“Tumbennya kamu yang ngajak aku makan,” ujar Arya begitu ia tiba di restoran itu.
Di sana, Nina sudah duduk lebih dulu. Jemarinya membolak-balik buku menu, seolah benar-benar tenggelam di dalamnya. Namun begitu Arya mendekat, Nina langsung mengangkat wajah. Tatapannya ramah—terlalu ramah untuk ukuran dirinya yang biasa. Senyum kecil tersungging di bibirnya, sama sekali tidak seperti Nina yang Arya kenal.
“Kebetulan aja,” jawab Nina ringan. “Aku lagi pengin makan sama kamu.” Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya melebar. “Boleh, kan, makan bareng calon tunangan aku sendiri?”
Ia sengaja menekankan kata calon tunangan, seolah ingin memastikan kalimat itu terdengar jelas dan tidak bisa disalahartikan.
Arya tersenyum tipis, lebih karena heran daripada senang. Meski begitu, ia tetap menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Nina.
“Kenapa kamu kelihatan begitu bersemangat nyebut aku calon tunanganmu?” tanyanya, nada suaranya tenang namun sarat selidik.
Nina hanya mengangkat bahu, berpura-pura santai. Tatapannya kembali jatuh ke buku menu, menghindari sorot mata Arya seolah takut terlalu lama bertahan di sana akan membuatnya terbaca.
“Kamu mau pesan apa?” katanya cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Silakan.”
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang. Arya membuka buku menu dan memesan dengan singkat, lalu mengembalikannya tanpa banyak pertimbangan. Setelah pelayan pergi, perhatiannya kembali tertuju pada Nina.
Gadis itu kini sibuk dengan ponselnya, jarinya bergerak cepat di layar. Terlihat tenang di luar, tapi terlalu sibuk untuk sekadar menunggu—sebuah kebiasaan kecil yang membuat Arya yakin, ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
“Hm.” Nina berdehem pelan, mencoba mencairkan keheningan yang terasa canggung—sebuah suasana langka di antara mereka yang biasanya selalu diisi perdebatan. Ia menghentikan aktivitasnya, meletakkan ponsel di atas meja sebelum memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, Nina membenarkan posisi duduknya, seolah sedang mempersiapkan diri.
“Ada sesuatu yang sebenarnya mau aku bilang,” ucap Nina akhirnya. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga, lalu tanpa sadar menjilat bibirnya yang terasa kering.
Arya menatapnya dengan alis sedikit terangkat. Gelagat Nina hari ini jelas tidak biasa. Terlalu tenang. Terlalu terkontrol. “Bilang apa?” tanyanya.
Nina menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Aku memutuskan untuk menyetujui perjodohan kita,” katanya dalam satu tarikan napas. Jemarinya bergerak pelan di atas meja, saling memainkan ujung kuku, berusaha menyembunyikan gugup. “Menurut aku, nggak ada salahnya kalau kita menikah. Iya, kan?”
Tatapan Nina tertuju penuh pada Arya, mengamati setiap perubahan sekecil apa pun di wajah pria itu.
Arya tersentak. Ia bahkan sempat mengedipkan mata beberapa kali, memastikan pendengarannya tidak keliru. Selama ini, Nina adalah orang terakhir yang ia bayangkan akan mengucapkan kalimat itu—dan mengucapkannya dengan nada setenang ini.
Hening.
Udara di antara mereka terasa menegang, seolah menunggu reaksi yang tak terelakkan.
Arya akhirnya bersandar di kursinya. Tatapan terkejut itu perlahan menghilang, digantikan ekspresi datar yang sulit dibaca. Bibirnya melengkung tipis—bukan senyum puas, melainkan senyum seseorang yang baru saja memahami permainan lawan.
“Baik,” ucapnya singkat.
Nina membeku.
“Apa?” tanyanya refleks, tanpa sempat menyaring keterkejutannya.
“Aku bilang… baik,” ulang Arya tenang. Ia meraih gelas air di depannya, menyesap sedikit seolah keputusan itu tak lebih berat dari memilih menu makan siang. “Kalau kamu sudah siap menerima perjodohan ini, aku tidak punya alasan untuk menolak.”
Wajah Nina seketika menegang. Alisnya berkerut halus, matanya menatap Arya lekat, seolah sedang mencari tanda-tanda kebohongan. Namun yang ia temukan hanya ketenangan menyebalkan itu.
“Kamu… serius?” Nina menekan suaranya, nyaris berbisik.
Arya mengangguk kecil. “Serius.”
Dadanya Nina terasa sesak. Ini jelas bukan skenario yang ia susun di kepalanya. Seharusnya Arya bereaksi sebaliknya—menolak, tersinggung, atau setidaknya ragu. Bukan menerima dengan tenang seperti ini.
“Bukankah kamu yang selalu bilang aku cuma mau menang?” Nina menyindir, berusaha mempertahankan kendali. “Sekarang aku bilang setuju, dan kamu langsung percaya begitu saja?”
Arya menatapnya lurus. “Aku tidak bilang aku percaya.”
Nina terdiam.
“Aku hanya bilang aku setuju,” lanjut Arya. “Soal niat di baliknya… itu urusan nanti.”
Rahang Nina mengeras. Jemarinya mengepal di bawah meja. Amarahnya mendidih pelan, bercampur kesal karena rencananya justru berbalik menghantam dirinya sendiri.
“Dasar menyebalkan,” gumam Nina pelan.
Arya menangkapnya. Sudut bibirnya kembali terangkat tipis. “Kamu kelihatan tidak senang mendengarnya.”
“Itu karena kamu nggak sesuai ekspektasi,” sahut Nina tajam.
“Aku memang tidak pernah berniat memenuhi ekspektasimu,” balas Arya datar. “Terutama kalau ekspektasi itu dibuat untuk menjebakku.”
Dada Nina bergetar. Ia sadar—Arya bukan hanya membaca langkahnya, tapi sengaja melangkah lebih jauh untuk membuatnya terpojok.
Dan untuk pertama kalinya sejak rencana itu disusun…
Nina merasa ia baru saja kalah satu langkah.
Arya kembali menegakkan tubuhnya. Sikapnya berubah halus—lebih rapi, lebih resmi. Seolah percakapan barusan bukan lagi adu strategi, melainkan kesepakatan bisnis yang sudah diketuk palu.
“Kalau begitu,” ucapnya sambil melirik jam tangan, “kita bisa mulai dari hal sederhana.”
Nina menyipitkan mata. “Hal sederhana apa lagi?”
“Makan siang,” jawab Arya tenang. “Kita sudah duduk di sini cukup lama. Akan aneh kalau dua calon tunangan hanya saling menatap dengan ekspresi ingin saling membunuh.”
Kalimat itu menusuk tepat sasaran.
Pelayan datang membawa pesanan. Nina terpaksa menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu memasang senyum tipis yang terasa kaku. Ia sadar, di tempat umum seperti ini, setiap gerakannya bisa menjadi konsumsi mata orang lain.
Arya memperhatikan perubahan itu dengan seksama.
“Tenang saja,” katanya pelan sambil mengambil alat makannya. “Aku bisa bersikap profesional.”
*****
Begitu keluar dari restoran, Nina langsung melangkah cepat tanpa menunggu Arya. Hak sepatunya menghentak trotoar dengan keras, seolah menyalurkan kekesalan yang mendidih di dadanya. Ponsel di tangannya bergetar hebat ketika ia menggenggamnya terlalu kuat.
Begitu pintu mobil tertutup, Nina benar-benar meledak.
“Sialan!” serunya, memukul setir sekali. Dadanya naik turun tajam, napasnya tak beraturan. “Sialan, sialan, sialan!”
Tanpa menunggu amarahnya reda, ia menekan nomor Tomi.
Panggilan tersambung saat mobilnya baru melaju beberapa meter dari restoran.
“Tomi,” suara Nina bergetar, bukan karena sedih—melainkan marah. “Gagal.”
“Hah?” Tomi terdengar terkejut. “Gagal gimana?”
“Dia setuju!” bentak Nina. “Aku bilang aku terima perjodohan itu, dan bukannya mundur, dia malah SETUJU! Dengan santainya! Seolah itu yang dia tunggu!”
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. “Serius?”
“Serius!” Nina hampir berteriak. “Dia bahkan kelihatan senang. Kamu tahu nggak rasanya dipermalukan di depan umum dengan cara sehalus itu?”
Mobil berhenti di lampu merah. Nina menatap kosong ke depan, rahangnya mengeras.
“Dia bikin seolah aku yang akhirnya menyerah,” lanjutnya geram. “Bukan dia yang memaksa. Semua orang di restoran itu pasti mikir kami pasangan bahagia yang mau menikah.”
Tomi terdiam beberapa detik, lalu berdehem pelan. “Oke… itu di luar prediksi.”
“Di luar prediksi?” Nina tertawa pendek tanpa humor. “Itu bencana, Tom. Rencana kita harusnya bikin dia mundur!”
“Berarti satu hal jelas,” ujar Tomi hati-hati. “Arya nggak bergerak karena logika. Dia bergerak karena kamu.”