LIMA BELAS

1689 Words
Backsound:  Samson: Di Ujung Jalan                         Letto: Dalam Duka       Di ujung... jalan... ini... Aku menunggumu... aku menantimu... Di tengah... terik matahari... Aku menyanyikan... kisah tentang kita...               Mobil Outlander Sport Florence berhenti tepat di ujung jalan tersebut. Di ujung jalan dekat persimpangan rumahnya. Entah apa yang merasukinya, dia juga tidak tahu. Yang jelas, saat melewati tempat ini, hati Florence bergetar. Seperti ada magnet yang menariknya untuk mendekat. Untuk melihat. Untuk merasakan. Entah dalam hal apa, gadis itu juga tidak mengerti. Yang dia tahu, setiap kali dia melewati tempat ini, dia selalu berhenti.             Pintu mobilnya terbuka dan Florence melangkah turun. Mendekati pagar pembatas yang ada disana. Ada yang menampar hatinya, Florence yakin itu. Karena dia merasa gemetar. Gemetar yang begitu hebat. Membuat tengkuknya meremang karena dipeluk dingin. Membuat napasnya macet di tenggorokkan. Gadis itu kemudian memeluk tubuhnya sendiri. Heran. Padahal tidak ada angin yang berhembus siang ini, tapi Florence merasa sangat menggigil. Seperti berada ditengah hamparan salju.             “Kenapa, ya?” gumam gadis itu bingung. Matanya tak pernah lepas dari trotoar yang berada di depannya. Menatap titik tersebut dengan tatapan bertanya. “Tiap kali gue lewat sini, gue selalu ngerasa... rindu. Entah rindu karena apa.”             Florence berdeham dan menatap sekitar. Sepi. Tidak ada orang yang melintas. Hanya ada beberapa kendaraan yang melewati jalan tersebut. Gadis itu menarik napas panjang dan memutar tubuh. Berniat kembali kedalam mobilnya. Sebelum benar-benar masuk kedalam mobil, Florence menoleh sekilas dan kembali menatap trotoar tersebut dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.             Seperti... apa, ya?             Rindu... takut... penasaran... semuanya berbaur menjadi satu. Mengaduk isi perutnya hingga membuatnya mual dan merasa ingin muntah.             Lalu... bayangan itu hadir.             Hanya sekelebat, tetapi benar-benar menghantamnya. Membuatnya sedikit limbung ke samping, kemudian cepat-cepat berpegang pada badan mobilnya. Ketika keseimbangan tubuhnya bisa dia dapatkan kembali, Florence mendesah lega dan memijat pelipisnya.             Senyum itu... begitu nyata.             Tatapan itu... begitu intens dan lembut.             Wajah itu... meskipun hanya berupa bayangan, hanya sekilas, tetapi memberikan efek kehangatan tersendiri. Aneh. Benar-benar aneh. Padahal dia tidak bisa melihat bayangan itu dengan jelas, tetapi dia merasa seperti terkoneksi. Seperti terhubung. Seperti ada benang merah yang menyatu pada dirinya dan si bayangan tersebut.             “Gue makin ngelantur.” Florence menggelengkan kepala kemudian memukul kepalanya pelan. Setelah menghembuskan napas panjang, gadis itu kembali masuk kedalam mobil dan mulai meninggalkan tempat tersebut.             Mobil itu melaju pelan. Teramat sangat pelan. Florence seolah merasa tidak tega meninggalkan tempat tersebut. Seperti ada yang tertinggal. Hatinya merasa sedikit... sesak dan nyeri. Ingin rasanya dia menangis karena matanya yang mulai memanas.             Benar-benar aneh!             “Aduh! Ini gue kenapa, sih?!” seru Florence gusar. Air mata itu ternyata mengalir turun. Membasahi kedua pipi mulusnya. Dengan cepat, mengabaikan perasaannya yang begitu campur aduk, gadis itu menghapus air matanya dengan punggung tangan dan menginjak gas.             Meninggalkan sebuah kenyataan yang terkubur rapat di belakang sana.   Alunan... denting suara hati... Mengulas kembali... jejak yang telah lalu... Untaian... makna yang tercipta... Aku abadikan... di tempat terindah... ### Tuhan... kembalikan... Segalanya tentang dia... Seperti sedia kala...               Malam ini, ditemani angin yang berhembus lumayan kencang, Keylo berdiri di tempat kenangan pahitnya. Di tangannya terdapat setangkai bunga mawar putih. Matanya menatap datar ke arah trotoar tersebut. Perih... sesak... nyeri... semuanya mengaduk hati. Membunuh logikanya. Mematikan fungsi organ tubuhnya. Menghentikan aliran darah dalam tubuhnya. Tanpa sadar, tangannya mulai berdarah akibat terlalu kencangnya menggenggam bunga mawar tersebut.             Lalu... buliran kristal itu jatuh.             Dari mata seorang laki-laki. Laki-laki yang sangat mencintai kekasihnya. Laki-laki yang katanya pantang untuk menangis.             Beban itu terlalu berat untuknya. Jadi, biarkan dia menangis. Sekali saja. Hanya untuk melegakan hati. Toh, dia tidak akan membuat malu keluarganya karena menangis, bukan? Tidak akan menjatuhkan derajat kaum Adam, bukan?             Apa yang salah dengan menangis? Menangis hal yang manusiawi. Laki-laki pun boleh menangis.             “Hai, Va...,” panggil Keylo dengan nada lirih. Isak tangis itu terdengar sekali, namun Keylo cepat-cepat menahannya. Sambil tersenyum pahit, dia melangkah maju lalu berjongkok. Mengusap trotoar tersebut sambil meletakkan bunga mawar putih yang dibawanya.             “Kamu dimana? Hmm? Nggak kangen sama aku?” tanya Keylo pelan. Lelah. “Tadi, aku ketemu sama orang yang mirip banget sama kamu. Aku meluk dia. Karena aku kangen banget sama kamu. Kamu nggak akan marah atau cemburu, kan?”             Tak jauh dari tempat Keylo, Gaza memperhatikan dari dalam mobil. Jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas ketika Abangnya itu memutuskan untuk pergi ke tempat ini. Gaza tidak tega membiarkan Keylo pergi sendirian. Meskipun yakin kalau Abangnya itu tidak akan melakukan hal bodoh, tetapi Gaza tetap saja merasa cemas.             “Kamu tau rasanya kangen sama orang yang entah berada dimana? Rasanya sakit. Aku pengin banget ngeliat kamu... meluk kamu... tapi kamu bahkan nggak ada. Nggak datang mengunjungi aku didalam mimpi. Kamu tau gimana tersiksanya aku, Va? Kalau aku jadi gila, kamu jangan ketawain aku, ya....”             Keylo memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdebar keras. Kepalanya mulai terasa pusing. Mungkin karena sejak pagi tadi, dia belum menerima asupan makanan apapun. Dia terlihat lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Hal yang wajar karena selama Zeva menghilang, dia kehilangan semangat hidupnya.             Cahaya hidupnya berada dalam genggaman Zeva.             “Cepat pulang ke pelukan aku, ya... aku akan terus mencari kamu.”   Izinkan aku tuk memeluknya... Mungkin tuk terakhir kali... Agar aku dapat merasakan... Cinta ini... selamanya...               Ketika bangkit berdiri, dunia Keylo berputar hebat. Samar, dia mendengar suara teriakan Gaza. Kemudian, dia melihat wajah Zeva. Tersenyum sangat manis ke arahnya. Melambaikan tangan ke arahnya. Mencium pipinya. Memeluk tubuhnya.             Lalu... gelap mendominasi.   Ketika... malam telah tiba... Aku... menyadari... Kau takkan kembali... ### DEG!             Dengan satu gerakan cepat, Florence bangkit dari tidurnya. Napasnya terengah. Peluh membasahi wajahnya. Sebelah tangannya terangkat ke d**a, menekan kuat bagian tersebut agar rasa sesak yang dia rasakan menghilang.             Apa itu? Mimpi apa yang mendatanginya barusan?             Berhenti hidup di masa lalu dan mulai menatap ke arah... gue!             Siapa orang yang mengatakan hal itu padanya?             Gue cinta sama lo...             Siapa? Siapa dia?             Lalu... kenapa rasanya ada sesuatu yang hangat menempel pada bibirnya... tadi? Bahkan kehangatan dan kelembapan itu masih terasa pada bibirnya saat ini. Tanpa sadar, sebelah tangannya terangkat ke bibir. Menyentuh kuat bagian tersebut.             Aku cinta sama kamu dan aku tau kalau kamu juga cinta sama aku. Dan aku nggak akan pernah biarin siapapun merusak hubungan kita!             Kalimat terakhir dalam mimpinya itu bahkan diucapkan dengan nada tegas dan lantang. Memberi kesan bahwa orang tersebut akan membuktikan apapun kepada seluruh isi jagat raya bahwa cintanya tidak akan pernah kandas karena hal sepele yang berusaha untuk menghancurkannya.             “Siapa...?” gumam Florence dengan nada bingung.             Dan rasanya, dia seperti kehilangan sesuatu yang begitu penting.             Hanya saja... apa? ### Didalam kamarnya, Fitz menghembuskan napas panjang. Pekerjaannya masih banyak namun dia sudah kehilangan konsentrasi dan kehilangan fokus. Teringat lagi di benaknya ketika Florence menceritakan pengalaman anehnya di mall siang tadi.             Gue ketemu sama orang aneh di mall, Bang! Masa dia manggil gue Zeva dan dia meluk gue di depan umum! Sinting, kan?!             Bukan tidak mungkin bahwa orang yang memeluk Florence tadi memang mengenal gadis itu. Fitz mengerang pelan dan meremas rambutnya frustasi. Dia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan pigura foto dari sana. Fotonya dengan Florence. Florence terlihat begitu bahagia didalam foto tersebut. Tersenyum lebar ke arah kamera sambil merangkul pinggangnya dengan erat. Sebagai gantinya, Fitz merangkul pundak gadis itu sambil mendekatkan hidungnya ke pipi Florence.             Benar-benar hubungan Kakak-adik yang sangat harmonis dan membuat iri semua orang.             “Flo... apa gue salah? Apa lo bisa kasih tau ke gue kalau perbuatan gue ini salah?” tanya Fitz ditengah keheningan kamarnya. Jemarinya kemudian mengusap foto gadis itu. Kedua matanya terpejam, merasakan dan meresapi usapan jarinya pada foto Florence. Mencoba membunuh rindu yang mendadak hadir dan menyesakkan d**a.   Ketika... malam telah tiba... Aku menyadari... Kau takkan kembali...               “Gue terpaksa, Flo. Karena kalian begitu mirip. Bagai saudara kembar. Mama kembali sehat dan ceria ketika melihat dia, Flo. Tapi... seseorang yang mengenalinya mulai datang. Gue takut, Flo... takut kalau gadis itu akan dibawa pergi. Bagaimana dengan Mama nantinya?” ### Cerita... yang kita punya... Takkan ada... jika tak percaya...               Lagi, Gaza membiarkan Abangnya berjalan kemanapun yang laki-laki itu mau. Entah sudah berapa banyak absennya di kampus, tapi Gaza tidak peduli. Dia mengkhawatirkan Abangnya dan dia akan melakukan apapun agar Keylo kembali seperti dulu. Lagipula, Gaza sudah menitip absen pada Cate.             Aah... ngomong-ngomong soal Cate, hubungannya dengan gadis itu mulai membaik. Meskipun terkadang, si kunyuk Keanu masih saja memanas-manasinya dan membuatnya ingin merealisasikan hasrat terpendamnya: membunuh laki-laki itu!             Lagi-lagi, tempat yang dikunjungi oleh Keylo adalah tempat kenangan pahitnya bersama Zeva. Tempat dimana keduanya mengalami kecelakaan dan menyebabkan Zeva menghilang sampai sekarang.             “Bang... lo sampai kapan begini terus?” gumam Gaza dari kejauhan. Laki-laki itu menarik napas panjang dan menatap langit biru di atas sana. “Kak Zeva... lo dimana? Apa lo puas ngeliat keadaan Abang gue? Apa lo puas ngehukum dia kayak gini? Please, balik, Kak....”             Setelah mengatakan hal tersebut, Gaza kembali menarik napas dan memutar tubuh. Berniat memberikan Abangnya privasi untuk melepas rindunya pada Zeva.             Di tempatnya, Keylo menundukkan kepala. Kedua tangannya dimassukkan kedalam saku celana jeans. Matanya terpejam, mencoba mencari apapun yang bisa membawanya kepada Zeva. Sia-sia saja. Dia tidak bisa merasakan kehadiran Zeva sama sekali.             Sampai kemudian, semilir angin menerpa wajahnya, membuat degup jantungnya meliar dan membuatnya tersentak hebat. Seperti tersengat, seperti ada yang menuntunnya, Keylo menoleh cepat ke belakang.             Lalu... tatapannya bertumbukkan dengan gadis itu.             Gadis yang ditemuinya di mall kemarin siang.             Gadis yang dipeluknya dengan sangat erat.             Gadis yang sangat mirip dengan... Zeva.             “Elo?” Florence menunjuk wajah Keylo lurus-lurus. Dia sendiri tidak mengerti apa yang membawa langkah kakinya kembali ke tempat ini. Yang jelas, hatinya menyuruh raganya untuk datang kesini.             Dan... dia bertemu kembali dengan laki-laki sinting yang memeluknya di mall kemarin siang.             Keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun. Sibuk dengan pikiran mereka masing-maisng. Yang satu memasang sikap waspada dan bingung sementara yang satu lagi menekan hasrat rindunya kuat-kuat agar tidak bertindak gegabah kembali: memeluk orang lain yang sangat mirip dengan kekasihnya.             Entah setan apa yang merasuki keduanya, mata mereka serempak terpejam. Merasakan hembusan angin memainkan rambut mereka. Menuntun mereka ke tempat nyaman dan damai yang begitu indah.   Disaat hampa harimu... dan saat hampa hatimu... Ku kan ada... ku disana... menemanimu selalu... Disaat hilang jalanmu... dan saat hilang nafasmu... Ku kan ada... ku disana... menemanimu selalu...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD