Kembali terdengar suara ledakan yang memecah keheningan malam dan nyaris mengguncang fondasi rumah utama Adrian. Kaca-kaca bergetar, lampu gantung berayun liar, dan suara alarm otomatis meraung menusuk telinga. Clara menahan napas, tubuhnya masih gemetar setelah Adrian menyeretnya keluar dari kamar utama beberapa menit lalu.
Peluru berdesing, menghantam dinding marmer yang dulu berdiri megah. Kini, rumah yang selalu ia kenal sebagai tempat paling aman, berubah jadi medan perang. Adrian bergerak cepat, mendorong Clara ke belakang pilar besar di lorong utama. Tatapan matanya dingin, rahangnya mengeras, dan senjata di tangannya menyalak tanpa ragu.
“Tetap di sini. Jangan keluar sampai aku bilang,” ucapnya singkat, nada suaranya seperti baja yang ditempa. “Jika situasi semakin kacau kamu masuklah ke ruangan di balik pintu kayu itu!” titah Adrian sambil menunjuk ke sebuah pintu di belakang Clara dan juga membisikkan kode akses pintu tersebut.
Clara mengangguk, tapi matanya tak lepas dari sosok Adrian yang berdiri di depan, menghadapi hujan peluru seolah tubuhnya tak mengenal rasa takut. Meski ia tak mengerti sepenuhnya dunia lelaki itu, satu hal jelas: malam ini, Adrian bukan hanya melawan musuh, tapi juga melawan sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah ancaman yang berhasil menembus dinding rumah yang katanya tak mungkin ditembus.
***
Di luar rumah, situasi makin kacau. Suara teriakan anak buah Adrian bercampur dengan dentuman senjata berat. Tiba-tiba suara komunikasi internal terdengar di telinga salah satu anak buah Adrian yang tidak selamat. “Gudang senjata di sisi tenggara diserang! Perlu bantuan cepat!” suara itu juga masuk ke telinga Adrian, membuatnya menyipitkan mata.
Adrian tak memberi izin siapa pun bergerak, tapi beberapa orang langsung berlari tanpa menunggu perintah. Mereka meninggalkan posisi pengamanan, menembus kobaran api dan asap pekat menuju sisi tenggara rumah setelah menerima laporan darurat lewat komunikasi internal.
“Siapa yang melindungi Tuan Adrian?” tanya salah satu anak buah Adrian.
“Tuan Adrian masih berada di dalam rumah untuk menyelamatkan Nyonya Clara.”
“Lebih baik kita masuk untuk melindungi Tuan Adrian dan Nyonya Clara,” seru lainnya.
“Marco dan timnya sudah bersiap di dalam. Lebih baik kita bergegas menuju gudang persenjataan. Situasinya akan lebih kacau kalau mereka berhasil menghancurkan tempat itu.” Adrian mengenali suara pria yang memberi titah tersebut. Namun ia tak bisa memberi perintah karena alat komunikasi internal miliknya tiba-tiba kehilangan sinyal.
“Sial!” Adrian menggeram marah, menyadari sesuatu yang tidak beres. Namun ia tidak mencari tahu lebih jauh karena situasi semakin kacau. Dan hanya butuh waktu sebentar sebelum semuanya jadi jelas. Begitu pasukan terpencar, ledakan lain menghantam gerbang depan. Sisa anak buah Adrian terkunci dalam baku tembak di halaman luar. Yang dibaca oleh Adrian dari penyerangan tiba-tiba ini adalah penyerang menggunakan taktik memecah fokus, lalu masuk ke dalam rumahnya.
***
Adrian merasakan desingan peluru lewat begitu dekat di sisi kepalanya. Ia merunduk, menembak balik, peluru tepat menghantam d**a salah satu pria bertopeng yang menerobos masuk. Darah memercik ke lantai marmer putih, bercampur dengan serpihan kaca.
Clara menutup mulutnya dengan gemetar, menahan teriakannya agar tidak memecah konsentrasi Adrian. Jantungnya berdetak kencang, seolah bisa pecah kapan saja. Ia baru sadar, dirinya bukan hanya berada di dalam rumah seorang laki-laki penuh misteri, tapi juga di dalam pusaran dunia yang dipenuhi darah dan pengkhianatan.
Salah satu penyerang muncul dari balik dinding dengan senyum dingin, tatapannya langsung tertuju pada Adrian. Suaranya berat, penuh ejekan.
“Saya merasa terhormat akhirnya bisa bertemu dengan langsung dengan sosok Adrian Valente. Kebanggaan tersendiri bagi saya kalau bisa membereskan Tuan Adrian.”
Adrian berdiri tegak, napasnya stabil meski darah menetes dari luka di lengannya. Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang lebih mirip ancaman. “Kalau aku harus melunasi hutangku, lebih baik aku mulai darimu dulu,” ucap Adrian tanpa sedikitpun rasa takut setelah melihat siapa yang ingin bertemu dirinya dengan cara pengecut seperti ini.
Senjata di tangannya menyalak, tapi penyerang itu cekatan. Mereka beradu peluru di jarak dekat, suara dentuman membelah udara, memantul di dinding rumah yang kini penuh lubang.
***
Clara ingin menutup mata, tapi tak bisa. Ada sesuatu pada sosok Adrian yang menahannya tetap menatap keteguhan, amarah, dan juga luka yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Setiap kali Adrian bergerak, Clara merasa ia bukan sekadar laki-laki yang berjuang untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk melindungi orang-orang yang tak sanggup melindungi diri mereka. Kendati begitu ada satu hal yang tak bisa luput dari pikiran Clara, bagaimana mungkin rumah dengan akses pengamanan seketat ini bisa ditembus?
Adrian sendiri ternyata juga merasakan hal yang sama dengan pikiran Clara. Di sela adu tembak, pikirannya berputar cepat. Ada yang tidak beres. Ada yang membuka jalan untuk mereka. Siapa?
***
Pertarungan makin brutal. Dua penyerang berhasil mengepung Adrian dari sisi kiri dan kanan. Dengan refleks dingin, Adrian mengayunkan pistolnya, menembak ke arah kiri, sementara kakinya menendang meja kayu besar untuk menghalangi tembakan dari kanan. Tubuhnya bergerak seperti mesin perang, tapi di balik setiap gerakan ada kesadaran pahit, ia sendirian.
“Cepat masuk Clara!” teriak Adrian ketika menemukan Clara masih bertahan di balik pilar.
Clara terkejut mendengar suara Adrian yang menggelegar. Tanpa melihat ke sekitar Clara bergegas lari masuk ke ruang persembunyian yang ditunjukkan oleh Adrian. Tepat saat itu salah satu musuh melihat pergerakan Clara. Pria itu langsung mengarahkan moncong pistolnya ke arah Clara. Adrian yang melihat hal itu melompat dari tempat persembunyiannya. Dan peluru yang tadinya diarahkan pada Clara meleset mengenai pundak belakang Adrian.
Adrian balik menyerang sembari bernapas lega karena Clara telah berhasil masuk ke ruang persembunyian tanpa terluka. Pertarungan tak terelakkan lagi. Namun Adrian terdesak dan terluka cukup dalam. Dalam situasi seperti ini Adrian terpaksa mengambil keputusan untuk bersembunyi sesaat di tempat persembunyian Clara daripada harus mati konyol di tangan musuh.
Di sudut ruangan Clara berjongkok, tubuhnya bergetar hebat. Meski takut, ia memberanikan diri meraih sehelai kain dari lantai, lalu menekannya ke lengan Adrian saat laki-laki itu sempat berjongkok di sebelahnya. Tiba-tiba saja ia merasa pernah berada dalam situasi genting seperti ini.
“Kamu berdarah…” bisiknya terbata, napasnya terengah dan matanya mulai berkunang-kunang melihat darah Adrian mulai berpindah ke tangannya.
Adrian menoleh sekilas, tatapannya tajam tapi juga terkejut melihat keberaniannya. Bibirnya menekan garis tipis. “Aku bisa mengatasinya. Fokus saja pada dirimu, Clara.” Ia berusaha keras membuat pertahanan pada tubuhnya sendiri supaya tidak tumbang di saat situasi genting seperti ini.
“Aku tidak bisa hanya diam!” sergah Clara lirih, suaranya gemetar tapi matanya bersinar.
Untuk sesaat, Adrian membeku. Di tengah kekacauan, ia melihat sesuatu yang berbeda pada perempuan itu yakni ketulusan dan keberanian kecil yang membuat dadanya terasa aneh. Sayangnya ia tak punya waktu memikirkan lebih jauh. Bukan karena hanya itu saja, ia juga tidak ingin terlena pada keberanian dan kebaikan hati Clara. Ketika Adrian berdebat dengan hati kecilnya soal Clara, terdengar ledakan dari arah dapur yang membuat lantai bergetar. Musuh terus mendesaknya.
“Mereka datang bukan semata menyerangku. Mereka juga menginginkanmu!” ucap Adrian dengan nada bicara menyesal.
“Menginginkan aku?”
“Maaf,” sesal Adrian.
~~~
^vee^