Wajah Keylo semakin mendekat ke arah wajah Zeva yang tertidur pulas. Atmosfer disekeliling mereka mulai berubah hangat dan romantis. Keylo memperhatikan keseluruhan wajah gadis galak namun sebenarnya rapuh itu. Keylo salut. Amat sangat salut. Dia tidak bisa membayangkan ada gadis seperti Zeva yang rela tersakiti oleh perasaannya sendiri, tetapi tetap mencoba untuk mempertahankannya sebisa mungkin, hanya karena perasaan cintanya yang begitu tulus. Keylo sendiri tidak menyangka bahwa dunia begitu sempit. Dulu, sewaktu Neyla tiba-tiba memutuskan hubungan mereka berdua, Keylo dilanda perasaan yang kacau balau. Dia marah. Dia sakit hati. Dia lalu memutuskan untuk pergi keluar kota. Pindah. Dia tiba bisa berada dalam satu kota yang sama dengan Neyla. Rasanya terlalu sesak. Lalu, tiba-tiba saja dia bertemu lagi dengan gadis itu. Bersama dengan pacarnya yang ternyata adalah cinta terpendam Zeva.
Suara dengkuran halus dan hela napas teratur dari Zeva entah kenapa membuat hati Keylo meringan. Laki-laki itu tersenyum samar ketika meneliti wajah gadis itu. Wajah tertidurnya benar-benar damai. Bulu matanya lentik... hidungnya sedang... bibirnya merah... kulitnya putih dan alisnya sedikit tebal. Perpaduan yang sempurna hingga menciptakan wajah yang manis serta menarik.
“Lo tidur beneran, ya, Va?” bisik laki-laki itu pelan. Karena Zeva hanya diam saja dan mengerang pelan sebentar, lalu memperbaiki posisinya yang mungkin terasa tidak nyaman, Keylo tertawa pelan. Dia memundurkan wajahnya kembali dan menyandarkannya ke dinding. Kepalanya sedikit terangkat dan dia menatap langit-langit ruangan kerjanya dengan tatapan menerawang.
“Tadinya... gue juga sama seperti lo, Va,” kata Keylo lagi. Suaranya terdengar jauh dan sedikit parau. Dia melirik sekilas ke arah Zeva, memastikan bahwa suaranya tidak akan mengganggu tidur gadis itu. “Gue pikir, gue udah bisa move on dari Neyla... ternyata, beberapa hari yang lalu, waktu gue bersikap jerk ke lo, gue mimpiin dia. Waktu itu, gue hilang kendali, makanya gue ngomong kasar kayak gitu sama lo. Sekali lagi, maaf, ya?”
Masih hening. Hanya helaan napasnya dan napas Zeva yang mendominasi. Juga debaran jantungnya yang entah kenapa frekuensi detakannya menjadi lebih cepat daripada biasanya. Pengaruh Zeva terhadap dirinya benar-benar besar dan kuat, hingga mau atau tidak mau diakui, keberadaan gadis itu selalu menciptakan atmosfer tersendiri bagi dirinya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Ditatapnya lagi wajah gadis yang sepenuhnya sedang bersandar pada pundaknya itu.
Benarkah dia sudah jatuh cinta pada Zeva tanpa dia sadari?
“Waktu gue tau elo kenal juga sama Neyla dan waktu gue dengar cerita lo soal Devan, gue ngerasa kita berdua senasib. Tapi, rasanya ada yang aneh, disini....” Keylo menyentuh d**a kirinya dan menarik napas panjang. “Waktu lo ceritain soal Devan dan raut wajah lo menunjukkan luka yang teramat dalam dan kesedihan yang begitu nyata, gue marah, Va. Gue marah sama Devan. Benar-benar marah hingga rasanya gue mau datangin dia dan ngancurin dia detik itu juga. Aneh, kan? Gue juga bingung, kenapa gue bisa bereaksi kayak gitu. Reaksi itu tiba-tiba aja muncul dalam diri gue. Gue cuma nggak mau lo sedih dan nangis. Terlebih untuk seseorang yang bahkan nggak pantas mendapatkan semua kesedihan dan airmata dari lo.”
Hembusan napas Keylo begitu berat namun senyum tetap tersungging di bibirnya. Dia kembali menatap langit-langit ruangan kerjanya dan menaruh lengannya di belakang kepala.
“Tadinya gue pikir,” ucapnya lagi setelah merenung beberapa detik lamanya, “gue akan susah lagi buat ngelupain Neyla setelah mimpi itu datang. Tapi, rasanya elo mulai ada di sudut hati gue. Menempati sebuah ruang rahasia disana dan lo seperti sengaja merekat nama lo dengan lem didalam hati gue itu. Karena apa? Karena gue mulai mikirin lo... gue mulai membayangkan lo... dan gue mulai bertanya-tanya, apakah hidup masih akan terasa sama jika gue harus menjalaninya tanpa lo di sisi gue.”
Lalu, tangan Keylo terulur untuk membelai rambut Zeva. Begitu pelan... begitu lembut. Dia berharap tindakannya itu tidak membuat Zeva kesakitan atau semacamnya. Dia takut... dia takut Zeva akan merasa sakit akan sentuhannya itu. Padahal, sentuhan itu hanyalah sentuhan ringan yang biasa saja. Lalu, belaian tangannya pada rambut Zeva berubah menjadi genggaman yang erat. Genggaman yang sedikit posesif. Juga genggaman yang menyiratkan ketakutan.
Dia takut... entah kenapa... takut kalau Zeva akan selamanya menunggu Devan dan penantiannya itu ternyata membuahkan hasil. Dia bukan Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Dia tidak siap jika akhirnya, mata Devan terbuka dan memutuskan untuk mengakhiri penantian Zeva selama ini.
“Kalau gue bilang, gue mulai jatuh cinta sama lo... apa reaksi lo, Va?” tanya Keylo. Tanpa sadar, intonasi suaranya berubah cemas. “Kalau gue bilang, gue mau lo, apa lo bersedia? Apa lo bersedia menaruh gue dalam sudut hati lo, seperti lo yang entah sejak kapan mulai mengisi relung hati gue?”
Keylo memejamkan mata dan tertawa pelan. Dia membuka kedua matanya kembali dan menyandarkan kepalanya di atas kepala Zeva yang bersandar pada pundaknya. Diciumnya punggung tangan gadis itu dan didekapnya dengan erat di d**a.
“Tadinya, sih, gue berniat nyium elo, Va....” Keylo terkekeh geli. “Tapi, gue takut elo tiba-tiba sadar terus ngelempar sepatu hak lo itu ke muka gue.”
###
Rasa berat pada kepalanya membuat Zeva mengerang dan membuka kedua matanya perlahan. Gadis itu mengerjap dan menguap kecil, lantas mengerutkan kening. Dia menatap dirinya sendiri yang sedang terduduk di atas lantai. Kemeja Keylo masih melekat pada tubuhnya, memberikan rasa nyaman dan hangat. Lalu, ketika dia semakin tidak bisa menahan rasa berat pada kepalanya, gadis itu sedikit mendongak ke samping kanan atas dan terpaku.
Wajah Keylo yang sedang tertidur berada tepat di depan wajahnya!
Dengan gerakan cepat, nyaris menyamai para ninja di Jepang sana, Zeva bangkit berdiri. Sialnya, gerakannya itu membuat kepala Keylo yang sepenuhnya bertumpu pada kepalanya membuat laki-laki itu limbung ke samping. Keylo mengaduh ketika merasa wajahnya terantuk lantai dan bangkit berdiri sambil meringis. Ditatapnya Zeva yang terlihat kesal setengah mati itu dengan tatapan yang tak kalah kesalnya.
“Bangunnya nggak bisa pelan-pelan, apa?” tanya Keylo ketus. Dia mengusap pipi dan kepalanya yang baru saja berciuman dengan dinginnya lantai.
Zeva tidak menggubris tatapan kesal yang dilayangkan Keylo padanya itu. Harusnya, dia yang kesal disini. Bisa-bisanya Keylo menaruh kepalanya yang berat itu di atas kepalanya yang mungil! Disipitkannya mata dan diliriknya Keylo dengan lirikan membunuh.
Apa saja yang sudah Keylo lakukan padanya selama dia tertidur?
“Gue nggak ngapa-ngapain lo,” kata Keylo tiba-tiba, seakan bisa membaca isi kepala Zeva. Dan dia memang bisa membacanya. Tidak perlu seorang dukun untuk mengetahui apa yang berkecamuk di kepala mungil itu. Hanya dari tatapan mata Zeva yang berniat mencincangnya saja sudah membuatnya tahu.
Dan dia lebih senang melihat sikap Zeva yang seperti ini, ketimbang harus melihat gadis itu bersedih.
“Laki-laki itu suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” balas Zeva sinis. Gadis itu bersedekap. “Siapa yang tau kalau disaat gue tidur, elo megang-megang gue?”
“Mau banget gue pegang, ya?” Keylo mencibir dan berjalan ke arah dispenser. Dia butuh minum. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Dia melirik jam dinding dan menaikkan satu alisnya saat jarum jam itu menunjuk ke arah delapan.
“Terus... kenapa tau-tau gue udah nyender ke pundak lo?”
“Mana gue tau.” Keylo mengangkat bahu. “Gue lagi duduk di samping lo, terus tau-tau, kepala lo udah nyender di pundak gue.”
“Dan kenapa kepala lo bisa di atas kepala gue? Apa lo nggak tau kalau kepala lo itu berat?”
“Gue ketiduran, Va... mana gue sadar kalau tiba-tiba kepala gue udah di atas kepala lo, sih?”
Hening. Zeva memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah. Hanya masalah sepele dan dia sudah sangat kekanakkan. Gadis itu mendesah panjang dan cemberut. Dia bosan dan dia sudah sangat rindu pada bantalnya. Dia mengantuk. Sangat mengantuk. Tapi, dia masih terkunci di ruangan kerjanya.
Bersama dengan si kunyuk Keylo.
“Kenapa, Va?” tanya Keylo ketika mengamati wajah cemberut Zeva. Lalu, dia melihat gadis itu berjalan lunglai ke arah kursinya dan menjatuhkan tubuhnya disana.
“Bosen. Laper. Ngantuk. Bete,” keluh gadis itu. Zeva menggeram kesal dan menghentakkan kedua kakinya di atas lantai. “Key! Lompat dari jendela aja, yuk?”
“Kalau mau mati, nggak usah ngajak-ngajak gue.” Keylo mendengus dan duduk di depan gadis itu. Lalu... tiba-tiba saja, ide itu muncul. Keylo menjentikkan jarinya dan menatap Zeva dengan tatapan berbinar.
“Elo laper?”
Zeva mengangguk.
“Kita telepon aja! Pesan makanan! Mereka pasti bakalan nganterin makanannya kesini, dong? Dan kita bakalan bebas!”
Dengan sangat niatnya, Zeva menoyor kepala Keylo. Laki-laki itu melotot ganas dan balas menoyor kepala Zeva. Terjadi adu toyor kepala dan diakhiri dengan geraman dari Keylo, saat Zeva mencubit hidungnya.
“ZEVA! Hidung gue sensitif, tau!” Keylo mendesis jengkel dan mengusap hidungnya yang mulai memerah. “Lagian, ngapain lo noyor-noyor kepala gue?”
“Elo juga noyor kepala gue!”
“Itu karena lo duluan yang mulai, bakpao Sayang....” Keylo menggeram gemas dan mendengus. Dalam hati, dia menikmati saat-saat seperti ini. Berdebat dengan Zeva.
“Bakpao?!” jerit Zeva melengking. “Apa maksud lo manggil gue bakpao?! Gue noyor kepala lo karena lo itu dodol! Mau nelepon tukang makanan pakai apa, hah? Ponsel lo nggak ada, ponsel gue habis baterai.”
“Kan ada telepon di ruangan ini,” kata Keylo santai.
Zeva yang tadinya berniat untuk membalas ucapan Keylo langsung bungkam. Sekali lagi, dia mencubit hidung Keylo hingga laki-laki itu mengaduh keras dan menjerit kesakitan.
“Arrgghhh!!! Va... Va! Sakit, tau!”
“Kenapa nggak dari tadi aja, sih, kita nelepon satpam diluar sana pakai telepon ruangan ini?” tanya Zeva kesal.
Seakan baru tersadar dengan fakta tersebut, Keylo mengerutkan kening dan tertawa keras.
“Oh iya, ya?”
Di depannya, Zeva langsung menepuk jidatnya.
###
Mobil Pajero Sport Keylo berhenti tepat di depan rumah Zeva. Laki-laki itu menoleh ketika Zeva melepaskan sabuk pengamannya dan menahan lengan gadis itu saat Zeva akan membuka pintu mobil.
“Va... hari Minggu besok, lo ada acara?”
Zeva yang masih sedikit kesal pada Keylo mengerutkan keningnya. Dia berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya.
“Nggak. Kenapa emangnya?”
“Mau jalan-jalan, nggak?”
“Hah?”
Keylo menarik napas panjang dan tersenyum lembut. Dia melepaskan tangannya dari lengan Zeva dan memutar tubuh agar bisa duduk berhadapan dengan gadis itu.
“Mau jalan-jalan sama gue, nggak?” tanya laki-laki itu lagi. “Main kemana, kek. Makan... nonton... semacam itulah.”
“Lo ngajakin gue nge-date, gitu?” tanya Zeva kaget. Tidak percaya bahwa laki-laki di depannya ini sedang mengajaknya berkencan. Ada perasaan aneh yang terbit didalam hatinya. Rasanya dia sedikit senang akan permintaan dan ajakan itu. Bukan sedikit, tapi sangat senang. Tapi... ah, entahlah. Dia sendiri bingung menjabarkan perasaannya.
“Mungkin.” Keylo mengangkat bahu. “Gimana?”
“Mmm....” Zeva diserang kebimbangan. Dia memang senang, tapi, apa bisa dia kencan dengan Keylo? Maksudnya, dia dan Keylo itu hubungannya bisa dikatakan rumit. Mereka selalu berdebat dan adu mulut jika bertemu. Mungkin, beberapa hari terakhir ini saja, semenjak kejadian pagi itu ketika Keylo bersikap menyebalkan padanya, hubungan mereka mulai membaik.
Walaupun beberapa jam yang lalu, keduanya terlibat adu toyor kepala akibat kebodohan mereka berdua sendiri.
“Nggak mau juga nggak apa-apa, kok,” ucap Keylo pelan, menyadari kebimbangan Zeva. “Gue nggak maksa....”
“Jam berapa?”
“Hmm?”
Zeva menarik napas panjang dan tersenyum tipis. Tidak ada salahnya, kan, menghabiskan sedikit waktu di hari Minggu bersama Keylo? Toh, sudah lama juga dia tidak bersenang-senang. Seluruh waktunya dia habiskan untuk bekerja dan melupakan Devan. “Hari Minggu jam berapa?” tanya gadis itu lagi.
Wajah Keylo nampak sumringah. Senyum ceria itu tidak bisa disembunyikan lagi olehnya. Belum pernah dia segembira ini. Dan, hanya dengan jawaban Zeva itu saja, sudah membuatnya merasa menjadi laki-laki paling beruntung di muka bumi.
Setelah menentukan jadwal pertemuan di hari Minggu nanti, Keylo mengantar Zeva sampai ke depan pintu rumah gadis itu. Zeva mengucapkan terima kasih dan masuk kedalam rumah, sementara Keylo berjalan kembali ke mobilnya sambil mengacungkan tinjunya ke udara dan berulang kali mengucapkan kata ‘yes’.
Tanpa dia sadari, Zeva memperhatikan itu semua dari jendela rumahnya dan tertawwa renyah.
###
Minggu pagi.
Zeva sedang menyantap sarapannya sambil menonton televisi. Sesekali dia melirik jam dinding di ruang tamunya. Sudah pukul sembilan pagi dan Keylo belum juga tiba. Padahal, laki-laki itu bilang dia akan menjemput pukul sembilan tepat. Sambil mendengus dan berusaha meredam rasa kesalnya, gadis itu kembali menyantap sarapannya.
Pakaiannya pagi ini juga sederhana saja. Keylo yang memintanya seperti itu. Katanya, mereka hanya akan jalan-jalan, makan siang bersama, nonton dan mungkin juga makan malam. Jadi, Zeva memutuskan hanya mengenakan kaus bergambar Hello Kitty berlengan panjang dan berwarna biru langit yang dipadu dengan celana jeans hitam. Rambutnya dibuat ikal dan dia hanya mengenakan make-up tipis.
Lalu, bel rumahnya berbunyi.
Dengan rasa gugup yang entah datang darimana, Zeva bangkit berdiri. Dia membawa piringnya ke dapur dan meminum air jeruknya, sebelum pergi ke pintu depan. Dia memakan tas selempang dan memegang gagang pintu. Sebelum membukanya, Zeva menarik napas panjang dan berusaha menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja meliar.
Gue kenapa, sih? Batinnya heran.
Ketika dia sudah yakin, dia membuka pintu. Sosok Keylo sedang tersenyum lebar di depannya. Zeva tidak ingin munafik saat ini. Keylo terlihat keren dengan kemeja lengan panjangnya yang dilipat hingga sebatas siku dan membiarkan satu kancing atas kemejanya tidak terkait. Dia memakai celana jeans dan sepatu kets. Lalu, kacamata bertingkai tipis terpasang di matanya, membuat laki-laki itu nampak segar.
“Lo pake kacamata?” tanya Zeva pangling. Dari semua kata sapaan yang tersusun rapih di kepalanya, malah kalimat itu yang pertama kali dia lontarkan.
“Iseng aja,” balas Keylo sambil terkekeh. Dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Zeva dan mengedipkan sebelah matanya. “Shall we?”
Sambil menggeram dalam hati karena jantungnya benar-benar berdentum bak genderang yang mau perang, hingga membuatnya sesak karena gugup, Zeva meraih uluran tangan Keylo dan tersenyum.
Dan entah mengapa, semuanya terasa sangat benar ketika tangan besar laki-laki itu menggenggam erat tangannya.
###
Sambil tertawa keras, Zeva dan Keylo kembali mengayuh sepeda mereka. Keduanya menaiki sepeda khusus dua orang. Keylo di depan, sementara Zeva di belakang. Mereka memutari ragunan dan sesekali berfoto dengan para binatang yang lucu-lucu. Tak jarang, Zeva meminta Keylo untuk memotretnya bersama binatang buas. Hal yang membuat Keylo cemas karena takut, juga takjub.
Mereka kemudian memutuskan untuk membeli tikar dan beberapa makanan ringan serta berat lalu menggelar tikar tersebut di atas rumput dibawah pepohonan yang rindang untuk menghindari sengatan matahari. Keduanya masih tertawa dan mulai membuka makanan-makanan ringan yang dibeli.
Belum pernah Zeva merasa sesenang ini sebelumnya.
“Senang, Va?” tanya Keylo disela tawanya. Laki-laki itu menyampirkan anak rambut Zeva ke belakang telinga dan membukakan minuman kaleng milik gadis itu.
“Banget!” seru Zeva semangat. Dia menerima minuman kalengnya dan meminumnya. “Gue udah lama banget nggak main-main kayak gini. Makasih, ya, Key!”
“Sama-sama.” Keylo mengacak rambut Zeva dan meminum minumannya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah ceria Zeva. Dia rela melakukan apapun asal senyuman gadis itu tetap bertengger manis di wajahnya. “Gue senang kalau lo senang.”
Zeva mengangguk riang. Dia merasa sangat lapar karena terlalu bersemangat menyusuri setiap sudut di Ragunan ini bersama Keylo. Dia memakan makanan ringan yang ada disana dan sesekali tertawa ketika Keylo melemparkan sebuah lelucon.
Lalu, laki-laki itu pamit sebentar. Entah kemana.
Zeva menunggu dengan tidak sabaran. Dia ingin jalan-jalan lagi, menyusuri Ragunan untuk yang kesekian kalinya hari ini, tapi sosok Keylo belum terlihat. Baru saja dia akan menelepon Keylo, ketika laki-laki itu muncul di depannya sambil membawa gitar.
“Key? Mau ngapain? Ngamen?” tanya Zeva geli.
“Bukan.” Keylo menatapnya dalam dan intens, membuat Zeva terpaku dan merasakan getaran aneh pada jantungnya yang kembali meliar. “Gue mau nyuri hati lo!”
Belum sempat Zeva mencerna kalimat Keylo, laki-laki itu sudah mulai memetik senar gitar yang entah didapatnya dari mana itu. Laki-laki itu tetap menatapnya intens, membuat wajah Zeva memanas dan gadis itu yakin pipinya sudah merona sekarang. Belum lagi para pengunjung Ragunan yang lain mendadak berkerumun di dekatnya juga di dekat Keylo. Menyaksikan laki-laki itu bermain gitar sambil bernyanyi.
Saat ku tenggelam dalam sendu...
Waktupun enggan untuk berlalu...
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku...
Entah untuk siapapun itu...
Oksigen! Zeva butuh oksigen saat ini! Dan anehnya, selama ini setiap harinya, sosok Devan selalu membayanginya. Menghantuinya didalam benaknya. Tapi kini? Hanya Keylo... hanya Keylo yang memenuhi otaknya.
Bagaimana bisa?
Semakin ku lihat masa lalu...
Semakin hatiku tak menentu...
Tetapi satu sinar terangi jiwaku...
Saat ku melihat senyummu...
Tanpa sadar, senyuman itu mengembang. Senyuman yang tulus dan lembut. Senyuman yang sangat disukai oleh Keylo dari Zeva. Senyuman yang membuatnya ikut tersenyum juga saat ini. Dia seperti meringan, terbang ke angkasa dan bermain dengan para bidadari. Tuhan...
Dia memang sudah mencintai gadis itu!
Bisakah dia menendang Devan dari hati Zeva?
Dan kau hadir... merubah segalanya...
Menjadi lebih indah...
Kau bawa cintaku, setinggi angkasa...
Membuatku merasa sempurna...
Dan membuatku utuh... tuk menjalani hidup...
Berdua denganmu... selama-lamanya...
Kaulah yang terbaik untukku...
(Adera-Lebih Indah)
Suara heboh mulai terdengar jelas disusul gemuruh tepuk tangan. Keylo terus saja bernyanyi untuk Zeva. Berusaha membuat gadis itu tersentuh dan mungkin bisa mengeluarkan Devan dari dalam hatinya.
Lalu mulai mempertimbangkan dirinya.
###
Jasmine tidak menyangka bahwa Devan bisa menemukan alamat rumahnya. Saat ini, laki-laki itu sudah duduk berhadapan dengannya di teras. Sejak kemunculannya sekitar lima belas menit yang lalu, Devan belum juga berbicara. Membuat Jasmine kesal dan menggeram emosi.
“Lo sebenarnya mau ngomong apa, Kak? Waktu gue nggak banyak! Gue sibuk!” seru Jasmine kesal. Dia baru akan meninggalkan Devan di teras rumahnya—sebodo amat laki-laki itu mau ngapain—ketika suara serak Devan mulai terdengar.
“Gue... gue mulai bimbang sama Neyla.”
Apa?
Dibawah tatapan tajam Jasmine, Devan melanjutkan. “Beberapa tahun silam, setelah gue lulus kuliah, ada sebuah surat yang dikasih ke gue. Di surat itu tertulis kalau Zeva suka sama gue. Udah lama. Dia mendam perasaannya supaya nggak ngancurin hubungan gue sama Neyla. Gue... gue awalnya biasa aja. Mungkin rasa cinta gue ke Neyla emang udah besar. Tapi....” Devan membasahi bibirnya dan bergerak gelisah. “Waktu gue ketemu lagi sama Zeva, gue bingung. Gue pengin dekat terus sama dia. Gue nggak mau Zeva jauhin gue dan gue nggak suka liat dia jalan sama Keylo. Gue nggak mau nyakitin Neyla tapi, gue juga nggak mau bohongin perasaan gue. Kalau ternyata, Zeva mulai merasuki pikiran gue.”
“Jadi... surat itu sampai ke tangan lo?”
Barulah Devan menatap Jasmine. Bingung. Heran. Apalagi ketika mendapati wajah dingin Jasmine dan nada suaranya yang terdengar biasa saja. Tidak terkejut.
“Lo tau darimana soal surat itu?”
“Karena gue yang nulis surat itu.” Jasmine menjawab mantap. “Karena menurut gue, lo berhak tau perasaan Zeva selama ini! Karena gue muak sama ketidakpekaan elo! Karena gue nggak rela Zeva terus menangis karena lo!”
Devan bangkit berdiri. Dia menatap Jasmine dengan tatapan tidak percaya. “Elo yang nulis surat itu?!”
“Iya! Kenapa? Mau marah?” tanya Jasmine menantang. Gadis itu tertawa dengan nada yang aneh dan mendengus. “Apa lo bahkan tau kalau Kak Neyla juga udah tau soal perasaan Zeva ke lo, Kak? Dan dia dengan sengaja terus melakukan aksi kemesraan memuakkan kalian di depan Zeva!”
“Neyla?! Dia tau?!”
“Gue juga nggak tau darimana Kak Neyla bisa tau perasaan Zeva. Kemungkinan besar, di hari lo ninggalin Zeva di taman belakang kampus saat ulang tahun dia itu, dia mencuri dengar percakapan gue sama Zeva karena setelahnya, dia datangin gue! Dia minta gue untuk nulis semua perasaan Zeva terhadap lo dan kasih ke dia! Waktu gue bilang untuk apa, dia bilang dia akan ngasih surat itu ke lo. Awalnya, gue nggak mau ngelakuin itu. Tapi, hati gue tersentil. Gue cuma mau si b******k Devan tau kalau selama ini ada gadis bernama Zeva yang terus cinta sama dia!”
“Jadi....” Devan menelan ludah susah payah. “Neyla yang naruh surat itu? Neyla tau tentang perasaan Zeva?”
“Kadang, gue mikir dan terheran-heran sendiri,” ucap Jasmine sambil menerawang. “Kenapa Kak Neyla nyuruh gue untuk nulis semua perasaan Zeva terhadap lo dan mau ngasih surat itu ke lo. Tapi, gue udah nggak mau ngambil pusing lagi. Sekarang Jasmine udah nemuin orang yang bisa bikin dia senang dan gue nggak akan pernah ngebiarin lo ngerusak kebahagiaan itu!”
###