Langit Antico malam itu kelam. Angin gunung menderu, membawa dingin yang menusuk sampai tulang. Dari kamar kerjanya, Adrian duduk termenung, jemarinya mengetuk meja dengan resah. Seharusnya ia fokus pada laporan pengkhianatan di tubuh organisasinya, tapi pikirannya berulang kali kembali ke siang tadi. Clara, dengan tubuh rampingnya yang hampir terhempas dari Nero. Bayangan itu terus menghantui. "Kenapa aku begitu panik? Untuk apa aku memikirkan keselamatannya? Harusnya aku membiarkan saja ia menghadapi Nero seorang diri supaya dia sadar kalau dirinya hanya seorang gadis lemah di tanganku," gumam Adrian dalam hati, gusar dengan dirinya sendiri. Ketukan lembut di pintu terdengar. “Tuan…” seorang pelayan menunduk dalam-dalam. “Nyonya Clara… dia tidak ada di kamarnya.” Adrian sontak berdiri

