bc

MR. CHARMING - Terjerat Pesona Berondong Sewaan

book_age18+
1.8K
FOLLOW
12.2K
READ
playboy
badboy
goodgirl
drama
sweet
humorous
like
intro-logo
Blurb

Rate 21+

Rasa bosan dan hambar kurasakan sejak suamiku bermain dengan wanita lain di luar. Sayangnya, aku tidak bisa meninggalkannya karena alasan balas budi.

Hingga suatu ketika, berawal dari menyewa lelaki panggilan, aku merasakan yang kulakukan selama ini sia-sia. Dengan tulus aku mendampingi suamiku, tapi dengan sadar dia menghianati janji pernikahan suci kami.

Membalas dendam menjadi awal tujuanku. Namun semakin lama bersama lelaki muda yang kusewa, membuat getar lain di hati.

Aku mencintai lelaki panggilan itu. Merasa nyaman ketika berbincang dan di dekatnya. Namun, Mas Dales tidak mau melepaskanku meski dia sudah ada yang lain.

Harus kembali pada suami toxic yang suka main tangan dan menghinaku, atau memilih membuat lembaran baru bersama lelaki yang sepuluh tahun lebih muda?

Follow my Ig shabira_elnafla

chap-preview
Free preview
Perselingkuhan Suami dan Menyewa Pria Panggilan
Namaku Hera, dan aku seorang istri dari lelaki yang selalu berada di relung hati, awalnya. Tapi, semenjak malam itu semua berubah. Hari ketika aku menyewa lelaki panggilan untuk membalas sakit hati atas perlakuan suami. Kisahku berawal dari malam itu. Hari ini sangat melelahkan. Aku yang harus menyelesaikan semua pekerjaan salah satu teman yang resign secara tiba-tiba dari kantor. Penat dan pening membuat badan ini setengah melayang. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil suamiku, Mas Dales sudah berada di depan. Berarti laki-laki itu sudah lebih dulu sampai rumah dari pada diriku. "Mas." Aku mencari sosoknya di kamar terlebih dahulu. Tapi tidak juga kutemukan.   Kaki ini melangkah menuju dapur di belakang, samar-samar aku mendengar suara seseorang yang berbicara melalui ponsel. Itu suara Mas Dales. Belum sempat aku mendengar yang ia katakan, panggilan itu berakhir. Gelas yang berada di samping kanan langsung kuambil dan meneguk isinya. Agar ia tidak curiga kalau istrinya tengah menguping. "Loh, itu kan minum punya, Mas." Suamiku sudah masuk ke dalam, ia langsung menghampiriku. "Maaf, Mas. Tadi haus banget." Aku mencari alasan. Ia memeluk tubuh ini dari belakang, lalu menyandarkan dagunya di pundak. "Dek, Mas ada meeting dadakan hari nanti. Kamu gak apa-apa di rumah sendiri?" "Iya. Aku sudah biasa kok." Mas Dales mengecup pucuk kepalaku, lalu berjalan menuju kamar kami. Ia memang selalu begitu, tiba-tiba beralasan ada meeting dadakan. Tiba-tiba suasana hati tidak baik-baik saja. Aku curiga. Wajar bukan? Kubuntuti Mas Dales ke dalam kamar, ia langsung mandi dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Ponsel berwaran hitam itu tampak berkedip, menandakan ada pesan masuk. Benar saja, ketika kupegang android seharga delapan juta itu ada chat masuk ke aplikasi berwarna hijau.           Hotel Luna. Jangan lupa, Sayang! Tubuhku lemas. Apa ini? Dengan segenap sisa kekuatan, ponsel itu kutaruh di tempatnya kembali. Lalu duduk di ranjang dan mengelus d**a yang bergejolak setelah membaca pesan tersebut. 'Ah, kenapa tidak kubuntuti saja Mas Dales,' ucapku dalam hati. Setelah Mas Dales keluar dari kamar mandi. Aku mengambil handuk dan segera masuk menggantikannya. Agar dia tidak tahu kalau mata ini masih terus saja mengeluarkan air mata. Selesai mandi, suamiku sudah tidak ada di rumah. Segera aku memesan ojek online dan menuju Hotel Luna tempat yang dituliskan dalam chat tadi. Tidak sampai dua menit sejak aku turun dari ojek, terlihat mobil Mas Dales masuk ke parkiran. Dari jauh kulihat ia turun, lalu disusul seorang wanita yang sangat cantik dan seksi. Berbeda jauh dengan penampilanku yang sederhana. Hati ini seketika hancur. Ini bukan kali pertama Mas Dales selingkuh. Tapi, ini paling menyakitkan buatku. Ketika dengan susah payah dan berhemat sedemikian rupa aku bertahan agar dapat mengumpulkan uang buat biaya bayi tabung kami. Tapi, dia malah asik memadu kasih dengan wanita lain.  "Kamu bilang apa sama istrimu?" Wanita di pelukan Mas Dales itu bertanya manja. "Biasa. Lembur di kantor!" Aku meremas d**a yang berdenyut nyeri. Seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang mencabik-cabik hati hingga tak berbentuk lagi. Selemah itukah seorang Hera? Hingga memaafkan perselingkuhan suami dengan entengnya. Ah, tidak! Aku tidak akan lagi diam. Tidak lagi berbentuk hati di dalam sini! Ketika dari jarak lima meter di belakang mereka aku melihat kedua kulit bibir orang itu saling menempel. Setelahnya, mereka masuk ke dalam kamar hotel. "Lagi galau, Mbak? Mau cari teman untuk berbagi kesedihan tidak?" Seorang lelaki yang kutaksir berumur empat puluh lima tiba-tiba duduk di sebelahku. "Kamu siapa?" "Perkenalkan, saya Bang Mel. Saya lihat Mbaknya menangis terus dari tadi. Kenapa?" tanya lelaki itu. Aku melihat sekeliling. Hingar bingar musik menulikan telinga. Lalu mata ini menatap lelaki di depan yang menunggu jawaban. "Suami saya selingkuh." Hanya itu yang bisa kukatakan. Ia lalu menawarkan jasa lelaki panggilan. Dengan tanpa berpikir panjang, aku menyewanya. Tiga juta untuk uang muka sudah masuk ke rekeningnya. "Ayo, tunggu di depan sana, Mbak. Anaknya baru menuju ke sini. Ini diminum dulu!" Lelaki bernama Bang Mel itu menyodorkan segelas kecil minuman yang entah apa. Dengan tidak berpikir panjang, kuteguk minuman itu. Rasa panas melewati tenggorokan. Aku mengangguk. Lalu mengikuti langkah Bang Mel. Entah bagaimana caraku sampai di tempat ini. Kacaunya otak hingga tak mampu aku mengendalikan emosi yang sedang melingkupi hati. Menyewa lelaki panggilan? Apa yang kulakukan ini benar? Pertanyaan bodoh yang pasti jawabannya tidak! Namun, sakit hati atas perselingkuhan Mas Dales membuatku membenarkan sesuatu yang salah. 'Kau boleh berada di atas tubuh wanita itu. Tapi, jangan salah. Aku pun bisa melakukan hal yang sama denganmu. Aku tersenyum sinis. Sekali dua kali masih bisa kumaafkan, tapi bertahun-tahun melakukan hal serupa tanpa merasa bersalah, apa itu masih bisa disebut orang baik? Mulai sekarang, aku bukan lagi Hera yang dulu, Mas. Anak rambut yang jatuh ke kening kurapikan. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan kami. Bang Mel langsung menghampirinya. Setelah berbincang ia meninggalkanku sendiri. Lelaki muda itu turun dari mobil, lalu melempar senyum. Aku mendadak ingin membatalkan saja transaksi malam ini. Takut kalau nanti malah terjerat dengan laki-laki manis itu dan mengabaikan Mas Dales. Ketika hati sedang tidak baik-baik saja dan ada lelaki yang lebih menggoda dibanding suami, aku tidak yakin jika kuat untuk tidak benar-benar berpaling. "Sepertinya kalau aku panggil Tante ketuaan, ya, bagaimana kalau aku panggil Kakak saja." Laki-laki muda itu tampak mulai mengakrabkan diri. Aku mundur. Menjaga jarak dengannya. "Maaf, sepertinya saya tidak jadi. Permisi."   Ia mencekal pergelangan tanganku. "Kenapa? Rahasia terjamin aman, Kak. Lagi pula Kakak sudah membayar DP sama Bang Mel, kan?" Aku bergegas menepisnya. "Ah, gak apa-apa. Saya cancel saja, maaf." Aku melangkahkan kaki ingin meninggalkan tempat itu. Pulang ke rumah menjadi tujuanku saat ini. Namun, laki-laki muda itu menarik tanganku lebih erat. Lalu memaksa masuk ke dalam mobil merahnya. Aku ingin kabur dari sana, tapi kaki tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya duduk di balik sabuk pengaman tanpa bisa berpikir jernih. Pemuda itu menatapku lembut. "Wajar kalau baru pertama kali merasa gugup, tapi nanti lama-lama terbiasa kok, kak." "Saya hanya menyewa Anda untuk mendengarkan curhatan saya," ucapku akhirnya. Aku pasrah. Memang salahku tidak berpikir panjang terlebih dahulu, tiba-tiba saja mengiyakan tawaran Bang Mel untuk menyewa laki-laki panggilan. Mobil melaju meninggalkan parkiran bar. Aku duduk dengan perasaan gelisah. Ah, bagaimana nanti aku harus menjelaskan kepada Mas Dales saat pulang ke rumah. Dari info Bang Mel, lelaki muda ini dipanggil Adios. Entah itu nama aslinya atau hanya nama panggilan. Whatever. Aku tak peduli. Dia melihat ke arahku dengan senyum menyerigai ketika kukatakan tidak ada kontak fisik. Bahkan mengatakan kalau semua yang menyewanya kebanyakan seperti aku. Tapi, tetap saja berakhir di ranjang bersamanya.   Idih. Pede banget dia. Memang dia kira bisa mendapatkan semua wanita dengan pesona kegantengannya itu apa? Ups! Aku menutup mulut dengan telapak tangan ketika berpikir kalau Adios memang menarik. Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir perasaan aneh yang hinggap ketika netra ini tak sengaja melihat senyuman tulus dari laki-laki di samping. Ah, perasaan apa ini? Apa mengkin secepat ini? Padahal beberapa jam yang lalu aku menangis karena penghianatan suamiku. Bodo lah. Jalani saja yang sudah terjadi, urusan nanti biar kupikir belakang. "Hera Sarah Putri. 26 Agustus 1988. Oke berarti hanya selisih sepuluh tahun. Tinggi badan 162, berat 55 dan ukuran cup 36 B. Ah, standar." Adios melirik menilai ke arah dadaku. Ia mengangkat sebelah alisnya menggoda. Aku mendelik ke arahnya, lalu menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Dasar pria panggilan menyebalkan! Hei, tapi aku ingin sekali menimpuk wajah tengil itu ketika ia ia tersenyum menyerigai sambil melirik ke bagian tubuh yang kututupi tangan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook