Bab 4

1193 Words
Brak! Arya menurunkan Nina ke atas kasur. Namun ia tidak langsung menjauh. Tubuhnya justru menahan gadis itu tetap terkurung di bawahnya, membuat Nina tak memiliki ruang untuk bergerak. Kepala Nina terasa sedikit pening akibat terlalu banyak memberontak, terlebih karena ia dibawa dengan posisi yang tidak nyaman. Indra penciumannya menangkap aroma parfum Arya yang terlalu dekat, membuat dadanya terasa sesak. Sepasang mata mereka bertemu. Tatapan itu berlangsung beberapa detik, seolah terjadi pertukaran emosi yang tak terucap. Namun Nina segera tersadar akan posisi mereka yang sama sekali tidak pantas. “Minggir,” ucap Nina dingin, dengan sorot mata tajam penuh perlawanan. Alih-alih menyingkir, Arya justru mengangkat tangannya dan menyentuhkan jemarinya ke leher Nina secara perlahan, menyusuri kulit putih itu hingga berhenti pada beberapa bintik merah yang tampak seperti bekas bercinta. Nina sontak mendorong bahu Arya dengan sekuat tenaga. Namun perbedaan kekuatan membuat usahanya sia-sia. Arya hanya sedikit terdorong, tanpa benar-benar menjauh. “Aku bilang minggir!” pekik Nina. Arya tetap tidak mengindahkan. Ia justru menangkap kedua tangan Nina dan menguncinya di atas kepala gadis itu, membuat Nina meronta dan menendang-nendangkan kakinya dengan frustasi. “Sialan! Lepasin aku!” “Aku menghargai usaha kamu,” ujar Arya tenang, sembari mengusap bintik merah di bahu Nina dengan ujung telunjuknya. Warna merah itu memudar seketika. Seketika Arya tahu bahwa itu hanyalah bekas lipstik. “Tapi ingat, Nina, aku bukan laki-laki bodoh.” Ia lalu melepaskan tangan Nina dan bangkit, menjauh dari atas tubuh gadis itu. Namun sebelum Arya benar-benar pergi, Nina menahan lengannya. Arya menoleh dengan ekspresi terkejut. Detik berikutnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, meninggalkan bekas jemari yang jelas. “Dasar pria b******k,” umpat Nina sebelum bangkit duduk dan membersihkan sisa bintik di leher serta bahunya dengan tisu. Arya masih terdiam sambil memegang pipinya. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Justru ekspresinya tampak tenang, seolah tamparan barusan hanyalah sentuhan ringan. “Apa kamu malu karena ketahuan?” tanyanya santai. Nina melirik malas. “Nggak. Kamu tahu aku memang selalu setidak tahu diri ini. Aku heran, kamu sudah tahu aku seperti apa, tapi masih saja nggak mau nolak perjodohan kita.” Arya tersenyum kecil. “Aku sudah pernah bilang ke kamu. Aku nggak akan biarin kamu menang.” Kalimat itu lagi. Entah mengapa Nina selalu merasa darahnya mendidih setiap kali Arya mengucapkannya. Jemarinya terkepal tanpa sadar hingga buku-bukunya memutih. Tatapannya menajam, penuh amarah. “Kamu memang laki-laki b******n. Kamu bantu rival aku menang, rebut tenderku, lalu menahan aku di ikatan perjodohan ini. Kenapa kamu nggak sekalian pergi ke neraka?” ucap Nina dengan kilatan membunuh di matanya. Arya menatapnya tenang. Tangannya dimasukkan ke saku celana, lalu ia memberi senyum miring yang tampak licik. “Aku mau ke neraka, asal kamu ikut. Kalau nggak, aku yang bakal bikin hidup kamu terasa seperti neraka.” Arya lalu berbalik dan meninggalkan kamar Nina, menutup pintu dengan bunyi yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk menyisakan gema di kepala Nina. Gadis itu berdiri mematung di tempatnya, dadanya naik turun dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. Urat di pelipisnya berdenyut, rahangnya mengeras menahan luapan emosi yang belum tersalurkan. Nina mengacak rambutnya dengan kasar, lalu menendang sisi ranjang tanpa sadar. Kekesalan, penghinaan, dan rasa kalah bercampur menjadi satu. Ia membenci kenyataan bahwa Arya selalu berhasil menyeretnya ke kondisi paling rapuh, lalu pergi begitu saja seolah dialah pihak yang menang. Lebih menyebalkan lagi, sebagian kecil dari dirinya menyadari bahwa pria itu memang tidak mudah dijatuhkan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih liar. Perlahan, kemarahannya mulai turun, digantikan oleh fokus yang dingin. Nina tidak akan membiarkan emosinya menjadi kelemahan. Ia tidak bisa menang dengan amarah—ia harus menang dengan akal. Barulah setelah napasnya kembali teratur, Nina meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Saat sambungan terangkat, Nina langsung berbicara, “Halo, Tom?” “Iya, Nina. Gimana? Berhasil?” tanya Tomi. Nina mengacak rambutnya frustasi. “Gagal. Si b******k itu tahu.” Beberapa detik hening menyelimuti sambungan. Nina bisa membayangkan ekspresi Tomi di seberang sana—sama terkejutnya dengannya. Rencana yang paling ia yakini justru runtuh tanpa perlawanan berarti. “Sepertinya dia memang nggak sebodoh itu,” ujar Tomi akhirnya. Nina menghembuskan napas panjang, lalu bersandar di sandaran kursi. “Memang nggak bodoh. Tapi dia juga nggak lebih pintar dari aku.” Tomi terkekeh kecil. “Terus gimana sekarang?” “Pikirkan cara lain,” jawab Nina tegas, sorot matanya kembali menyala, kali ini bukan karena emosi, melainkan tekad. Tomi terdengar menghela napas. “Aku ada ide, tapi kamu jangan marah.” “Apa?” tanya Nina tak sabar. “Kalau dia selalu berlawanan sama kamu,” ujar Tomi pelan, “kenapa nggak coba kamu balik strategi? Kamu bilang saja ke Arya kalau kamu menerima perjodohan itu. Kalau dia konsisten melawan kamu, dia justru bakal menolak.” Nina terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum matanya perlahan melebar. “Ah!” serunya tiba-tiba. “Benar juga! Kenapa aku nggak kepikiran dari kemarin?” Tomi tertawa. “Tenang. Aku juga baru kepikiran sekarang.” Nina menggeleng pelan, lalu tertawa kecil. Ketegangan di pundaknya perlahan mengendur. “Yuli juga pasti nggak kepikiran. Sama-sama bodoh kita.” “Senang dengar kamu ketawa, Nin,” ucap Tomi. “Kamu dari kemarin kelihatan tegang banget.” Nina menarik napas lega. Kali ini dadanya terasa jauh lebih ringan, seolah ia baru saja menemukan celah kecil untuk keluar dari jebakan Arya. “Udah ya, Tom. Aku mau mandi,” ucapnya. “Oke. Mandi yang bersih.” Nina mencebik. “Setiap mandi aku memang bersih. Nggak perlu diingatkan.” Tomi tertawa. “Iya, iya. Sampai ketemu di kantor.” “Iya.” Nina mematikan ponsel dan terdiam sejenak, menatap pantulan dirinya di cermin. Senyum tipis perlahan terbit di sudut bibirnya—senyum penuh perhitungan. “Lihat saja nanti,” gumamnya sebelum melangkah menuju kamar mandi. **** Tok tok tok. “Nina,” panggil Ratna dari balik pintu. Nina yang tengah merapikan pakaiannya langsung berhenti. “Iya, Ma.” “Makan dulu. Mama tunggu di meja makan.” “Iya, Ma.” Setelah memastikan penampilannya rapi, Nina mengambil tasnya dan turun ke lantai bawah. Aroma roti panggang menyambutnya di ruang makan. Ratna sudah duduk di sana, namun belum menyentuh makanannya sama sekali. “Kenapa Mama nggak sarapan duluan?” tanya Nina sambil duduk di hadapannya. Ratna tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada leher Nina yang sebagian tertutup rambut. Kulit itu tampak bersih, tanpa bekas apa pun. Ratna mengernyit pelan, seolah sedang mencocokkan sesuatu di kepalanya. Beberapa detik berlalu dalam diam, hingga akhirnya Ratna bersuara, nadanya lebih hati-hati dari biasanya. “Jadi… kamu memang bohong ke Mama?” Nina mengambil roti dan mengolesinya dengan selai, gerakannya santai. “Bohong soal apa?” “Soal gigolo itu,” jawab Ratna pelan. “Kamu sengaja menyewanya untuk menolak perjodohan dengan Arya, kan?” Nina melirik singkat ke arah ibunya, lalu kembali fokus pada rotinya. “Siapa bilang aku nolak?” Kening Ratna semakin berkerut. “Kalau begitu, kenapa kamu bohong ke Mama?” Nina menggigit rotinya perlahan, membiarkan keheningan menggantung sejenak sebelum menjawab. “Aku cuma ngetes,” katanya akhirnya. “Aku mau tahu apa Arya bakal percaya atau nggak.” Ratna menatap putrinya, bingung bercampur tidak percaya. “Maksud kamu apa, Nina?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD