TIGA PULUH DUA

1254 Words
“Sori, udah lama nunggu?”             Neyla mengangkat kepala dan tersenyum ketika menyadari Keylo sudah berada di depannya, menarik kursi dan duduk. Keduanya saat ini sedang berada di sebuah kafe yang dulu selalu mereka kunjungi bersama, ketika mereka masih merajut kasih. Neyla yang meminta bertemu dengan alasan sudah lama tidak bertemu Keylo.             “Nggak apa-apa, gue juga baru sampai lima menit yang lalu,” jawab Neyla. Cewek itu memanggil pelayan dan memesankan minuman untuk Keylo karena cowok itu tidak ingin memesan makanan katanya.             “Masih hafal minuman kesukaan gue?” tanya Keylo dengan alis terangkat satu. Mendengar itu, Neyla hanya terkekeh dan bersedekap.             “Lo pikir gue ini udah setua apa? Ingatan gue masih berfungsi dengan baik.”             Keylo tersenyum dan mengedikan bahu. “Ya, mungkin aja kan lo udah melupakan semua tentang gue karena kita udah jadi mantan. Terlebih, elo yang mutusin gue.”             “Ouch. Menusuk sekali, Tuan Keylo.”             Keduanya saling tatap, kemudian tertawa bersama. Ketika pelayan datang membawakan ice coffee pesanan Neyla, Neyla langsung menyerahkannya ke hadapan Keylo.             “Apa kabar, Key?”             “Baik,” jawabnya sambil tersenyum kecil dan mengaduk minumannya. Semua orang belakangan ini selalu saja menanyakan keadaannya. Keylo sebenarnya bersyukur memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Keluarga, teman-teman, bahkan keluarga Zeva pun mengkhawatirkan keadaannya. Karena itulah, Keylo berusaha keras untuk bisa baik-baik saja. “Lo?”             “Baik.”             “Yang gue dengar, lo mau kabur ke luar negeri,” kata Keylo, ketika dia berusaha mengingat-ingat tentang kabar tersebut. “Kok masih di sini?”             Neyla terkekeh. “Nggak jadi. Gue dengar kabar soal kecelakaan lo dan Zeva. Sori, bukannya gue mau mendoakan hal jelek buat Zeva, cuma, ketika gue mendengar kabar tersebut dan melihat betapa kacaunya Devan, gue jadi ingin melihat penderitaannya lebih jauh. Biar gimana, dia udah ninggalin gue karena perasaannya buat Zeva.”             “I see,” sahut Keylo. Cowok itu menarik napas panjang dan memijat batang hidungnya. “Itu karma namanya, Ney.”             Neyla mendesah berat dan tersenyum kecut. “Yeah, i know,” katanya membenarkan. “Dulu, gue ninggalin elo karena Devan. Sekarang, Devan ninggalin gue karena Zeva. Tapi, yang paling menderita di sini jelas adalah lo. Lo masih mencari keberadaan Zeva, kan?”             Keylo mengangguk. Cowok itu tersenyum pahit. “Mana mungkin gue nggak mencari dia, Ney? Dia segalanya buat gue. Seandainya....” Keylo membasahi bibirnya. Dia paling tidak suka memikirkan kemungkinan ini, tapi, Keylo pun tahu dia juga harus memikirkan skenario terburuk sekali pun. “Seandainya Zeva udah nggak ada di dunia ini pun, gue hanya mau jasadnya ditemukan dan gue mau dilakukan pemakaman yang layak. Tapi, selama jasadnya belum ditemukan, selama itu juga gue berharap Zeva masih hidup di suatu tempat.”             Neyla menatap Keylo dengan tatapan kasihan. Mantan kekasihnya itu benar-benar mencintai Zeva. Neyla tidak membenci Zeva, sungguh. Dia hanya kesal dan tidak terima diputuskan oleh Devan karena Zeva, walau Zeva sendiri tidak membalas perasaan Devan dan hanya mencintai Keylo.             “Dan yang lebih aneh, tiba-tiba muncul seorang cewek yang sangat mirip dengan Zeva.”             Neyla tersadar dari lamunannya dan mengerjap. Cewek itu kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Keylo.             “Apa?”             Keylo mengangguk dan mengusap wajahnya. “Ada cewek yang sangat mirip dengan Zeva. Cuma, sifat mereka bertolak belakang. Kalau Zeva adalah pribadi yang lembut dan ramah, cewek ini sangat kasar dan arogan. Namanya Zahara Florencia. Gue pernah ketemu dia beberapa kali dan kita berdua langsung nggak saling menyukai. Awalnya gue mengira kalau dia adalah Zeva. Tapi, setelah gue tau sifatnya kayak gitu, gue yakin dia bukan Zeva gue.”             Ada orang yang sangat mirip dengan Zeva tapi dengan sifat yang bertolak belakang? Memang sih, gue pernah dengar kalau di dunia ini ada tujuh orang yang sangat mirip dengan kita. Tapi... apa ini tidak terlalu kebetulan? Zeva menghilang dari tempat kejadian dan tahu-tahu saja ada orang yang mirip sama dia muncul di kehidupan kita.             “Gimana kalau itu memang Zeva, Key?”             “Nggak mungkin,” geleng Keylo. “Beda banget gitu kelakuannya.”             “Amnesia.”             Keylo mengerutkan kening dan menatap Neyla yang terlihat sangat serius.             “Apa?”             “Amnesia,” ulang Neyla. “Gimana kalau dia adalah Zeva yang amnesia? Gimana kalau dia ditolongin sama orang saat kecelakaan itu berlangsung dan Zeva mengalami amnesia?”             Alis Keylo terangkat satu. “Kalau Zeva ditolongin sama orang dari TKP, kenapa orang itu nggak menolong gue juga?”             Iya juga, ya?             “Mungkin karena dia melihat Zeva lebih membutuhkan bantuan daripada lo? Dan lagi, lo pun ditolong oleh tim medis dan ambulans, kan? Bukannya itu artinya orang yang menolong Zeva menelepon bantuan untuk menyelamatkan lo?”             Benar juga. Keylo tidak pernah berpikir sampai ke arah sana karena dia terlalu memikirkan keberadaan Zeva. Otaknya tidak berfungsi dengan baik setelah mendapatkan kabar bahwa Zeva menghilang dan hanya dirinya yang ditemukan di TKP.             “Tapi, kenapa Zeva nggak dipulangin sama orang itu?”             “Karena... orang itu nggak tau alamat rumahnya?”             Tas Zeva memang ditemukan di mobilnya, pun dengan dompet dan kartu identitas. It means, si penyelamat memang tidak mengetahui alamat rumah Zeva dan namanya. Karena itulah, si penyelamat mungkin memutuskan untuk merawat Zeva. Lalu... Zahara Florencia itu adalah Zeva yang... amnesia?             “Key, gue rasa lo harus mencari tahu soal cewek yang kata lo sangat mirip dengan Zeva itu,” usul Neyla. “Kalau dia emang benar Zeva, berarti lo udah nemuin dia selama ini, Key! Dia hanya sedang menunggu lo untuk menemukannya. Ini seperti permainan petak umpet.”             Keylo menggigit bibir bawahnya dan kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Cowok itu kemudian mengangguk dan mengambil ponselnya.             “Gue harus minta bantuan seseorang.”             “Gimana kalau gue membantu lo?”             Suara itu membuat Keylo dan Neyla menoleh. Di samping meja mereka, Devan sudah berdiri seraya menatap keduanya dengan tatapan tidak terbaca. Dia kemudian menatap Neyla dan tersenyum, membuat Neyla mengangkat satu alisnya.             “Elo? Lo mau bantuin gue?” tanya Keylo dengan nada curiga. “Kenapa? Biar lo bisa menghasut Zeva kalau seandainya memang benar Florencia itu adalah Zeva? Biar lo bisa mengaku kalau lo adalah pacarnya dan merebut dia dari gue, memanfaatkan amnesianya?”             Devan mendengus dan bersedekap. “Gue cuma mau dia kembali ke keluarganya, ke kita semua. Soal merebut dia, gue lebih suka ngelakuinnya langsung dari depan, bukan dari belakang. Gue lebih tertarik bertarung secara adil. Dan lagi, kalau Neyla memutuskan untuk membantu lo, maka gue pun akan membantu.”             “Semakin banyak yang membantu, semakin banyak keuntungan buat kita, Key,” kata Neyla. Untuk sesaat, dia melupakan tatapan lembut yang diberikan oleh Devan kepadanya, di mana itu sangat berpengaruh pada kesehatan jantungnya saat ini.             “Jasmine juga pernah ketemu sama Florencia, sih.”             “Ajak dia. Kita harus buat sekutu,” kata Devan. Cowok itu duduk di samping Neyla dan mengambil minumannya. Devan bahkan langsung meminumnya, membuat Neyla melongo.             “Hei!”             “Boleh minta, kan?”             Neyla mengerjap dan mendengus. Cewek itu bersedekap. “Lo udah minum, terus baru minta izin sekarang? Itu namanya lo mengambil ciuman secara nggak langsung dari gue!”             “So what?” tanya Devan dengan nada santai. Cowok itu tersenyum geli. “Toh gue udah sering ciuman sama elo sebelum ini, kan? Gue masih bisa tuh, ngebayangin rasanya ciuman dari bibir lo—“             “Arrrghh!” Neyla langsung memukul kepala belakang Devan, membuatnya mengaduh dan tertawa. “Dasar m***m!”             Keylo sendiri hanya diam dan tersenyum kecil ke arah Devan dan Neyla. Meski Devan merupakan rivalnya, saingannya dalam hal mendapatkan Zeva, tapi Keylo bersyukur dia bisa mendapatkan banyak bantuan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD