SEMBILAN BELAS

1203 Words
Fitz mengetuk meja kerjanya dengan menggunakan jari telunjuk.             Cowok itu menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit ruang kerjanya. Entah sudah berapa lama, Fitz tidak menghitungnya, Florence tinggal bersamanya dan sang bunda. Tiga bulan, mungkin? Sekali lagi, entahlah. Fitz tidak suka memusingkan hal-hal yang sepele atau bisa membuat kepala pecah.             Yang menjadi permasalahan adalah... sampai kapan Florence akan dia tahan di dalam rumahnya? Kalau Florence adalah adik kandungnya sendiri, mungkin hal itu sah-sah saja dia lakukan. Melindungi seorang adik adalah tugas seorang kakak. Membatasi kegiatan Florence di luar rumah agar Florence tidak berada dalam bahaya adalah salah satu dari sekian banyak tugas yang harus dilakukan oleh Fitz sebagai seorang kakak.             Sekali lagi, itu boleh terjadi jika Florence adalah adik kandungnya.             Fitz menarik napas panjang dan memejamkan kedua mata. Otaknya kembali berjalan mundur, tepatnya ke waktu tiga sampai empat bulan sebelumnya. Saat itu, dia baru saja kembali dari rumah sakit setelah mengurus semua keperluan sang bunda di sana. Bundanya memang selalu sakit-sakitan dan harus dirawat di rumah sakit agar keadaannya bisa membaik. Selain sakit karena usianya yang sudah tidak muda lagi, sakit yang dialami wanita itu juga karena hatinya masih belum bisa menerima kenyataan.             Lalu, saat berada di sebuah jalan, Fitz melihat sebuah mobil yang sudah ringsek di beberapa bagian. Seseorang terlihat dari balik pintu mobil yang terbuka. Kap mobil tersebut mengeluarkan asap, sehingga Fitz langsung menepikan mobilnya sendiri dan menelepon ambulans untuk segera dikirim ke tempat ini. Tak lama, Fitz memutuskan untuk memeriksa keadaan penumpang mobil tersebut.             Kedua kakinya membawa Fitz ke pintu penumpang terlebih dahulu. Tapi, sebelum itu, Fitz berhenti di dekat tangki bensin dan mengendus dari tempatnya berdiri. Tidak ada bau bensin dan semua terlihat aman. Bagus. Itu artinya, tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemungkinan ambulans akan tiba juga sekitar lima menit.             Saat  Fitz memeriksa penumpang yang duduk di kursi depan, cowok itu mematung. Matanya terbelalak, menatap seorang cewek berparas cantik, di mana di wajah cantik putihnya ternodai oleh darah. Dadanya masih terlihat naik-turun walau dalam ritme yang lemah. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fitz segera mengangkat tubuh mungil cewek itu yang, beberapa saat lalu, kedua matanya masih terbuka dan sepertinya menyadari kehadirannya. Ketika cewek itu sudah berada dalam dekapannya, Fitz menengok ke kursi pengemudi.             Seorang cowok tampan menatap ke arahnya. Entah dia benar-benar bisa menatap wajah Fitz, Fitz sendiri tidak bisa menebaknya dan tidak mau ambil pusing. Kedua mata cowok itu terlihat sayu dan seperti tidak ada tenaga untuk tetap bisa membuatnya terbuka. Berani bertaruh, sebentar lagi, cowok itu pasti akan jatuh tak sadarkan diri.             “Ze... va...,” lirih cowok tampan itu. Fitz hanya memberikan tatapan datarnya. Matanya beralih dari cowok tampan tersebut ke arah cewek yang berada dalam dekapannya. Lalu, ketika tatapan Fitz kembali pada si pengemudi, dia bisa melihat tangannya yang terjulur ke depan, seolah ingin mengambil cewek yang berada dalam dekapannya itu. “Ze... va...,” lirihnya lagi.             “Zeva?” ulang Fitz dengan suara yang dikencangkan agar si pengemudi yang sebentar lagi akan pingsan itu bisa mendengar kalimatnya. “Nama cewek ini Zeva?”             Namun, cowok itu tidak menjawab. Kedua matanya sudah tertutup dan tangannya terkulai. Dengan hati-hati, Fitz mendudukan cewek yang tadi dipanggil Zeva itu di dekat mobil, di atas aspal. Cowok itu lantas merogoh saku celana si pengemudi dan mengambil dompetnya. Ketika dia menemukan kartu identitasnya, alis Fitz terangkat satu.             “Keylo Izkar Arvenzo,” gumam Fitz. Dia menatap si pengemudi yang diketahuinya bernama Keylo dan mengembalikan kartu identitasnya ke dalam dompet. Kemudian, Fitz menaruh dompet tersebut di kursi penumpang yang tadi diduduki oleh Zeva agar petugas yang datang bersama ambulans bisa mengetahui identitas cowok tersebut. “Sori, Keylo. Gue pinjam Zeva sebentar. Nanti, gue akan menghubungi lo kembali.”             Fitz kembali menggendong Zeva dan membawa cewek itu ke mobilnya untuk kemudian dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tak henti-hentinya Fitz menatap Zeva yang masih pingsan. Cewek bernama Zeva ini... wajahnya... sangat mirip dengan Zahara Florencia, mendiang adik kandungnya yang meninggal dunia dua bulan lalu.             Fitz hampir tidak bisa memercayai penglihatannya tadi saat dia menemukan Zeva. Dia seolah melihat adik kandungnya sendiri pada diri cewek itu. Seolah-olah, Zahara Florencia bangkit dari kematian karena merindukan dirinya dan bunda mereka. Adiknya itu meninggal dunia karena kanker yang dideritanya dan semenjak kematian Florencia, ibunda mereka selalu jatuh sakit dan selalu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Terkadang, Fitz sering mendengar bundanya menangis di malam hari atau melihat bundanya berbicara dengan kursi kosong di depannya. Wanita itu seolah berbicara dengan Florencia, atau, setidaknya imajinasinya lah yang menuntunnya untuk berbuat seperti itu. Yang jelas, hati Fitz hancur ketika melihatnya dan dia sangat menginginkan kembali ibundanya yang dulu. Yang penuh semangat dan ceria. Dia rindu kehangatan dan kasih sayang ibundanya.             Lalu, seolah Tuhan menjawab pertanyaannya, dia dipertemukan dengan Zeva. Mungkin, ini adalah musibah bagi Zeva dan cowok bernama Keylo tadi. Dia yakin, mereka adalah sepasang kekasih. Atau mungkin... sepasang suami-istri? Lalu, Fitz menggeleng. Tidak, tadi di kartu identitas Keylo, Fitz membaca status Keylo yang bertuliskan lajang.             “Maaf, Keylo. Gue harus meminjam Zeva sebentar untuk kesembuhan nyokap gue. Nanti, gue akan menelepon lo dan menjelaskan semuanya. Nanti, gue akan meminta persetujuan lo, Zeva dan keluarga Zeva.”             Tapi, kalimat Fitz itu tidak menjadi kenyataan. Dia tidak menghubungi Keylo dan tidak mencari tahu mengenai keluarga Zeva. Zeva hidup bahagia bersamanya dan ibundanya. Ibundanya kembali sehat dan sangat bahagia saat bertemu dengan Zeva.             Karena Zeva... amnesia.             Saat Zeva tersadar, dia tidak mengenali semua orang termasuk dirinya sendiri. Cewek itu terlihat takut padanya juga pada dokter. Ketika dokter selesai memeriksa Zeva, dia menyimpulkan bahwa Zeva mengalami amnesia. Tapi, amnesia ini bersifat sementara. Zeva bisa mengingat lagi jika dibantu mengingat oleh Fitz dan semua orang.             Mendengar itu, Fitz bimbang. Niat awalnya adalah meminjam Zeva yang sangat mirip dengan Florencia untuk membuat ibundanya semangat dan kembali ceria. Tapi, ketika mendengar kabar dari dokter, Fitz seolah menutup hati nuraninya. Dia menelan ludah dan mengepalkan kedua tangan. Saat menghampiri Zeva yang terlihat pucat dan masih ketakutan, Fitz tersenyum dan berkata, “Halo Florencia. Gue Fitz. Gue kakak lo, keluarga yang lo punya selain bunda kita. Mungkin lo nggak ingat, tapi, gue akan bantu lo untuk mengingat gue dan bunda juga kehidupan lo sebelum ini secara perlahan. Salam kenal, Florencia.”             Sejak itulah, Zeva berubah menjadi Florencia. Fitz menaruh semua ingatan Florencia asli ke dalam otak Zeva, membuatnya seolah cewek itu memang benar-benar Zahara Florencia. Ibunda mereka pun, yang sangat senang dan bahagia melihat kehadiran Zeva, langsung mengenalinya sebagai Florencia. Anak keduanya, anak bungsunya, anak cewek satu-satunya yang dia miliki. Ingatan Florencia yang meninggal dunia seolah lenyap tak berbekas. Sejak saat itu juga, hubungan keduanya semakin dekat dan kesehatan ibundanya semakin membaik.             “What should i do?” lirih Fitz. Semakin hari, kebohongan ini semakin membuatnya sakit dan sesak. Tapi, dia pun tahu dia harus tetap melakukan kebohongan ini demi ibundanya.             Juga demi... dirinya sendiri.             “Keylo Izkar Arvenzo,” gumam Fitz. Cowok itu mendesah berat dan mengumpat. Dia menutup matanya dengan menggunakan lengan dan berkata, “I’m so sorry. Please, forgive me.”             Bukan hanya meminta maaf karena sudah menculik Zeva dan menjauhkannya dari Keylo bahkan memberikan Zeva identitas palsu dan kehidupan palsu, tapi juga karena... Fitz mulai tertarik dan jatuh cinta pada Zeva.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD