13

3203 Words
Memuakkan!             Apa-apaan, ini? Bukankah harusnya Keylo marah pada Zeva dan meninggalkan gadis itu ketika melihat Zeva berduaan dengannya? Lantas, kenapa Keylo malah mengucapkan kata-kata sok bijak yang sangat menjijikkan itu? Devan sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Keylo! Padahal, Devan sudah bersiap untuk bersorak dalam hati jika melihat Keylo marah pada Zeva. Atau, jika memang diperlukan, Keylo langsung memutuskan kisah cinta mereka berdua detik itu juga. Dengan begitu, Devan akan langsung meminta Zeva untuk menjadi kekasihnya.             Dia akan menjamin kebahagiaan Zeva!             Dia bisa membahagiakan Zeva!             Sementara itu, di tempatnya, Zeva menatap haru ke arah Keylo. Dia tidak percaya jika Keylo tidak terpengaruh dengan apa yang sudah dia lihat dan apa yang sudah dia dengar dari mulut Devan. Zeva sangat bahagia karena Keylo tidak termakan omongan Devan dan percaya seutuhnya terhadap dirinya.             “Gue kasih tau satu hal sama lo, Van,” ucap Keylo ketika keheningan sempat mengambil alih selama beberapa menit lamanya. Zeva bisa melihat kedua mata Keylo yang menatap tegas dan tajam ke arah Devan. Kemudian, laki-laki itu melangkah maju perlahan, berdiri tepat di depan Zeva, menggenggam tangan gadis itu dan membawa tubuh Zeva mendekat ke arahnya. Devan sendiri hanya diam. Menyaksikan semuanya dalam emosi yang sudah menggelegak hingga nyaris memuntahkan semua magma amarahnya keluar. Sebagai gantinya, Devan hanya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dan balas menatap Keylo dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya.             “Jangan lo pikir, gue akan dengan mudahnya termakan sama semua tipu muslihat lo,” kata Keylo, menyambung ucapannya yang sempat terpenggal tadi. Senyuman miring itu terbit, menampilkan kesan sinis dan meledek. “Mau seberapa banyak tipu muslihat dan akal bulus lo buat ngehancurin hubungan gue sama Zeva, gue nggak akan pernah kalah. Cinta gue ke Zeva besar dan tulus. Cinta kita berdua kuat. Nggak akan mempan dan kalah dengan segala macam kelicikkan yang udah lo persiapkan di otak lo itu.”             Sial!             “Apa lo nggak kasian sama Neyla?” Keylo kembali bersuara, ketika dilihatnya Devan masih diam. “Dia datangin Zeva tempo hari. Dia minta Zeva untuk balikkin lo ke dia. Neyla pikir, kandasnya hubungan kalian karena Zeva ngerebut lo dari dia. Padahal yang salah disini itu elo. ELO!”             Zeva menarik ujung baju Keylo, meminta dengan makna tersirat agar laki-laki itu berhenti berbicara. Namun, Keylo sepertinya ingin menyelesaikan semuanya disini. Sebagai gantinya, Keylo menggenggam erat tangan Zeva, memberitahu gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja. Hal yang membuat Zeva tersentak sekaligus percaya pada Keylo.             Bahwa semua akan baik-baik saja, jika dia bersama Keylo.             “Elo yang salah disini. Lo mutusin Neyla karena lo mulai tertarik sama Zeva. Karena lo mulai suka sama Zeva. Karena lo mulai cinta sama Zeva. Terus, lo mau kemanain semua kenangan manis dan rasa cinta lo sama Neyla? Lo lempar begitu aja dari hati lo ke tanah terus lo injek-injek, gitu? Lo ngerasa b******k banget, nggak, sih? Nyampakkin gadis sebaik Neyla? Hmm?”             “DIAM!” teriak Devan keras. Untuk yang pertama kalinya, dia memberikan reaksi atas bom yang sudah dilemparkan Keylo itu. Membuat Zeva terlonjak kaget dan Gaza mengangkat satu alisnya.             “Coba lo pikirin, kalau lo ada di posisi Neyla. Andai kata, nih, ya... lo jadian sama Zeva. Terus, ada seseorang dari masa lalu Zeva yang nggak lo ketahui, yang dulunya adalah cinta monyet gadis itu. Atau, cinta apapunnya Zeva lah, terserah apa persepsi otak lo. Terus, Zeva ninggalin lo demi laki-laki itu. Karena Zeva sadar kalau sebenarnya hatinya dari dulu hanya untuk laki-laki itu, bukan buat lo. Apa yang akan lo lakuin? Memohon sama laki-laki itu supaya balikin Zeva ke lo? Seperti yang Neyla lakuin ke Zeva? Gue rasa, ego lo sebagai laki-laki nggak akan mungkin ngizinin lo untuk ngelakuin hal malu-maluin kayak gitu.             “Segala sesuatunya itu ada konsekuensi, Van... siapa yang menabur, dia yang menuai. Karma ada. Berlaku dan mengejar siapa saja yang sudah berani bermain-main dengannya. Anggaplah gue ngelepas dan ngerelain Zeva buat lo. Emangnya lo pikir, semuanya akan selesai? Nggak, Van! Semua masih akan berlanjut. Lo akan dipermainkan oleh Zeva atau bahkan mungkin sama gadis lain, sesuai sama apa yang pernah lo lakuin untuk ngehancurin hubungan gue sama Zeva.”             “GUE BILANG DIAM! LO NGGAK BERHAK NYERAMAHIN GUE KAYAK GITU!” Devan kembali berteriak, menarik semua perhatian pengunjung Dufan. Tapi, baik Devan, Zeva, Keylo dan Gaza tidak peduli. Terlebih Gaza, yang saat ini hanya memperhatikan dari jarak yang tidak begitu jauh, tetapi juga tidak begitu dekat. Menyaksikan dengan sikap waspada dan sikap awas. Jikalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin, Gaza akan langsung terjun untuk membantu Abangnya itu.             Lalu... ponsel di sakunya bergetar.             Gaza mengerutkan kening dan meraih benda tersebut. Ponsel milik Catherine ternyata yang bergetar. Menampilkan nama Keanu disana. Membuat rahang Gaza mengeras dan langsung membuka SMS itu.   Pulangnya mau gue jemput? From: Keanu               Langsung saja, Gaza mengetik pesan balasan singkat bagi laki-laki menyebalkan itu.   Nggak usah. Gue pulang sama Gaza. Mulai sekarang, kita harus jaga jarak, oke? Gue takut Gaza cemburu. Gue nggak mau kehilangan dia. Sent: Keanu               Sip!             Di sisi lain, adu tatap tajam diantara Keylo dan Devan masih terjadi. Zeva bahkan sampai bingung sendiri. Setahunya, Devan adalah orang yang ramah. Orang paling ramah yang pernah dikenal oleh gadis itu. Devan tidak pernah marah pada siapapun. Tidak seperti saat ini. Zeva seolah tidak mengenali sosok Devan yang ini.             “Gue nggak bermaksud buat ceramah disini,” kata Keylo lagi, kembali membuka percakapan. Laki-laki itu mengangkat bahu tak acuh. “Gue cuma ngasih contoh buat semua tindakan lo ini. Selain itu, gue juga cuma mau ngingetin aja sama lo, kalau gue... gue nggak akan pernah lepasin Zeva. Gue akan jaga dia... gue akan lindungi dia... gue akan cintai dia, melebihi gue cinta dan peduli pada diri gue sendiri. Dan kalau ada yang bisa memisahkan gue dari Zeva, itu hanyalah kematian.”             Selesai berkata demikian, Keylo membungkukkan tubuh sekilas. Entah memberi salam perpisahan atau hanya sekedar meledek Devan saja. Kemudian, laki-laki itu memutar tubuh dan membawa Zeva pergi dari sana. Gaza mengikuti dari belakang sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana seraya bersiul nyaring. Puas dengan aksi Abangnya yang labil itu.             Di tempatnya, Devan menggeram penuh emosi. Kedua tangannya yang terkepal kuat di sisi tubuhnya membuat buku-buku tangannya memutih. Benar-benar memutih. Rahangnya mengeras dan tatapannya semakin menajam.             Suka atau tidak, dia memang sudah kalah.             Tapi, dia tidak akan berdiam diri. ### Neyla duduk merenung di kursi panjang. Suara operator dari tadi tidak digubrisnya. Pesawatnya akan berangkat sekitar dua puluh menit lagi. Dia akan meninggalkan semuanya di Indonesia dan memulai hidup baru di Belanda. Meninggalkan semua kenangan manisnya dan kenangan indahnya bersama Devan. Kenanganya bersama laki-laki yang dia cintai.             Sayangnya, cinta Devan padanya sudah kandas. Menghilang ditelan bumi. Berpaling ke arah... Zeva.             Neyla tersenyum pahit dan menarik napas panjang. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan dan buru-buru menghapus airmata yang mengalir di pipi mulusnya. Dia tahu ini adalah perbuatan seorang pengecut. Lari dari masalah. Lari dari kenyataan. Tapi, dia tidak sanggup menghadapinya seorang diri. Dia sudah kehilangan Devan. Entah apa yang bisa dia lakukan tanpa Devan. Separuh hidupnya sudah dia gantungkan pada laki-laki itu yang dengan seenaknya saja melemparnya ke dasar jurang.             “Ney?”             Sebuah suara menginterupsi pikirannya mengenai Devan. Gadis itu mendongak dan matanya bertemu dengan mata Brandon. Saudara sepupunya dari pihak Ayah. Saudara sepupunya yang selalu ada disaat dia membutuhkan. Saudara sepupunya yang berbeda empat tahun dengannya. Masih duduk di semester enam di sebuah universitas swasta di daerah Jakarta.             “Hei,” balas Neyla sambil memaksakan seulas senyum. Hanya pada Brandon, Neyla menceritakan semua keluh kesahnya. Semua kesedihan yang dia rasakan. Semua rasa sakit yang dia alami. Dan hanya Brandon pula lah, Neyla menemukan tempat bersandar. Neyla dan Brandon memang sudah dekat sejak kecil. Keduanya sering bertukar cerita. Neyla tahu kalau Brandon sedang naksir berat pada seorang gadis bernama Georgia. Teman kampusnya yang galak dan antipati terhadapnya. Seorang gadis yang memiliki saudara kembar laki-laki bernama George. Saudara kembar yang sangat protektif terhadap gadis itu.             Neyla tahu Brandon bisa saja mendapatkan Georgia, mengingat sifat playboy sepupunya itu. Tapi, sepertinya Georgia bukan tipe gadis yang gampang dirayu dan ditaklukkan.             “Are you ok? Butuh sesuatu?” tanya Brandon khawatir. Kalau saja Neyla tidak memohon padanya, mungkin Devan sudah babak belur karena dihajar habis-habisan olehnya.             “Aku oke, kok. Ada kamu disini yang nemenin aku, itu aja udah cukup.” Neyla terpaksa berbohong, supaya Brandon tidak khawatir lagi terhadapnya.             “Coba kamu biarin aku nonjok si Devan, Ney. Aku rasa, kamu bakalan lega sekarang.” Brandon menghela napas panjang dan duduk di samping Neyla. Laki-laki itu menatap Neyla dengan tatapan kasihan. Dia tidak rela jika saudara sepupunya ini disakiti oleh laki-laki b******k macam Devan.             “Semua nggak akan selesai dengan cara kekerasan, Bran.”             “Terus, kalau kamu kabur kayak gini, apa kamu pikir masalah langsung selesai, Ney? Masalah justru akan terbengkalai dan akhirnya nggak akan terselesaikan sampai kapanpun.”             Brandon ada benarnya. Tapi...             “Aku cuma butuh waktu buat sendiri. Nenangin diri. Aku nggak akan kabur. Aku akan balik lagi ke Indonesia setelah aku bisa nenangin diri aku.”             Brandon kembali menghela napas panjang. Kemudian, ditariknya kepala Neyla agar rebah di d**a bidangnya. Diusapnya punggung gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dibiarkannya Neyla menangis. Brandon tahu akan hal itu karena merasa pakaiannya basah oleh sesuatu yang kemungkinan besar adalah airmata Neyla.             Lalu... suara operator kembali terdengar, memberitahu Neyla bahwa pesawatnya akan berangkat. Gadis itu menarik diri dari pelukan Brandon dan tersenyum tipis sambil menghapus airmatanya.             “Take care, ok? Call me as soon as possible.” Brandon mencium kening Neyla lembut, membuat gadis itu mengangguk pelan.             Selamat tinggal kenangan...             Selamat tinggal Indonesia...             Selamat tinggal... Devan... ### Devan menggeram keras didalam kamarnya. Semua benda yang bisa dia raih dilemparnya ke setiap sudut kamarnya. Satu teriakan, satu lemparan. Dia tak peduli kalau yang dia lempar itu benda-benda pecah belah seperti vas bunga dan sebagainya. Tak ada satupun keluarganya yang berani datang dan menegur laki-laki itu. Keluarganya yakin bahwa Devan sedang ada masalah serius dan tidak berniat untuk ikut campur. Nanti saja, kalau keadaan laki-laki itu sudah tenang.             Setelah lelah berteriak dan melempar semua benda yang ada didalam kamarnya, hingga membuat kamarnya berantakan, Devan meluruh di dinding. Kedua kakinya dilipat dan wajahnya dibenamkan diantara kedua lututnya. Bahu laki-laki itu naik-turun, akibat emosi yang masih tersisa sampai saat ini.             “ARRRGGGHHH!!!” Lagi, Devan berteriak. Dia meninju dinding kamarnya berkali-kali. Mengabaikan rasa sakit yang menjalar disana, juga darah yang mulai mengalir. Masa bodoh! Ini semua tidak sebanding dengan sakit hati yang dia rasakan.             “t***l! Elo benar-benar t***l, Zeva! Lo milih dia dibanding gue?! Itu yang dinamakan cinta yang tulus?! Bullshit!” Devan kembali meninju dinding kamarnya dengan keras. Lalu, laki-laki itu menjatuhkan punggungnya ke lantai. Berbaring dengan posisi telentang sambil memejamkan kedua matanya.             Sialnya, wajah Neyla menari-nari disana. Menangis di depannya. Membuat Devan langsung membuka kedua matanya dan bangkit dari posisi berbaringnya.             Kenapa tiba-tiba dia memikirkan Neyla?             Kenapa rasanya ada yang aneh di... hatinya?             Ponselnya berdering, membuat Devan menoleh cepat. Diraihnya benda tersebut yang berada di atas kasur dan keningnya mengerut. Nama Brandon, saudara sepupu Neyla tertera disana. Ini aneh. Brandon tidak pernah menghubunginya jika situasinya tidak benar-benar genting.             Astaga! Ada apa, ini? Tolong jangan katakan jika Neyla melakukan hal-hal buruk karena ulahnya!   Tadinya, gue mau nonjokkin elo atau langsung bikin nyawa lo melayang pas gue tau lo bikin Neyla nangis dan sakit hati kayak gitu. Tapi, gue nahan diri karena gue mandang Neyla. Karena Neyla minta gue untuk nggak ngelakuin itu. Sekarang, apa lo udah puas nyakitin Neyla dan bikin dia pergi dari Indonesia?! From: Brandon               Devan mencengkram ponselnya dan menggeram entah untuk yang keberapa kalinya. Lalu, dengan satu gerakan cepat, laki-laki itu melempar ponselnya ke dinding. Membuat ponsel itu hancur tak berbentuk. ### Gaza mengantar Catherine sampai di depan rumah gadis itu. Keduanya bertahan dalam keheningan. Satupun tidak ada yang berbicara, sampai akhirnya, Catherine lah yang memecahkan keheningan tersebut. Gadis itu menoleh ragu ke arah Gaza dan tersenyum samar.             “Makasih... buat main ke Dufannya. Buat nganterin gue pulang. Bilang sama Abang lo dan pacarnya juga, makasih banyak.”             Ketika akan turun dari mobil, Catherine terpaksa mengurungkan niatnya karena lengannya ditahan oleh Gaza. Gadis itu mengerutkan kening dan menatap laki-laki itu. Di tempatnya, Gaza hanya diam. Menatap kemudi mobil dengan tatapan datar yang tidak bisa diartikan.             “Gaza?” panggil gadis itu. “Lo kenapa?”             “Maaf,” ucap Gaza kemudian, membuat kerutan di kening gadis itu semakin terlihat jelas. “Gue minta maaf.”             “Maaf? Buat?”             “Pokoknya gue minta maaf.” Gaza menoleh dan menatap langsung ke manik mata Catherine. Membuat gadis itu menahan napas tanpa sadar. “Gue minta maaf, oke?”             Meskipun tidak tahu untuk apa permintaan maaf tersebut, kepala Catherine akhirnya mengangguk juga. Pelan dan ragu. Kemudian, Gaza melepaskan cekalannya pada lengan Catherine, lantas mengacak rambut gadis itu.             “Turun, gih. Makasih juga buat hari ini.” Gaza tersenyum kecil, membuat Catherine semakin dilanda kebingungan. Tanpa memperdulikan keanehan yang tercipta, Catherine bergegas turun. Meninggalkan Gaza yang tertawa pelan didalam mobilnya sambil menggelengkan kepala. ### Ada yang aneh, Zeva tahu itu.             Hari ini, Keylo seakan menghindarinya. Ada apa? Apa karena ulah Devan kemarin di Dufan? Tapi, bukannya laki-laki itu mempercayainya? Lalu, kenapa sekarang Keylo justru seakan menjaga jarak dengannya?             Setiap kali bertemu di koridor kantor atau kafetaria, Keylo seakan tidak melihatnya. Membuat Zeva merenung sendiri. Apa yang sudah dia lakukan? Kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga Keylo sepertinya marah kepadanya?             Ada apa sebenarnya?             Di suatu kesempatan, Zeva mencegat Keylo. Gadis mungil itu merentangkan kedua tangannya ketika Keylo berniat masuk kedalam lift. Membuat Keylo menaikkan satu alisnya dan bersedekap.             “Apaan?” tanya Keylo ketus. Satu hal lainnya yang membuat Zeva yakin, ada sesuatu yang salah pada pacarnya itu.             “Aku punya salah sama kamu makanya kamu jadi menghindar dari aku, Key?” Zeva bertanya dengan nada pelan. Ditatapnya kedua mata Keylo dengan tegas dan sedikit sedih.             “Kalau kamu nggak tau apa-apa, mendingan kamu nggak usah asal ngomong, deh! Minggir, aku mau lewat. Aku capek. Aku sibuk.”             Zeva tetap berdiri di tempatnya. Pokoknya, dia harus tahu dimana letak kesalahannya! Harus!             “Zeva! Aku bilang minggir! Aku mau lewat!” seru Keylo. Tidak bisa dikatakan berseru juga, karena suara laki-laki itu tidak terlalu tinggi. Biasa saja, meskipun nadanya memang sangat ketus dan sangat menyakitkan hati.             “Key... kamu kenapa, sih? Ada apa?” tanya Zeva panik. Dia sudah ingin menangis saat ini karena perubahan sikap Keylo itu.             “Kamu mau tau kenapa? Kamu mau tau ada apa, iya?!” Keylo mendesis jengkel lantas langsung menarik pergelangan tangan Zeva. “Ikut aku!”             Zeva terpaksa mengikuti langkah panjang dan lebar Keylo. Gadis itu menatap punggung Keylo yang terlihat dingin di kedua matanya. Entah kemana kehangatan laki-laki itu.             Kemudian, mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan. Ruangan yang diketahui Zeva sebagai gudang karena sudah tidak terpakai lagi. Zeva mengerutkan kening dan mulai dilanda ketakutan. Apa yang akan dilakukan Keylo padanya di ruangan ini? Apa Keylo akan...             Tidak! Zeva menggeleng tegas dan mengenyahkan semua pikiran negatifnya. Tidak! Keylo orang yang baik. Keylo mencintainya dengan tulus. Keylo tidak akan mungkin menyakitinya dan memaksanya untuk melakukan hal yang tidak-tidak.             Keylo bukan orang seperti itu!             Keylo melirik Zeva sekilas melalui bahunya. Laki-laki itu kemudian membuka pintu gudang tersebut dan Zeva langsung disambut dengan kegelapan. Gadis itu semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar dan hawa dingin itu mulai menghampirinya.             “Key? Kamu mau ngapain disini?” tanya Zeva takut.             “Bukannya kamu mau tau aku kenapa? Iya, kan?” Keylo balas bertanya dan melepaskan genggaman tangannya. “Aku mau ngelakuin... ini!”             Suara jentikkan jari terdengar. Kemudian, ruangan gelap itu mulai terang-benderang. Zeva harus menyipitkan kedua matanya ketika sinar terang itu masuk ke indra penglihatannya. Gadis itu harus menyesuaikan penglihatannya terlebih dahulu, sebelum kemudian mulai mengerjap dan... melongo.             “Happy Birthday, Zevarsya Venzaya!!!” teriak semua rekan kerjanya. Tepat di depannya, Rara memegang kue ulang tahun berwarna pink berbentuk hati. Zeva menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya mulai berkaca. Tidak percaya bahwa Keylo dan semua teman-temannya akan memberikan sebuah kejutan ulang tahun untuknya.             “Selamat ulang tahun, Sayang,” bisik Keylo mesra pada telinga Zeva. Dirangkulnya pinggang gadis itu dan diciumnya pipi putih Zeva lembut. “Maaf soal sikap dingin dan ketus aku hari ini. Itu semua cuma... akting.”             Zeva menoleh dan mendapati Keylo tertawa geli. Kemudian, laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Zeva tanpa ragu. Keduanya berjalan ke arah Rara dan Zeva bisa melihat rangkaian kata-kata pada bagian atas kue ulang tahun tersebut.             Happy birthday my lovely girl, Zevarsya Venzaya... always loving you... forever... ‘till my dying day...             Kalimat itu akhirnya membuat airmata Zeva mengalir. Melihat hal itu, Keylo kembali tertawa dan menangkup wajah mungil Zeva seraya mengusap airmata gadis itu.             “Kenapa nangis? Hmm? Harusnya, kamu bahagia di ulang tahun kamu ini.”             “Aku... aku....” Zeva tidak bisa menemukan suaranya. Gadis itu justru semakin menangis, membuat tawa teman-temannya pecah dan membuat Keylo langsung memeluk tubuh gadisnya.             “Kamu jahat, Key... aku pikir, kamu marah sama aku... aku takut....”             “Ciyeeee... Abang Keylo jahat, loh! Buat Neng Zeva nangis.” Semua teman-teman Zeva dan Keylo menggoda keduanya, membuat Keylo semakin tertawa keras dan menggelengkan kepalanya.             “Maaf, Sayang... aku cuma mau ngasih kamu kejutan, kok. Mana mungkin aku bisa marah sama kesayangan aku?”             Kemudian, tanpa disangka-sangka, Keylo langsung mengangkat dagu Zeva, menangkup wajah gadis itu lagi dan langsung mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Zeva di hadapan teman-teman mereka. Membuat sorak-sorai dan teriakan-teriakan penuh godaan itu terdengar.             “ECIYEEEEE!!! ABANG KEYLO SAMA NENG ZEVA CIUMAN, LOH! AU... AU... AU... KITA SEMUA MASIH POLOS, KAKAKNYAAAAA!!! TOLONG JANGAN MELAKUKAN ADEGAN m***m DI DEPAN KAMI SEMUAAAAA!!!” ### Sepanjang perjalanan menuju rumah Zeva, gadis itu tak henti-hentinya mencium aroma bunga mawar pink yang diberikan Keylo. Lalu, masih ada satu set novel kesukaannya dan kalung perak bertuliskan inisial namanya dan nama Keylo: ZK.             “Gimana? Aku berhasil bikin kamu terkejut, kan?”             Zeva mengangguk senang. Gadis itu menoleh lantas mencium pipi Keylo yang sedang menyetir itu. Keylo tertawa dan mengacak rambut gadisnya dengan lembut. Ah... betapa dia sangat mencintai Zeva.             Hujan turun dengan derasnya secara tiba-tiba. Suasana mobil yang hangat dan penuh dengan canda tawa tiba-tiba berubah mencekam. Ban mobil Keylo tergelincir. Laki-laki itu kehilangan kontrol atas kemudi mobilnya. Zeva berteriak sementara Keylo menyerukan nama gadisnya. Lalu, Pajero Sport itu terguling beberapa kali, sebelum akhirnya berhenti dalam posisi terbalik.             Zeva mengerang kesakitan dan mencoba untuk tetap sadar. Di sampingnya, Keylo sudah memejamkan kedua matanya. Darah mengalir dari kening, hidung dan mulut laki-laki itu. Tangan Keylo menggenggam erat tangan Zeva. Gadis itu kemudian mulai menangis. Darah segar keluar dari bibir dan hidung gadis itu.             “Khey... Khey... lo....” Zeva memanggil nama laki-laki itu dengan lirih. Gadis itu berusaha mengguncang tubuh Keylo dengan kekuatan tubuhnya yang mulai melemah.             Tiba-tiba, Zeva mendengar suara itu. Suara langkah kaki mendekat. Dia menoleh pelan dan melihat sepasang sepatu berada tepat di depan wajahnya. Gadis itu mencoba fokus tetapi sangat sulit. Lalu, sebuah wajah muncul disana. Menatapnya datar dan tanpa ekspresi. Siapa? Malaikat kematian, kah?             Lalu, dia teringat akan tulisan Keylo pada kue ulang tahunnya tadi.             Always loving you... ‘till my dying day...             Inikah akhir bagi mereka?             Lalu, Zeva mulai pasrah. Kegelapan itu akhirnya datang menjemputnya.             Selamat tinggal, Keylo.... ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD