Esok harinya, Adrian menjalankan rutinitas seperti biasanya seakan tidak pernah mengucapkan apa pun pada Clara semalam. Ia duduk di ruang kerjanya, menandatangani dokumen dengan tenang. Clara masuk membawa secangkir kopi, sebuah kebiasaan baru yang diminta Adrian, seolah ia hanya sekadar pelayan di rumah itu. “Letakkan di sana,” ucap Adrian tanpa menoleh. Clara meletakkan cangkir itu di meja, tapi tidak segera pergi. Ia berdiri, menatapnya dengan tatapan campuran marah dan bingung. “Apa kamu selalu memperlakukan orang begini? Membuat mereka bingung apakah kamu peduli atau membenci mereka?” Adrian berhenti menulis, lalu akhirnya mengangkat wajahnya. “Hanya pada orang yang pantas mendapatkannya.” Clara mendengus. “Aku ingatkan padamu, Adrian. Aku tidak akan selamanya jadi boneka untuk p

