EMPAT BELAS

3544 Words
Kisah sebelumnya di You’re My Light...     Zevarsya Venzaya, gadis cantik yang mencintai Grezan Devanio Elkansa sejak dia kuliah. Perasaan cinta yang dipendamnya selama enam tahun karena Devan sudah memiliki kekasih, Neyla Arzella. Lalu, Zeva tidak sengaja bertemu dengan Keylo Izkar Arvenzo. Laki-laki yang sudah menolongnya ketika dia jatuh tak sadarkan diri di tengah jalan saat hujan deras. Keylo membawanya ke rumah sakit. Sialnya, pertemuan itu menjadi awal dari pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. Seakan sedang dipermainkan oleh takdir, Zeva harus menerima kenyataan bahwa dia satu kantor dengan Keylo.             Hubungan Zeva dan Keylo benar-benar membuat rekan-rekan kerja mereka pusing bukan main. Bagaimana tidak? Setiap kali keduanya bertemu, selalu saja ada yang diributkan. Hal kecil selalu menjadi besar jika menyangkut keduanya. Tapi, satu hal yang tidak pernah diketahui Zeva dan ketika dia tahu, dia terkejut. Keylo ternyata mantan pacar Neyla, kekasih Devan, laki-laki yang dicintainya diam-diam itu.             Zeva dan Keylo mulai memainkan sebuah akting, ketika Devan mulai mendekati Zeva disaat dia masih bersama Neyla. Menurut Devan, dia mulai menyukai Zeva. Dia tahu akan perasaan terpendam Zeva selama ini dari sebuah surat yang diterimanya saat dia lulus kuliah dulu. Dia ingin mempertanyakan kebenaran surat itu pada Zeva, tetapi tidak sempat karena harus ke luar negeri. Keylo yang mendengar pengakuan Devan pada Zeva itu, meskipun tidak tahu apa yang sedang terjadi, langsung menegaskan pada Devan bahwa dia adalah kekasih Zeva. Zeva sendiri tidak membantah dan membiarkan. Lalu, Zeva memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Keylo. Keylo sendiri hanya diam dan menarik napas sebagai reaksi atas cerita Zeva itu.             Ternyata, frekuensi pertemuan Zeva dan Keylo itu membuat perasaan baru tumbuh. Keylo jatuh cinta pada Zeva. Pun dengan Zeva meskipun dia belum sepenuhnya sadar. Keduanya jadi semakin dekat dan akhirnya Keylo menyatakan perasaannya pada Zeva. Gadis itu menerimanya dan keduanya mulai merajut kasih. Disaat itulah, Neyla dan Devan justru putus. Devan meminta Neyla untuk menyudahi hubungan mereka karena dia sadar bahwa dia mulai mencintai Zeva.             Devan sempat membuat rencana untuk menghancurkan hubungan Zeva-Keylo. Sayangnya, rencana itu gagal. Keylo tidak terpengaruh dengan segala macam usaha Devan untuk menghancurkan hubungannya dengan Zeva. Devan marah. Dia kesal. Dia menginginkan Zeva. Dia mencintai gadis itu.             Neyla memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Dia tidak kuat menghadapi semuanya sendirian. Dia ingin mengubur semua kisah cintanya dengan Devan di Indonesia. Sekuat apapun dia mencoba untuk mengambil hati Devan lagi, dia tidak akan bisa.             Keylo memberikan kejutan ulang tahun untuk Zeva di kantor. Suasana begitu hangat dan penuh sukacita. Dia memberikan setangkai mawar dan kalung perak berinisial nama keduanya: ZK. Sampai akhirnya, kejadian mengerikan itu terjadi.     SEQUEL YML: CATCH YOUR HEART #1-NEW LIFE   Hujan deras sudah turun sejak dua jam yang lalu. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Awan hitam masih betah menggantung di langit, memberikan kesan menakutkan pada siapa saja yang melihatnya. Angin berhembus kencang, memperparah hawa dingin yang dirasakan oleh orang-orang. Di ruang tamu, terdengar suara tawa. Suara tawa keluarganya. Perasaan hangat menjalar pada sekitar ruang tamu tersebut, tapi tidak dengan kamar orang itu. Kamar itu terlihat begitu menyedihkan. Gelap dan dingin. Sedingin hawa di luar sana dan segelap perasaannya saat ini. Ah... ralat. Segelap perasaannya selama tiga bulan terakhir ini, sejak kejadian mengerikan itu terjadi.             Keylo menatap jendela kamarnya dengan tatapan datar. Kosong. Hampa. Semua membaur menjadi satu. Dia menopang dagu dengan sebelah tangan. Ditatapnya hujan deras diluar sana sambil mengingat lagi detail peristiwa mengerikan itu. Perasaan hangat dan ceria yang dulu sempat menempel pada hatinya seolah hilang, lenyap tak berbekas. Tidak ada lagi canda dan tawa serta suara-suara lembut dari gadis itu. Dari gadisnya.             Dari... Zeva.             Seandainya saja, dia bisa lebih berhati-hati dalam mengemudi, pasti dia tidak akan mengalami kecelakaan bersama Zeva. Seandainya dia bisa lebih kuat dan bertahan, tidak langsung jatuh tak sadarkan diri, pasti dia masih bisa menjaga dan melindungi Zeva. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Zeva masih ada disana. Bernapas untuknya, tersenyum untuknya.             Sayangnya, dia terlalu lemah. Dia langsung pingsan dan begitu tersadar, dia sudah ada di rumah sakit. Tanpa Zeva. Tanpa gadisnya. Begitu dia bertanya pada seluruh keluarganya yang sudah berada disana, menatapnya dengan tatapan sedih, mereka serempak menggeleng. Katanya, menurut pengakuan polisi, tidak ada siapapun disana selain Keylo. Tidak ada Zeva. Hanya ada Keylo.             “Dimana kamu?” gumam Keylo pelan. Lirih dan sarat akan kerinduan. Matanya mulai memanas. Dadanya mulai sesak. Sesak akan beban dan ketakutan yang begitu hebat. Memikirkan keselamatan gadisnya yang kini entah ada dimana. Keylo menolak memikirkan bahwa Zeva mungkin sudah... sudah...             Tidak!             Dia yakin, Zeva masih hidup. Di suatu tempat entah dimana. Bernapas, melakukan kegiatan seperti biasanya. Tersenyum dengan cara yang sangat dia sukai dan sudah dia hafal diluar kepala. Tertawa renyah seperti biasanya. Memasang raut wajah cemberut jika keinginannya tidak terpenuhi. Keylo yakin, Zeva sedang melakukan semua rutinitas itu. Rutinitas yang teramat sangat dia sukai dan dia rindukan saat ini.             Keylo meraih pigura foto yang berada di atas meja kerjanya. Foto Zeva yang sedang tersenyum lebar. Foto Zeva yang sedang mencubit pipinya, hingga membuatnya terpaksa menampilkan ekspresi wajah aneh, sementara gadisnya itu malah menampilkan ekspresi wajah sempurna. Senang, ceria dan penuh semangat.             Diusapnya pigura foto itu dan diberinya seulas senyum. Kemudian, dia membawa pigura itu kedalam pelukannya. Dia memejamkan kedua mata dan airmata itu mulai mengalir turun. Tidak apa-apa, kan, kalau dia menangis? Sekali ini saja. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah menangis. Karena dia yakin, dia akan bertemu lagi dengan Zeva secepatnya. Tapi, ketika detik demi detik terlewat, jam demi jam hingga bulan pun berganti, dia tak kunjung bertemu dengan Zeva.             Dulu, dia kehilangan Zevi, saudara kembar Zeva dan dia memutuskan untuk mengunci rapat semua memorinya mengenai Zevi.             Sekarang, dia tidak akan melakukannya lagi.             Kali ini, dia akan mencari Zeva. Kalau memang diperlukan, dia rela menukarnya dengan nyawa, asalkan gadis itu kembali muncul tepat di hadapan.             “Aku kangen...,” lirihnya parau. ### Devan mencari keseluruh penjuru kafe dan berhenti pada satu titik. Di sudut kafe, duduk seorang gadis cantik berambut pendek sebahu yang sedang menundukkan kepala sambil memainkan ponselnya. Sesekali, Devan bisa melihat senyum terukir pada bibirnya yang berwarna merah. Langsung saja, Devan menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di hadapannya tanpa menyapa. Hanya diam seperti itu.             Bayangan hitam yang mengganggu indra penglihatnya membuat Neyla mengangkat wajah. Gadis itu memamerkan senyum terbaiknya dan menyuruh Devan untuk duduk. Devan menghela napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi. Di atas meja, sudah ada jus mangga kesukaannya. Neyla rupanya sudah memesan minuman untuknya. Dan gadis itu masih hafal dengan kesukaannya.             “Apa kabar?” tanya Neyla memulai percakapan. “Lo keliatan kurusan dari yang terakhir gue liat, Van....”             Ada yang aneh dalam percakapan ini, Devan tahu benar akan hal itu. Karenanya, laki-laki itu mengangkat satu alisnya. Menatap bingung sekaligus penasaran kenapa Neyla merubah kata sapaan yang selama ini selalu mereka gunakan.             “Gue nggak harus pakai kata sapaan ‘aku-kamu’, kan? We broke up, remember?” Seakan tahu jalan pikiran Devan saat ini, Neyla langsung menyuarakan pendapatnya kepada laki-laki itu. Membuat Devan mendengus dan terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. Merasa telah di skak-mat oleh sang mantan. Entah ada angin apa, Neyla tiba-tiba saja meneleponnya dengan nomor yang tidak dikenal oleh Devan dan meminta mereka untuk bertemu di kafe ini karena gadis itu baru saja tiba di Indonesia semalam.             Devan terbangun pagi tadi dengan keadaan kesal bukan main. Mimpi buruk itu kembali hadir, menyapa tidur malamnya. Sudah hampir tiga bulan terakhir ini, meskipun tidak terlalu sering, laki-laki itu selalu mengalami mimpi buruk. Memimpikan Zeva. Gadis itu datang dengan wajah berlumuran darah dan menyalahkan semua kecelakaan yang terjadi atas dirinya dan Keylo pada Devan. Membuat Devan harus berteriak kalut di tengah malam hingga membangunkan semua anggota keluarganya. Mimpi sialan itu mulai datang ketika dia mengetahui kecelakaan yang menimpa Keylo dan Zeva, juga kenyataan yang menampar bahwa gadis itu menghilang dari tempat kejadian.             Kabar Keylo yang mencari Zeva dari hari ke hari juga mampir pada telinganya, membuat Devan mendengus dan mencibir. Sudah membuat Zeva kecelakaan dan menghilang seperti sekarang ini, lalu Keylo ingin menebus semuanya dengan menjadi pahlawan kesiangan? Begitu? Seandainya saja Zeva bersamanya, pasti gadis itu akan bahagia. Pasti gadis itu masih berada disini sekarang. Dan pastinya, mimpi sialan yang terpaksa membuatnya menenggak obat tidur, meskipun tidak setiap hari, tidak akan datang mengganggunya.             “Gue dengar... Keylo dan Zeva kecelakaan.”             Suara Neyla itu menembus indra pendengar milik Devan, membuat laki-laki itu tersadar dari lamunan dan menatap wajah Neyla. Laki-laki  itu menatap langsung ke manik mata, menembus dunia Neyla dan menghela napas panjang seraya mengangguk.             “Keylo nyaris gila karena nyariin Zeva yang menghilang dari tempat kejadian waktu itu. Udah tiga bulan tapi gadis itu belum ditemukan juga. Orangtuanya udah pasrah. Mereka cuma bisa berharap, dimanapun Zeva berada, gadis itu baik-baik aja.” Devan mengusap wajah dengan sebelah tangan. Selalu merasa lelah jika memikirkan Zeva yang entah berada dimana itu. “Yang gue dengar, Keylo nggak masuk kantor lagi. Satu bulan penuh dia harus istirahat karena keadaannya yang benar-benar parah waktu ditemuin di tempat kejadian. Dua bulan sisanya, dia habiskan buat nyari Zeva.”             Neyla diam. Dia tahu semua perkembangan mengenai Keylo dari Jasmine. Berita mengenai kecelakaan yang menimpa pasangan itu juga diketahui Neyla dari akun sosial media milik Jasmine. Lalu, Neyla mengontak Jasmine melalui akunnya itu dan mengalirlah semua cerita mengenaskan mengenai Zeva dan Keylo dari mulut gadis Arab tersebut.             “Kalau boleh tau, kenapa lo pergi ke luar negeri waktu itu?”             Pertanyaan Devan yang terkesan tiba-tiba itu membuat Neyla mengerjap. Laki-laki itu berhasil membelokkan percakapan dengan lihai, membuat senyum Neyla terbit. Gadis itu memiringkan kepala lantas menopang dagu dengan kedua tangan. Ditatapnya wajah Devan dengan seksama, memberitahu otaknya bahwa semua yang ada pada diri Devan masih sama. Kecuali postur tubuhnya yang memang sedikit berubah karena laki-laki itu menjadi sedikit lebih kurus dibandingkan dengan sebelumnya.             “Gue rasa lo tau jawabannya.”             Ah... ya, Devan jelas tahu apa alasannya. Dia hanya berbasa-basi menanyakan hal tersebut dan menginginkan jawaban dari mulut Neyla sendiri. Dia juga sadar bahwa dia sudah sangat b******k, hingga membuat Neyla sakit hati dan akhirnya memutuskan untuk pergi.             “Dan... kenapa sekarang lo balik ke Indonesia lagi? Udah selesai melakukan misi kaburnya? Hmm?”             Neyla diam. Gadis itu mengaduk minumannya dan menghela napas panjang.             “Sejujurnya, gue balik kesini karena gue mau liat lo menderita, Van. Menderita seperti apa yang gue rasain. Bukannya gue jahat dan mau menyumpahi Zeva, tapi, gue rasa karma mulai beraksi. Membalas semua perbuatan lo ke gue waktu itu. Jadi, yang akan gue lakukan saat ini adalah duduk manis sebagai penonton dan menyaksikan betapa hancurnya seorang Grezan Devanio Elkansa.”             Ganti Devan yang terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa dan membiarkan kalimat menyakitkan Neyla itu menusuk tepat ke ulu hati. ### Matahari menjalankan tugasnya dengan penuh semangat keesokan harinya. Membakar semangat orang-orang yang sedang bekerja demi mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sama seperti laki-laki itu. Yang baru saja turun dari mobil Lexus-nya. Dia membuka kacamata hitamnya dan mendongak, menatap gedung pencakar langit di depannya. Senyum dingin itu terbit, mencairkan panas matahari yang membakar tubuhnya. Jas abu-abunya disampirkan di tangan kiri. Dua kancing atas kemeja kerja hitamnya dibiarkan tidak terkait. Penampilannya yang elegan namun tetap terlihat santai itu sanggup menyihir beberapa gadis yang lalu-lalang di dekatnya.             “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang satpam dengan nada ramah namun tatapannya terlihat tajam. Diliriknya laki-laki di depannya itu dengan lirikan iri. Jika dilihat lagi, mungkin usia keduanya bisa dibilang sama, namun tidak dengan nasib yang membawa kehidupan keduanya.             “Katakan saja pada pemilik perusahaan ini, Fitz Crazenro ingin bertemu.” Laki-laki itu membalas lirikan iri si satpam dengan santai. Sama sekali tidak terpengaruh. Dia sudah terbiasa dengan semua lirikan iri dari kaum Adam dan tatapan memuja dari kaum Hawa.             Setelah mendengar nama Fits Cranzero, si satpam terkesiap. Dia bergegas membungkukkan tubuh dan cepat-cepat masuk kedalam untuk memberitahu direktur perusahaan ini. Sayangnya, dia lupa menyuruh laki-laki itu untuk masuk dan menunggu didalam. Membuat Fitz tertawa pelan.             Lalu, suara decit ban mobil itu terdengar. Jelas dan dekat. Fitz menoleh dan mengangkat satu alisnya ketika mobil Outlander Sport itu melaju kencang ke arahnya. Bahkan, Fitz sama sekali tidak terlihat takut saat bemper mobil itu berhenti tepat satu senti di depan lututnya.             Pintu pengemudi terbuka. Sepasang kaki putih mulus terlihat disana. Disusul kemudian tubuh semampai dan seksi seorang gadis. Gadis cantik dengan rambut panjangnya yang agak ikal di bagian bawah. Wajahnya menarik dengan alis hitam menaungi dua mata bulat indahnya, hidung yang mancung dan bibir merah tipisnya. Gadis itu menutup pintu dengan bantingan, menyandarkan punggung dan bersedekap. Tatapannya begitu lekat saat menatap Fitz dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pakaiannya sungguh menggoda. Kaus tanpa lengan dipadu dengan celana jeans pendek sebatas paha.             “Hai,” sapa gadis itu. Senyumnya manis tapi terkesan misterius.             “Ngapain lo disini?” tanya Fitz bingung. “Bukannya lo harus nemenin nyokap ke mall?”             “Baru aja pulang. Kebetulan, gue kangen sama lo.”             “Seorang Florence bisa kangen sama gue? Kiamat besok, ya?”             Gadis yang bernama Florence itu hanya tertawa renyah kemudian menggelengkan kepalanya. Dihampirinya Fitz, bergelayut manja di lengan laki-laki itu dan diberinya satu ciuman sensual di pipi. Nyaris mengenai sudut bibir.             “Gue selalu kangen sama Abang gue tercinta.”             Fitz tersenyum tipis dan merangkul pinggang Florence untuk balas mencium pipi gadis itu. lalu, kedua matanya menatap benda berkilauan di leher Florence.             Kalung perak berinisial ZK.             “Kenapa, Bang?” tanya Florence bingung, ketika mendapati tatapan datar sang Kakak ke arah lehernya. Dia ikut menatap kalung yang melingkar di leher putihnya tersebut dan membelai kalung perak itu. Senyumnya kembali terukir kala jemarinya sudah menyentuh inisial ZK tersebut seutuhnya. “Ada masalah sama kalung gue?”             Fitz menggeleng dan tersenyum tipis. Dibawanya Florence kedalam pelukannya, mengabaikan sentakan napas para gadis yang kebetulan melintas di dekat mereka. Florence hanya tertawa renyah mendapat perlakuan seperti itu dari Kakaknya dan balas memeluk tubuh tegap tersebut.             “Flo masih nggak paham, kenapa kalung ini berinisial ZK.” Gadis itu mulai bersuara kembali, membuat tubuh Fitz berubah kaku. Namun, dia cepat-cepat menormalkannya kembali.             “Karena nama lo ada unsur Z nya, Sayang,” kata Fitz setelah jeda beberapa detik. “Zahara Florencia. Cuma, kita lebih senang manggil lo dengan nama Florence. Dan... orang yang ngasih kalung lo itu udah meninggal. Orang yang sangat lo cintai. Dia rela menukar nyawanya demi lo, supaya lo tetap hidup. Sayangnya, akan selalu ada konsukensi dari setiap kejadian. Lo lupa semuanya, bahkan sama kita, keluarga lo, juga sama orang yang lo cintai itu.”             Florence menarik napas panjang. Matanya mulai terasa panas. Ingin rasanya dia menangis setiap kali mendengar cerita mengharukan itu. Padahal, dia sudah mendengarnya ribuan kali dari mulut Abangnya.             Krezna Arjuna... seandainya gue nggak hilang ingatan, pasti gue akan selalu mengingat setiap detail dari semua pengorbanan yang lo berikan ke gue supaya gue tetap bernapas di dunia ini... ### “Za... lo ngapain ngajakin gue kesini, sih?”             Gaza mendesis dan menarik pergelangan tangan Keylo dengan kekuatan super yang entah dia dapatkan dari mana. Pasalnya, tubuh Abangnya itu benar-benar seperti patung, tidak mempan untuk diseret. Aksinya itu lebih mirip dengan seorang perempuan yang merajuk kepada sang pacar dan menyeret pacarnya itu agar datang ke tempat yang disukai olehnya.             “Bang... lo bukan Edward Cullen yang harus terus berada didalam rumah demi menghindari sinar matahari, ya!” omel Gaza. Beberapa kali Keylo sempat berpikir, mungkin Mama mereka mengidam anak perempuan ketika sedang hamil Gaza. Soalnya, sikap Gaza itu lebih menjurus ke perempuan yang doyannya ngomel nggak jelas. “Bahkan setau gue, Edward Cullen aja masih suka keluar, tuh. Sekolah, jalan-jalan sama Bella Swan, dan lain-lain. Nggak ngerem di rumah kayak lo. Ngegalau nggak jelas!”             Langkah kaki Keylo terhenti. Ucapan Gaza tadi sedikit menyentil hatinya, membuat laki-laki itu menatap tajam Gaza. Gaza yang bingung langsung menoleh dan tertegun. Kemudian, dia tahu dimana letak kesalahannya.             “Gue bukannya menggalau di rumah, Za. Gue mikirin Zeva! Gue mikirin keselamatan Zeva! Don’t you see that? I’m totally mess without her!”             Gaza menarik napas panjang dan membuangnya berat. Laki-laki itu tersenyum tipis, mendekati Abangnya dan menepuk pundak laki-laki itu beberapa kali. Bukannya dia tidak tahu akan hal itu. Dia amat sangat tahu, malah. Bang Verco, kedua orangtuanya, bahkan Jasmine, sahabat karib Zeva juga Catherine mengkhawatirkan Zeva. Pun dengan keadaan Keylo. Mereka semua peduli. Hanya saja, tidak ada gunanya juga ‘membunuh’ diri sendiri karena memikirkan hal tersebut. Mereka memang harus berusaha, Keylo memang harus berusaha. Tapi, bukan dengan cara menyakiti diri sendiri juga.             “Bang, gue ngerti perasaan lo. Gue juga cemas sama keadaan Kak Zeva. Suer. Tapi, lo nggak bisa terus terpuruk dan merasa bersalah. Nyaris gila nyari Kak Zeva setiap hari sampai-sampai lupa sama kondisi tubuh lo sendiri. Lo manusia, Bang. Lo butuh makan, butuh istirahat, butuh tidur. Kalau lo sakit, lo pikir lo bisa nemuin Kak Zeva, gitu?”             Keylo tersentak dan menundukkan kepala. Omongan Gaza memang ada benarnya.             “Gue yakin Kak Zeva baik-baik aja, Bang. Kalau dia tau lo kayak gini, dia pasti bakalan sedih banget.” Gaza kembali menepuk pundak Keylo dan meninju lengan atas laki-laki itu. “Nah... sekarang gue bawa lo ke mall ini buat nyobain tempat makan baru yang ada di lantai empat. Kata Catherine yang udah kesini bareng si kunyuk Keanu, makanan disana enak-enak, Bang!”             Keylo mengangkat wajah dan mendengus ketika melihat raut wajah Gaza yang sudah mupeng berat itu. Keduanya tertawa bersama dan Keylo menoyor kepala Gaza pelan.             “Bilang aja lo maunya yang gratisan!”             “Yah, Bang... kata Bang Verco, dia ngirimin duit ke rekening lo. Banyak. Katanya supaya lo bisa make duit itu buat having fun biar rasa cemas lo akan Kak Zeva terlupakan sedikit. Tapi kayaknya, lo bahkan nggak tau kalau Abang kita yang sangat dermawan itu udah ngasih sebagian duitnya buat pengangguran macam lo.”             “Sialan!” Keduanya tertawa lagi. Cukup keras hingga menarik semua perhatian pengunjung mall. Gaza berjalan lebih dulu, membiarkan Keylo mengikuti di belakang.             Keylo menarik napas panjang dan merenung. Gaza memang benar. Kalau dia sakit, siapa yang nantinya akan menemukan Zeva? Kalau dia sakit, siapa yang akan memastikan keadaan Zeva? Bahwa gadis itu memang baik-baik saja.             Tidak fokus dengan langkahnya, Keylo merasa pundaknya ditabrak dari depan. Laki-laki itu mengangkat wajah dengan cepat ketika mendengar suara jeritan tertahan dan mendapati seorang gadis sedang terduduk di atas lantai sambil mendumel tidak jelas dan mengusap lututnya. Cepat-cepat Keylo berjongkok untuk membantu gadis itu.             “Sori... sori, Mbak... gue nggak sengaja. Gue....”             “Lo kalau jalan pake mata, dong! Main nabrak orang seenaknya aja!” omel gadis itu, memotong permintaan maaf Keylo. Ketika tatapan keduanya bertemu, Keylo merasa jantungnya berhenti berdetak.             Itu... dia...             “Malah bengong, lagi! Ah... gue tau! Lo sebenarnya sengaja nabrakin diri, kan? Mau modusin gue, kan? Mau kenalan? Kalau itu tujuan lo, lo tinggal bilang aja sama gue! Nggak usah main nabrak segala. Emangnya lo pikir, jatuh itu nggak sakit, apa?!”             Suara itu... wajah itu... mata itu... nada ketus itu...             “Elo....” Keylo tidak mampu bersuara. Laki-laki itu bangkit berdiri diikuti oleh si gadis. Keduanya berhadapan dengan tatapan yang berbeda. Tatapan tidak percaya dari kedua mata Keylo, sementara tatapan tajam dan berapi-api dari si gadis.             “Apa?” tanya si gadis keras. “Dasar cowok sinting!”             Baru saja si gadis berniat untuk pergi, Keylo dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Gadis itu menoleh dan menatap Keylo dengan tatapan membunuh. Dia memberontak, berusaha melepaskan diri namun gagal. Sampai kemudian, gadis itu mengerjap dan menganggukkan kepalanya. Seolah mengerti akan sesuatu.             “Aaah... gue tau... lo pasti tertarik sama gue, kan?” tanya gadis itu dengan nada bangga sambil tertawa. Dia mendorong tubuh Keylo dan menarik pergelangan tangannya yang tadi dicekal oleh laki-laki itu. “Maaf-maaf aja, ya, Bung... gue bukan cewek gampangan. Gue nggak mempan dirayu dan digombalin. Ngerti?”             “Zeva....”             Suara lirih Keylo membuat gadis itu tersentak. Gadis itu mengerutkan kening dan menaikkan satu alisnya, ketika dia melihat senyum dan tatapan haru milik Keylo. Lalu, laki-laki itu menerjang maju, memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat.             “Zeva! Zeva! Aku kangen sama kamu! Aku kangen banget sama kamu!” Keylo masih memeluk erat tubuh gadis itu, meskipun didalam pelukannya, gadis itu sudah meronta hebat meminta untuk dilepaskan. “Kamu baik-baik aja, kan? Selama ini kamu tinggal dimana? Ayo pulang, Va... semua orang khawatir sama kamu.”             Dengan mengerahkan semua kekuatannya, gadis itu mendorong tubuh Keylo. Kemudian, ditamparnya sebelah pipi Keylo dengan keras, menciptakan kerumunan dari para pengunjung mall. Keylo memegang pipinya dan menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak percaya.             “Va... kamu....”             “Beneran sinting lo, ya?!” seru gadis itu emosi. “Siapa itu Zeva?! Gue bukan Zeva! Gue Florence! Jangan asal nyebut nama, ya!”             Setelah menatap Keylo sekali lagi dengan tatapan tajam, gadis itu memutar tubuh dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Orang-orang disekitar Keylo mulai berkasak-kusuk, membicarakan hal yang baru saja terjadi.             Tak jauh dari tempat kejadian, Gaza menatap datar ke arah Abangnya. Juga ke arah punggung gadis yang baru saja menjauh dari tempat itu. Gaza tidak mungkin salah lihat. Abangnya juga tidak mungkin salah lihat.             Itu memanglah... Zeva.             Tapi... kenapa dia mengaku bernama Florence?             Didalam mobil Outlander Sport-nya, Florence melempar tas tangannya ke kursi belakang. Kemudian, dia mengambil sebuah kalung dari atas dashboard dan menatap kalung tersebut dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.             Ada perasaan hangat dan nyaman menyusup dalam hatinya, ketika tadi dia menatap wajah laki-laki sinting itu.             Siapa dia? ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD