Sore yang lembut kembali menyelimuti villa keluarga Valente. Angin membawa aroma mawar liar yang tumbuh di sepanjang pagar batu, bercampur dengan bau cat minyak yang samar-samar tercium dari halaman samping. Clara berlari kecil di koridor panjang villa, gaun putihnya berkibar ringan. Tangannya menggenggam sebuah buku gambar tipis, oleh-oleh yang ia sembunyikan dari ibunya. Sejak pertemuannya dengan Adrian beberapa hari lalu, semangatnya melukis seakan menyala lebih besar. Dari kejauhan, ia mendengar bunyi goresan kuas. Langkahnya melambat, senyumnya mengembang. Ia tahu, Adrian pasti ada di sana. Adrian sedang duduk di kursi kayu panjang, tubuhnya condong ke depan, kuas di tangan bergerak cepat. Kali ini ia melukis wajah seseorang, meski garis-garisnya masih samar. Ada konsentrasi penuh

