonya! Nyonya!” Teriakan itu membuat Ratna langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh cepat. “Aduuh, Bi Asih bikin kaget aja,” ujarnya sambil menghela napas. “Ada apa sih?” Bi Asih menampakkan wajah tak enak. “Mohon maaf, Nyonya. Di luar ada Tuan Muda Arya. Katanya mau bertemu dengan Nona Gianina. Tapi waktu saya mengetuk pintu kamar Nona, tidak ada sahutan.” Mendengar nama Arya, Ratna spontan meletakkan kain dan pot bunga di tangannya. Ia segera mengakhiri panggilan dengan Viona, lalu bergegas menuju ruang tamu. Sesampainya di sana, Ratna mendapati Arya berdiri sambil sibuk menatap layar ponselnya. “Eh, Nak Arya,” sapa Ratna ramah. “Silakan duduk, silakan duduk. Bi Asih, tolong ambilkan minum.” “Iya, Nyonya,” sahut Bi Asih patuh sebelum berlalu. “Tidak perlu repot-repot, Tante,” ujar Arya sopan. “Aku cuma mampir sebentar saja.” Ratna tertawa kecil sambil mengibaskan tangan. “Aduh, Nak Arya ini sungkan sekali. Padahal dulu waktu kecil kamu juga sering main ke sini, kan? Anggap saja rumah sendiri. Jangan sungkan sama Tante.” Ia tersenyum hangat. “Oh iya, kamu mau ketemu Nina, ya? Sebentar, Tante panggilkan dulu.” Arya mengangguk sopan. “Iya, Tante.” Namun belum sempat Arya duduk, suara teriakan Ratna tiba-tiba menggema dari arah dalam rumah, membuatnya terkejut. “YA TUHAAAN, NINA! APA-APAAN KAMU?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD