“Jangan sok bijak,” potong Nina tajam. “Aku butuh solusi. Bukan analisis cinta murahan.”
Tomi tersenyum kecut, bisa terdengar dari suaranya. “Aku nggak bilang cinta. Tapi jelas, dia nggak mau kalah. Dalam bentuk apa pun.”
Nina menghela napas keras. Ia memijat pelipisnya, mencoba menahan kepalanya yang berdenyut.
“Mulai sekarang,” katanya dingin, “kita ganti strategi.”
“Oke,” sahut Tomi langsung sigap. “Apa rencananya?”
Nina menyipitkan mata. Di lampu merah yang memantulkan bayangan wajahnya, terlihat jelas kilatan tekad yang berbahaya.
“Kalau dia mau pernikahan ini,” ucap Nina perlahan, setiap katanya penuh tekanan, “aku akan buat dia menyesal telah menyetujuinya.”
Tomi terdiam, lalu tertawa kecil. “Nah, itu Nina yang aku kenal.”
“Aku nggak akan kabur,” lanjut Nina. “Aku nggak akan nolak. Aku akan maju… dan aku pastikan dia yang akhirnya angkat tangan.”
“Hah… jadi kamu mau pura-pura jadi calon istri ideal?” tanya Tomi ragu.
“Bukan pura-pura,” potong Nina cepat. “Aku akan jadi seperti yang dia harapkan. Nurut. Tenang. Dewasa. Nggak meledak-ledak. Nggak melawan.”
Tomi terdiam lebih lama kali ini. “Itu… bukan kamu banget.”
“Justru itu,” sahut Nina dingin. “Kalau aku berubah, dia bakal lengah. Dia bakal mikir aku akhirnya kalah dan menyerah. Dan di saat itulah—”
“Kamu balikkan keadaan,” sambung Tomi pelan.
Nina mengangguk meski tak terlihat. “Aku akan buat dia ragu. Bukan soal bisnis. Bukan soal harga diri. Tapi soal keputusannya sendiri.”
Mobil berhenti lagi di persimpangan. Nina menatap lampu merah, pantulan wajahnya terlihat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya meledak-ledak.
“Arya itu hidup dari kepastian,” lanjut Nina. “Begitu dia mulai mempertanyakan pernikahan ini… begitu dia mulai bertanya-tanya apakah aku benar-benar berubah atau cuma memainkan peran… di situlah celahnya.”
Tomi menghembuskan napas pelan. “Kamu mau bikin dia capek secara mental.”
“Bukan capek,” koreksi Nina. “Aku mau bikin dia kehilangan pegangan. Sampai akhirnya dia sendiri yang bilang, ‘Cukup. Aku mundur.’”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
“Dan saat itu terjadi,” ucap Nina pelan, nyaris berbisik, “aku akan memastikan dia sadar satu hal.”
“Apa?” tanya Tomi.
Bahunya terangkat ringan. “Bahwa menyetujui perjodohan denganku adalah keputusan paling salah yang pernah dia buat.”
****
Pagi berikutnya di Star Company berjalan seperti biasa—terlalu biasa, justru itulah yang membuat Nina merasa gelisah. Ia datang tepat waktu, menyapa beberapa staf dengan senyum tipis yang terlatih, lalu mengurung diri di ruang kerjanya. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada umpatan. Semua tertata rapi, seperti topeng yang sengaja ia pasang sejak keputusan itu diambil.
Tomi memperhatikannya dari balik meja sekretaris. “Kamu tenang banget hari ini,” komentarnya hati-hati.
“Karena aku sudah berhenti bereaksi,” jawab Nina singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Sekarang aku mengamati.”
Ia membuka kalender digital. Nama Arya muncul di beberapa slot agenda bersama keluarga—makan malam, rapat gabungan yayasan, gala amal. Nina menandai semuanya tanpa ragu. Ia tidak membatalkan satu pun. Justru ia menambahkan catatan kecil: hadir lebih awal.
Sore itu, undangan makan malam keluarga datang lebih cepat dari perkiraan. Nina menerima pesan dari Ratna dengan nada antusias. Ia membalas singkat: Aku datang.
Di sisi lain kota, Arya membaca balasan itu dengan alis sedikit terangkat. Biasanya Nina akan menunda, berkilah, atau sekadar datang dengan ekspresi enggan. Kali ini berbeda. Terlalu patuh. Terlalu siap.
Malamnya, Nina muncul di rumah keluarga Diaskara dengan gaun sederhana berwarna krem, rambut terikat rapi. Tidak mencolok, tidak menantang—aman. Ratna tersenyum lebar melihat perubahan itu. Beberapa anggota keluarga melirik Nina dengan rasa heran yang tak disembunyikan.
Arya memperhatikannya dari seberang ruangan. Ia tidak mendekat. Tidak pula menyapa lebih dulu. Ia menunggu—seperti pemburu yang ingin melihat apakah mangsanya akan bergerak sendiri.
Dan Nina bergerak.
Ia menghampirinya dengan langkah tenang. “Kita kelihatan seperti orang asing,” ucapnya ringan. “Padahal katanya mau menikah.”
Arya menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil. “Kamu berubah cepat.”
“Aku belajar,” jawab Nina singkat. “Kalau terus melawan, aku cuma capek sendiri.”
Kalimat itu sederhana, tapi justru di situlah letak gangguannya. Tidak ada sarkasme. Tidak ada duri. Arya merasakan sesuatu yang jarang—keraguan kecil menyusup, lalu segera ia tekan.
Makan malam berlangsung hangat. Nina tertawa di waktu yang tepat, mendengarkan saat orang lain bicara, bahkan menanyakan pendapat Arya soal beberapa hal ringan. Semua tampak normal. Terlalu normal.
Saat acara hampir usai, Arya akhirnya berbicara lebih pribadi. “Kita perlu atur waktu buat bahas detail pernikahan.”
Nina mengangguk. “Kapan pun kamu mau.”
Tidak ada penolakan. Tidak ada syarat. Tidak ada permainan terbuka.
Di perjalanan pulang, Tomi mengirim pesan singkat: Kamu yakin ini nggak kebablasan?
Nina membalas cepat: Justru ini inti permainannya.
Ia mematikan ponsel, menatap jendela mobil yang memantulkan wajahnya sendiri—tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Ia tahu satu hal: Arya terbiasa mengendalikan konflik, bukan ketenangan. Dan ketenangan inilah yang akan menggerogotinya pelan-pelan.
Di apartemennya, Arya berdiri lama di depan meja kerja tanpa membuka berkas apa pun. Bayangan Nina malam itu terus terlintas—cara bicaranya, senyumnya yang aman, persetujuannya yang tanpa syarat. Semua itu tidak memberi celah untuk dilawan.
“Kalau ini sandiwara,” gumamnya, "kamu mainnya terlalu rapi.
*****
Arya menutup pintu apartemennya dengan gerakan pelan. Ia tidak langsung menyalakan lampu, membiarkan ruangan temaram sementara pikirannya bekerja dengan tenang dan sistematis.
Perubahan Nina bukan kejutan.
Ia sudah menunggunya.
Sejak Nina berhenti melawan secara frontal, Arya tahu satu hal pasti: perempuan itu sedang mengganti senjata. Dan perubahan sikap itu bukan tanda menyerah—melainkan tanda Nina mulai bermain dengan aturan yang ia kira miliknya sendiri.
Padahal, sejak awal, itulah yang Arya inginkan.
Konflik terbuka selalu memberi Nina alasan untuk kabur, untuk membenci, untuk membenarkan penolakannya. Selama itu terjadi, Nina selalu punya pintu keluar. Dan Arya tidak pernah berniat memberinya pilihan semudah itu.
Ia duduk di sofa, membuka ponsel, lalu menatap pesan Nina sekali lagi.
Kapan pun kamu mau.
Arya tersenyum tipis.
Bukan karena puas. Tapi karena yakin.
“Teruskan,” gumamnya pelan. “Bikin dirimu nyaman.”
Ia tahu, saat Nina berhenti melawan, ia akan mulai terjebak oleh rutinitas—oleh kebiasaan hadir, kebiasaan berbagi ruang, kebiasaan tidak kabur. Dari situlah ikatan bekerja, bukan lewat paksaan, melainkan lewat kedekatan yang tak terasa.
Di Star Company, Nina mungkin merasa sedang memegang kendali. Tapi di luar itu—di wilayah personal, di ruang yang tak bisa diukur dengan strategi bisnis—Arya sudah lebih dulu menutup semua jalan mundur.
Keesokan harinya, Arya sengaja muncul di kantor Star Company lebih awal dari jadwal rapat bersama. Bukan untuk menekan. Bukan untuk memamerkan kuasa. Hanya untuk hadir.
Saat Nina keluar dari ruang rapat dan mendapati Arya berdiri di dekat jendela lobi eksekutif, ia sedikit terkejut—cukup untuk mengungkap reaksi jujurnya.
“Tumben,” ucap Nina singkat.
“Kamu juga,” jawab Arya tenang. “Biasanya kamu menghindar.”
Nina tersenyum tipis. “Aku lagi belajar.”
Arya menoleh ke arahnya, tatapannya datar namun fokus. “Bagus. Karena aku juga.”
Ia tidak menjelaskan apa yang sedang ia pelajari.
Tidak perlu.
Karena Arya Diaskara tidak sedang belajar bagaimana membuat Nina jatuh cinta.
Ia sedang memastikan, saat Nina akhirnya menyadari perasaannya sendiri—perempuan itu tidak lagi punya keberanian untuk pergi.