Beberapa menit berlalu. Suara baku tembak masih terus menggema di luar rumah. Sementara itu Clara memeluk tubuhnya sendiri yang semakin gemetar ketakutan. Pintu kamar kembali diempaskan. Terdengar langkah kaki tergesa memasuki ruangan.
“Clara? Kamu di mana?” Suara Adrian terdengar sedikit lebih lirih.
Merasa aman setelah mendengar suara yang familier Clara keluar dari persembunyiannya. Selama hampir 20 menit ia bersembunyi di dalam lemari pakaian. Adrian yang melihat kondisi Clara merasa bersalah. Namun ia tak memiliki waktu untuk menenangkan gadis itu. tangan panjangnya terulur untuk segera menarik keluar Clara dari dalam lemari. Tak hanya itu saja, ia juga menarik sebuah mantel berwarna hitam miliknya lalu memakaikannya pada Clara. Dirasa belum cukup melindungi Clara dengan mantel yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya, Adrian berlari ke lemari lain untuk mencari sesuatu.
Beberapa detik kemudian Adrian kembali ke hadapan Clara lalu memaikan topi pandora berwarna senada di kepala gadis itu. “Aku minta kamu tetap tenang dan berjalan dengan langkah hati-hati di belakangku,” ujar Adrian memberi arahan. “Jangan pernah menoleh ke belakang apalagi sampai tertinggal dariku.”
“Kita mau ke mana?” cicit Clara.
“Ke tempat yang lebih aman,” ucap Adrian kemudian mulai melangkah menuju pintu kamar.
Tanpa banyak tanya lagi Clara bergegas mengikuti langkah panjang Adrian supaya tidak tertinggal dari laki-laki itu.
***
Suara langkah-langkah berat bergema dari arah pintu depan rumah. Clara menahan napas, tubuhnya refleks menegang ketika Adrian tiba-tiba berhenti melangkah. Laki-laki itu menoleh ke arah Clara untuk memastikan kondisinya. Ekspresi laki-laki itu menunjukkan ekspresi fokus dan penuh kewaspadaan.
“Mundur!” bisiknya cepat sambil memberi isyarat dengan tangannya.
Clara ingin bertanya, tapi tatapan Adrian sudah cukup membuatnya mengunci bibir. Laki-laki itu melangkah cepat ke arah pintu lorong, lalu menempelkan tubuhnya ke dinding seolah menunggu sesuatu. Meski takut dan tak bisa menahan rasa penasaran Clara mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Adrian. Jantungnya benar-benar berdegup begitu kencang seakan bisa pecah kapan saja.
Pintu depan terbuka lebar. Empat orang pria masuk dengan langkah kasar, wajah mereka tertutup masker hitam, masing-masing memegang senjata. Clara terlonjak kaget, tapi berhasil menahan suaranya. Tangannya refleks menggenggam ujung lengan mantel milik Adrian erat-erat.
Adrian kembali menoleh sekilas ke arahnya, lalu berbisik pelan, “Jangan bergerak, apa pun yang terjadi.”
Clara hanya bisa mengangguk kaku.
***
Salah satu pria bertopeng mendobrak meja kecil dekat pintu hingga pecah berantakan. “Adrian! Kami tahu kamu ada di sini!” suaranya berat dan penuh ancaman.
Adrian melangkah keluar dari lorong dengan tenang, seolah kedatangan tamu tak diundang itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Clara menahan napas, tubuhnya bersembunyi setengah di balik dinding.
“Tidak sopan sekali masuk tanpa izin,” ucap Adrian dingin, suaranya stabil meski situasi begitu menegangkan.
Pria bertopeng yang berdiri paling depan mendengus. “Hentikan basa-basi. Kamu pikir bisa sembunyi selamanya? Malam ini, waktunya kamu untuk membayar semua kekejamanm, dan aku yang akan menjadi sang penagihnya."
Clara merasa darahnya berhenti mengalir. Menagih? Kata itu terngiang di kepalanya. Apa sebenarnya yang disembunyikan Adrian? Kekejaman apa yang telah dilakukan laki-laki itu sampai-sampai harus dimintai pertanggung jawaban dengan cara seperti ini? Banyak pertanyaan yang menari-nari dalam pikiran Clara saat ini.
Adrian tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, lalu melemparkan tatapan tajam penuh tantangan. “Kalau begitu, coba saja.”
Secepat kilat, salah satu pria maju menyerang. Adrian menepisnya, gerakannya begitu cekatan. Pertarungan pecah di ruang tamu. Suara benturan, dentuman, dan teriakan memenuhi udara.
Clara ingin menutup mata, tapi tak bisa. Tubuhnya terpaku, matanya justru terfokus pada sosok Adrian yang bergerak dengan kecepatan luar biasa. Tangannya terampil menangkis, menendang, dan melumpuhkan lawan satu per satu.
Namun jumlah mereka lebih banyak.
Salah satu pria berhasil mengacungkan senjata api ke arah Adrian dari belakang. Clara menahan napas, panik. Tanpa berpikir panjang, ia berteriak, “Adrian! Belakangmu!”
Adrian menoleh cepat, lalu dengan sigap menunduk. Tembakan meleset, hanya menghancurkan vas besar di dekat tangga. Adrian memanfaatkan momen itu untuk membalikkan keadaan, meraih senjata dari tangan lawan, dan menendangnya hingga terkapar.
Clara terdiam, tubuhnya gemetar hebat. Ia baru saja menyelamatkan Adrian… tapi kini ia sendiri yang menjadi pusat perhatian.
Pria bertopeng yang lain menoleh tajam ke arahnya. Clara mundur beberapa langkah, wajahnya pucat.
“Jangan sentuh dia!” suara Adrian menggelegar, penuh amarah. Untuk pertama kalinya, Clara melihat sisi Adrian yang benar-benar kehilangan kendali. Tatapan matanya dingin, nyalang, seolah siapa pun yang mendekati Clara akan berakhir dengan cara yang paling mengerikan.
Ketegangan itu membuat Clara sekaligus takut dan tergetar.
***
Pertarungan berlangsung singkat, tapi brutal. Adrian akhirnya berhasil melumpuhkan mereka semua. Pria-pria bertopeng itu terkapar di lantai, sebagian mengerang, sebagian tidak sadarkan diri.
Suasana hening kembali, hanya tersisa napas berat Adrian dan detak jantung Clara yang terasa menggema di telinganya sendiri. Clara berdiri kaku, kedua tangannya gemetar hebat. Ia ingin berlari keluar dari rumah, tapi kakinya seolah terkunci. Adrian berjalan mendekat. Tubuhnya penuh goresan kecil, keringat mengalir deras di pelipisnya, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah Clara.
“Clara…” suaranya serak.
Clara mundur selangkah. “Apa… apa yang barusan terjadi? Siapa mereka?” suaranya pecah, penuh rasa takut sekaligus bingung.
Adrian berhenti beberapa langkah darinya. Ia menarik napas panjang, lalu menutup matanya sejenak. “Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.”
Clara menatapnya dengan emosi campur aduk. “Kamu… kamu nyaris terbunuh, Adrian! Dan aku… aku…” suaranya tercekat, air mata mulai membasahi pipinya. “Aku tidak mengerti. Kenapa aku harus ada di sini? Kenapa aku harus melihat semua ini?”
Adrian melangkah lebih dekat, suaranya merendah. “Tidak ada waktu untuk menjelaskan apa pun padamu. Intinya kamu sudah menjadi bagian dari semua yang terjadi malam ini.”
Clara menggeleng cepat, tubuhnya mundur lagi. “Tidak! Aku tidak mau jadi bagian dari dunia gila ini! Aku hanya ingin hidup normal!”
Adrian meraih bahunya, menahan agar ia tidak mundur lebih jauh. Sentuhan itu kuat tapi penuh ketegangan. Mata mereka bertemu.
“Berhenti menangis, Clara! Suka atau tidak kamu sudah terikat denganku,” tegas Adrian.
Clara terisak, dadanya naik turun cepat. Ia ingin membenci Adrian, ingin berteriak dan menyalahkannya. Tapi entah kenapa, ada sesuatu di tatapan laki-laki itu yang membuatnya sulit berpaling.
Ketakutan, amarah, dan… sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Kenapa aku, Adrian?” Clara akhirnya berbisik. “Kenapa aku yang kamu seret masuk ke dalam ini semua?”
Adrian menatapnya lama, seakan mencari jawaban di kedalaman matanya sendiri. Lalu dengan suara rendah, ia menjawab, “Karena kamu adalah satu-satunya alasanku hidup seperti ini.”
Clara membeku. Kata-kata itu menusuk hatinya, menciptakan kekacauan baru yang jauh lebih berbahaya daripada para pria bertopeng tadi.
***
Sebelum Clara bisa merespons, suara deru mobil terdengar dari luar rumah. Lampu-lampu kendaraan menyorot masuk melalui jendela besar.
Adrian segera menoleh, ekspresinya kembali tegang. “Mereka belum selesai,” gumamnya dingin.
Clara memucat. “Maksudmu… ada lebih banyak lagi?”
Adrian mengisi kembali amunisi senjatanya, lalu menoleh ke Clara dengan tatapan penuh tekad. “Apa pun yang terjadi, tetap di belakangku. Jangan sekali pun mencoba melawan.”
Clara ingin membantah, tapi suaranya tak keluar. Ia hanya bisa mengangguk, meski tubuhnya gemetar.
Adrian berdiri di depan pintu, menunggu. Dari luar, suara langkah semakin banyak, semakin dekat.
Clara menelan ludah, air matanya belum kering, emosinya masih berantakan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi satu hal pasti, malam itu hanyalah awal dari badai besar yang akan menyeretnya semakin jauh ke dalam dunia Adrian.
Pintu depan kembali bergetar keras, dan suara berat terdengar dari luar. “Keluarlah, Adrian! Kali ini, kamu tidak akan bisa lari.”
~~~
^vee^