Pembalasan Perselingkuhan

1098 Words
Napasku seolah berhenti ketika pandangan kami bertemu satu sama lain. Matanya teduhnya menatap ke wajah ini. Hingga beberapa detik setelahnya aku hanya bisa diam di bawah tubuhnya. Adios tersenyum. Ia merapikan anak rambut yang jatuh menutupi mataku. "Ish, lepas." Tubuhnya yang berada di atas terguling ketika aku mendorongnya. Organ di dalam d**a berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ia menarik napas panjang. Lalu memandang ke arahku lagi. Dan tatapan kami bertemu untuk kedua kalinya. Kali ini tatapannya lebih dalam. Kupalingkan wajah kearah lain. Dia berbeda, tidak seperti laki-laki yang selama ini kutemui. Meski profesinya sebagai lelaki panggilan, tapi sikapnya tidak sekurang ajar yang lain. "Semalam bersama kamu, aku menyimpulkan sesuatu, kalau sebenarnya kamu bukan anak nakal yang hanya mencari kepuasan. Kamu sebenarnya anak baik, entah kekecewaan apa yang mendasarimu melakukan pekerjaan ini." Aku terus saja menatapnya. Mencari jawaban di dalam mata teduh itu. Namun, Adios memalingkan wajahnya. Napasnya menjadi kasar, dan rahangnya terlihat mengeras. Apa aku salah bicara? Atau ada suatu hal yang menyinggung hatinya?   "Gak usah menyimpulkan suatu hal yang kamu sendiri tidak tahu pasti. Lagi pula, bukan urusanmu juga mencampuri kehidupanku." Setelah itu Adios berguling membelakangiku. Hingga tidak tahu lagi ekspresi wajahnya. Dia tersinggung oleh perkataan yang terlontar dari mulut ini. Tapi, memang kenyataan seperti itu bukan? "Ah, maaf. Bukan maksudku begitu. Hanya saja sayang sekali anak seumuran kamu melakukan pekerjaan seperti ini. Bagaimana kalau orang tua kamu tahu? Keluarga kamu tahu yang kamu lakukan sekarang?" Aku tetap memberanikan diri mengutarakan pendapatku. "Stop! Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Jadi stop berkomentar. Kalau mau tidur tidur saja, nanti setelah bangun aku antar pulang." Lelaki muda itu merapat ke tembok. Meninggalkan aku dalam keheningan. Ah, seharusnya tidak perlu aku mengutarakan itu kepada anak ini. Pasti ada sesuatu hal yang membuatnya mengeraskan hati seperti sekarang. Tapi, aku yakin dia anak baik. Dan aku percaya itu. Mata ini tidak bisa terpejam, memikirkan semua yang terjadi dalam hidupku akhir-akhir ini. Tentang cinta yang terkikis oleh penghianatan, tentang menyewa lelaki panggilan. Dan semua yang membuat sesak di d**a. Pagi hari menyapa, aku melihat raja siang sudah mulai menampakan sinarnya dari timur. Ah, harus kembali ke dunia nyata lagi. Juga bertemu dengan suami yang semalam bertukar keringat dengan wanita lain di hotel. Karena melihat Adios masih nyanyak tidurnya, aku bangun dan mengguyur tubuh ini. Lumayan dingin, tapi bisa membuat mata lebih segar.   Karena bingung mau melakukan apa, aku mengambil sapu dan serbet di dapur. Lalu membersihkan dan menata barang-barang yang terlihat berantakan. Hampir tiga puluh menit akhirnya aku selesai membereskan semua. Melihat Adios masih tidur, kuambil dompet dan turun ke bawah mencari minimarket. Beberapa bahan makanan yang ada dan campuran untuk membuat kopi kumasukan ke dalam keranjang belanja. Karena ingat kulkas di dalam apartemen Adios tidak ada isinya, kuambil beberapa makanan siap saji.  Setidaknya dengan berbagi cerita kepada lelaki itu aku bisa lebih tenang. Juga beban di dalam hati sedikit berkurang. Satu pertanyaan yang belum terjawab, kapan kami pernah bertemu? Sesampainya di dalam apartemen, langsung mengambil panci dan merebus beberapa bahan untuk campuran membuat kopi. Juga menata bahan-bahan yang baru saja kubeli. "Kakak ngapain?" Adios menyandarkan tubuhnya di tembok samping pintu. Aku menoleh ke arahnya. "Udah bangun Itu ada kopi, kamu cuci muka dulu lalu sarapan." Lelaki itu menurut, ia langsung beranjak masuk kamar dan terdengar suara gemericik air. Nasi goreng yaang baru matang kutuang di piring, juga telur dadar dan kopi di meja. Sambil menunggu Adios keluar, ponsel yang semalam off pagi ini aku hidupkan kembali. Banyak pesan dan panggilan dari Mas Dales. Ya, hanya dia yang menghubungiku. Karena memang di dunia nyata aku tidak mempunyai teman dekat sampai saat ini.   "Nanti gue ganti uang buat beli ini," kata Adios setelah melihat isi kulkas yang lumayan banyak. "Ah, gak usah. Aku ...." "Aku gak mau merasa hutang budi." Setelahnya kami kembali terdiam. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Menerka sifat lelaki muda di depan yang tengah menikmati nasi goreng. Sungguh tidak tertebak. Selesai kami makan, aku dan lelaki itu keluar dari apartemen bersama. Ia berjalan ke arah berlawanan dari tempatnya parkir mobil yang dipakai semalam. "Loh? Bukannya mobil kamu yang warna merah itu? Kok ini?" tanyaku penasaran. Aku melihat lelaki itu membuka mobil BMW i8 berwarna putih. Meski bukan penggemar mobil, aku tahu ini harganya lebih dari harga rumah Mas Dales. "Kakak mau naik apa mau tanya-tanya?"  Ia tampak sebal. Lalu masuk ke mobil dan menutup pintunya. "Eh, iya." Aku membuka pintu depan, lalu duduk dan memakai sabuk pengaman. Mobil melaju meninggalkan basement. Ia masih asik dengan lagu yang didengarkannya dari radio di mobil. Aku mencoba basa-basi dengan bertanya tentang rumahnya. Tapi, yang ada dia bertambah ketus karena pertanyaan itu.   Setelah sampai di depan rumah, aku turun dari mobilnya. Lalu berjalan pelan ke pintu. Di depan sana, Mas Dales sudah berdiri dan berkacak pinggang melihat aku pulang. Aku diam, tidak berani melihat wajahnya. "Dari mana kamu?" tanya Mas Dales. Aku diam. "Kalau suami tanya dijawab. Dari mana kamu?" "Main." Aku menjawab singkat. "Siapa laki-laki yang mengantar pulang itu? Pacar kamu? Atau selingkuhan?" Aku mengangkat wajah. Kini dengan segenap keberanian yang ada kutatap matanya. "Kenapa memang? Urusannya sama Mas apa?" "Hei, kamu itu istriku!" "Lalu?" Aku semakin berani menatap wajahnya. Ia terlihat marah. "Tidak sepantasnya pergi dengan laki-laki lain. Kamu mengganggap aku apa? Dengan santainya semalam tidak pulang dan ketika balik diantar laki-laki. Kamu tawarkan ke mana tubuhmu itu!" "Bukan urusan kamu!" Aku melangkah ingin masuk ke dalam rumah. Plak! Sebuah tamparan keras membuat tubuh ini terhuyung ke samping.   "Mas menamparku?" Pipi kanan terasa panas bekas telapak tangan Mas Dales. "Itu pantas kamu dapatkan. Dari mana saja? Seorang istri pergi semalaman bersama laki-laki lain. Apa itu patut!" Ia menunjuk mukaku. Matanya merah. "Memang apa bedanya dengan Mas? Seorang suami yang pergi berkali-kali ke hotel dengan wanita lain. Pantaskah menurut Mas kelakuan itu? Aku hanya melakukan apa yang kamu contohkan. Salah?" Aku menatap jalang ke arahnya. Sedikit senyum sinis kusunggingkan. "Kamu ... " "Apa? Mas kira selama ini aku diam karena tidak tahu? Haha. Aku bukan wanita bodoh yang terus saja bisa menutup mata ketika melihat suamiku tidur dengan wanita lain." Kini air mata tak lagi bisa dibendung. Aku merasa sakit di dalam hati. Tapi ada kepuasan tersendiri karena berani membalas perlakuan Mas Dales setelah sekian lama hanya diam tanpa berani memberontak. "Kamu sudah berani bersuara sekarang? Siapa yang mengajarimu? Laki-laki tadi?" Ia bertambah marah. "Memang kenapa? Penting buat Mas? Apa aku harus diam ketika keluarga kamu memojokkanku? Hei, sabar ada batasnya. Tidak bisa hati yang terus-terusan tersakiti akan tetap utuh, lama-lama akan berlubang dan hancur." Aku masuk ke dalam rumah dan membanting pintu. Sakit sekali rasanya. Tapi, ada setitik rasa lega di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD