DELAPAN BELAS

2792 Words
Verco langsung berlari menuju kamar Keylo, ketika dia mendengar suara teriakan adiknya tersebut. Begitu pintu kamar terbuka, Verco terdiam di tempatnya. Dia bisa melihat bagaimana Keylo terengah-engah, menjambak rambutnya sendiri dan... menangis. Semenjak Zeva menghilang dari tempat kejadian kecelakaan mereka, Verco memang selalu melihat Keylo merenung. Tapi... menangis?             Dia baru melihatnya.             Sejak kecil, Keylo tidak pernah menangis. Dia adalah sosok laki-laki yang kuat dan sabar. Pernah suatu hari, adiknya itu dijahati oleh teman-teman sekolahnya saat SD hingga baju seragamnya kotor akibat terkena air selokan. Keylo rupanya didorong oleh mereka sampai tercebur. Tapi, yang Verco lihat dari wajah Keylo hanyalah sebuah senyuman bahkan kekehan geli. Keylo bahkan berkata bahwa dia baik-baik saja dan semua yang dia alami hanyalah sebuah permainan. Permainan dimana yang kalah harus rela diceburkan kedalam kubangan air selokan.             Lalu, saat Keylo masuk rumah sakit akibat terkena demam berdarah dan tifus. Dia harus disuntik, diinfus bahkan diambil darahnya setiap sore menjelang malam. Verco yang sudah besar saja merinding ketika melihatnya bahkan nyaris kabur, tapi Keylo hanya meringis sebentar kemudian mendengus dan tertawa seraya berkata, “Bang Verco payah, nih. Nggak sakit, kok. Key yang diambil darahnya aja kalem, kenapa Abang ketakutan gitu?”             Tapi sekarang... Verco bisa melihat dengan jelas kejatuhan dan keterpurukkan sang adik. Adik yang selama ini selalu terlihat kuat dan tegar. Adik yang selama ini tidak pernah menangis. Adik yang selama ini selalu tersenyum ceria bahkan tidak pernah bersedih. Ketika putus dengan Neyla waktu itupun, Keylo tidak bersedih. Atau lebih tepatnya, Keylo selalu menutupi kesedihannya di depan semua orang dan menampakkan keceriaannya selama ini.             Aah... kecuali saat itu. Saat Keylo kehilangan Zevi.             Saudara kembar Zeva yang baru mereka ketahui kebenarannya beberapa bulan belakangan ini.             Tak lama, Gaza hadir. Berdiri tepat di belakang Abang sulungnya. Ikut menyaksikan kesedihan dan kejatuhan Keylo. Bagaimana Keylo terisak sambil terus menyebutkan nama Zeva. Bagaimana Keylo berteriak memanggil nama Zeva sambil melempar semua benda yang bisa dia jangkau. Bagaimana Keylo menundukkan kepala dan meremas seprai yang dia duduki.             Gaza sudah mempunyai titik terang, tapi dia enggan untuk menyampaikan. Dia takut. Takut jika titik terang yang berhasil ditemukan olehnya dan Keanu justru akan menjadi bumerang untuk Keylo. Bagaimana jika akhirnya semua informasi yang didapatkan oleh anak buah Ayahnya Keanu keliru? Lalu, harapan yang sudah terlanjur diberikan olehnya untuk Keylo hancur berantakan? Dia tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah sanggup melihat kejatuhan sang Kakak lebih dari ini.             “Bang...,” panggil Gaza pelan. Dia berjalan menuju Keylo, namun Verco menahan lengannya. Gaza menoleh dan dia melihat Abang sulungnya itu menggelengkan kepala. Verco kemudian melirik Keylo dan menghembuskan napas panjang.             “Let’s give him some time. He needs to be alone for a while....” Verco melepaskan lengan Gaza yang ditahannya kemudian memutar tubuh. Dia berjalan dengan gontai dan pikiran yang bercabang. Harapannya hanya satu.             Dia ingin adiknya kembali seperti dulu.             Apapun... apapun akan dia lakukan sebagai seorang Kakak supaya adik yang dia jaga sejak kecil, adik yang sering dia manjakan dulu, adik yang sangat dia sayangi, sama seperti dia menyayangi Gaza, melebihi dia sayang pada dirinya sendiri, kembali ‘hidup’.             “Bang,” panggil Gaza lagi. Dia masih berdiri di ambang pintu. Menatap nanar ke arah Keylo yang masih terisak dan menundukkan kepala. Demi Tuhan! Dia tidak suka melihat Abangnya seperti seorang pesakitan seperti ini! “Kalau ada apa-apa, gue di kamar sebelah, ya?”             Hening.             Keylo tidak merespon. Keylo enggan membuka mulutnya. Membuat Gaza menyerah dan mencoba menahan rasa perih yang menjalar pada hatinya karena pemandangan menyakitkan ini. Kedua orangtua mereka hanya bisa sabar dan pasrah ketika sadar bahwa anak kedua mereka sudah seperti mayat hidup.             Saat itulah, ketika Gaza memutar tubuh dan hendak menutup pintu kamar Keylo, suara lirih dan mengibakan itu terdengar. Sangat jauh dan juga menyesakkan hati siapa saja yang mendengarnya. Membuat Gaza membeku dan mencengkram gagang pintu dengan keras.             Apa lo puas, Zev?! Batin Gaza perih.             “Gue cinta dia, Za... gue nggak bisa tanpa dia... gue nggak peduli kalau semua orang menganggap gue berlebihan. They don’t know about my feelings... it hurts... it’s really hurts... gue nggak meminta yang berlebihan sama Tuhan... gue hanya mau dia kembali... kembali sama gue... seandainya....”             Stop it! Gaza bahkan tidak sanggup mendengarnya lebih jauh lagi!             “Seandainya....” Keylo menarik napas panjang dan terkekeh. Kekehan yang terdengar memilukan. Gaza sempat merinding sebetulnya. Gagasan aneh itu melintas. Tidak mungkin. Abangnya tidak mungkin menjadi gila, bukan? “Seandainya Zeva emang udah nggak ada... gue cuma mau Tuhan kasih tau gue. Gue cuma mau Tuhan nunjukkin ke gue bahwa Zeva emang udah nggak ada. That she’s gone... gue nggak sanggup nahan rasa bersalah ini terlalu lama, Za... dia menghilang karena gue nggak hati-hati membawa mobil. Kalau Doraemon itu memang benar ada... gue hanya ingin meminjam salah satu pintu kemana saja yang dia punya... berharap gue bisa kembali ke masa lalu dan mencegah semuanya terjadi....”             Apa yang harus Gaza ucapkan? Dia bahkan hanya bisa mematung dan membelakangi tubuh Abangnya.             “Gue sangat mencintainya, Za... kenapa di setiap ada pertemuan, selalu ada perpisahan?”             Gaza memejamkan kedua matanya dan menghela napas panjang. Dalam hati, dia bersumpah akan menghajar orang bernama Fitz Cranzero itu jika memang terbukti bahwa Florencia adalah Zeva!             “Inget film yang kita tonton bareng-bareng waktu itu, Bang? Pas zaman gue SMP?”             Keylo tidak menjawab.             “Cinta Pertama... yang diperankan sama Bunga Citra Lestari sama Ben Joshua.” Gaza tersenyum tipis dan kembali menghela napas. “Disitu, ada sebuah pesan. ‘Seperti pertemuan, perpisahan pun tidak ada yang abadi’.”             DEG!             “Kalau lo emang cinta sama Zeva dan yakin dia masih hidup dan bernapas entah dimana, then you should fight together with her! Dia nunggu lo menemukannya, Bang... itu yang harus lo yakini dalam hati lo. Bukannya terus menyalahkan diri sendiri dan meratapi nasib sial kalian waktu itu. Selama jasadnya belum ditemukan, selama itu juga lo harus percaya bahwa dia masih hidup! She’s waiting you, Bang! All you have to do is find her! Kalau lo terus begini, kapan lo akan menemukannya?”             Perlahan, kepala Keylo terangkat. Dia menoleh ke arah Gaza yang entah sejak kapan sudah menatapnya sambil tersenyum tulus.             “Kalian udah ngelewatin banyak skenario sampai akhirnya bisa menemui tahap bersama. Kalau akhirnya kalian harus terpisah, itu cuma untuk sementara. Jika kalian berjodoh, kalian bakalan ketemu lagi, kok. It’s just about the goddamn time. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu kalian untuk bersama kembali dan berbahagia sampai akhir. Lagipula....” Gaza menaikkan satu alisnya dan mendengus geli. “Gue pernah mimpi dapat ponakan dari lo sama Zeva. Dua. Cowok sama cewek. Bukannya itu bisa dijadikan sebagai sebuah petunjuk kalau lo sama Zeva memang ditakdirkan untuk bersama?”             Tak lama, Gaza mendesah lega saat mendengar suara tawa yang sempat menghilang selama beberapa bulan terakhir ini. Ya... Keylo tertawa. Tawa geli yang terdengar sangat indah di kedua telinga Gaza.             “Makasih, Za... untuk semuanya.” Keylo menatap sang adik tepat di manik mata yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh adiknya itu.             “You’re welcome, Bang... satu yang harus lo ingat....”             Keylo mengerutkan kening.             “Perjuangan lo nggak akan sia-sia. Semuanya akan membuahkan hasil.” ### Devan merenung di teras rumahnya. Dia menatap ke atas, ke arah langit malam yang enggan memunculkan bintang juga bulan. Ucapan Neyla waktu itu masih terngiang jelas. Membuatnya terus-menerus memikirkan gadis yang pernah mengisi relung hatinya itu.             Sejujurnya, gue balik kesini karena gue mau liat lo menderita, Van. Menderita seperti apa yang gue rasain. Bukannya gue jahat dan mau menyumpahi Zeva, tapi, gue rasa karma mulai beraksi. Membalas semua perbuatan lo ke gue waktu itu. Jadi, yang akan gue lakukan saat ini adalah duduk manis sebagai penonton dan menyaksikan betapa hancurnya seorang Grezan Devanio Elkansa...             Sial!             Bagaimana bisa Neyla mengucapkan kalimat menyakitkan seperti itu padanya?             Ya! Dia memang tahu dia b******k! Sangat b******k! Menyakiti hati gadis sebaik Neyla. Neyla yang pernah membuatnya tertawa dan mengerti artinya dicintai juga mencintai. Tapi... jangan salahkan dirinya. Bukankah kita tidak akan pernah tahu jika cinta datang menghampiri? Apa yang harus dia lakukan jika hatinya mulai mencintai Zeva saat itu? Jika dia terus bersama Neyla, dia hanya akan menyakiti hati gadis itu. Satu-satunya cara adalah dengan memutuskan hubungan mereka.             Tapi... karma rupanya sedang ingin membalaskan dendam mantan kekasihnya tersebut.             “Neyla... Neyla....” Tanpa sadar, Devan menyebut nama gadis itu sambil berdecak pelan lantas terkekeh geli. Devan menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum tipis. Semua memori indahnya, kenangan terbaiknya bersama Neyla muncul ke permukaan. Membuat hatinya merasa hangat tanpa disadarinya. “Lo benar-benar menyebalkan.”             Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Devan tersentak dari lamunan dan segera mengeluarkan ponselnya yang semakin menjerit. Satu nama yang baru saja mengisi dunia imajinasinya memenuhi layar ponselnya. Devan mengangkat satu alisnya dan menekan tombol berwarna hijau.             “Ney?”             “Hai, mantan!” seru Neyla di seberang sana. Dari nada suaranya, Devan bisa menebak jika gadis itu sedang tersenyum lebar. Mau tidak mau, Devan juga ikut tersenyum.             Astaga! Ada apa dengannya? Kenapa rasanya dia seperti merindukan gadis itu?             “Ada apa?” tanya Devan lembut.             “Cuma pengin nelepon aja.” Neyla mendengus pelan. “Nggak ada undang-undangnya, kan, kalau mantan kepengin nelepon?”             “Nggak ada, sih... cuma, gue ogah disuruh tanggung jawab kalau misalkan lo mendadak galau dan gagal move on, padahal udah sampai melakukan misi kabur segala.”             “Sialan!”             Keduanya tertawa bersama. Mencairkan sikap canggung yang sempat tercipta ketika mereka bertemu tempo hari. Neyla sendiri sebenarnya tidak mengerti, kenapa dia bisa sampai menekan nomor ponsel Devan. Yang jelas, dia bekerja diluar kesadarannya.             “Ney?”             “Hmm?”             Jantung Neyla kini berdetak cepat. Dia rindu suara Devan... dia rindu cara laki-laki itu menatapnya... dia rindu senyuman Devan... dia rindu cara Devan menyebutkan namanya.             Tapi... yang namanya rindu tetap akan selamanya menjadi rindu. Memeluk tubuh yang diserang oleh dingin, namun tak kunjung mendapatkan kehangatan dari orang yang memberikan rasa dingin tersebut. Aneh, memang. Neyla justru baru sadar jika selama bersama Devan dulu, dia tidak pernah mendapatkan serangan jantung yang hebat seperti saat ini. Saat keduanya sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.             “Boleh nggak, kalau gue bilang gue kangen sama lo?”             DEG!             Demi Tuhan, Grezan Devanio Elkansa! Jangan pernah mengucapkan kalimat-kalimat yang akan meruntuhkan benteng yang sudah susah payah dibuatnya selama ini.             “Apa?” tanya Neyla. Gugup mulai menyerang tubuhnya.             “Gue bilang, lo ngizinin gue untuk kangen sama lo, nggak? Soalnya, kangen gue ini datangnya tiba-tiba. Gue bukan tipe laki-laki romantis dan lo tau pasti akan hal itu. Gue lebih senang bertindak ketimbang harus merangkai kata untuk membentuk sebuah kalimat yang sifatnya merayu atau menggombal. Tapi, gue lagi pengin berkreasi sedikit. Jadi, gue tanya sekali lagi sama lo... lo ngizini gue untuk kangen sama lo, nggak?”             “Kalau nggak, gimana? Kita kan udah putus. Lo nggak berhak buat ngomong hal-hal yang bisa bikin gue luluh, loh.” Neyla berusaha menormalkan suaranya, meskipun saat ini, napasnya tercekat di tenggorokan.             “Emangnya ada undang-undangnya kalau mantan nggak boleh kangen sama mantannya sendiri?”             Neyla mengerjap di tempatnya. Beberapa detik terlewat dan tak lama, dia mendengar suara tawa Devan. Tawa itu membuatnya ikut tersenyum dan keduanya kembali melanjutkan obrolan. ### Jasmine menyetujui ajakan Keylo untuk membunuh waktu di mall dekat kantor gadis itu. Dia benar-benar kasihan melihat Keylo yang tersiksa akan Zeva. Terlebih ada seseorang yang mirip sekali dengan sahabatnya itu. Jasmine sudah menunggu sekitar sepuluh menit ketika kemudian sosok Keylo muncul. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya, membuat Keylo tersenyum tipis.             “Udah lama, Jas?” tanya Keylo. Jasmine menggeleng dan mengajak Keylo untuk makan di salah satu restoran favoritnya dan Zeva.             “Zeva suka makan disini,” kata Jasmine memulai percakapan saat pelayan telah selesai mencatat pesanan mereka. “Dia paling suka sama nasi goreng ikan teri-nya.”             Keylo merasa sulituntuk bernapas. Dia hanya bisa tersenyum lemah dan mengangguk pelan. Rasanya benar-benar sakit.             “Zeva juga suka banget sama es campur disini. Katanya manisnya pas dan susunya dibanyakin sama pelayannya.”             “Kenapa kita seolah-olah menganggap Zeva udah meninggal dunia, Jas?”             Pertanyaan Keylo itu sukses membuat Jasmine bungkam. Dia mendesah panjang dan menunduk. Kedua tangannya saling bertaut di atas lututnya. Percakapan tadi sedikit banyak juga membunuhnya. Membuat perasaannya hancur berantakan. Dia sangat merindukan sahabatnya, Zeva, yang sampai detik ini tidak diketahui keberadaannya.             “Maaf,” ucap Jasmine pelan dan mulai terisak. Cepat, dia menghapus air mata yang sudah mengalir di pipinya. Gadis itu kemudian tersenyum kecut dan menghembuskan napas panjang. “Gue cuma... Cuma kangen sama Zeva....”             “Dan lo nggak tau seberapa besar rasa rindu gue sama sahabat lo itu.” Keylo memijat pelipisnya dan tersentak saat sesuatu yang dingin mengenai kemeja kerjanya. Laki-laki itu bangkit berdiri dan memutar tubuh.             Lalu... terpaku.             “Elo?!” seru orang di depannya keras. Kedua matanya membelalak dan telunjuknya mengarah pada wajah Keylo. Di tempatnya, Jasmine itu terpaku. Menatap orang di hadapan Keylo dengan mata berkaca.             “Lo lagi!” seru orang itu lagi. Florencia. Gadis yang sangat mirip dengan Zevarsya Venzaya!             “Kenapa memangnya kalau lo ketemu sama gue lagi?”             Pertanyaan Keylo itu membuat Jasmine tersentak dan serta-merta menoleh. Gadis itu melihat raut wajah Keylo yang datar. Tanpa ekspresi. Manik matanya begitu kosong dan hampa.             “Kutukan buat gue, ngerti?!” teriak Florence tanpa memperdulikan tatapan para pengunjung. “Lo selalu bawa kutukan buat gue karena nyebut gue sebagai Zeva, Zeva dan Zeva! Sinting!”             “Dan gue emang udah sinting karena menganggap cewek kasar kayak lo sebagai Zeva! Zeva itu cewek yang lemah lembut dan nggak kasar serta arogan macam lo!”             Teriakan Keylo itu begitu keras, disusul dengan laki-laki itu menggebrak meja. Kemudian, tanpa memperdulikan air mata yang mendadak jatuh di pipi mulus Florence itu, Keylo meninggalkan restoran tersebut tanpa pernah menoleh ke belakang lagi. ### Keylo menarik napas panjang dan memijat pelipisnya pelan. Rasanya ada ribuan bom dalam kepalanya yang siap untuk meledak. Baru kali ini dia tidak bisa mengontrol amarahnya. Baru kali ini dia melepaskan emosinya pada seorang perempuan.             Dan sialnya, perempuan itu adalah Florence.             Perempuan yang sangat mirip dengan Zeva.             “Sial!” umpat Keylo seraya melempar vas bunga dari atas meja. Vas bunga itu membentur cermin yang menyatu dengan lemari pakaian, lantas hancur berkeping-keping bersama cermin tersebut. laki-laki itu kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasur tanpa memperdulikan teriakan Gaza diluar sana.             “Dia bukan Zeva... dia bukan Zeva!” Entah sudah berapa kali dia merapalkan mantera tersebut untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Florence bukanlah Zeva. Bahwa sifat keduanya sangat bertolak belakang. Tapi, jika melihat lagi wajah Florence, terlebih sorot matanya, otak Keylo selalu mengarah pada sosok Zeva.             “Zev... please give me a sign to find you... to get to where you are... to be standing next to you... i really miss you... so badly that i can’t think straight!” Keylo memejamkan kedua matanya lantas berteriak keras. Sama sekali tidak sadar bahwa di depan pintu kamarnya, Gaza menghembuskan napas panjang dan menggelengkan kepala.             “Yang kuat, Bang,” lirih Gaza sedih. ### Tak jauh berbeda dengan keadaan Keylo, Florence menghempaskan tubuhnya di atas kasur sambil menangis. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa menangis hanya karena seorang laki-laki aneh yang selalu menyebutnya dengan nama Zeva. Hanya saja, ketika tadi laki-laki bernama Keylo itu berbicara dengan nada tegas, nyaris menyerupai bentakan, hatinya terasa sakit dan nyeri.             Kemudian, sepersekian detik, bayangan itu melintas dalam otaknya.             Meskipun tidak terlalu jelas, tapi Florence bisa melihat kilatan kejadian yang berputar cepat pada memori otaknya. Disana, di sebuah taman, seorang laki-laki memegang kedua bahunya dengan tegas, setegas kedua manik matanya kala menatapnya, walaupun dia tidak bisa melihat dengan pasti siapa sosok laki-laki itu. Laki-laki itu kemudian menarik tubuhnya dan mencium bibirnya dengan lembut setelah sebelumnya menyerukan sesuatu.             Berhenti hidup di masa lalu dan mulailah menatap ke arah gue, Zevarsya Venzaya!             DEG!             Dengan satu gerakan cepat, Florence bangkit dari posisi berbaringnya. Dia menghapus air mata dengan kasar dan mengerutkan kening. Jantungnya berdegup kencang dengan napas yang tidak beraturan.             Satu nama yang disebutkan pada bayangan yang hadir didalam otaknya tadi... Zevarsya Venzaya... apakah... apakah...             “Siapa itu... Zeva...?” gumamnya pelan. ### Keesokan harinya, Florence berangkat menuju kantor Fitz dengan hati yang kacau. Semalaman suntuk dia tidak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan dan ucapan tersebut kembali hadir untuk menghantuinya.             “Duh... mata panda deh, gue,” keluh Florence kesal. Dia menginjak pedal gas dan kecepatan mobil Outlandernya bertambah drastis. Saat akan berbelok, Florence terkejut. Gadis itu berteriak keras kemudian membanting kemudi mobilnya. Sialnya, sudah ada pembatas jalan yang siap menyambutnya. Tabrakan itupun tak terelakkan. Klakson mobilnya melengking dan kepala gadis itu membentur kemudi mobil.             Tiba-tiba, jendela kacanya dipukul-pukul dengan keras. Florence menoleh dan menatap sayu orang yang saat ini terbelalak hebat ketika mata mereka bertemu. Lalu, gelap menguasai dirinya. ###                                                                                                                                                                                                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD