Hari itu hujan turun tanpa aba-aba. Nina baru menyadarinya ketika pintu gedung Star Company terbuka dan angin lembap menerpa wajahnya. Ia berhenti melangkah, menatap rintik yang semakin rapat, jelas bukan hujan yang akan selesai dalam hitungan menit. “Aduh…” gumamnya kesal. Ia merogoh tas, memastikan—seperti dugaan—tak ada payung. Ponselnya bergetar, pesan dari Tomi yang mengatakan mobilnya masih terjebak di basement karena antrean keluar yang panjang. Nina mendecih, bersiap mencari jalan keluar lain, ketika sebuah payung hitam terbuka tepat di sampingnya. “Mobilku di depan,” kata Arya singkat. Nina menoleh refleks. “Aku nggak minta.” “Aku juga nggak nawarin,” balas Arya datar. “Aku cuma nggak mau kamu kehujanan. Kalau besok masuk angin, Mama kamu bisa ribut.” Kalimat itu… terlalu

