Pernah Bertemu, Dulu

1131 Words
Aku mengekor langkah Adios. Ia masuk ke dalam lift dan memencet di angka dua puluh dua. Oh, jadi dia melayani tamunya di kamar itu. Pintu lift terbuka, kakiku masih terus saja mengikuti lelaki muda di depan. Entah pesona apa yang ia punya, hingga secara sadar aku tetap mengkuti langkah kaki itu.            Sedikit perasaan tenang melingkupi pikiran, entah karena pengaruh minuman tadi, atau memang aku yang berusaha melepaskan kesakitan di dalam d**a ini.          Kami masuk ke dalam, ia mencopot jaket dan kemejanya. Lalu dilempar sembarangan di sofa. Otot di d**a dan perutnya tercetak jelas ketika hanya kaos dalam putih polos tersebut yang membungkus tubuhnya.  Ingin sekali rasanya memegang otot lelaki di depan. Aduh. Fokus Hera. Ingat dia lelaki panggilan! Aku memukul kening. Hati ini seketika berdesir melihat tubuh tegap itu. Setelah itu Adios mengambil air mineral dalam botol dan disodorkan di hadapanku.          Ragu. Tentu saja. Pikiranku sudah negatif tentangnya, bagaimana kalau dalam minuman itu ada bubuk perangsang atau sejenisnya. Lebih baik tidak usah meminum air yang disodorkan Adios, kan?          "Kenapa? Takut aku masukin obat ke air itu? Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya."          What? Dia bisa membaca pikiranku. Ya jelas, dia yang memasukan, pasti juga sudah melihat keraguan di wajah ini. Aku pura-pura melihat ke sekeliling ruangan ketika dari sudut mata kulirik ia tersenyum. Menyebalkan. Kenapa senyum itu sangat manis.          "Ini bayaran buat kamu!" Uang yang sudah disiapkan di dalam tas kuambil lalu diletakkan di meja. Setelah memastikan hati ini baik-baik saja, aku mengangkat wajah memandangnya. Ia tersenyum tengil sambil mengedipkan mata.  Duh, ingin rasanya menimpuk wajah tampan di depan dengan tas tangan yang kini di pangkuan. Tapi, sayang. Nanti gantengnya ilang.          "Sudah mulai nyaman, eh? Kok aku kamu."          s**t. Aku menyembunyikan wajah, pasti sekarang sudah merah padam karena malu. Aih, salahkah aku atas perasaan ini? Tidak. Aku hanya balas dendam. Mas Dales melakukan yang lebih dari ini. Kata-kata sugesti terus saja kuucapkan dalam hati.  Ya, perbuatanku ini tidak salah. Aku hanya ingin Mas Dales merasakan yang selama ini kurasakan.      "Sepertinya kamu tidak asing. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Aku mencoba mengingat. Rasa nyaman ini tidak biasa. Dan pasti ini bukan pertama kalinya aku bertemu dia.          Adios tampak berpikir. "Mungkin! Karena sudah banyak wanita yang tidur bersamaku!"         b******k! Bukan itu maksudku. Asal dia tahu, ini kali pertama aku menyewa lelaki panggilan.          "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.          "Aku sudah bilang, tugasmu hanya mendengarkan ceritaku." Akhirnya, aku menceritakan semua pada lelaki muda itu. Tentang suami yang selingkuh ke sekian kalinya. Tentang permasalahan di dalam rumah tangga kami. Dan penyebab aku nekat menyewa lelaki panggilan.          Suamiku bermasalah di s****a yang sedikit, jadi belum bisa membuahi sel telur. Dan itu membuat rumah tangga kami hampa. Aku yang dipojokkan oleh keluarga Mas Dales. Padahal dia yang bermasalah.          "Jadi menurut kamu, aku harus gimana?" Kugoyang lengannya.          "Hem? Apa?" Adios mengusap matanya.          "Hais! Kamu gak dengerin aku?"          "Kak, aku buat kopi sebentar, ya!" Ia berdiri. Lalu berjalan ke dapur mini. Ia menguap lagi. Lalu menyunggingkan senyum tipis.            Aku ikut melangkahkan kaki ke sana. Melihat seisi dapur yang tidak ada apa-apa. Ah, dia lajang, buat apa stok banyak bahan makanan dan alat masak.          Ia memberi solusi atas permasalahnku, agar aku lebih percaya diri dan mencari teman. Memang selama ini aku sangat membatasi pertemanan, apa lagi yang suka shopping. Oh, no. Aku harus nabung untuk biaya progam bayi tabung.          "Hanya itu sih, Kak! Karena aku sendiri belum nikah. Jadi gak tahu cara yang harus kukatakan pada Kakak." Adios melihat panci di atas kompor yang berisi air.          Namun, setelah aku pikir-pikir lagi, tidak ada salahnya mencoba membuat diriku nyaman dengan tubuh sendiri. Oke, aku akan mulai ke salon lagi dan membeli beberapa pasang pakaian dengan model baru. Satu yang aku tidak bisa, mencari teman. Bagaimana aku harus mencari orang yang mau berbagi cerita denganku.          "Tapi, aku gak tahu caranya cari teman." Bahuku terkulai lemas.                   "Mau aku ajarin?" Ia menawarkan diri. Lalu mendekat.            "Ajarin apa?" tanyaku belum paham maksudnya.          Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga jarak kami hanya beberapa centi lagi. Ia menjepit hidungku dengan jarinya. "Diajarin memuaskan suami, biar dia gak pergi ke pelukan wanita lain."          Aku menepis tangannya, lalu menunduk lagi menyembunyikan wajah yang pasti sudah memerah. Ah, muka ini tidak bisa diajak kompromi. Ia tertawa terbahak-bahak. Double menyebalkan. Aku diam, hanya melihat dia menuangkan kopi ke gelas dan memberi gula. Lalu diaduk sampai tercampur.            Tiba-tiba, perutku berbunyi, hingga terdengar sampai ke telinga Adios. Dan sekarang laki-laki tampan itu tersenyum geli sambil melirik ke arahku. Tatapan kami bertemu, aku menunduk.          "Well, emang kita pernah bertemu. Seperti yang Kakak katakan tadi, tapi mungkin Kakak lupa." Adios mengangkat bahu. "Sekitar enam atau lima tahun lalu!"      "Benarkah? Di mana?" Aku mencoba memutar memori.          "Ah, sudahlah! Lupakan!"          Ia menawarkan mie instan satu bungkus yang ia punya. Dan aku mengambilnya. Lalu mulai memasak air mendidih. Setelah itu menuangkan bumbu ke dalam mangkok.  Baru saja mie instan itu selesai kumasak, ia sudah lebih duluan mencicipinya. Aku yang masih mencuci panci meninggalkan pekerjaan itu agar kebagian mie yang baru saja kubuat.          "Ya udah kita makan bareng aja, emang kamu doang yang lapar? Nungguin cewek curhat berjam-jam juga lapar kali," katanya.          Ish, sebel banget gak sih? Dia sendiri yang bilang mau dengerin ceritaku. Sekarang mengeluh. Ah, gak profesional.          Selesai makan mie instan dan minum teh hangat buatanku, ia langsung pamitan masuk kamar. Juga mengatakan kalau aku mau pulang bisa langsung keluar. Kulirik arloji di pergelangan tangan, masih pukul empat dini hari. Jam segini pulang mana aku berani.  Menyusul dia masuk kamar adalah pilihanku, lalu berbaring di sampingnya. Nyaman sekali kasur ini. Beda dengan kasur di rumah yang setiap berbaring, aku selalu terbayang wanita lain yang ditiduri suamiku di tempat yang sama. Ah, menyesakkan.            Ia memejamkan mata, ketika aku mengatakan akan numpang tidur di ranjangnya. Seketika ia membuka mata. "Lalu Kakak mau tidur di mana? Ranjangku cuma satu. Apa tidur di sofa aja sebelah sana." Ia menujuk sofa yang berada di ruang tamu tanpa perasaan.          "Kok tega banget suruh tidur di sofa. Kamu geserlah. Sana deket tembok. Aku di sebelah sini, nah guling ini sebagai pembatas. Jangan lewat dari pembatas." Guling di pelukan Adios kuambil. Lalu menaruhnya di tengah, di antara kami. Oke aman. Aku mengambil selimut dan hendak menutupkannya ke tubuh.          "Aduh kakak, baru ketemu sekali aja udah berani ngatur-ngatur di rumah orang." Ia berdecak kesal.          Ish, pelit baget. Cuma pinjem bentar saja banyak alasannya. Lagi pula kalau ia masih dalam hitungan kerja sekarang. Aku tidak mau dong menyiakan uangku begitu saja. Setidaknya, aku bisa numpang tidur sampai jam kesepakatan kita berakhir.          Aku ingin memejamkan mata, ketika Adios berguling, dalam sekejab posisinya sudah berganti di atas tubuhku. Ia memengangi kedua tangan. Dan menguncinya di atas kepala. Tatapannya melembut. "Memang tidak takut seranjang dengan lelaki panggilan? Kalau aku khilaf dan menginginkan kakak bagaimana?" Kini suaranya sudah semakin berat.          Ah, s**t! Aku harus bagaimana?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD