Cahaya pagi menyelinap masuk lewat celah yang ada di atas atap. Clara membuka matanya dengan kepala masih berat, tubuhnya terasa pegal akibat semalaman tidur di ranjang sempit tanpa kasur empuk setelah insiden gila di tebing. Namun nyeri di tubuhnya justru membuatnya kembali merasakan pelukan Adrian yang begitu kuat tadi malam, pelukan yang lebih mirip belenggu daripada kehangatan. Lebih dari itu, yang tak bisa ia lupakan adalah tatapan abu-abu itu, marah, takut, sekaligus gelisah. Clara menghela napas. “Kenapa aku harus selalu jadi pusat badai hidupnya…” gumamnya lirih. Udara di dalam ruangan yang mirip penjara ini begitu lembab menusuk paru-parunya. Ia masih berada di ruangan pengap ini selama berjam-jam panjang, tempat Adrian meninggalkannya tanpa belas kasihan. Clara meraba kakinya

