Bukannya Keylo tidak tahu kalau Zeva sedang melamun. Bahkan, sejak dia bertemu dengan gadisnya itu beberapa saat yang lalu, Zeva seolah tidak bersamanya. Raganya memang ada disana, membiarkan Keylo mencium keningnya dan memeluknya dengan erat. Tapi, pikiran Zeva entah kemana. Terbang, melintasi dimensi lain yang mungkin hanya diketahui oleh gadis itu sendiri. Sesekali, Keylo melihat Zeva menarik napas panjang, membuangnya dengan berat dan menopang dagu. Tatapannya datar, mengarah pada jalanan di depan mereka.
“Va?”
Diam. Masih sama seperti tadi.
“Zeva?”
Sepertinya, pikiran gadis itu lebih senang melayang-layang di tempat yang tidak diketahui oleh Keylo.
“Zevarsya Venzaya?”
Kali ini berhasil mengalihkan dunia gadis itu, begitu Keylo menyentuh punggung tangannya pelan. Seperti tersengat, Zeva langsung terlonjak dan menoleh ke arah Keylo. Dilihatnya kening Keylo mengerut dan tatapannya yang menyiratkan keheranan.
“Kamu nggak apa-apa, Va?”
Ah, ya... setelah resmi berpacaran, Keylo dan Zeva memang sudah mengganti kata sapaan mereka. Kata Keylo, biar terkesan romantis, gitu. Hal yang membuat Zeva terbahak karena menurutnya, keromantisan tidak hanya diukur melalui kata sapaan.
“Aku? Aku oke, kok.” Zeva memamerkan senyum tipisnya, terkesan dipaksakan. Keylo mengawasi tindak-tanduk Zeva dengan tatapan tegas. Senyuman terpaksa itu jelas terlihat, tapi gadisnya mencoba untuk menutupi itu semua.
Kamu salah memilih teman bermain, Zeva... aku nggak mempan dibohongi. Semua yang ada kaitannya sama kamu, aku bisa tahu...
“Yakin?” selidik Keylo. Dia kemudian memusatkan konsentrasinya pada jalanan di depan, kalau tidak mau mengakhiri nyawa mereka berdua detik itu juga. Keylo juga ogah kalau harus bertemu malaikat pencabut nyawa sekarang. Dosanya masih banyak, terlebih hutangnya pada Kak Verco. Jangan tanya, deh, berapa hutangnya. Meskipun bukan hutang yang berupa uang—melainkan janji, tetap saja Keylo harus membayarnya. Belum lagi nazarnya sewaktu SMA dulu pada Gaza, saat dia akan melaksanakan ujian nasional. Saat itu, Keylo bernazar akan membelikan Gaza semua seri dari tv series Barat yang disukai oleh adiknya itu. Tapi, Keylo lupa. Toh, Gaza juga tidak mengingatnya lagi.
Sebenarnya, bukan karena Gaza tidak mengingatnya lagi, sih, tapi karena laki-laki itu sempat merusakkan piring dan gelas favorit Abangnya itu dan menyembunyikannya sampai sekarang didalam lemari pakaiannya. Waktu Keylo bertanya pada seisi rumah dimana satu set perlengkapan makan favoritnya itu, semua serempak menjawab tidak tahu.
“Positive!” Zeva menjawab tegas diselingi dengan tawa kecilnya. Lalu, gadis itu kembali menopang dagu dan kini menatap jalanan di sampingnya melalui jendela mobil.
“Kamu tau, Va?”
“Hmm?”
“Aku terkenal sebagai orang yang bisa membaca situasi dan pikiran, meskipun aku bukan seorang cenayang.” Keylo tersenyum simpul. Senyum yang membuat Zeva tanpa sadar jadi menahan napas dan mengutuk jantungnya yang mulai berulah, ketika gadis itu menoleh ke arah Keylo. “Jadi, mau kamu sembunyiin sampai ke dasar samudera sekalipun, muka cantik kamu itu nggak akan bisa bohongin aku.”
“Maksud kamu?”
Keylo menghela napas panjang dan membanting setir. Laki-laki itu kemudian menepikan mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman. Dia memutar tubuh agar bisa berhadapan dengan Zeva, mengangkat dagu gadis itu agar mata mereka sejajar dan semakin tersenyum.
Andai saja Keylo tahu kalau senyumannya itu membawa dampak buruk bagi jantung Zeva yang malang.
“Aku udah ada di kafe tadi cukup lama. Berdiri ngawasin kamu dibalik pohon besar yang ada di dekat tempat duduk kamu sama Neyla. Meskipun aku nggak bisa mencuri dengar karena banyaknya kendaraan yang lewat disana, tapi aku tau kalau ada sesuatu yang diucapin sama Neyla ke kamu.”
Zeva terdiam. Matanya mengerjap. Takjub dengan semua kelakuan Keylo itu. Kalau Keylo mau, dia bisa menjadi seorang detektif, mata-mata, intel, atau apapun istilahnya itu. Pastinya, laki-laki itu akan kaya mendadak.
“Kamu... ada disana?”
“Yup.” Keylo mengangguk dan membelai rambut Zeva dengan lembut. “Waktu aku kirim SMS ke kamu dan bilang suruh ke persimpangan jalan karena aku udah ada disana, kamu nggak tau seberapa susahnya aku harus alih profesi jadi pembalap mobil nomor satu di Indonesia. Aku ngebut, supaya bisa sampai di persimpangan duluan sebelum kamu tiba disana.”
“Ngapain kamu harus ngebut? Kamu, kan, naik mobil. Aku? Aku cuma jalan kaki. Cepetan kamu, pastinya, dong?”
“Kata siapa? Aku harus ngambil jalan memutar. Mobil aku parkir di samping kafe, nggak jauh dari tempat duduk kamu. Kamu ngebelakangin mobil aku, tapi kamu nggak sadar.” Keylo mengacak rambut Zeva gemas dan mencium pipi gadis itu sekilas, meninggalkan rona kemerahan di pipi gadis itu. “Nah, sekarang... cukup buat basa-basinya. Sekarang cerita sama aku, ada apa sama kamu dan Neyla?”
Zeva menghembuskan napas panjang dan menatap Keylo tepat di manik mata. Kemudian, tanpa disangka-sangka oleh Keylo, Zeva justru menghambur ke pelukannya. Gadis itu melingkarkan tangannya di leher Keylo dengan sangat erat, seolah takut kehilangan laki-laki itu. Sambil terkekeh pelan karena merasa geli dengan tindakan Zeva, Keylo membalas pelukan gadisnya dan mengusap punggungnya dengan gerakan teratur dan lembut dari atas ke bawah.
“Kak Devan putus sama Neyla.”
Apa?
“Tempo hari, waktu kamu berantem sama Devan. Neyla baru aja putus.”
Dia tidak salah dengar, kan? Kenapa jantungnya sekarang berdegup kencang? Kenapa sekarang dia kesulitan bernapas? Kenapa pikiran negatifnya mulai mengambil alih?
“Tadi, Neyla nemuin aku buat bilang hal itu. Katanya, aku harus ngertiin posisi dia karena kita sama-sama perempuan.”
Apa maksud Neyla berbicara seperti itu pada gadisnya? Jangan bilang kalau...
“Katanya, karena aku mereka putus. Karena....” Zeva menarik napas panjang dan membenamkan wajahnya semakin dalam pada leher Keylo. Menghirup aroma maskulin yang menenangkan hatinya juga pikirannya.
“Karena dia suka sama kamu? Karena dia udah cinta sama kamu? Begitu?”
Zeva tak menjawab. Dia hanya diam, tetap memeluk Keylo dan memejamkan kedua matanya.
###
Bryan menoleh ke arah Jasmine yang sibuk dengan pekerjaannya. Laki-laki itu kemudian melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya dan berdecak tidak sabar. Kemudian, dengan langkah kaki yang dibuat sekeras mungkin berpijak pada lantai, hingga membuat perhatian rekan-rekan kerjanya menoleh ke arah laki-laki itu, Bryan meninggalkan ruangan dan menutup pintu dengan bantingan. Jasmine dan beberapa karyawan lain bahkan sampai terlonjak.
“Kenapa si Bryan?” tanya Eko dengan kening berkerut. “Aneh banget.”
“Lagi PMS mungkin,” jawab Jasmine asal. Gadis itu tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Bryan. Masa bodoh dengan laki-laki m***m, yang sudah melihatnya sedang mengancing kemejanya waktu itu. Mau Bryan terjun dari lantai paling atas gedung kantor mereka, kek... mau Bryan nunjukkin atraksi makan kecoak, kek... mau Bryan katanya berubah jadi bencong, kek... masa bodoh!
“Elo, Jas... nggak bosan-bosan, ya, main perang-perangan sama Bryan? Akur dikir, kek.” Eko kembali berbicara, membuat Jasmine mendelik dan bergidik.
“Ih! Kalau itu sampai kejadian, dunia bakalan kebalik, Ko! Males banget, deh.” Jasmine memperagakan adegan menggigil yang disusul dengan berpura-pura muntah.
Tak lama, Bryan kembali masuk kedalam ruangan. Jasmine hanya meliriknya sekilas melalui ekor mata lantas kembali melanjutkan pekerjaannya. Sampai kemudian, sebuah plastik putih dengan label restoran Jepang ternama di Jakarta membuat tatapan Jasmine teralihkan dari laporan yang sedang dikerjakannya ke arah plastik tersebut, kemudian beralih lagi ke wajah Bryan.
“Apa?”
“Makan, tuh.” Bryan menunjuk plastik tersebut dengan menggunakan dagu. Kedua tangannya dilipat di depan d**a. “Elo dari tadi kerja melulu, padahal jam makan siang udah lewat. Kalau sakit, gue yang repot.”
“Dih.” Jasmine mendelik. “Ngapain lo harus repot? Yang sakit gue ini, bukan elo. Lagian, gue nggak bakalan minta direpotin sama lo, kok! Masih ada Eko, Roy, Haris, dan semuanya!”
“Oke, elo nggak minta buat direpotin sama gue, tapi....” Bryan membungkukkan tubuh, mendekatkan wajahnya dengan wajah Jasmine yang otomatis bergerak mundur. “Gue yang pengin dan berharap direpotin sama lo. Paham?”
“Loh? Tapi....”
“Makan!” Bryan kembali menunjuk plastik putih itu dengan dagunya. “Atau... perlu gue suapin?”
“Tapi—“
“Pake mulut?”
Ugh! Jasmine tentu saja jadi diam. Terpojok. Tersudut. Kicep. Apapun istilahnya, deh! Mendengar ancaman memuakkan Bryan padanya tadi, membuat gadis itu langsung membuka plastik tersebut dan mulai menyantap makanannya.
Membuat Bryan tersenyum puas dan kembali ke kursinya dengan tenang.
###
Terkadang, Zeva bisa berubah menjadi kekanakkan. Hal yang membuat Keylo tersenyum geli dan merasa sangat senang. Entah kenapa.
Seperti saat ini. Keylo mengajak Zeva, Gaza dan Catherine ke Dufan. Tadinya, Gaza menolak ikut karena harus mengerjakan tugas kampus. Dia juga bilang bahwa temannya akan datang karena satu kelompok dengannya. Tapi, saat gadis yang bernama Catherine itu datang dan mendengar ajakan Keylo pada Gaza, dia langsung menatap Keylo dengan mata berbinar dan membujuk Gaza untuk ikut serta. Jadilah kini keempatnya bermain di Dufan.
“Mau naik apa dulu?” tanya Keylo sambil merangkul Zeva dengan mesra. Kejadian tempo hari, ketika dia mengetahui bahwa Neyla dan Devan sudah putus karena Devan mulai mencintai Zeva sedikit membuatnya takut. Takut kalau Zeva akan meninggalkannya. Walau bagaimanapun, Zeva sudah memendam perasaan cintanya pada Devan selama enam tahun. Dan ketika saat ini Devan sudah mulai mencintainya, bisa saja Zeva merasa sangat bahagia dan memutuskan untuk memulai hubungan yang baru dengan Devan dari awal.
Tapi ternyata, itu semua hanya ketakutannya saja.
Suasana Dufan yang ramai membuat keempatnya sedikit merasa sesak. Lalu, tiba-tiba saja, Keylo sudah kehilangan Zeva. Mereka terpisah. Keylo berteriak memanggil nama Zeva tapi ditengah hiruk-pikuk seperti itu, tentunya sangat sulit menemukan gadisnya. Belum lagi kenyataan bahwa Gaza dan Catherine juga sudah menghilang. Entah kemana.
Sementara itu, Zeva terdorong-dorong oleh beberapa pengunjung yang saling berdesakkan. Gadis itu merasa sedikit sesak napas dan meringis. Sampai akhirnya, satu tarikan keras pada pergelangan tangannya membuat Zeva terbebas dari desakan para pengunjung dan mendesah lega.
Pasti Keylo!
“Duh, Key... untung kamu berhasil nemuin aku. Kalau nggak, aku mungkin udah mati kehabisan—“
Dan... gadis itu terbelalak.
Di depannya, orang yang memegang tangannya dengan sangat erat, yang menariknya dari desakan para pengunjung, bukanlah Keylo.
Tapi... Devan!
“Kak... Devan?”
“Lo nggak apa-apa?” tanya laki-laki itu seraya memperhatikan tubuh Zeva, mencari apakah ada luka atau semacamnya. Ketika sadar bahwa gadis itu baik-baik saja, Devan menghela napas lega.
“Kak Devan ngapain disini?”
“Emangnya gue nggak boleh kesini?” Devan tersenyum tipis dan menarik tangan Zeva menjauhi kerumunan.
“Eh? Kak? Lo mau bawa gue kemana?”
“Temenin gue. Sekali ini aja.” Devan menoleh sekilas ke belakang untuk menatap Zeva. “Sebentar aja.”
###
“Gaza! Demi Tuhan, ya! Kalau elo cuma diam disini aja, makanin kentang goreng dan nggak bantuin gue buat nemuin Zeva, gue bakalan potong uang jajan lo!”
Apakah dia sudah pernah bilang kalau Keylo adalah Abangnya yang paling pelit? Sepertinya sudah.
Tadi, dia terpisah dari Keylo dan Zeva. Dia dan Catherine entah terseret kemana akibat arus pengunjung yang begitu padat. Lalu, Gaza menolong Catherine yang hampir terjungkal akibat didorong oleh seorang laki-laki. Kalau bukan karena Catherine yang memohon padanya untuk tidak mencari masalah dan menjadi pusat perhatian, mungkin Gaza sudah meninju wajah laki-laki itu sampai babak belur.
“Ya elah, Bang... Kak Zeva nggak bakalan nyasar, kali. Dia udah gede. Udah dewasa. Udah....”
“Gazakha Vernatta...,” geram Keylo, membuat Gaza berdecak gusar dan terpaksa meninggalkan kentang goreng yang paling dicintainya di muka bumi ini.
“Iya... iya! Bawel!” Gaza menoleh ke arah Catherine yang sejak tadi sepertinya sibuk dengan ponselnya, membuat Gaza curiga. “Heh, Catering....”
“Catering?” Keylo dan Catherine serempak mengulangi ucapan Gaza.
“Iya, elo... Catering.” Gaza bersedekap. “Lo lagi SMSan sama si kunyuk, ya?”
“Kunyuk?” Catherine mengerutkan kening lantas mengangguk begitu paham maksud Gaza. “Oh... Aa Keanu?”
“A... a....” Gaza menggeram kesal dan menatap Catherine dengan gemas. Kemudian, laki-laki itu mengambil ponsel Catherine dengan paksa dan memasukkannya ke saku celana jeans. Catherine terbelalak. Dia bangkit berdiri dan berniat mengambil kembali ponsel tersebut.
“Gaza! Ponsel gue! Balikin, nggak?!”
“Ogah.” Gaza mendengus dan mengetuk kening Catherine dengan telunjuknya. Membuat Catherine kesal dan mengenyahkan jemari Gaza itu. “Dengar, ya... lo kudu nungguin gue disini. Duduk manis, jangan kemana-mana. Kalau elo hilang juga, gue yang pusing!”
Kedua laki-laki itu meninggalkan Catherine yang cemberut di tempatnya. Keylo melirik Gaza sambil lalu dan tertawa mengejek.
“Labil. Tinggal bilang sama dia kalau lo suka aja, susah banget.”
“Berisik. Gue labil juga karena ngikutin lo, Bang.”
Sialan!
###
Bianglala.
Devan mengajak Zeva naik ke bianglala, menatap langit cerah di atas sana, juga indahnya hamparan laut di bawah mereka. Tidak ada yang berbicara sejak tadi. Devan dan Zeva sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Suasana menjadi sedikit canggung, membuat Zeva merasa gelisah.
“Gue... udah putus sama Neyla.” Devan mulai bersuara, namun tidak menatap wajah Zeva.
“Gue udah tau, Kak. Kak Neyla datangin gue tempo hari. Dia cerita semuanya.” Zeva menarik napas panjang. “Kenapa Kak Devan mutusin Kak Neyla? Kasian dia, Kak.”
“Dan apa lo juga nggak perlu dikasihani sama gue, Va?” Devan kini menatap wajah Zeva. Tegas dan tajam. “Elo udah ngorbanin perasaan lo selama ini buat gue. Rela disakitin hatinya sama gue, meskipun gue nggak sengaja ngelakuinnya. Dan sekarang, gue mau nebus semuanya. Gue cinta sama lo dan gue mau kita mulai semuanya dari awal lagi.”
“Gue nggak bisa, Kak. Lo tau gue udah sama Keylo.”
Keduanya terdiam. Kemudian, bianglala itu berhenti berputar. Zeva langsung turun dari benda berbentuk lingkaran raksasa itu dan berjalan dengan tergesa. Ingin cepat-cepat menemui Keylo. Dia ingin bertemu dengan Keylo. Dia ingin memeluk Keylo. Dia merasa takut pada Devan, entah kenapa.
Tapi, lengannya ditangkap oleh seseorang.
Devan.
“Kak... lepasin, Kak.” Zeva berusaha mengenyahkan tangan Devan dari lengannya tapi laki-laki itu tidak membiarkan. Kemudian, cekalan Devan itu berubah menjadi pegangan tegas pada kedua pundak Zeva. Tanpa sadar, Devan mengguncang tubuh mungil Zeva.
“Va! Gue cinta sama lo. Gue mau nebus semuanya! Gue mau lo jadi milik gue. Gue mau kita mulai semuanya dari awal. Gue cinta sama lo, Va... gue cinta sama lo!”
Devan mulai kehilangan kontrol. Di depannya, Zeva sudah meringis menahan sakit.
“Zeva?”
Suara berat itu menembus dunia Zeva, membuat gadis itu dan Devan menoleh. Disana, di depan mereka, berdiri sosok... Keylo.
Keylo berdiri dan menatap mereka dengan tatapan datar. Di belakang Keylo, Gaza ikut mengawasi. Tatapan Keylo kemudian bergantian ke arah Zeva dan Devan. Lalu, laki-laki itu sepenuhnya menatap ke arah Zeva.
“Zeva?”
“Key... Key... ini nggak seperti apa yang kamu pikirin. Aku... aku nggak tau kalau ada Kak Devan disini. Aku—Kak Devan!”
Rentetan penjelasan yang akan diucapkan oleh Zeva itu terhenti di udara ketika Devan langsung menarik lengannya agar tubuh mereka berdekatan. Zeva sebisa mungkin melepaskan diri, tapi, Devan tidak mengizinkan.
“Kenapa? Lo cemburu? Hmm?” Devan tersenyum sinis ke arah Keylo. “Biar gue kasih tau ke lo... gue cinta sama Zeva dan gue mau dia jadi milik gue!”
Devan sudah gila!
“Key...,” panggil Zeva dengan nada suaranya yang mulai terdengar panik. “Key... tolong, ini nggak seperti apa yang kamu pikirin. Aku sama sekali nggak tau kalau Kak Devan ada disini. Aku....”
“Aku percaya.”
Kedua mata Zeva mengerjap, ketika Keylo memotong kalimatnya tadi. Di sampingnya, Devan menatap Keylo dengan mata terbelalak. Sementara itu, Gaza menarik napas panjang dan menggelengkan kepala. Pusing dengan masalah percintaan yang terjadi dalam hidup Abangnya itu.
“Aku percaya sama kamu. Bukannya itu yang dilakukan oleh setiap pasangan di muka bumi ini? Saling percaya?” Keylo tersenyum lembut dan menenangkan, membuat Zeva dibanjiri perasaan lega yang begitu besar. “Aku cinta sama kamu dan aku tau kalau kamu juga cinta sama kamu. Dan aku nggak akan pernah biarin siapapun merusak hubungan kita.”
###