17. Dingin dan Menegangkan

1573 Words

Malam pertama di Antico, seperti biasa Clara selalu merasa sulit tidur di tempat baru. Ia duduk di kursi dekat jendela besar yang terbuka, menatap pemandangan dataran tertinggi di Antico yang sunyi. Lampu jalan redup, hanya ada bayangan pohon tua yang bergerak ditiup angin malam. Ketika pintu kamar berderit, Clara refleks menoleh. Adrian masuk kamar tanpa permisi. Ekspresi laki-laki itu selalu datar seolah ingin menunjukkan ia tak memedulikan apa pun yang terjadi di sekitarnya. “Kamu benar-benar tidak tahu artinya privasi, ya?” tanya Clara, suaranya sarkastik. “Kalau kamu lupa, kamu sudah tidak punya hak untuk memiliki privasi sedikitpun,” balas Adrian dingin. Clara membalas ucapan Adrian dengan sebuah decakan pelan. “Terserah kamu sajalah. Mansion ini juga milikmu,” ucapnya malas. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD