TIGA PULUH ENAM

1203 Words
Keylo mematung di tempatnya.             Awalnya, dia hanya menganggap biasa saja spekulasi dari Neyla mengenai Zeva yang kemungkinan besar mengalami amensia dan berubah menjadi Florencia. Keylo merasa, hal itu terlalu cliche, seperti sinetron-sinetron atau novel yang sering dia baca. Tapi, ketika Verco membeberkan fakta tersebut, bahwa Florencia benar-benar Zeva, cowok itu tidak bisa berkata-kata dan pikirannya mendadak blank.             Semua orang yang ada di kamar inap Catherine terdiam. Suasana menjadi tegang dan sunyi. Catherine bahkan sampai mencekal lengan Gazakha, membuat cowok itu tersenyum dan menepuk pelan kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian mengusap punggung tangan Catherine yang masih memegang lengannya itu.             “Lo... bilang apa barusan, Bang?” tanya Keylo. Sungguh, dia tidak bisa memercayai pendengarannya sendiri. Bahkan ketika Neyla mengemukakan teorinya soal amnesia, Keylo merasa sebagian dirinya tidak memercayai omongan mantan pacarnya itu karena perbedaan sifat Florencia dan Zeva yang sangat mencolok.             “Florencia adalah Zeva,” ulang Verco. “Look, gue tau ini sulit buat dipercaya, tapi itu kenyataannya. Gazakha punya teori dan spekulasi yang sama kayak Neyla dan dia bicarain hal itu ke gue,” jelas Verco lagi.                    “Dan... cowok yang gue temuin di lobi rumah sakit ini, yang gue tanyai keadaannya karena dia keliatan sangat pucat, dia... orang yang udah membawa Zeva pergi dan mengganti identitasnya?” tanya Keylo.             Verco mengangguk. “Ya, dia orangnya. Namanya Fitz. Gue menebak, dia mengenali lo saat lo, gue dan Jasmine mau menjenguk Cath dan mengantar makanan untuk Gaza. Karena itu, Fitz keliatan pucat dan nggak stabil. Semua itu karena dia nggak menyangka bakalan ketemu lo di sini. Dan lagi,” kata-kata Verco terhenti sesaat, ketika dia melirik Gaza yang mengangguk ke arahnya. “Gue udah mengkonfrontasi Fitz. Dia juga mengakui kalau Florencia adalah Zeva dan nggak akan ngebiarin kita ngerebut Zeva dari dia.”             “What the f—“             Umpatan kasar Devan terhenti saat Neyla memukul mulutnya dengan cukup keras, hingga cowok itu membungkuk sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya sedikit berair karena menahan sakit akibat pukulan di mulutnya itu. Setelah menarik napas panjang dan yakin bibirnya sudah tidak apa-apa, Devan kembali menegakkan tubuh dan berdehan. Dia melirik Neyla yang rupanya sudah menatap ke arahnya dengan tatapan bete.             “Kebiasaan itu mulut, kalau lagi kesal atau kaget, ngomongnya selalu kasar!”             Devan mendengus. “Sori. Kelepasan.”             “Dia... ngomong begitu?”             Verco mulai waspada. Cowok itu berdiri dari sofa tempatnya duduk dan mendekati Keylo. Suara Keylo terdengar sangat dingin dan tajam, membuat semua orang menatap cowok itu dengan waspada dan was-was. Devan langsung berdiri di depan Neyla, menjaga cewek itu agar tidak terkena dampak dari apa pun sikap Keylo nantinya. Sementara itu, Keanu juga mendekati Keylo, berdiri di samping Verco untuk membantu kakak sulung Gazakha itu jika keadaan mulai tidak terkendali. Gazakha sendiri menutup tubuh Catherine yang sedang duduk bersandar di ranjangnya dan menarik kausnya karena sedikit takut dengan perubahan sikap Keylo.             “Key, calm down,” kata Verco berusaha tenang. Adiknya ini, jika sudah marah, situasi akan menjadi tidak terkendali dan Keylo pun tipikal pribadi yang sulit untuk dihentikan jika dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya. “Kita harus berpikir dengan kepala dingin dan membuat rencana untuk membangkitkan ingatan Zeva yang tertutup itu.”             Kedua tangan Keylo mengepal. Emosinya semakin memuncak. Matanya menatap tajam ke lantai, dan sudah pasti lantai itu akan terbelah jika tatapan mata Keylo memiliki laser atau kekuatan seperti para superhero. Dadanya bergemuruh hebat, jantungnya menghentak kuat d**a kirinya. Sungguh, Keylo sangat ingin mengluarkan seluruh amarahnya dalam bentuk cacian dan makian kasar.             “Dia... mau... merebut... Zeva... dari... Gue...?” tanya Keylo dengan nada dingin yang sama dan penekanan nada pada semua kalimatnya.             “Keylo, tenang!” Verco mencengkram lengan adiknya, mengguncangnya cukup kuat hingga Keylo tersadar. Cowok itu memejamkan kedua mata dan menarik napas panjang. Dia menyentak tangan kakaknya dari lengannya, kemudian berjalan ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.             Keylo menunduk. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Jantungnya berdebar sangat keras, hingga dia takut semua orang yang ada di dalam kamar ini bisa mendengarnya. Cowok itu mengeraskan rahang dan mengertakan gigi. Lalu, dia kembali teringat semua sikap berengseknya kepada Florencia.             Kepada Zeva.             Hanya karena cewek itu memiliki sikap yang kasar dan berbeda dari Zeva, meskipun wajah mereka mirip, Keylo sempat mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk cewek itu. Harusnya, Keylo bisa berpikir lebih jernih lagi. Memikirkan keanehan pada miripnya kedua wajah mereka. Padahal, Zeva sudah bercerita bahwa dia hanya memiliki satu saudara kembar dan itu adalah mendiang Zevi. Hanya dia. Tidak ada yang lain.             Oke, ada kemungkinan orang lain di luar sana memiliki wajah yang mirip dengan Zeva. Bahkan mungkin, ada yang mirip dengan dirinya. Tapi, harusnya Keylo bisa memikirkan keanehan lainnya, di mana Florencia muncul setelah Zeva menghilang. Dan, jasad Zeva pun belum ditemukan sampai sekarang, jika memang cewek itu dinyatakan meninggal dunia.             “Berengsek!”             Teriakan Keylo itu membuat Neyla dan Catherine terlonjak. Neyla langsung merapatkan tubuhnya pada punggung Devan, membuat Devan meliriknya dan tersenyum tipis, sementara Catherine menyentakkan napasnya. Mendengar sentakan napas Catherine, Gazakha langsung mengusap kepalanya dan menenangkan teman berdebatnya itu.             “It’s okay,” bisik Gazakha. Matanya menatap manik Catherine yang memancarkan sedikit ketakutan. “Bang Keylo emang suka begini kalau lagi marah. Nanti juga dia tenang lagi.”             Catherine mengangguk dan tidak melepaskan cengkramannya pada lengan Gazakha, membuat cowok itu menatap tangan putih Catherine dan berdeham. Jantungnya berdebar-debar dan wajahnya sedikit memanas, membuat Gazakha memalingkan wajah dan kembali fokus pada kakak keduanya tersebut.             Sementara itu, Verco yang mengerti apa yang sedang dirasakan oleh adiknya tersebut, langsung mendekati Keylo. Cowok itu duduk di samping Keylo dan meremas kuat pundaknya, tersenyum dan mengacak rambut Keylo.             “Sabar, Key. Kita harus buat rencana untuk merebut kembali Zeva dari tangan Fitz. Saat ini, Zeva mulai ragu sama identitasnya sendiri.”             Keylo menoleh dengan cepat ketika mendengar kalimat kakaknya itu.             “Maksud Abang?”             “Jadi, tadi gue mutusin buat ngeliat Zeva,” jelas Verco. “Lo tau kan kalau dia mengalami kecelakaan dan ditolong sama Gaza, terus dibawa ke sini? Sekarang, dia lagi di UGD.”             Ya Tuhan! Keylo lupa dengan fakta tersebut. Sebelum tahu kalau Florencia adalah Zeva, dia sangat marah karena Gazakha berurusan dengan cewek itu. Sekarang, ketika semuanya terbongkar, Keylo merasa cemas luar biasa akan keadaan Zeva.             “Oke, gue tau apa yang lagi lo pikirin.” Verco tersenyum dan menepuk pundak Keylo. “Tapi, Zeva baik-baik aja dan Fitz lagi ada di sana. Kita nggak boleh gegabah. Fitz cuma tau kalau gue tau soal Zeva. Dia nggak tau kalau lo juga tau.” Cowok itu menarik napas panjang. “Tadi, waktu gue sama Gaza ke UGD, Zeva cerita ke Gaza kalau dia mimpi mendengar seseorang memanggil nama Zeva dan bilang, ‘Berhenti menatap ke masa lalu dan mulailah menatap ke arah gue, Zevarsya Venzaya.’”             Keylo terkesiap, pun dengan Devan dan Neyla. Pasalnya, itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Keylo beberapa bulan silam, sebelum kecelakaan itu terjadi, kepada Zeva, di hadapan Devan dan Neyla.             “Dia... mimpi soal itu?” tanya Keylo dengan nada tidak percaya. Matanya berkaca dan kepalanya tertunduk. Bahunya bergetar. Cowok itu... menangis. “Dia Zeva gue, Bang... dia beneran Zeva gue....”             Verco mengangguk dan memeluk Keylo sambil mengusap punggungnya.             “Sabar, Key. Semua akan kembali seperti semula. Gue janji.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD