Bab 3

1072 Words
“Apa sih, Ma, teriak-teriak?” Nina menuruni tangga dengan santai, tanpa rasa bersalah. “Biasa aja kali.” Namun sikap itu sama sekali tak menenangkan Ratna. Justru kemarahannya kian memuncak. “Apa-apaan kamu, Nina?” suara Ratna meninggi. “Siapa laki-laki itu?” Nina tersadar. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang pria tinggi dengan kaus ketat, wajahnya masih kusut seperti baru bangun tidur. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Nina merogoh saku piyama tipisnya yang sedikit terbuka, lalu menyodorkan beberapa lembar uang ke arah pria itu. “Bayaranmu untuk tadi malam,” ucapnya datar. Pria itu menerima uang tersebut tanpa banyak bicara. Setelah Nina mengusirnya dengan gerakan tangan singkat, ia pun pergi. “Nina!” Ratna tampak benar-benar murka. Sebaliknya, Nina justru terlihat santai. Ia bahkan sengaja melirik ke arah Arya, ingin melihat reaksinya. “Jawab Mama!” bentak Ratna. “Apa kamu baru saja menyewa gigolo?” Nina merapikan rambutnya, lalu membetulkan pakaian yang terbuka, menutupi bekas merah di lehernya. “Aku sudah dewasa, Ma,” jawabnya tenang. “Umurku dua puluh lima. Justru seharusnya aku melakukan ini sebelum umur dua puluh dua.” Nada bicaranya terdengar enteng, seolah yang ia katakan bukanlah dosa, melainkan hal yang wajar. Ratna hendak menghampirinya, namun Arya lebih dulu menahan lengannya. “Tenang dulu, Tante,” bisik Arya pelan. “Jangan langsung percaya sama omongannya.” Ratna berhenti. Ia menoleh ke arah Arya dan mendapati pria itu mengangguk kecil padanya, memberi isyarat. Untungnya Nina tak menyadari hal itu. Beberapa saat kemudian, Ratna menatap putrinya tajam. “Kamu sadar kamu bukan anak kecil. Harusnya kamu tahu mana yang baik dan mana yang tidak.” Ratna menarik napas dalam. “Kamu akan menikah dengan Arya. Dia calon suami kamu. Kenapa kamu berani melakukan perbuatan seperti itu?” Ia benar-benar tak habis pikir. Nina yang dulu tak pernah membangkang, kini berubah begitu jauh. “Oh…” Nina kembali melirik ke arah Arya, berpura-pura baru menyadari keberadaannya. Ia menuruni anak tangga perlahan, satu per satu. “Jadi kamu ada di sini.” Setelah beberapa langkah lagi dari Arya, Nina berhenti. “Gimana ya?” katanya pura-pura berpikir. “Aku baru saja menyerahkan kesucianku ke seorang gigolo.” Ia tersenyum tipis. “Memangnya Tuan Arya yang terhormat ini mau menerima calon istri yang sudah tidur dengan sembarang laki-laki?” “Nina!” Ratna tak sanggup lagi menahan amarah. Ia menghampiri Nina danmenarik tangan sang anak, menggeretnya menuju dapur, menjauhkannya dari Arya. Ia benar-benar merasa malu terhadap calon menantunya. "Aw! Mama sakit. Pelan-pelan dong. " "Kamu udah keterlaluan! " "Keterlaluan gimana sih, Ma? Aku cuma tidur sama gigolo. " “Tutip mulut kamu!” bentak Ratna. “Mama tanya sekali lagi. Apa kamu benar-benar melakukan itu? Menyewa laki-laki bayaran dan tidur dengannya?” Nina membuang wajah, menyelipkan rambut ke belakang telinga. Matanya bergerak ke sana kemari, mencari kata-kata. “Lihat Mama baik-baik.” Ratna memutar bahu Nina, memaksanya menatap wajahnya. “Mama membesarkan kamu dari bayi, dari dalam kandungan. Mengajari kamu hal-hal baik. Menyayangi kamu. Tidak pernah kurang apa pun.” Suaranya bergetar. “Apa ini, Nina? Apa ini balasan kamu ke Mama dan Papa?” Keraguan menyelinap ke hati Nina. Untuk sesaat, ia sendiri tak yakin apakah yang dilakukannya benar. “Jawab,” tegas Ratna. Namun Nina tetap diam. “Jawab Mama, Nina!” Ratna mengguncang bahu putrinya. “Apa kamu benar-benar melakukan perbuatan kotor itu? Jawab!” Nina meringis, napasnya memburu. Ia tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Baru saja ia hendak bicara, Ratna melepaskan tangannya dengan kasar. “Mama tidak pernah mengajari kamu seperti ini!” Ratna mengangkat tangannya. “Kamu mau menikah, tapi berani melakukan perbuatan seperti itu. Kamu kurang ajar!” Nina memejamkan mata, pasrah. Namun tepat saat tangan Ratna hampir mendarat di pipinya, sebuah tangan kekar menahannya. “Tante. Stop.” Arya. Nina membuka mata perlahan. Arya berdiri di hadapannya, menahan tangan Ratna. Ratna terdiam, lalu menurunkan tangannya perlahan, amarahnya belum sepenuhnya padam. “Maafkan Tante, Nak Arya. Tapi jangan ikut campur. Tante perlu menghukum anak Tante.” “Aku mengerti, Tante,” ucap Arya tenang. “Tapi dengarkan aku dulu.” Ia menatap Ratna mantap. “Aku kenal Nina sejak kecil. Aku tahu seperti apa dia. Menurutku, Nina nggak mungkin melakukan hal itu.” Ratna terdiam. “Dia anak Tante. Dan aku yakin, dia nggak akan berani melakukan perbuatan seperti itu di depan Mamanya sendiri.” Nina melotot ke arah Arya. “Kamu tahu apa tentang aku?” “Jaga bicara kamu,” hardik Ratna. Arya beralih menatap Nina. “Aku tahu kamu bohong,” katanya datar. “Laki-laki itu bayaran kamu. Kamu suruh dia menipu supaya aku membatalkan perjodohan ini.” Nina tertegun. Kepalan tangannya mengeras, tak luput dari perhatian Arya. Ratna menatap mereka bergantian. “Maksud kamu apa, Nak Arya?” Arya tersenyum tipis. “Seperti yang aku bilang, Tante.” Ratna kembali menatap Nina. “Nina… apa benar yang Arya katakan?” Nina menatap Arya tajam. “Jangan sok tahu. Kalau aku memang benar-benar tidur sama dia, gimana? Kamu masih mau menyangkal?” “Oh, gitu?” Arya melangkah mendekat satu langkah. Suaranya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah dingin. “Kalau memang kamu benar-benar tidur sama dia, kenapa nggak kamu buktikan saja?” Nina menelan ludah. Ada sesuatu dari cara Arya menatapnya yang membuat dadanya terasa tak nyaman. Ia melangkah mundur setapak. “Bukti apa yang kamu mau?” tantangnya, meski suaranya tak lagi setajam tadi. Arya tidak langsung menjawab. Ia menatap Nina beberapa detik, seolah sedang menimbang sesuatu. Lalu pandangannya beralih ke Ratna. “Tante,” ucapnya pelan tapi tegas. “Tunggu di sini sebentar. Aku mau bicara sebentar dengan Nina.” Ratna mengerutkan kening. “Nak Arya—” “Percaya sama aku, Tante,” potong Arya tenang. “Aku nggak akan melakukan hal yang macam-macam.” Ratna ragu, namun akhirnya terdiam. Arya kembali menatap Nina. Senyum tipis terbit di bibirnya—bukan senyum ramah, melainkan senyum penuh perhitungan. “Kalau kamu yakin sama yang kamu katakan,” ujar Arya rendah, “harusnya kamu nggak keberatan.” Nina merasakan firasat buruk. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa sadar, ia kembali mundur. “Tunggu—” Namun sebelum kalimatnya selesai, tangan Arya sudah meraih tubuhnya. “Apa—!” Dalam satu gerakan cepat, tubuh Nina terangkat dan tersampir di bahu Arya. “KYAAA!" "TURUNIN AKU ARYA!” Nina memberontak, memukul punggung Arya, kakinya menendang-nendang udara. Namun pegangan Arya terlalu kuat. "Diam, kamu." "TURUNIN! TURUNIN! " "WOIII b******k!!! "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD