Matahari Antico menembus celah tirai tebal kamar luas itu. Clara terbangun dengan kepala berat. Malam tadi, tidurnya bukan benar-benar tidur. Lebih seperti terlelap sejenak di antara rasa takut, resah, dan pikiran yang berputar tanpa henti. Clara membuka mata, menatap langit-langit tinggi dengan hiasan ukiran klasik yang entah mengapa justru menambah rasa terasing. Clara meraih bantal di sampingnya, mendekapnya erat. Perasaan terkurung semakin nyata. Ketika pintu berderit terbuka, Clara buru-buru bangkit. Adrian masuk dengan langkah tenang, mengenakan kemeja putih rapi dan celana hitam. Kontras dengan wajahnya yang tetap dingin, ia membawa secangkir kopi dan sepiring roti panggang. Clara mengernyit. “Sejak kapan kamu jadi pelayan sarapan?” Adrian meletakkan nampan di meja dekat jendela

