10

4560 Words
Matahari sore itu nampak indah. Langit di atas sana berubah warna menjadi jingga, memberikan kesan damai dan nyaman di hati Keylo. Keylo sangat suka dengan langit jingga. Langit jingga selalu memberikan inspirasi tersendiri bagi Keylo. Laki-laki itu selalu bisa membuat lirik-lirik lagu beserta kunci nadanya jika dia sudah duduk di bawah langit jingga. Oh ya... dia adalah vokalis band di sekolahnya. Band yang digemari oleh semua siswa di SMA Budiartha. Band-nya juga sudah sering tampil di kafe-kafe malam. Dalam usianya yang masih tujuh belas tahun, masih duduk di bangku kelas dua SMA, Keylo sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Tapi, tak jarang Kakaknya—Verco, yang sudah bekerja sambil kuliah, selalu memberikannya uang saku. Kakaknya itu memang dermawan dan baik hati. Sementara adiknya—Gaza, dia masih duduk di bangku SMP. Masih kelas satu.             Sudah tiga hari Bundanya dirawat di rumah sakit karena penyakit demam berdarah. Keylo selalu rajin menjenguk Bundanya setiap pulang sekolah dan memutuskan untuk menginap serta menemani wanita cantik yang sudah melahirkannya ke dunia itu. Verco dan Gaza juga selalu datang setiap sore dan pulang malam harinya untuk menemani Ayah mereka di rumah.             Sama seperti dua hari sebelumnya, hari inipun, Keylo datang ke rumah sakit. Di tangannya terdapat kantong plastik hitam berisi kue-kue kesukaan Bundanya. Keylo melangkah dengan riang di sepanjang koridor rumah sakit karena merasa sangat senang. Senang akibat band-nya dikontrak oleh sebuah kafe di daerah sekolahnya dengan penghasilan yang lumayan besar. Mereka akan tampil setiap malam Minggu dan malam Senin.             Ketika akan berbelok dan melewati taman rumah sakit, langkah kaki Keylo terhenti. Laki-laki itu mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya saat melihat seorang gadis berambut panjang yang diikat setengah ke belakang sedang duduk merenung sambil menatap orang-orang yang lalu-lalang di depannya. Taman rumah sakit itu memang berhadapan langsung dengan jalan raya. Wajah gadis itu nampak muram dan sedikit pucat. Dia duduk bertopang dagu dan sesekali menarik napas panjang.             Membuat Keylo merasa tertarik untuk mengetahui apa penyebab mendung di wajah gadis cantik itu.             Tanpa dia sadari, langkah kakinya membawanya ke arah gadis itu. Keylo berjalan perlahan dan berdiri tepat di belakang kursi yang panjang berwarna putih tersebut. Sebelah tanganya lalu terulur begitu saja dan menepuk pundak gadis itu, membuatnya menoleh dan menatap Keylo dengan mata bulatnya yang berwarna indah. Warna mata yang berpendar keemasan karena tertempa sinar matahari sore.             “Siapa?” tanya gadis itu dengan nada suara terlembut yang pernah didengar oleh Keylo. Nada suara itu juga menyiratkan kebingungan. Keylo berdeham pelan, mengusir kegugupan yang mulai menyerangnya. Dia berniat untuk mundur dan pergi, tetapi membatalkan niat tersebut. Sudah kepalang basah, sekalian saja menceburkan diri.             “Keylo.” Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya yang disambut dengan agak ragu oleh gadis tersebut. Keningnya mengerut dan mata bulatnya semakin menyiratkan kebingungan yang besar. “Lo?”             “Zevi.” Gadis itu menjawab pelan. Dia langsung menarik tangannya dan memiringkan kepala. “Ada apa, ya?”             Keylo kembali berdeham. Laki-laki itu memutuskan untuk berdiri tepat di depan gadis yang bernama Zevi itu dan duduk di sampingnya. Dia menatap ke arah Zevi, tersenyum dan menunjuk langit jingga di atas sana. “Suka sama langit jingga juga?”             “Hah?”             “Elo... elo suka sama langit jingga juga?” tanya Keylo lagi. “Tadi, gue nggak sengaja liat elo lagi natap langit jingga di atas sana. Terus, muka mendung lo itu beralih ke arah jalan raya. Natap orang-orang yang lagi jalan kaki disana dengan tatapan yang... yah, bisa dibilang sedih. Kenapa?”             Gadis bernama Zevi itu mengerjapkan kedua matanya dan menghembuskan napas panjang. Dia menatap Keylo sekilas, lalu kembali menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Betapa dia sangat iri dengan kesehatan yang mereka dapatkan.             “Gue suka langit jingga,” jawab Zevi kemudian. “Langit jingga seolah ngerti perasaan gue.”             “Sama kalau gitu.”             Zevi melirik Keylo sekilas dan ikut tersenyum saat melihat laki-laki itu mengembangkan senyumannya.             “Dan gue sedih karena iri sama orang-orang itu.” Zevi kembali berbicara. Ucapannya kali ini membuat senyuman di bibir Keylo menghilang. Laki-laki itu mengerutkan kening dan menatap wajah Zevi yang kembali muram.             “Kenapa?” tanya Keylo penasaran.             “Karena mereka sehat,” jawab Zevi dengan nada getir. “Sementara gue sakit. Sakit parah. Dan kata dokter, kemungkinan besar gue akan meninggalkan dunia ini dalam waktu dekat.”             Keylo tersentak dan menelan ludah susah payah. Tiba-tiba, dia merasa kesulitan untuk bernapas dengan benar. Rasanya sangat sedih ketika dia harus mendengar berita itu dan melihat wajah cantik Zevi meredup. Gadis itu seolah sudah pasrah dengan vonis dokter yang menanganinya.             “Dokter itu cuma manusia. Dia nggak berhak ngomong kayak gitu.” Keylo mencoba memberi semangat, ketika dia menemukan suaranya kembali. “Emangnya... kalau gue boleh tau, elo sakit apa?”             Jeda yang cukup lama. Zevi memejamkan kedua matanya ketika mendengar pertanyaan itu. Angin sore memainkan rambut keduanya juga memberikan kesegaran tersendiri. Ketika kedua mata Zevi kembali terbuka, Keylo bisa melihat gadis itu mencoba memaksakan seulas senyum. Senyum yang terlihat sangat pahit.             Tuhan... betapa Keylo ingin merubah kesedihan itu menjadi keceriaan.             “Paru-paru... kanker paru-paru.”             Bagai tersengat listrik, Keylo langsung tersentak. Sentakan napasnya bahkan bisa didengar oleh Zevi, membuat gadis itu menghela napas panjang dan semakin memaksakan senyumannya. Zevi tidak suka dikasihani, meskipun nasibnya memang sangat menyedihkan dan patut dikasihani. Tapi, dia lebih suka orang-orang yang tahu akan penyakitnya tidak menganggapnya seorang yang lemah.             “Serius?”             “Masa bohongan?” tanya Zevi geli. Dan untuk pertama kalinya, gadis itu tertawa lepas karena pertanyaan Keylo yang dianggapnya polos itu. Zevi menatap seragam sekolah Keylo dan mengangkat satu alisnya.             “SMA Budiartha? Lo siswa di sekolah terkenal itu?”             “Hah?” Keylo mengerjapkan kedua matanya, tersadar dari keterperangahannya akibat penyakit Zevi barusan. Tidak menyangka bahwa gadis selembut dan secantik Zevi harus memiliki penyakit seserius itu. “Ah... iya. Gue sekolah disana. Kelas dua SMA. Lo sendiri?”             “SMA Altavia. Kelas satu.” Gadis itu tersenyum tipis. Senyum murni dan bukan sekedar senyum paksaan. Senyuman gadis itu tanpa sadar membuat perasaan Keylo hangat dan meringan. Dan... dia ikut tersenyum. Keduanya kemudian melanjutkan obrolan. Mengobrol tentang apa saja. Mengalihkan pembicaraan mengenai penyakit Zevi. ### Meskipun sang Bunda sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit, namun Keylo tetap datang ke tempat itu untuk bertemu dan menemani Zevi. Dokter sudah melarang Zevi untuk pulang ke rumah dan menyuruh gadis itu agar dirawat di rumah sakit saja agar pihak rumah sakit bisa memantau kesehatan gadis itu. Kanker paru-paru yang diderita oleh Zevi rupanya sudah memasuki stadium akhir. Penyakit itu baru diketahui oleh keluarga Zevi dan pihak rumah sakit saat memasuki stadium tiga. Selama ini, Zevi mengira dia hanya mengalami masalah pernapasan biasa saja. Mungkin hanya asma ringan karena Oma-nya juga memiliki riwayat asma. Ternyata, penyakitnya lebih parah dari sekedar asma.             Sudah tiga minggu Keylo menghabiskan waktunya bersama Zevi di rumah sakit. Keylo menceritakan hal tersebut kepada keluarganya, membuatnya digoda habis-habisan oleh mereka, terutama oleh Kakaknya. Keylo sebenarnya tidak mengerti apa yang dia rasakan terhadap Zevi. Yang jelas, dia hanya ingin melindungi dan menjaga gadis itu juga membuatnya tersenyum sepanjang waktu. Zevi juga pernah bercerita bahwa dia mempunyai saudara kembar. Hanya saja, Keylo belum pernah bertemu dengan saudara kembar Zevi itu. Menurut Zevi, saudara kembarnya itu sangat cantik. Lebih cantik daripada dirinya. Saudara kembarnya juga galak dan selalu menjaganya sejak kecil. Dia tidak pernah bersedih dan selalu ceria. Walau begitu, Zevi sebenarnya yakin bahwa saudara kembarnya itu sengaja menyembunyikan semua masalah yang dihadapinya dari orang-orang sekitarnya. Zevi bilang, saudara kembarnya itu tipe orang yang tidak ingin menyusahkan orang lain. Padahal menurut Keylo, wajah saudara kembar Zevi pastinya sama dengan wajah gadis itu sendiri. Setiap kali Keylo datang, saudara kembar Zevi pasti sudah pulang ke rumah atau mungkin belum datang sampai akhirnya dia pulang. Dia juga belum pernah bertemu dengan kedua orangtua Zevi. Gadis itu sebenarnya ingin mengenalkan Keylo pada seluruh anggota keluarganya, namun, laki-laki itu menolak dengan halus dan beralasan untuk menunggu waktu yang tepat saja.             Sampai kemudian... waktu yang tepat itu tidak pernah datang.             Sore itu, seperti biasa, Keylo datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Zevi. Dia membawa kue kesukaan gadis itu dan beberapa novel yang diinginkan oleh Zevi. Di belakangnya, Verco mengikuti. Keylo sengaja mengajak sang Kakak untuk diperkenalkan dengan gadis itu. Verco sendiri hanya bisa tersenyum geli melihat kelakuan sang adik yang sepertinya sudah diserang virus cinta.             Ketika Keylo membuka kamar inap Zevi, laki-laki itu mematung. Dia menatap ke arah tempat tidur... tempat dimana Zevi berbaring di atasnya dengan selimut yang dikenakan sampai menutupi... wajahnya. Di belakang Keylo, Verco juga ikut mematung. Perlahan, Verco mendekati ranjang dimana terdapat dua orang suster dan seorang dokter yang menatap sedih ke arah... Zevi.             “Dokter... pasien ini....”             “Dia baru saja meninggal dunia. Keluarganya sedang menuju kesini.”             Verco mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih. Dia menoleh dan menatap Keylo. Tatapan mata adiknya itu terlihat datar dan sangat kosong. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya sementara airmata itu tiba-tiba saja mengalir turun.             “Key... ikhlasin... dia udah—“             “LO BILANG LO AKAN BERJUANG!” teriak Keylo tiba-tiba, mengagetkan Verco. Dia bisa melihat tatapan yang kosong itu kini menyorotkan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. “LO BILANG LO AKAN BERJUANG! LO BILANG LO AKAN LAWAN PENYAKIT LO! MANA?! MANA BUKTINYA?! PEMBOHONG! ELO PEMBOHONG!!!”             Verco menyerukan nama Keylo, ketika dia melihat adiknya itu berlari kencang keluar dari ruangan. Dia berusaha mengejar, namun Keylo sudah naik ke atas motornya dan melajukan kendaraan itu dengan sangat kencang. Keylo marah. Keylo sedih. Keylo kecewa. Keylo tidak percaya bahwa Zevi sudah meninggal dan dia menolak percaya. Zevi pasti sedang mengerjainya. Ya... gadis itu pasti hanya berpura-pura.             Tidak fokus dengan jalanan, Keylo tidak melihat ada sebuah mobil yang berbelok tepat di depannya. Laki-laki itu tersentak hebat dan berusaha untuk menghentikan motornya, namun sudah terlambat.             Sebelum kegelapan itu mulai mengurungnya, sosok Zevi muncul disana. Tersenyum manis. Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. ### Keylo sudah sadar dari pingsannya. Kepala dan tangannya dibalut oleh perban yang bahkan masih memperlihatkan darah segar disana. Verco yang memang masih berada di rumah sakit untuk menunggu Keylo dengan harapan adiknya itu akan kembali kesana untuk melihat jasad Zevi, terkejut ketika melihat adiknya tersebut tidak sadarkan diri di atas brankar yang didorong oleh beberapa suster. Verco langsung memanggil nama Keylo dan sibuk bertanya apa yang terjadi dengan adiknya kepada para suster, namun mereka mengabaikan pertanyaan Verco. Keylo dibawa ke ruang UGD sementara Verco diharuskan untuk mengurus administrasi terlebih dahulu. Kemudian, laki-laki itu mengabarkan hal ini kepada keluarganya.             “Ini dimana, Kak?” tanya Keylo pelan. Dia berusaha untuk bangkit dan meringis ketika merasa kepalanya sakit bukan main. Verco langsung membantu adiknya untuk duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Keluarganya masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.             “Rumah sakit. Kamu kecelakaan sewaktu pergi begitu saja dari rumah sakit setelah mendengar kabar kalau... kalau Zevi meninggal dunia.”             Hening sesaat. Lalu, Keylo mengerutkan kening.             “Zevi? Siapa Zevi?”             Ganti Verco yang mengerutkan kening.             “Zevi... gadis yang selama beberapa minggu terakhir ini selalu kamu temani di rumah sakit. Gadis yang kata kamu punya penyakit kanker paru-paru. Dia baru aja meninggal.”             “Keylo nggak kenal sama yang namanya Zevi, Kak... Kakak ngaco banget! Siapa coba, Zevi?”             Verco semakin bingung. Terlebih ketika dia melihat adiknya mengenal semua anggota keluarganya, juga semua teman-teman band-nya. Nama guru sekolahnya pun dia bisa mengingatnya. Hanya Zevi... hanya Zevi dan kecelakaan yang dia alami saja, yang tidak diingat oleh Keylo. Ketika Verco menjelaskan bahwa Keylo kecelakaan, adiknya itu semakin mengerutkan keningnya dan berkata bagaimana bisa dia mengalami kecelakaan, karena seingatnya, dia masih di sekolah.             “Dok... adik saya sebenarnya kenapa? Dia tidak mengingat kecelakaan yang dia alami. Dia juga tidak mengingat gadis yang bernama Zevi itu, tapi dia mengingat saya dan semua teman-temannya. Ada apa sebenarnya ini, dok?”             Pria di depan Verco menghela napas panjang. Dia menatap Verco dengan tatapan serius sebelum menjelaskan duduk perkaranya.             “Adik Anda itu sepertinya mengalami amnesia disosiatif.”             “Amnesia disosiatif?”             Dokter itu mengangguk. “Orang yang mengalami amnesia disosiatif ini biasanya tidak bisa mengingat detail personal yang penting dan pengalaman yang seringkali berhubungan dengan kejadian traumatis atau sangat menekan. Ada beberapa tipe amnesia disosiatif dan adik Anda sepertinya masuk dalam kategori amnesia selektif, dimana dia gagal dalam mengingat beberapa detail hal, tetapi tidak semua hal. Dan beberapa detail hal yang dia lupakan adalah hal-hal yang membuatnya trauma dan tertekan.”             Verco menghela napas panjang dan wajahnya berubah muram. Keylo sepertinya sangat tertekan dengan kematian Zevi, hingga akhirnya memutuskan untuk mengunci rapat-rapat memori kebersamaan mereka dan menghilangkannya dari bagian otaknya. ### Neyla menundukkan kepalanya dan menarik napas panjang. Gadis itu sudah duduk kurang lebih satu jam di teras rumah Devan. Kedua orangtua Devan sebenarnya sudah menyuruh gadis itu untuk masuk dan menunggu Devan didalam rumah saja, tetapi gadis itu menolak. Dia berkata bahwa dia akan menunggu Devan di teras saja karena dia sedang membutuhkan udara segar. Udara yang dia harapkan dapat menyegarkan otaknya yang buntu.             Suara deru mobil dan sinar lampu yang begitu terang membuat kepala Neyla terangkat. Gadis itu melihat mobil Devan sudah memasuki halaman rumah dan laki-laki itu keluar dari dalam mobil dengan wajah terkejutnya. Dengan langkah lebar dan cepat, Neyla bisa melihat Devan mendekat ke arahnya.             “Hei.” Neyla tersenyum lelah. Bukan lelah fisik. Lelah hati dan lelah mental. Dilihatnya Devan berdiri tepat di depannya. Sorot mata laki-laki itu terlihat lelah juga. Bercampur dengan penyesalan dan... entahlah. Neyla enggan untuk menebak dan menolak untuk menebak. “Kamu darimana?”             “Kamu ngapain disini? Nanti masuk angin, Ney.”             Neyla menggeleng lemah dan memegang ujung baju Devan. Gadis itu menatapnya dengan tatapan kecewa. Dia sudah memiliki beberapa spekulasi yang akan terjadi. Dan sepertinya, spekulasinya itu memang sudah terjadi. “Masuk angin nggak akan buat aku sakit, Van... yang bakalan bikin aku sakit justru... kamu.”             Devan menelan ludah susah payah. Dia menatap langsung ke mata Neyla dan seketika itu juga rasa bersalah menyerangnya tanpa ampun.             Dia sudah menyakiti gadis ini. Gadis yang dicintainya sejak dulu. Perasaan cinta yang tulus, yang dia berikan untuk Neyla. Lantas, kemana perginya perasaan cinta itu sekarang?             “Ney... aku....”             “Please, Van... aku mohon. Jangan pernah tinggalin aku. Aku cinta sama kamu. Sangat cinta sama kamu.” Neyla menjatuhkan kepalanya ke d**a bidang Devan, membuat laki-laki itu memejamkan kedua matanya.             Apa yang harus dia lakukan?             Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Zeva juga sudah memasuki relung hatinya.             “Ney... aku....”             “Nggak apa-apa.” Neyla menggeleng lemah. “Nggak apa-apa rasa cinta kamu itu udah memudar untuk aku. Aku akan bikin kamu cinta lagi sama aku. Tapi... aku mohon... jangan pernah pergi dari sisi aku. Jangan pernah, Van. Aku nggak bisa tanpa kamu.”             Tuhan...             “Tolong, Van... ingat lagi cara kamu mencintai aku dulu. Tumbuhkan lagi rasa cinta itu untuk aku. Zeva bisa tanpa kamu. Dia punya Keylo. Sedangkan aku... aku nggak bisa... benar-benar nggak bisa tanpa kamu.”             Dan Neyla pun menangis.   Jangan pernah kau coba untuk berubah... Tak relakan yang indah hilanglah sudah... Jangan pernah kau coba untuk berubah... Tak relakan yang indah hilanglah sudah... Jangan pernah kau coba untuk berubah... Kurelakan yang indah dalam hatinya... (ST 12-Jangan Pernah Berubah) ### Gaza menyipitkan mata ketika melihat Catherine turun dari motor Kawasaki yang dikendarai oleh Keanu. Laki-laki itu berdiam diri didalam mobilnya, duduk bersandara sambil mencengkram kemudi mobilnya erat-erat. Hari ini Gaza memang tidak membawa motor dan meminjam mobil Kak Verco. Dia sedang malas naik motor, entah apa alasannya.             Waktu sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Gaza berdecak jengkel dan menatap sinis ke arah Catherine yang tertawa lepas untuk yang kesekian kalinya, ketika gadis itu bersama dengan Keanu. Gaza memang sengaja mengikuti Catherine dan Keanu ketika kuliah mereka selesai. Keduanya makan malam di sebuah kafe yang cukup romantis dan Gaza harus menahan diri mati-matian untuk tidak mengacaukan acara kedua orang itu.             Keanu Ezrio Raynando. Si kunyuk satu itu rupanya sudah berhasil mengalihkan Catherine darinya. Catherine sekarang jarang membalas semua ucapan-ucapan dan tingkah menyebalkannya jika di kampus. Hampir setiap waktu, jika ada kesempatan, Keanu akan datang ke kelas mereka dan mengobrol bersama Catherine. Bahkan, laki-laki sok pintar itu selalu mengajari Catherine, membuat Gaza muak setengah mati. Tak jarang, Catherine akan membawa bekal makan siang untuk dimakannya bersama Keanu. Ingin rasanya Gaza melempar si kunyuk satu itu ke tong sampah terdekat agar semua kharismanya hilang seketika.             “Masa gue kudu ngehamilin si Cate dulu, baru dia bisa berhenti jalan sama Keanu dan mulai ngeliat gue?” gumam Gaza pada dirinya sendiri. Keningnya mengerut dan seketika itu juga, dia menggelengkan kepalanya. “Itu ide gila keluar darimana, coba?! Gazakha Vernatta! Masa iya lo jatuh cinta sama nenek sihir itu?!”             Gaza membelalakkan kedua matanya, ketika dia melihat Keanu memeluk tubuh Catherine dan mencium kening gadis itu dengan sangat mesra. Tanpa sadar, cengkramannya pada kemudi mobil semakin kuat, membuat buku-buku tangannya memutih. Emosi itu mulai naik ke permukaan. Sebuah perasaan aneh yang baru dia rasakan mulai muncul ke permukaan.             Sebuah perasaan bernama cemburu.             Gaza semakin membulatkan kedua matanya ketika dia melihat Keanu juga mencium pipi Catherine, membuat gadis itu menunduk malu. Lalu, ketika Catherine melambaikan tangan ke arah Keanu dan masuk kedalam rumah, Keanu memutar tubuh dan menatap ke arahnya!             Tadinya, Gaza berniat untuk pergi. Tapi, Keanu sudah berada di samping pintu mobilnya dan mengetuk kaca jendelanya. Gaza terpaksa membuka kaca jendela mobilnya dan menatap Keanu dengan tatapan membunuh. Keanu membalas tatapan Gaza itu dengan seulas senyum geli.             “Jangan cuma bisa ngikutin gue sama Catherine. Ngawasin dari jauh, ngeliatin kita makan malam dan nahan gondok waktu gue tadi meluk dan nyium dia. Kalau lo cowok dan kalau lo emang ada rasa sama Catherine, tunjukin ke gue. Rebut dia dari gue, kalau elo bisa!”             Sialan!             Gaza menggeram kesal ketika Keanu langsung pergi dari hadapannya tanpa memberinya kesempatan untuk membalas ucapan sok laki-laki itu. Arrrgh! Screw him! ### Kedua matanya terbuka perlahan. Keylo meringis ketika merasa kepalanya masih sedikit sakit dan menatap sekitarnya dengan tatapan bingung. Laki-laki itu mengerutkan kening ketika mendapati diri sudah berada di sebuah ruangan yang sepertinya adalah kamar tamu. Kenapa dia bisa ada di kamar?             “Lo makan apaan, sih, Key, tiap hari? Pake acara pingsan segala! Kagak tau, apa, kalau lo itu laki-laki dan di rumah ini cuma ada dua perempuan dimana salah satunya lagi sakit?”             Suara Jasmine terdengar, membuat Keylo menoleh ke sisi kiri. Disana, Zeva sedang duduk sambil tersenyum lega ke arahnya. Ketika Keylo melihat ke arah tangannya, laki-laki itu terkejut. Tangan mungil Zeva sedang menggenggam erat tangannya dan Keylo bisa merasakan kehangatan menjalar pada tubuhnya saat itu.             “Udah enakkan?” tanya Zeva lembut. Suaranya sarat akan kekhawatiran dan perhatian. Gadis itu kemudian membenarkan handuk kecil yang berada di kening Keylo.             “Gue kenapa?”             “Pingsan. Gue sama Jasmine juga nggak tau kenapa,” jawab Zeva. “Tadi, elo histeris. Lo megang kepala lo kuat-kuat dan lo tanya soal jam saku yang gue pegang. Waktu gue bilang jam saku itu punya kembaran gue, lo semakin kesakitan dan akhirnya lo nggak sadarkan diri.”             Keylo terdiam. Dia bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap Zeva tepat di manik mata. Dia menoleh ke arah Jasmine dan berkata, “Jas... bisa gue ngomong empat mata sama Zeva?”             Jasmine melotot ganas dan berdecak jengkel. Dia mencibir dan bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar, Jasmine menoleh untuk menatap Keylo. Dia sempat melihat Zeva tersenyum meminta maaf ke arahnya.             “Elo, ya! Ngusir gue seenaknya aja! Masih untung gue bantuin Zeva buat nyeret elo ke kamar ini.”             Begitu pintu kamar tertutup, Keylo langsung menatap kedua mata Zeva. Laki-laki itu balas menggenggam tangan Zeva, membuat gadis itu sedikit kebingungan.             “Gue tau, apa yang bakalan gue bilang ini mungkin akan sedikit buat elo kaget. Tapi....” Keylo menarik napas panjang dan menatap Zeva dengan tatapan menyesal. “Jam saku milik kembaran lo itu... dari gue. Gue kenal sama Zevi.”             Zeva terperangah. Gadis itu langsung menarik tangannya yang digenggam oleh Keylo dan menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya. Apa yang sedang dibicarakan oleh Keylo saat ini?             “Gue kenal Zevi waktu dia dirawat di rumah sakit. Waktu itu, gue masih kelas dua SMA. Dia kelas satu. Dia pernah cerita dia punya saudara kembar tapi nggak pernah nyebut namanya. Dia bilang, saudara kembarnya itu lebih cantik dari dia dan sikapnya sangat galak. Tidak pernah menunjukkan raut wajah sedih, meskipun sedang ada masalah. Gue sama Zevi selalu ngabisin waktu bareng-bareng. Kita selalu main di taman rumah sakit. Dia janji bakalan ngelawan penyakitnya. Tapi, dia akhirnya malah melanggar janji itu.             “Gue marah. Gue kecewa. Gue nggak terima dia pergi gitu aja. Nggak ada salam perpisahan sama sekali. Gue bahkan belum sempat bilang ke dia kalau gue sayang sama dia. Waktu itu... waktu itu gue mau jenguk dia. Bawa kue kesukaan dia. Gue kesana bareng sama Kak Verco. Gue liat dia udah nggak... udah nggak....” Keylo memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba, dia merasa sangat sesak dan kehabisan napas. “Dia udah meninggal waktu gue sampai disana. Gue pergi. Gue lari. Gue bawa motor gue. Gue ngebut. Gue liat mobil itu datang secara tiba-tiba. Setelahnya... gue nggak ingat apa yang terjadi. Gue bangun dan gue udah ada di rumah sakit.”             “Elo....” Zeva menutup mulutnya dengan kedua tangan. Suaranya seakan hilang, entah kemana. Airmatanya kemudian bergulir turun. Keylo mengulurkan tangannya, berusaha menyentuh Zeva, namun gadis itu langsung bangkit berdiri dan sedikit menjauh. Keylo yang tidak menduga bahwa Zeva akan menjaga jarak, langsung berdiri dan berusaha mendekati gadis itu.             “Zev....”             “Elo....” Zeva membasahi bibirnya yang terasa kering. Dia menarik napas panjang dan berusaha menghapus airmatanya. “Elo... kenapa elo nggak pernah cerita kalau lo kenal sama Zevi? Kenapa lo nggak langsung ngenalin Zevi setelah lo liat wajah gue? Yang namanya saudara kembar itu pasti sama wajahnya, Key!”             “Gue juga nggak tau, Va....” Keylo meremas rambutnya. Dia mulai frustasi. “Gue nggak ingat apapun, sampai gue liat jam saku itu. Gue nggak tau apa dampak dari kecelakaan yang gue alamin waktu itu. Mungkin... mungkin gue amnesia.”             “Apa lo ngenalin keluarga lo setelah kecelakaan itu.”             Keylo terdiam. Tak lama, laki-laki itu mengangguk pelan.             “ITU ARTINYA LO NGGAK AMNESIA!”             “Va... gue yakin ada sesuatu yang terlewat disini. Biar gue tanya ke Kak Verco... gue—Zeva!”             Keylo seperti tersengat lebah. Laki-laki itu langsung berlari mengejar Zeva yang sudah lebih dulu berlari keluar kamar. Begitu dia berhasil mengejar Zeva, dia langsung menarik lengan gadis itu dan memutar tubuhnya dengan paksa agar menghadap ke arahnya. Jasmine yang sedang duduk di ruang tamu sambil makan es krim dan tidak mengerti apa gerangan yang sedang terjadi, hanya bisa melongo sambil mengerjapkan kedua matanya.             “Ada apaan, nih?” tanya Jasmine. Nadanya mulai terdengar tidak senang dengan perlakuan Keylo pada sahabatnya. “Lo pikir lo siapa bisa ngelakuin hal itu sama sahabat gue, hah?!”             “DIAM!” bentak Keylo langsung, membuat Jasmine terkejut dan menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya. Keylo baru saja membentaknya?! Berani sekali dia!             “Va... dengerin gue dulu.”             “Lo tau, nggak?” Zeva menolak menatap Keylo. Gadis itu menundukkan kepalanya dan terisak. “Zevi pernah cerita. Dia ketemu sama seseorang. Seseorang yang bisa buat dia ketawa. Seseorang yang selalu bisa bikin dia melupakan penyakitnya dan umurnya yang katanya udah nggak akan lama lagi. Zevi bilang, dia akan ngenalin gue sama orang itu, waktu gue tanya siapa namanya. Tapi, dia keburu meninggal. Dan lo... elo segitu teganya ngelupain dia gitu aja?”             Nada suara lelah dan kecewa yang terdengar dari mulut Zeva membuat Keylo sakit. Laki-laki itu kemudian langsung memeluk tubuh Zeva begitu saja. Membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya disana.             “Gue janji... gue akan cari tahu semuanya, Va... tentang kenapa gue bisa melupakan Zevi.” Laki-laki itu mengeratkan pelukannya. Dia tidak peduli jika saat ini, Zeva tidak membalas pelukannya. Dia tidak peduli sama sekali.             Yang dia pedulikan adalah... Zeva sendiri.             Bahwa dia tidak suka apabila melihat Zeva bersedih. ### Keesokan harinya, Zeva sudah mulai bekerja kembali. Gadis itu menjadi pendiam hari ini. Tidak banyak bicara dan hanya akan mengeluarkan suara apabila ditanya oleh orang lain. Keylo juga melihat perubahan pada diri gadis itu. Semalam, dia tidak jadi menginap di rumah Zeva. Dia pulang ke rumah dan langsung memberondong Kakaknya dengan banyak pertanyaan. Dan semuanya terkuak. Bahwa dia mengalami amnesia disosiatif akibat kecelakaan itu. Perasaan trauma, amarah dan kekecewaan yang begitu mendalam karena meninggalnya Zevi membuatnya melupakan semua kenangannya bersama gadis itu. Menguncinya didalam sebuah kotak dan menghilangkannya dari dalam memori otaknya sendiri.             Keylo melirik Zeva. Gadis itu terlihat tidak fokus. Pandangannya mengarah pada layar komputer, tetapi pikirannya tidak ada disana. Kemudian, ketika Keylo akan berbicara pada gadis itu, Zeva sudah lebih dulu bangkit dan berjalan keluar ruangan. Hati Keylo seakan diremas kuat melihat sikap Zeva itu.             “Maafin gue, Va... gue nggak bermaksud ngelupain Zevi.” ### Zeva berjalan dengan langkah gontai di taman kota. Dia tidak sadar bahwa langkah kakinya sudah membawanya ke tempat ini. Pikirannya kalut. Dia frustasi. Tidak menyangka bahwa Keylo adalah bagian masa lalu paling penting bagi saudara kembarnya. Tapi, Keylo justru melupakan Zevi. Benar-benar jahat.             Ketika kepala Zeva mendongak, gadis itu berhenti melangkah. Gadis itu mengangkat sebelah tangannya ke d**a. Rasa sakit itu kembali hadir. Kali ini karena masalah berbeda. Kali ini karena... Devan.             Saat ini... di depannya... berdiri Devan bersama... Neyla. Laki-laki itu membelai rambut Neyla dan merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Cara Devan memeluk Neyla seolah memberitahu seluruh dunia bahwa hanya Neyla lah yang ada di hatinya. Bahwa hanya Neyla seorang yang terlihat olehnya.             Tidak ada orang lain.             Zeva sudah terlalu lelah untuk menangis. Zeva sudah terlalu lelah untuk mengeluh. Zeva sudah terlalu lelah untuk berharap. Kalau memang ini yang terbaik untuk semuanya, dia bisa menerima. Jika Devan memang mencintai Neyla, dia bisa menerima. Toh, dari dulu, dia memang sudah tidak memiliki kesempatan. Maka dari itu, ketika tanpa sengaja Devan menatap ke arahnya dan tatapan mereka berdua bertemu, Zeva hanya menatap datar dan kosong. Gadis itu memutar tubuh dan berjalan dengan langkah gamang.             Lalu... dia kembali berhenti.             Keylo ada disana. Berdiri dan menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Laki-laki itu kemudian berjalan cepat ke arahnya dan memasang tubuh tegapnya tepat di depan tubuh mungil Zeva. Keylo menatap tepat ke kedua matanya, kemudian menatap ke arah Devan yang masih memeluk Neyla. Ada bara meletup pada sepasang mata Keylo ketika menatap Devan yang menurutnya sangat tidak pantas ditangisi oleh gadis sebaik Zeva.             “Laki-laki plin-plan kayak begitu nggak pantas untuk lo tangisi.” Keylo menunduk dan matanya bertemu dengan mata Zeva. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dan menatap Keylo dengan tatapan marah.             “Dan laki-laki seperti elo nggak pantas buat disayangi sama Zevi!”             Keylo terdiam. Kedua tangannya juga terkepal di sisi tubuhnya. Sekali lagi, Keylo menatap Devan.             “Berhenti hidup di masa lalu! Lupain semua masa lalu! Lupain Devan dan mulai liat ke depan!”             “Apa maksud lo?!”             “Berhenti ngeliat Devan dan mulai liat ke arah gue... Zevarsya Venzaya!”             Dan dengan satu gerakan cepat, Keylo menarik tubuh Zeva ke arahnya. Sebelah tangannya mendorong kepala Zeva agar mendekat ke arahnya. Kemudian, tanpa peringatan, Keylo langsung mencium bibir Zeva. ### Teaser You’re My Light Part 11-Losing You   “Elo perempuan, Va... sama kayak gue. Apa lo tega ngeliat gue kayak gini?”             Zeva menatap Neyla dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Gadis itu bisa melihat sorot kesedihan dan kekecewaan yang terpancar jelas di kedua mata Neyla. Semalam Neyla meneleponnya. Dia berkata bahwa dia mendapat nomor ponselnya dari Jasmine. Neyla bilang, dia tidak sengaja bertemu dengan Jasmine di kafe dekat kantor sahabatnya itu.             “Gue nggak ada urusannya sama masalah lo, Kak. Gue nggak tau apa-apa.” Zeva bangkit berdiri. Gadis itu berniat untuk meninggalkan resto ini, ketika suara Neyla kembali terdengar dan membuatnya terpaku.            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD