TSL ~ Pertemuan Kembali

1582 Words
Malam hari keesokan harinya. Aruna datang ke tempat dan waktu yang sama sesuai permintaan Erlan. Sebenarnya dia bisa saja menolaknya jika dia mau, tapi entah kenapa dia tidak melakukannya. Banyak hal yang membuatnya mempertimbangkan permintaan Erlan, salah satunya adalah faktor kenyamanan. Di saat seperti ini, saat semua terlihat baik baik saja, namun hatinya sangat rapuh, dia tetap manusia biasa yang membutuhkan penopang agar dia tidak jatuh. Itulah alasan paling nyata yang dia pilih untuk menemui Erlan. Tidak ada hal khusus yang Aruna siapkan. Dia tetaplah dia. Selalu anggun dan elegant. Penampilan yang tampak memukau meski dengan penampilan paling sederhana. Definisi paling sederhana untuk seorang Aruna adalah hal yang biasa menurutnya. Namun.. wah untuk orang lain. Contoh paling kecilnya adalah saat dia hanya mengenakan alas kaki berupa sandal, namun orang lain tetap melihatnya sebagai sepatu hak tinggi. Dia merasa semua masih berada dalam taraf normal, saat orang lain menilainya sebagai gadis bangsawan yang sombong. Tidak tau kenapa mereka berpikir seperti itu. Merupakan keadaan yang membuatnya semakin sulit. Banyak desas desus yang mengatakan jika dia arogant dan senang menghina orang. Entah dari mana sumbernya, dia juga tidak tau. Satu yang pasti, mereka hanya belum membuka mata mereka dengan baik. Aruna mengawasi sekeliling. Dan tersenyum saat melihat sosok yang akan di temuinya tengah duduk di sudut dengan hp di genggaman. Pria itu tampak sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Pria itu masih sama seperti biasa, Erlan dengan penampilan sederhana yang terkesan apa adanya. Tidak tau apa pekerjaan pria itu yang sebenarnya. Namun itu pula yang membuat Aruna risau. Tidak masalah jika Erlan adalah orang kaya. Itu akan baik. Tapi bagaimana jika Erlan adalah karyawan kecil dengan gaji sedikit? Bagaimana jika Erlan adalah orang biasa yang berasal dari menengah ke bawah? Dia menanyakan ini bukan karena dia materialistis, bukan pula karena dia mata duitan atau pemilih dalam urusan persahabatan. Dia hanya merasa tidak enak karena pria itu membayar tagihannya kemarin malam. Jumlah tagihannya juga tidak sedikit. Meski nominal itu tidak seberapa untuknya, tapi.. bisa jadi itu adalah nominal yang berharga untuk Erlan. Membuatnya tidak enak hati jika pria itu terus saja memperlakukannya seperti ini. Dia takut akan menganggap lain bentuk perhatian Erlan. Beberapa saat kemudian, pria itu tampak meletakan hpnya ke atas meja dan melambai begitu melihat kedatangannya. Memintanya untuk mendekat ke arah sudut. Aruna mengangguk. Lalu berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya. "Maaf membuatmu menunggu." "Tidak masalah. Itu hanya masalah kecil, jadi.. tidak perlu di besar besarkan. Tapi.. ada apa dengan wajahmu??" Tatapan Erlan membuat Aruna berpikir dua kali. Apa yang salah dengan wajahnya? Apa riasannya berantakan? Aruna lantas mengambil compact powder dari dalam tasnya. Lalu membuka bulatan pipih itu dan bercermin melalui cermin kecil yang berada di sana. Untuk beberapa saat, dia mengawasi wajahnya dengan teliti. Namun, semakin dia mencari apa masalahnya, semakin dia tidak menemukan kesalahan apapun. Aneh. Apa Erlan membohonginya? Erlan terkekeh. "Lara, aku tidak bilang ada masalah dengan riasanmu. Maksudku.. wajahmu seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Aku hanya ingin tau.. apa itu??" "Ah.." Aruna mengerjapkan mata. Dia tidak tau kenapa Erlan bisa menebak tanda tanya besar di dalam kepalanya. Mungkin.. tidak seharusnya dia menyembunyikan apapun dari pria itu. "Sebenarnya.. ada beberapa hal yang memang tengah aku pikirkan. Itu tentang kamu." Aruna menambahkan. Erlan menaikan sebelah alisnya. "Tentangku??" Ucapnya seraya menunjuk dirinya sendiri. Erlan tidak tau apa yang ingin Aruna tau tentangnya. Tapi.. jika tebakannya benar, mungkin gadis itu ingin mengetahui tentang asal usulnya, atau tentang profesinya. "Iya, tentang kamu. Sebenarnya bukan sesuatu yang penting." Aruna meringis. Dia tidak enak mengatakannya. Dia takut pria itu akan tersinggung dan salah paham padanya. Tapi.. dia tidak mempunyai pilihan lain. Dia merasa jika ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakannya. Lagi pula, dia tidak yakin akan ada lain waktu jika tidak mengucapkannya sekarang. "Katakan saja jika menurutmu itu penting." Erlan berucap santai. "Sejujurnya, aku tidak memiliki maksud lain. Aku mengatakan ini karena aku ingin kamu menjadi dirimu sendiri. Tidak perlu melakukan apapun untuk membuat orang lain terkesan. Jika itu sulit untukmu, kamu tidak perlu memaksakan diri. " "Tidak bisakah kamu langsung saja ke intinya? Kamu membuatku pusing." Erlan berlaku seolah olah dia tidak mengerti maksud Aruna. Meski nyatanya dia tau lebih dari siapapun kemana arah pembicaraan Aruna sejauh ini. "Aku ingin tau apa pekerjaanmu sehari hari." "Apa kamu sungguh sungguh ingin tau??" Erlan menatap Aruna lekat. Aruna gelagapan saat mendapat tatapan seperti itu dari Erlan. Aruna mengangguk. "Iya." Erlan menghela nafas panjang. "Aku bisa saja memberitahumu tentang profesiku, asal usulku, dan semua yang ingin kamu tau. Tapi.. aku tidak yakin kamu masih mau berteman denganku atau tidak jika kamu mengetahui kebenarannya." "Hei.. sepertinya kamu salah paham denganku." Aruna buru buru menyanggah ucapan Erlan. "Sayangnya.. aku bukan gadis MA-TERIALIS-TIS seperti yang kamu pikirkan. Aku juga tidak pernah melihat seseorang berdasarkan apa yang terlihat. Entah itu tentang penampilan, pekerjaan, atau tentang apapun yang membedakan strata sosial seseorang. Asalkan orang itu tulus berteman denganku, tidak memanfaatkanku, tidak menggunakan ku untuk kepentingan pribadi mereka. Itu sudah cukup." Aruna berkata sendu. Terakhir kali dia di manfaatkan adalah beberapa hari yang lalu. "Hei.. kamu ini kenapa? Apa aku terlihat seperti orang yang tidak tulus? Apa wajahku tidak cukup meyakinkan untuk membuatmu percaya?" Erlan menunjukan puppy eyes yang tanpa sadar telah membuat Aruna terkikik geli. Sejujurnya, dia adalah pria yang dingin, tidak pandai menghibur wanita dengan kalimat kalimat puitis, atau dengan nada nada cinta. "Aish.. hentikan tampang menyebalkan itu! Kamu benar benar tidak pantas." Aruna meminta agar Erlan tidak menunjukan wajah itu lagi. Bukan karena wajah Erlan tampak menyebalkan. Tapi.. karena ketampanan Erlan menjadi berlipat lipat dengan sisi imut yang seperti ini. Mungkin.. Aruna memang membutuhkan seorang pendamping yang seperti Erlan agar bisa mengimbangi sikap dan sifat dinginnya. Tipe yang sesuai untuk standar ideal suami idaman tambatan hati. Bukan pria t***l seperti Dion yang gemar membohongi wanita, arogant dan juga sombong. Pria seperti Dion harusnya di kemas rapi dalam sebuah kotak, lalu di tutup rapat dan hempas sampai ke Antartika. Sementara Zivanya?? Gadis itu tidak perlu di perlakukan seperti Dion. Cukup ajak Zivanya ke laut dan jadikan gadis itu sebagai umpan untuk memancing hiu. Dan semuanya.. beres. "Lara.." Suara manly Erlan membuat kesadaran Aruna kembali. Dia mengerjap. Lalu menatap Erlan yang juga tengah menatapnya. Aruna memiringkan kepalanya, lalu menaikan sebelah alisnya. "Ada apa?" "Mau mencari udara segar denganku? Aku akan menceritakan tentangku kepadamu." Aruna mengangguk. "Okey." ------• --• Pemandangan pantai tidak kalah indah saat di saksikan pada malam hari. Di tambah suasana sepi dan senyap membuat segalanya semakin menarik. Saat yang tepat untuk di habiskan dengan orang terkasih. Menyusuri pesisir pantai dengan berjalan bersisian bersama seorang pria bukanlah hal baru untuknya. Aruna juga pernah melakukan hal ini saat Dion masih menjadi kekasihnya. Namun, keadaan telah berubah. Dion sudah lenyap. Bahkan bayangannya pun tidak tersisa. Hanya ada masa lalu kelam yang seharusnya bisa mengembalikan semangat Aruna untuk menatap masa depan indah bersama pria baik suatu hari nanti. "Kamu bisa menilaiku dari apa yang terlihat." Erlan meneliti penampilannya sendiri dari atas ke bawah. Aruna menghentikan langkah kakinya. "Maksudmu.. secara financial??" Erlan turut berhenti. Lalu menganggukan kepala, "iya." "Berdasarkan apa yang terlihat... " Aruna mencoba menghitung berapa nominal untuk penampilan Erlan saat ini. Tshirt senilai 100$, celana denim pendek senilai 150%, jam tangan branded namun sudah kadaluarsa dan ketinggalan zaman senilai 500$, sneakers biasa senilai 200$. Hanya itu yang bisa dia total sejauh ini. Namun, itu masih mungkin. Bisa saja dia salah menafsirkan. Tapi, berdasarkan apa yang terlihat, kondisi financial Erlan tidak begitu baik. "Bagaimana? Sudah mendapatkannya?" Erlan mencoba menebak reaksi Aruna setelah melihat penampilan sederhananya. Aruna tersenyum canggung, lalu menepuk bahu Erlan secara perlahan. "Tidak perlu di pikirkan! Aku tidak akan menanyakan apapun dan kamu tidak perlu menjelaskan apapun." "Tapi.. aku ingin semua menjadi jelas, Lara." Erlan berniat untuk menjelaskan tentang identitasnya yang sebenarnya. Dia akan menceritakan segalanya secara jujur tanpa ada yang di tutupi lagi. Secara teori, Erlan tidak memalsukan tentang profesi yang dia geluti dari Aruna. Juga tidak membohongi Aruna tentang apapun mengenai dirinya. Dia hanya belum menjelaskannya saja. Aruna tidak bertanya, jadi.. dia merasa tidak perlu mengatakannya. Lagi pula, Erlan hanya ingin Aruna menerka sendiri berdasarkan apa yang gadis itu lihat tentang dirinya. Tidak ingin menambahkan penjelasan yang tidak perlu. "Sttt!" Aruna meminta agar Erlan tidak melanjutkan. "Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, okey? Biarkan semua mengalir seperti air. Kita tidak perlu ikut campur dengan hukum alam yang telah Tuhan atur sedemikian rupa." "Setuju?" Aruna berjinjit lalu mendekatkan wajahnya ke arah Erlan dengan wajah centil. "Jika kamu setuju, kita bisa melanjutkan apapun yang harus di lanjutkan. Tapi.. jika kamu tidak setuju, aku akan pergi sekarang." Aruna berbalik setelah mengatakan penggalan kalimat itu. Dia hendak melangkah pergi sampai tangan kekar Erlan menahannya lalu memeluk tubuhnya erat. Erlan tersenyum tipis. Ini adalah yang pertama untuknya. Di hargai dan tidak di hakimi berdasarkan apa yang terlihat di permukaan. Spesies betina sejenis Aruna, sudah jarang di temukan. Bahkan.. mungkin saja sudah punah. Jadi, Erlan memutuskan akan menjadikan Aruna sebagai yang terakhir untuknya. Menjadikan Aruna sebagai pelabuhan kala dia lelah setelah bertahun tahun melakukan percarian tanpa menemukan apapun. Sekarang saatnya dia untuk menetap dan tinggal dalam satu sangkar hingga ajal yang memisahkan. Erlan mengusap kepala Aruna. Merapikan helaian rambut yang berterbangan kala udara pantai berhembus ke arah mereka. Wajah cantik Aruna kian memukau saat sinar bulan menyinari wajah gadis itu hingga menyisakan senyum indah yang mampu membuat hatinya berdebar. Tanpa terasa, hasrat untuk memiliki gadis itu kian membuncah. Tidak tau apa penyebab pastinya. Namun, semakin Erlan memikirkannya, semakin dia tidak tau apa alasannya. Erlan menggenggam erat tangan Aruna. "Apa kamu mau menghabiskan malam denganku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD