08

2823 Words
Pengakuan yang diucapkan oleh Jasmine mengenai Neyla yang sudah tahu perihal perasaan Zeva selama ini padanya membuat Devan tidak percaya. Neyla selama ini selalu bersikap baik pada Zeva juga selalu bersikap manja padanya jika mereka berdua ada di dekat Zeva. Bagaimana bisa Neyla selalu mempertontonkan kemesraan mereka berdua selama ini di depan Zeva tanpa ada rasa bersalah sama sekali? Bagaimana bisa Neyla tega membiarkan Zeva sedih dan menahan rasa sakit akibat kemesraan mereka berdua selama ini? Apa Neyla sudah gila?!             Mobil sedan Devan berhenti begitu saja di tepi jalan dengan bunyi berdecit yang begitu keras. Laki-laki itu memukul kemudi mobilnya dan mencengkramnya dengan sangat kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Keningnya disandarkan pada kemudi mobil diantara kedua tangannya. Napasnya memburu. Perasaan bersalah itu tiba-tiba hadir, menghantamnya telak hingga dia kehabisan napas. Beberapa kali, tangan kanan Devan memukul kemudi mobil dan laki-laki itu terus mengumpat, mengutuki ketololannya selama ini. Ketololannya akan sikap tidak peka yang dia miliki.             Bagaimana bisa dia menyakiti hati gadis yang sangat baik seperti Zeva tanpa dia sadari?             Puas menumpahkan semua amarahnya, Devan mulai mengangkat kepala dan menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong. Napasnya masih tersengal akibat sengatan emosi yang menyerangnya beberapa saat lalu tetapi sudah tidak terlalu memburu seperti di awal. Beberapa hari terakhir ini, dia terus saja memikirkan Zeva entah mengapa. Dia mulai diserang kebimbangan. Hatinya masih mencintai Neyla, tetapi perlahan, sosok Zeva mulai mengisi otaknya. Bermain-main disana, mengacaukan semua perasaan dan juga akal sehatnya. Sempat terpikir untuk bermain api, tetapi dia tidak ingin menjerumuskan gadis sebaik Zeva kedalam permainan licik seperti itu. Lagipula, resiko jika dia bermain api, dia akan terbakar, bukan?             Ponsel yang Devan letakan di atas dashboard mobil berbunyi keras. Layar ponsel tersebut berkelap-kelip, membuat Devan tersadar dari lamunannya dan menghembuskan napas berat. Diraihnya benda tersebut dan dibacanya satu nama yang muncul di layarnya.             My Neyla, calling.             Kedua mata Devan terpejam kuat. Laki-laki itu menggenggam ponselnya dengan erat, seolah takut kehilangan benda tersebut. Dia benar-benar pusing dengan semua permasalahan yang datang secara bertubi-tubi saat ini. Sungguh, dia sama sekali tidak ingin menyakiti Neyla. Tidak ingin membuat gadis yang selama ini dicintainya itu menangis. Tapi, Zeva tanpa dia sadari sudah tersakiti olehnya.             Lalu... dia harus bagaimana?             Apa yang akan kalian lakukan jika kalian berada dalam posisinya? Hmm? Tolong beritahu dia, apa yang harus dia lakukan.             Karena Devan tidak bisa. Dia tidak bisa memutuskan hubungannya dengan Neyla. Dia tidak bisa. Dia cinta gadis itu. Sangat mencintainya. Tapi, dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa perasaan lain yang terlarang untuk Zeva itu mulai hadir. Mulai memaksa hatinya berbagi tempat istimewa itu untuk Zeva. Mulai menyuruh hatinya untuk mempertimbangkan Zeva.             Plin-plan? Mungkin. Egois? Pasti!             Layar itu berhenti berkelap-kelip dan Devan langsung mematikan ponselnya. Dia butuh waktu untuk berpikir jernih. Dia butuh sendirian. Tanpa ada gangguan dari siapapun.             Tuhan... bagaimana ini?             Apa yang harus dia lakukan?             “Maaf, Ney,” ucap Devan lirih. Lalu, kepala laki-laki itu kembali ditelungkupkan di atas kemudi mobil.   Maafkan aku... Yang tak... sempurnya ‘tuk dirimu... Usailah sudah... Kisah yang tak sempurna untuk kita... kenang... (Samsons-Kisah Tak Sempurna) ### Didalam kamarnya, Neyla membanting ponselnya ke atas kasur dengan kesal. Sudah dihubunginya Devan beberapa kali, namun selalu tersambung dengan suara operator yang mengatakan bahwa ponsel laki-laki itu tidak aktif. Kemana Devan? Devan tidak pernah mematikan ponselnya seperti sekarang ini sebelumnya. Selama mereka berpacaran, Devan selalu memberinya kabar sebisa mungkin. Ini yang pertama kalinya, Devan tidak mengabarinya dan malah menonaktifkan ponsel.             Kening Neyla mengerut. Gadis itu berjalan ke arah kasur dan menghempaskan tubuhnya disana. Ditatapnya langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Perasaan takut itu kembali hadir. Juga perasaan iri yang tidak dimengertinya. Takut karena dia beberapa kali bermimpi bagaimana Devan meninggalkannya dan berjalan dengan seorang gadis lain yang wajahnya tidak dapat dia kenali, juga iri karena dia baru tahu bahwa Zeva, adik tingkatnya semasa kuliah dulu kini berpacaran dengan... Keylo, mantan pacarnya sebelum dia berpacaran dengan Devan.             Keylo adalah cinta pertamanya. Cinta pertamanya yang dia tinggalkan karena munculnya Devan, sosok tidak terduga yang memunculkan perasaan cinta yang begitu hebat dalam hatinya hingga dia sanggup meninggalkan Keylo. Devan... sosok yang ceria, hangat, pengertian, dewasa dan lembut. Devan adalah laki-laki yang sopan terhadap perempuan dan tidak pernah menyakiti perempuan meskipun hanya melalui kata-kata. Sifat-sifat yang membuatnya jatuh hati. Sewaktu Keylo terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa Neyla membutuhkan tempat bersandar, Devanlah yang menawarkan tempat bersandar tersebut.             Lalu, dia berpaling dari Keylo.             Tapi, ketika tempo hari dia bertemu lagi dengan laki-laki itu setelah sekian lama tidak pernah bertemu dan tidak pernah tahu mengenai kabarnya, dia diserang perasaan cemburu. Cemburu karena Zeva adalah kekasih Keylo. Bagaimana bisa, seorang gadis yang sama, memberikan pengaruh yang begitu hebat terhadap dua orang laki-laki yang dikenalnya dengan amat sangat baik dan amat sangat dekat?             Demi Tuhan! Keylo adalah orang yang pernah mengisi relung hatinya dan Devan adalah orang yang saat ini mengisi relung hatinya.             Dan keduanya dekat dengan Zeva!             “Zeva...,” gumam Neyla sambil menarik napas panjang. “Apa, sih, bagusnya elo? Sampai-sampai elo bisa narik dua perhatian laki-laki yang pernah dekat sama gue dan yang saat ini dekat sama gue?”             Hening. Neyla sadar, dia sudah bertindak kekanakkan. Tapi, rasa cemburu itu tidak bisa ditahan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan semua kejadian ini. Tiba-tiba, gadis itu tersentak hebat. Dia bangkit dari posisi berbaringnya dan mengerutkan kening.             Kamu tau, kan, kalau karma itu ada?             Ucapan Keylo saat dia meminta putus dari laki-laki itu tiba-tiba menyeruak keluar dari dalam otaknya. Dia ingat kalimat terakhir yang diucapkan Keylo hari itu. Dan sekarang... apakah dia sudah menerima karma dari Keylo? ### Pagi ini, Keylo datang ke kantor dengan hati yang luar biasa gembira. Kemarin, dia baru saja bersenang-senang dengan Zeva seharian penuh! Seharian penuh yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Laki-laki itu melangkah ringan disepanjang koridor kantor dan menyapa semua karyawan yang melintas di dekatnya. Tak peduli apakah dia mengenal orang tersebut atau tidak.             Lalu, Keylo tersenyum lebar ketika mengingat aksinya bernyanyi sambil bermain gitar di depan Zeva kemarin. Aksi yang sebenarnya mempunyai maksud dan tujuan tersendiri.             Untuk menyatakan cintanya pada gadis itu.             Tapi, sayangnya, Zeva tidak mengerti maksud yang ingin dia sampaikan. Begitu dia selesai bernyanyi, Zeva bertepuk tangan dengan heboh dan memaksanya untuk menyanyikan satu lagu lagi, lalu langsung merengek kepadanya agar kembali menjelajahi isi ragunan yang itu-itu saja. Meskipun gondok dan merutuk dalam hati mengenai kepolosan Zeva, Keylo akhirnya menuruti kemauan gadis itu. Lagipula, Keylo sendiri bingung, apa Zeva benar-benar polos atau hanya berpura-pura bego.             Keylo sampai di ruangan kerjanya dan masuk dengan riang. Beberapa teman kerjanya seperti Rara, Yogi dan yang lainnya sudah berada dibalik kubikel mereka masing-masing. Tapi, dia tidak menemukan Zeva dibalik kubikelnya. Kubikel gadis itu kosong. Belum ada tanda-tanda kehadiran Zeva disana.             “Gi,” panggil Keylo. Yogi mengangkat kepala dari laporan keuangan yang sedang dibacanya itu dan menaikkan satu alisnya. Memberi isyarat kepada Keylo untuk melanjutkan ucapannya. “Si Zeva belum datang?”             “Zeva?”             “Itu, loh... cewek mungil yang kalau ketemu gue suka emosi. Yang mukanya cantik dan manis. Yang rambutnya agak-agak ikal gimana, gitu. Tau, nggak, dia kemana?”             “Yee....” Yogi melempar botol air mineralnya ke arah Keylo dengan kesal. Keylo sendiri bisa menghindar dengan mudah, membuat Yogi cemberut dan Rara tertawa. “Gue juga tau, kali, siapa itu Zeva! Nggak masuk, doi.”             Kening Keylo mengerut.             “Kenapa?”             “Sakit.”             “Sakit apa?”             “Ck! Key!” Yogi menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berdecak jengkel. “Gue bukan emaknya Zeva! Mana gue tau dia sakit apaan. Tadi dia nelepon Rara dan bilang kalau dia nggak bisa masuk. Sakit. Itu doang. Gue nggak kepoin, tuh. Lagian, apa lo pikir gue ada tampang-tampang suka kepoin orang? Udah, ah! Gue mau kerja lagi. Lo ganggu gue aja.”             Di tempatnya, Keylo merenung. Saat dia mengantar gadis itu pulang semalam, dia tidak melihat adanya tanda-tanda Zeva akan sakit setelahnya. Gadis itu masih tersenyum lebar dan tertawa riang.             Mendadak, Keylo merasa cemas. Amat sangat cemas. ### Gaza memasuki ruang kelasnya sambil bersiul. Dia baru saja mendapatkan uang dari Kak Verco, sementara Kakaknya yang satu lagi—Keylo—pelitnya minta ampun! Padahal, Gaza sudah memberikan alasan bahwa dia harus membeli beberapa diktat kuliah yang harganya memang lumayang mahal. Tapi, emang pada dasarnya Keylo tidak gampang untuk dibohongi, jadi, laki-laki itu tidak memberinya uang.             Begitu dia masuk kedalam kelas, langkah kakinya otomatis terhenti dengan sendirinya. Pemandangan yang terjadi tak jauh di depannya membuat keningnya mengerut tanpa sadar. Perasaan kesal itupun hadir tanpa dia tahu alasannya. Yang jelas, dia sangat muak dengan pemandangan itu.             Siapa laki-laki yang sedang mengobrol bersama Catherine dan membuat gadis itu tertawa lepas seperti itu?!             Dengan tatapan tajamnya, Gaza menguliti laki-laki yang sepertinya sama tinggi dengan dirinya. Rambutnya cokelat terang. Hidungnya mancung, kedua matanya sedikit sipit. Bibirnya berwarna merah, jenis bibir yang tidak pernah menyentuh nikotin sama sekali. Tubuhnya tegap, atletis, hasil olahraga yang teratur. Garis mukanya begitu menarik, membuat siapapun pasti tidak akan pernah melupakannya, meski hanya dalam satu kali pertemuan.             Entah ingatannya yang memang buruk atau apa, tetapi, Gaza merasa tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya.             Saat ini, Catherine sedang bertanya sesuatu kepada laki-laki itu dari buku yang ada di hadapannya. Dengan langkah lebar, Gaza mendekati keduanya dan duduk tepat di depan Catherine. Gadis itu mendongak, menatap Gaza dengan tatapan mengajak perang sekaligus tatapan heran, pun dengan laki-laki itu. Gaza sendiri hanya tersenyum tanpa dosa bak senyuman anak kucing yang ada dalam kalender dan bertopang dagu.             “Ngapain, Cate?”             “Lagi makan sendal, nih. Mau ikutan?” tanya gadis itu ketus dan mendengus. Heran... si Gaza ini buta atau gimana, sih? Jelas-jelas di depannya ada buku segede babon, masih nanya lagi ngapain.             “Ya ampun... Cate lucu banget, sih?” Gaza tertawa keras dan mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Hasilnya? Bukan hanya Cate yang melongo, tetapi semua penghuni kelas mereka! Pasalnya, mereka semua tahu reputasi Gaza dan Cate. Suka banget yang namanya adu mulut nggak jelas sambil lempar-lemparan barang! Mending cuma saling lempar kertas. Lah ini... kadang diktat ikutan dilempar, kadang sepatu ikutan melayang.             “Lo salah makan obat, Za?” tanya Cate polos. Biasanya, nih, dari buku-buku horror yang pernah dia baca, para psikopat sinting yang suka banget bunuh-bunuhin tokoh utama ceritanya, bakalan bersikap manis dulu di awal, sebelum akhirnya motong-motong tubuh si tokoh utama sampai jadi seukuran dadu-dadu kecil yang suka dipakai buat mainan monopoli!             “Gue nggak sakit, kok, jadi nggak perlu minum obat.” Gaza mengedipkan sebelah matanya dan menatap laki-laki yang sejak tadi hanya diam sambil tersenyum ke arahnya juga ke arah Cate. “Loh... ada orang, toh. Gue belum pernah ngeliat lo sebelum ini. Anak fakultas mana?”               Tangan kanan laki-laki itu terulur tepat di depan Gaza yang disambut dengan agak ragu oleh laki-laki itu. Dia terperangah dan mengangkat satu alisnya ketika merasakan jabatan tangan penuh dengan ketegasan yang dilakukan oleh laki-laki di depannya ini.             Boleh juga jabatan tangannya!             “Nama gue Keanu Ezrio Raynando. Panggil aja gue Keanu. Gue anak fakultas kedokteran. Lo?”             “Gaza. Gazakha Vernatta.” Gaza menarik kembali tangannya dan menatap Keanu dengan tatapan menilai. “Elo kenapa bisa nyasar di kelas gue sama Cate?”             “Kebetulan gue ketemu Cate di kantin, tadi... dia minta diajarin soal hitung-hitungan sama gue. Karena gue emang nguasain bidang itu, jadi gue mengiyakan.” Keanu tersenyum tipis. “Ada masalah?”             Gaza menggeleng. Dia mengepalkan satu tangannya yang berada di bawah meja. Rahangnya mengeras. Rasanya dia ingin sekali menendang si Keanu-Keanu ini hingga ke negara tetangga! Gayanya sok banget!             “Keanu ini anaknya dokter. Orangtuanya dua-duanya berprofesi sebagai dokter. Jadi, nggak salah kalau dia jago banget sama soal hitung-hitungan,” jelas Cate tanpa diminta. Ada nada bangga yang terselip disana, membuat Gaza merasa ‘gerah’ tanpa sadar. (baca: Beat It!)             Dia tidak suka jika perhatian Cate teralihkan. Biasanya, gadis itu akan terpancing dengan semua ulahnya. Tapi sekarang? Kedatangan si Keanu membuat Cate berhenti melakukan aksi ‘Tom and Jerry’ dengannya!             Dan itu membuatnya kesal bukan main. Entah kenapa. ### “Zeva demam, nak Keylo. Dari semalam. Mungkin dia kecapekan.”             Suara lembut Bunda Zeva membuat Keylo tersenyum tipis. Laki-laki itu mengangguk hormat ketika disuruh meminum teh yang sudah wanita itu buatkan untuknya. Rasa hangat langsung mengalir dalam dadanya dan aroma mint itu begitu menenangkan.             Sejenak, Keylo menatap ruang keluarga dari rumah Zeva ini. Ruangan ini sangat nyaman. Banyak pigura foto yang tergantung di dinding dan semuanya hampir didominasi oleh foto Zeva. Zeva sewaktu masih TK. Zeva saat memenangkan kontes menari daerah. Zeva yang baru lulus SMA. Semuanya menampilkan senyuman hangat dan polos dari gadis itu. Sampai kemudian, Keylo merasa senyuman hangat itu sedikit memudar ketika Keylo menatap foto-foto Zeva semasa kuliah.             Ada foto-foto Zeva bersama Jasmine. Ada foto-foto Zeva bersama orang-orang yang tidak dikenal oleh Keylo. Dan... ada juga foto gadis itu bersama Devan dan Neyla!             Keylo bisa melihat Zeva sedang berdiri diapit oleh Devan dan Neyla. Meskipun gadis itu tersenyum, tapi, Keylo bahkan bisa melihat gurat kesedihan yang terpancar jelas dari senyuman juga tatapan matanya. Hal itu membuat hati Keylo ikut merasa sakit.             “Nak Keylo... Ibu mau minta tolong, boleh?”             Pertanyaan Bundanya Zeva membuat Keylo tersentak dan kembali memusatkan perhatiannya pada wanita itu. Dia mengangguk dan Bunda Zeva tersenyum lembut.             “Ibu mau pergi sebentar. Ada urusan. Tadinya, Ibu mau minta tolong Jasmine untuk menjaga Zeva, tapi, Nak Keylo keburu datang dan Ibu berpikir kenapa tidak sekalian saja meminta tolong pada Nak Keylo untuk menjaga Zeva. Zeva itu kalau sakit suka rewel. Penginnya dijagain terus.”             “Maaf sebelumnya, Bu... tapi, apa Ibu nggak takut kalau saya berbuat macam-macam pada anak Ibu disaat Ibu pergi? Walau bagaimanapun, saya ini laki-laki.” Keylo terlihat ragu. Takut nantinya timbul omongan yang tidak-tidak.             “Saya percaya Nak Keylo anak yang baik.” Wanita itu bangkit berdiri dan menepuk pundak Keylo beberapa kali. “Ibu titip Zeva, ya, Nak. Tolong dijaga. Ibu usahakan untuk cepat kembali.”             Sepeninggal Bundanya Zeva, Keylo masih setengah sadar. Dia mengerjapkan mata dan menggelengkan kepalanya. Ditutupnya pintu depan dan dia melangkah menuju kamar Zeva yang berada di dekat tangga menuju lantai dua. Tadi, Bunda Zeva sudah memberitahu kamar Zeva padanya.             Pada pintu kamar gadis itu tertulis kalimat my private room dibawah foto Zeva bersama Jasmine. Keylo tersenyum dan memutar gagang pintu dengan pelan. Disana, di atas tempat tidur, sosok Zeva terlihat. Lemah dan pucat. Keylo mengernyit. Kemarin, Zeva tidak seperti ini.             Perlahan, Keylo mendekat ke arah Zeva. Laki-laki itu duduk di atas tempat tidur, di samping Zeva. Dibelainya dengan lembut rambut Zeva yang menutupi keningnya. Gadis itu mengerutkan kening dan menggeliat pelan. Merasa terganggu atas sentuhan tangan Keylo pada rambutnya.             “Ssst... sleep tight, Va....” Keylo menundukkan kepalanya, mencium kening Zeva yang terasa sangat panas. “Ada gue disini.” ### Zeva membuka kedua matanya perlahan. Rasa pusing dan suhu tubuhnya yang tinggi membuatnya ingin menangis. Dia membasahi bibirnya yang kering, sekering tenggorokannya saat ini. Dia butuh minum. Ugh! Sejak kecil, Zeva paling tidak suka apabila demam menyerangnya.             Sebelah tangannya terasa berat dan mati rasa, membuat Zeva menoleh dan terbelalak. Disana, di atas lengannya, sosok Keylo tengah tertidur. Kepalanya ditelungkupkan di atas lengannya yang panas. Zeva mengernyit. Kenapa Keylo ada disini?             “Khey....” Suara Zeva yang serak membuat gadis itu berdecak. Betapa dia sangat membenci keadaan dimana dirinya merasa lemas seperti ini! “Khey....”             Guncangan pelan pada pundaknya membuat Keylo terbangun. Laki-laki itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap sekitar dengan panik. Kemudian, tatapannya bertemu dengan tatapan Zeva. Gadis itu tersenyum kecil namun sanggup membuat Keylo menghembuskan napas lega. Dia pikir, terjadi sesuatu pada gadis itu.             “Udah bangun, Va?”             Zeva mengangguk. Gadis itu memejamkan kedua matanya sejenak lalu kembali menatap Keylo. “Khenapa... bisa... ada... disini...?”             “Gue tadi ke kantor dan bingung lo nggak ada disana.” Keylo membantu Zeva yang ingin duduk dan menyandarkan punggung gadis itu pada bantal yang dia letakkan di sandaran tempat tidur. “Pas gue tanya Yogi, dia bilang lo sakit. Gue langsung kesini dan ketemu sama nyokap lo. Cuma, beliau lagi pergi sebentar. Ada urusan katanya.”             Zeva hanya diam. Lalu, gadis itu menangis, membuat Keylo terkejut.             “Loh? Va? Elo kenapa malah nangis? Apanya yang sakit, Va?”             Gadis itu menggeleng. Dia menghapus airmatanya, namun justru semakin menangis. Keylo bingung. Tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis itu.             “Gue... emang sukha beginhi...,” jelas Zeva parau. “Gue... sukha rewel... kalau... laghi... demam. Nggak... kuath... samha... panasnya....”             Beberapa detik lamanya dilalui Keylo dengan wajah melongonya. Sampai kemudian, laki-laki itu terbahak dan menggelengkan kepalanya. Dihapusnya airmata yang mengalir di pipi Zeva lalu, ditempelkannya keningnya pada kening gadis itu, membuat Zeva tersentak dan seketika menahan napas.             “Sini... biar gue ambil demamnya dan gue pindahin ke badan gue. Jadi, elo nggak perlu ngerasa sakit dan nangis lagi.” Lalu, laki-laki itu memeluk tubuh Zeva.             Didalam pelukan Keylo, Zeva menghela napas panjang. Dia menyandarkan pipinya pada d**a bidang Keylo dan merasa sangat aman disana. Lalu, pertanyaan itu muncul dalam benaknya, membuat Zeva merona tanpa sadar.             Keylo... kalau gue jadi cinta sama lo, gimana? ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD