Malam sudah lewat jauh ketika Adrian meninggalkan mansion. Hanya sedikit orang yang tahu perjalanannya malam itu, dan tak seorang pun diizinkan mengikutinya. Mobil hitam tanpa tanda khusus membawa Adrian menuju sebuah gudang tua di pinggiran Distrik Antico, tempat yang sudah lama dipakai keluarga Valente untuk urusan rahasia. Di dalam gudang tua itu, bau besi dan debu bercampur dengan aroma tembakau. Lampu gantung redup menggantung di langit-langit, menyinari meja kayu panjang yang penuh bekas goresan pisau. Marco sudah menunggu di sana, berdiri tegak dengan jas gelapnya, wajah serius, seakan tahu pertemuan ini bukan sekadar urusan biasa. Adrian melangkah masuk. Sepatunya berderap pelan di lantai beton, gaungnya terdengar jelas di ruang kosong itu. “Sudah lama menunggu?” tanyanya datar.

