Jarum jam sudah mengarah ke angka tujuh malam. Keylo menarik napas dan menghembuskannya dengan gusar. Sampai jam segini, Ibunda Zeva belum juga pulang. Padahal, wanita cantik itu bilang bahwa dia hanya akan pergi sebentar karena ada sebuah urusan. Tapi, Keylo mendapat telepon dari wanita itu—yang menelepon ke rumahnya sendiri—saat dia sedang menyiapkan makan siang untuk Zeva. Ibunda Zeva bilang, urusan yang sedang dia hadapi menjadi sedikit rumit hingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Tapi, dia berjanji bahwa sebelum jam makan malam, dia sudah akan di rumah. Bukannya dia keberatan kalau harus disuruh menjaga Zeva. Masalahnya, ini sudah malam dan dia takut akan timbul omongan yang tidak-tidak dari para tetangga gadis itu.
“Apa gue nelepon Jasmine aja?” gumam laki-laki itu pada dirinya sendiri. Detik berikutnya, Keylo menepuk keningnya dengan keras dan berdecak jengkel. “Gue, kan, nggak punya nomor ponselnya Jasmine.”
Keylo bangkit dari sofa dan berjalan mondar-mandir, memikirkan bagaimana caranya supaya dia dan Zeva bisa terhindar dari omongan yang tidak-tidak. Kemudian, dia mendengar suara lirih itu. Suara lirih Zeva yang langsung membuatnya berlari ke kamar gadis itu tanpa pikir panjang. Pintu kamar gadis itu bahkan terbuka dengan dorongan keras dan Keylo langsung melesat ke arah tempat tidur Zeva. Gadis itu masih tertidur. Hanya saja, dia mengigau. Keningnya mengerut dan peluh mulai jatuh membasahi wajahnya yang pucat. Padahal, AC pada kamar Zeva menyala. Kepala gadis itu menggeleng ke kanan dan ke kiri, sementara tangannya mengepal.
“Ssst... Va? Lo kenapa?” tanya Keylo pelan. Laki-laki itu duduk di samping Zeva dan mengusap peluh yang membasahi wajah cantiknya. Dia kemudian mulai mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
“Ge... lap... ge... lap....” Gadis itu menggumam dengan nada takut dan pelan. Kening Keylo kontan mengerut. Gelap? Apa yang gelap? Lampu kamar gadis ini menyala terang. Apa... karena dia sedang tertidur? Kalau mata terpejam, bukankah memang akan menjadi gelap dan tidak bisa melihat apapun? Tapi, kenapa nada gadis itu begitu ketakutan? Kenapa dia begitu gelisah dalam tidurnya?
Mimpi buruk?
“Dimana yang gelap, Va?”
“Ge... lap... ge... lap....”
Tanpa ragu, Keylo menggenggam tangan Zeva yang terkepal dan menundukkan kepala untuk mencium kening gadis itu. Ajaibnya, setelah melakukan hal tersebut, Zeva langsung tenang. Napasnya yang tadi sedikit memburu sudah mulai normal kembali. Keningnya juga sudah tidak mengerut dan wajahnya menjadi damai. Bahkan, gadis itu sedikit tersenyum tipis, membuat Keylo menghembuskan napas lega. Dibelainya pipi Zeva dengan lembut dan tersenyum manis ke arah gadis yang masih terlelap itu.
“Udah nggak gelap, Va?”
Hening. Tidak ada respon dari Zeva. Keylo menatap lembut ke arah gadis itu dan kembali membungkukkan tubuhnya. Entah dorongan dari mana, dia juga tidak tahu. Yang jelas, bibirnya menyentuh bibir Zeva begitu saja tanpa bisa dia cegah. Menyentuh bibir Zeva yang panas karena demam dengan hati-hati, dengan pelan dan lembut, seolah takut menyakiti gadis itu. Detik berikutnya, Keylo kembali menarik diri dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berdiri berkacak pinggang dan memejamkan kedua matanya. Ada percikan senang, sekaligus gemas terhadap dirinya sendiri. Gemas karena dia tanpa izin sudah mencium bibir Zeva.
“Ya ampun, Keylo Izkar Arvenzo!” serunya dongkol pada dirinya sendiri. “Elo, kok bisa jadi m***m banget gini, sih?!”
Zeva tetap terlihat tenang dan damai dalam tidurnya. Keylo melirik sekilas, lalu kedua matanya jatuh pada ponsel Zeva yang berada di atas meja. Dia menjentikkan jari dan mengambil ponsel gadis itu, lalu langsung mencari nama Jasmine disana.
###
Langkah kakinya semakin cepat. Ujung sepatu hak tingginya menyentuh dinginnya lantai dengan keras hingga menimbulkan bunyi berisik yang khas. Jasmine menahan sabar dalam hati. Dia mengepalkan kedua tangannya dan melirik ke belakang dari balik bahunya lalu menyadari bahwa orang itu masih saja mengikutinya. Akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi, dengan satu gerakan cepat, Jasmine memutar tubuhnya dan langsung menatap orang tersebut dengan tatapan tajam dan membunuh. Gadis itu berkacak pinggang sejenak, lalu sebelah tangannya terangkat dan menunjuk orang itu lurus-lurus. Sementara yang ditunjuk mukanya hanya bisa bersedekap, tersenyum lebar dan terkekeh.
Dia... yang mengenakan kemeja hitam bergaris putih lalu ditutupi dengan jaket cokelat tebal. Kedua matanya yang menyorot nakal namun memberikan kesan teduh. Rambut pendeknya yang terlihat berantakan. Hidungnya yang sedang juga alis tebal yang menaungi mata abu-abunya.
“BRYAN DEGASWARA!”
“Apa, Sayang?”
“Sayang... sayang... palamu gundul!” Nah, Jasmine itu memang tipikal gadis manis. Tutur katanya lembut, tapi... pada saat-saat tertentu saja! Kalau dia sudah dibuat kesal oleh orang lain, dia akan berubah seganas singa. “Ngapain, sih, elo ngikutin gue terus?!”
“Siapa yang ngikutin elo, sih, Sayang? Gue, kan, juga mau ke parkiran. Mobil gue disana, sama kayak mobil lo. Lupa? Hmm? Atau....” Dengan gerakan tak terduga, Bryan menarik pinggang Jasmine dan mendekatkan tubuh gadis itu ke arahnya, membuat wajah mereka berdekatan dengan kedua mata Jasmine yang semakin berkilat penuh amarah. Dia mencoba melepaskan diri, namun pelukan Bryan pada pinggangnya justru semakin menguat. “Elo pengin banget, ya, gue ikutin?”
“Lo abis makan apa, sih, tadi siang? Sampai mendadak sarap kayak begini?” tanya Jasmine ketus. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, dia mendorong tubuh Bryan, membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang sambil tertawa. “Ngapain banget gue ngarepin elo buat ngikutin gue? Nggak sudi!”
“Jangan galak-galak, lah, Jasmine melatiku Sayang....” Bryan menjawil dagu Jasmine, membuat gadis itu bergidik ngeri dan menepis tangan Bryan. Dilihatnya laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya. “Nanti, cantiknya hilang, loh.”
“Bodo amat!” Jasmine mengacungkan tinjunya ke arah Bryan dan melotot ganas. “Sana! Pergi duluan ke parkiran! Gue nggak mau jalan bareng elo....”
Bryan mengangkat satu alisnya dan kembali bersedekap. Dia sebenarnya sudah melakukan aksi pedekate pada Jasmine semenjak pertama kali mengenal gadis itu. Senyuman Jasmine membuatnya tersihir, pun dengan cara kedua matanya menatap. Wajah Arabnya membuatnya terpesona hingga lupa bahwa ada jutaan gadis lain di muka bumi ini. Dan... pertama kali dia mendengar tawa gadis itu, Bryan bersumpah bahwa dunianya ditumbuhi jutaan bunga yang sangat indah.
Lebay? Masa bodoh!
Bukankah kalau orang yang sedang jatuh cinta memang suka bersikap seperti ini?
Sayangnya, Jasmine itu seperti alergi terhadap Bryan. Jangankan menyapa dengan lembut, baru dipanggi namanya saja oleh laki-laki itu, Jasmine akan langsung memelototinya! Jasmine selalu memasang sikap galak kalau bertemu dengannya karena dulu, Bryan pernah tidak sengaja salah masuk toilet dan melihat gadis itu sedang membetulkan kancing kemejanya yang terbuka. Dan... dia tidak sengaja melihatnya! Melihat d**a gadis itu. Tapi, Bryan berani sumpah bahwa hanya melihat sekilas saja. Dia belum sempat melihat semuanya, karena begitu Jasmine menatapnya, dia langsung histeris lalu melempar semua benda yang dia keluarkan dari dalam tas.
“Mau kemana, sih? Buru-buru banget kayaknya.” Bryan menatap gadis itu dengan tatapan curiga. “Mau ketemu cowok, ya?”
“IYA!” tandas gadis itu langsung. Dia tidak berbohong. Dia memang akan pergi ke rumah Zeva dan disana ada Keylo. Tadi, Keylo meneleponnya melalui ponsel Zeva dan berkata bahwa sahabatnya itu sedang sakit. Demam. Ibundanya sedang pergi dan belum kembali. Keylo meminta Jasmine datang supaya tidak ada omongan yang aneh-aneh tentangnya dan Zeva.
Dan Jasmine bersumpah akan mencincang Keylo setibanya dia disana.
“Siapa? Cowok lo?” tanya Bryan langsung. Dia tidak bisa menahan rasa cemburu yang terbit disana.
“Bukan urusan lo.” Jasmine berdecak jengkel dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti akibat Bryan tadi. Dia tidak menoleh ke belakang sama sekali. Dia meninggalkan Bryan disana, yang kini tengah mematung dan menghela napas panjang.
Masa iya, Jasmine udah punya pacar?
###
Kuliah malam lagi.
Gaza mengerang kesal dan memejamkan kedua matanya. Laki-laki itu memijat tengkuknya sejenak, sebelum kemudian membuka kedua matanya kembali. Suasana kelas benar-benar sepi. Yang mengikuti kelas malam ini bisa dihitung dengan jari. Hanya berkisar lima belas orang, termasuk dirinya dan si gadis bar-bar, Catherine.
Teringat dengan Catherine, Gaza jadi mengingat laki-laki yang bernama Keanu itu lagi. Laki-laki yang harus dia akui sangat tampan. Semua perempuan pasti akan terhanyut pada kedua mata laki-laki itu. Kalau dia menjadi seorang perempuan, dia juga pasti akan terperangkap pada cara sepasang mata Keanu menatap.
Sayangnya, dia sendiri tidak tahu kenapa dia sangat sebal dan kesal ketika melihat Catherine bersama Keanu. Apalagi jika dia mengingat tawa lepas gadis itu. Entah pelet apa yang Keanu berikan pada Catherine hingga bisa membuat gadis itu tertawa dengan cantiknya.
WHAT?! CANTIK?!
Dia pasti positif gila!
Bagaimana bisa, gadis segalak Catherine dia bilang cantik? Sinting!
Sedang asyik berdebat dengan dirinya sendiri didalam hati, Gaza tiba-tiba mendengar suara itu. Suara tawa yang sangat menenangkan. Suara tawa yang membuatnya merasa nyaman dan hangat. Suara tawa yang selama beberapa hari ini, semenjak kejadian tempo hari, selalu menari-nari dalam benaknya.
Suara tawa Catherine!
Melalui ekor matanya, Gaza melihat Catherine memasuki ruangan kelas bersama... Keanu! Gadis itu masih saja tertawa bahkan sambil memukul lengan atas Keanu dengan pelan dan manja, membuat Gaza muak setengah mati. Ditatapnya Keanu dengan tatapan menilai dan tatapan membunuh.
Heran... apa, sih, bagusnya Keanu? Masih bagusan dia kemana-mana, deh!
“Bisa, nggak, jangan berisik?” tanya Gaza dengan suara ketus, membuat derai tawa itu seketika terhenti. Langkah Catherine dan Keanu pun ikut terhenti dan keduanya menatap sosok Gaza yang saat ini sedang duduk di pojok kelas sambil bersedekap dan menatap keduanya dengan tatapan bete. Catherine langsung mengerutkan kening dan mengangkat satu alisnya.
Kenapa lagi, sih, sama si Gaza? Mau ngajakin gue berantem lagi? Oke! Gue ladenin!
“Kenapa gue sama Kean nggak boleh berisik?” tanya Catherine santai. Sengaja melemparkan korek api ke arah bensin yang sudah dituangkan oleh Gaza. “Hak gue sama Kean, dong.”
“Elo ngerti, nggak, kalau ini udah malam? Lo mau kalau semua ‘penghuni’ kelas ini pada keluar karena lo sama teman ganteng lo itu terlalu ribut? Hmm?” Gaza sengaja menekankan nada suaranya pada kalimat terakhirnya, membuat Keanu tersenyum tipis dan menarik napas panjang.
Dia tahu makna dari nada suara Gaza itu.
“Oke, deh, Cate,” sela Keanu, disaat dia melihat gadis itu sudah bersiap untuk melempar bom yang akan beresiko meledakkan kelas ini. “Gue tunggu di pos satpam aja, ya? Lo kuliah nggak lama, kan? Cuma satu?”
Catherine mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah menyebalkan Gaza. Gadis itu melotot ganas, membalas tatapan sinis yang dilayangkan oleh laki-laki itu. Kadang Catherine bingung, kenapa dia bisa berurusan dengan Gaza selama ini, ya? Bikin naik darah saja!
“Ya udah... habis itu, gue traktir makan malam. Belajar yang benar, ya....” Keanu mengulurkan tangan kanannya dan mengacak rambut Catherine dengan lembut. Kemudian, ketika gadis itu menatap Keanu, dia langsung mencium pipi kanan Keanu, yang dibalas juga oleh laki-laki itu.
Tanpa sadar, mereka sudah membuat Gaza menggeram kesal dan mengepalkan kedua tangannya! Siapapun yang melihat Gaza, mereka pasti akan langsung memprediksikan bahwa kedua mata laki-laki itu akan langsung keluar dari rongganya sebentar lagi.
“Norak!” seru Gaza setelah Keanu keluar dari dalam kelas. Dia menghujani Catherine dengan berbagai macam celaan lainnya, yang dibalas dengan sengit oleh gadis itu.
###
“Lo harusnya manggil gue Kak Keylo.”
Mendengar ucapan itu, kedua bola mata Jasmine berputar. Gadis itu melanjutkan acaranya memakan kwetiau yang dia beli, sementara Zeva setelah memakan makan malamnya, kembali melanjutkan tidurnya. Jarum jam sudah menunjuk ke angka delapan. Keylo masih ada di rumah Zeva, ikut makan malam bersama Jasmine karena gadis itu rupanya membeli kwetiau dua bungkus. Takjub juga sebenarnya Keylo, tidak menyangka kalau Jasmine yang sepertinya antipati terhadapnya malah membeli kwetiau juga untuknya.
“Ogah banget,” cibir gadis itu. Dia mencari acara televisi yang bagus dan menghela napas panjang.
“Kok ogah?” tanya Keylo sambil mengangkat satu alisnya. “Dengar, ya... gue itu lebih tua setahun daripada lo.”
“Masa?”
Keylo mengangguk. “Gue dua puluh lima, kali.”
“Serius?”
“Iya.”
“Siapa?”
“Gue!” tandas Keylo langsung.
“Nanya?”
Sadar bahwa Jasmine sedang mengerjainya, Keylo langsung mendengus dan kembali makan. Diliriknya gadis itu yang kini tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. “Bunda kapan pulangnya, ya?”
Pertanyaan Jasmine itu dijawab dengan suara deringan telepon. Gadis itu buru-buru bangkit dari duduknya dan mengangkat telepon rumah Zeva. Keylo bisa melihat kepala Jasmine mengangguk-angguk, sebelum kemudian menutup telepon.
“Siapa?”
“Bundanya Zeva.” Jasmine menghempaskan tubuhnya di samping Keylo. “Dia bilang, urusannya ternyata benar-benar rumit. Dia harus nginap di rumah saudaranya itu. Ayahnya Zeva ternyata lagi dinas di luar kota.”
“Jadi?”
“Ya... gue bakalan nginap disini.” Jasmine menatap Keylo yang terlihat sedikit bimbang. “Kenapa lo?”
“Kalau gue nginap disini, boleh?”
“Pardon?”
“Gue... gue khawatir sama Zeva. Apalagi kalian berdua perempuan.”
Hening. Jasmine menatap Keylo, menilai laki-laki itu. Sebenarnya, dia senang jika Keylo bisa membuat Zeva lupa akan Devan. Tapi, dia juga sebal dengan laki-laki itu. Sikapnya terkadang selalu membuat Jasmine naik darah!
“Ya udah.” Jasmine mengangkat bahu tak acuh dan menunjuk ke arah kamar tamu di lantai dua. “Lo tidur disana aja. Gue tidur di kamar Zeva, oke?”
Sesaat, atmosfer yang tercipta diantara Keylo dan Jasmine sangat bersahabat. Keylo jadi tahu bahwa sebenarnya Jasmine itu orangnya baik dan lembut. Dia bersikap galak kepadanya setiap kali mereka bertemu hanya karena gadis itu peduli dan khawatir pada Zeva. Jasmine itu sangat menyayangi sahabatnya. Tipe orang yang setia kawan.
Tiba-tiba, bel rumah Zeva berbunyi. Jasmine dan Keylo saling tatap dan bersama-sama menuju pintu rumah. Ketika Jasmine membuka pintu rumah tersebut, dia membeku. Pun dengan Keylo. Laki-laki itu bahkan menatap dingin sosok yang saat ini berdiri di ambang pintu.
“Maaf, Jas... tadi, gue nggak sengaja ngeliat lo pas lagi beli kwetiau dan gue ngikutin lo kesini setelah dengar lo bilang di telepon ke nyokap lo kalau lo mau ke rumah Zeva karena dia lagi sakit.”
Dia... Devan.
###
Zeva mengerang pelan dan membuka kedua matanya perlahan. Suhu tubuhnya sudah tidak terlalu tinggi lagi seperti tadi pagi. Ketika dia menoleh, dia terkejut. Sosok Devan ada disana. Tersenyum ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan lembut. Kemudian, sebelah tangan Devan terulur ke arahnya, membelai rambutnya dengan pelan dan meletakkan telapak tangannya pada kening Zeva.
“Lo kenapa bisa sakit, Va? Disaat cuaca lagi panas-panasnya, elo malah kena demam. Aneh.” Laki-laki itu terkekeh geli dan menarik napas panjang.
Perjuangannya untuk masuk kedalam rumah Zeva tidak sia-sia. Dia harus menghabiskan waktu lima belas menit untuk berdebat dengan Jasmine dan memohon pada gadis itu agar diperbolehkan untuk menjenguk Zeva. Devan bahkan sampai berlutut agar bisa diizinkan masuk. Sampai kemudian, Keylo yang memberikan izin itu dan membawa Jasmine yang ngamuk ke dapur untuk ditenangkan.
“Kak Devan ngapain disini?” tanya Zeva bingung. Suaranya sudah tidak seserak dan separau pagi tadi. Dia mencoba bangkit dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dengan dibantu oleh Devan. Zeva berdeham pelan ketika merasakan tenggorokannya yang kering kerontang dan Devan langsung memberikan air putih yang berada di meja di samping tempat tidur kepada gadis itu.
“Tadi... gue nggak sengaja ngeliat Jasmine lagi beli kwetiau dan nggak sengaja dengar percakapan dia di telepon yang bilang kalau lo lagi sakit. Gue ngikutin dia kesini. Gue mau jenguk elo. Elo... baik-baik aja, kan? Ada yang sakit?”
Zeva menggeleng dan tersenyum. Senyum tulus dan lembut yang baru pertama kali Devan lihat semenjak dia bertemu lagi dengan Zeva. Dan jantungnya seakan berhenti berdetak kala melihat senyum itu. Kemudian, jantung itu mulai berdebar tidak karuan dengan napas yang tercekat di tenggorokan.
Senyuman gadis itu sangat dia sukai. Sejak dulu.
“Gue baik, Kak... mungkin, karena kecapekan abis main kemarin sama Keylo, gue jadi sakit. Soalnya, gue makanin es krim melulu kemarin.” Zeva meringis ketika merasa kepalanya sedikit sakit dan Devan dengan sigap langsung memegang siku gadis itu. Wajahnya nampak sangat khawatir.
“Lo kenapa? Kepalanya sakit?”
Sejenak, Zeva hanya diam. Dia memejamkan kedua matanya dan membukanya kembali lantas tersenyum lagi. Gadis itu menggelengkan kepalanya, membuat Devan menghembuskan napas lega.
“Lo ingat, nggak, Va? Waktu kita lagi ngadain lomba tujuh belasan dulu? Waktu itu, kan, si Sofyan....”
Dan, untuk pertama kalinya, Zeva bisa tertawa lepas saat bersama Devan. Mengingatkan mereka berdua akan kejadian-kejadian dulu saat masa-masa kuliah. Tanpa Zeva sadari, dibalik pintu kamarnya yang terbuka setengahnya, Keylo sedang menyandarkan punggungnya pada dinding. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Kepalanya mendongak. Rasa itu menghantamnya telak, membuat sesak pada dadanya.
Dia... cemburu.
Mengertilah... aku resah...
Mungkinkah aku cemburu?
Tolonglah tenangkan aku... putuskan, dia...
Bercintalah denganku...
(Potret-Bercinta Denganku)
###
Bunyi dentingan gitar itu begitu lirih terdengar, disusul suara Keylo yang menyanyikan lagu-lagu galau. Dia sedang duduk di teras depan, menatap langit malam dengan nelangsa. Devan sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Betapa Keylo masih mengingat dengan jelas, ketika dia mendengar suara tawa lepas dari mulut Zeva. Betapa gadis itu bercerita dengan antusias bersama Devan. Keduanya nampak sangat menikmati waktu yang mereka punya. Mengenang masa-masa kuliah dulu... bercerita tentang organisasi yang mereka ikut... menceritakan kisah-kisah lucu semasa kuliah.
Dan Keylo sangat cemburu.
Dia ingin bisa membuat Zeva tertawa lepas seperti tadi. Dia ingin membuat senyuman Zeva terus terukit di bibirnya. Dia ingin membuat Zeva bersemangat seperti tadi, saat ada Devan di sampingnya. Sungguh, dia sangat ingin menjadi laki-laki seperti itu. Dan ucapan Jasmine, saat gadis itu tidak sengaja melihat keadaan Keylo, membuat darah Keylo berhenti mengalir. Tubuhnya membeku total.
Lo bakalan kalah kalau lo terus diam kayak gini... asal lo tau, Kak Devan mulai bimbang akan perasaannya terhadap Kak Neyla. Dia yang bilang langsung ke gue, karena dia kayaknya mulai punya perasaan khusus sama Zeva!
“Ngapain diluar malam-malam begini, Key?”
Pertanyaan bernada pelan dan lembut itu membuat Keylo tersentak dan menoleh. Laki-laki itu bangkit berdiri dan membantu Zeva yang sudah berdiri di sampingnya, lalu mendudukkan gadis itu di kursi. Ditatapnya wajah Zeva yang mulai merona, tidak lagi pucat seperti pagi tadi. Senyuman itu masih ada di bibirnya.
Membuat Keylo sakit bukan main.
“Kok, elo belum tidur?” tanya Keylo, mengacuhkan pertanyaan Zeva beberapa saat yang lalu. Zeva mengangkat bahu dan menunjuk gitar yang ditaruh Keylo di samping kursi.
“Suara gitar lo itu yang bikin gue nggak bisa tidur.”
“Maaf.” Keylo duduk di samping Zeva dan menarik napas panjang. Dia melirik gadis itu sekilas, yang sedang menatap taburan bintang di atas sana.
Sakit, Va... cemburu itu benar-benar bikin sakit...
Tiba-tiba, ketika Keylo akan mengucapkan sesuatu, matanya menatap ke arah tangan Zeva. Gadis itu sedang menggenggam sesuatu. Sebuah jam saku berantai yang bisa digunakan di leher, seperti sebuah kalung. Matanya menyipit dan terus memperhatikan jam saku itu dengan teliti. Seperti ada sebuah magnet yang menariknya untuk tetap menatap ke arah benda tersebut.
Sadar bahwa Keylo sedang menata tangannya, Zeva ikut menatap benda yang sedang digenggamnya. Gadis itu mengerutkan kening dan menatap wajah Keylo. Laki-laki itu terlihat aneh. Dia berkeringat dan... pucat.
“Key? Something’s wrong?” tanya Zeva cemas.
Keylo tetap diam. Perlahan, dia memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Satu persatu bayangan aneh mulai melintas di benaknya. Suara tawa yang terdengar riang, namun sanggup membuat kepalanya serasa mau pecah. Wajah seseorang yang tidak terlihat jelas silih berganti memenuhi kepalanya. Orang itu melambai, tersenyum dan memeluknya. Siapa? Siapa? Siapa?
Semakin dia menatap jam saku yang digenggam oleh Zeva, semakin Keylo merasakan sakit yang begitu hebat pada kepalanya. Rasanya seperti mau pecah! Dia tidak kuat. Akhirnya, dengan mengerang pelan, laki-laki itu mengalihkan tatapannya ke arah Zeva. Menatap lekat pada manik mata gadis itu.
“Itu... punya... siapa?” tanya Keylo terbata. Sakit bukan main. Itulah yang dia rasakan. Seperti dilempar batu besar pada kepalanya.
“Apa? Ini?” Zeva menunjuk jam sakunya. “Punya Zevi... kenapa?”
“Siapa?” tanya Keylo seraya mendesis.
“Zevi.” Zeva mengerutkan keningnya menghadapi sikap aneh Keylo. “Kembaran gue yang udah meninggal beberapa tahun silam. Pas gue kelas satu SMA. Zevirsya Verraya. Dia punya penyakit paru-paru. Kenapa?”
Zeva punya saudara kembar yang sudah meninggal dunia?
Sakit di kepalanya semakin menghebat. Keylo mengerang dan meremas kepalanya sendiri, membuat Zeva semakin khawatir dan ketakutan. Dia berteriak memanggi Jasmine, meminta bantuan. Sahabatnya itu tak lama ke teras depan dan sama bingungnya dengan Zeva, ketika menemukan Keylo yang kesakitan seperti itu.
“Key?”
Key...
“Lo nggak apa-apa?”
Kamu kenapa? Nggak apa-apa, kan? Muka kamu pucat.
Suara Zeva dan suara yang mengiang di kedua telinganya membuat Keylo tidak tahan. Suara keduanya begitu mirip dan familiar. Sampai akhirnya, kegelapan itu mengurungnya secara perlahan.
###