Mobil kembali melaju meninggalkan Zona Umbra. Lampu-lampu neon yang semarak perlahan tertelan gelap malam. Di kursi belakang, Clara memeluk erat kanvas besar itu, seolah benda rapuh yang bisa hancur kapan saja. Sementara di sampingnya, Adrian duduk diam, tatapannya lurus ke depan, wajahnya membatu. Keheningan menekan ruang sempit itu. Clara merasa harus bicara, meski suaranya terdengar seperti bisikan. “Kamu… terlihat marah. Apa karena aku memaksa mampir?” Adrian menoleh sekilas, tatapannya tajam tapi samar. “Marah? Tidak. Aku hanya bertanya-tanya… bagaimana mungkin seseorang bisa terobsesi pada bayangan yang bahkan ia tidak tahu apakah nyata atau tidak.” Adrian meremas tangannya di pangkuan, kukunya hampir menancap kulit. Kata-kata Clara menusuknya lebih dalam daripada peluru. Clara m

