7. Perlindungan Sementara

1191 Words
Pintu ruang persembunyian Clara bergetar hebat, dentumannya membuat kaca jendela ikut bergetar. Clara terlonjak, tubuhnya menempel pada dinding dengan wajah pucat pasi. Adrian berdiri di depan pintu dengan pistol di tangan, wajahnya setegang baja. “Keluarlah, Adrian!” teriak suara berat dari luar. “Kali ini kamu tidak akan bisa lari!” Adrian menarik napas dalam, lalu menoleh singkat pada Clara. “Ingat yang kubilang. Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi.” Clara mengangguk, meski tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdegup liar, seolah ingin meloncat keluar dari dadanya. Pintu kembali digedor keras. Lalu suara tembakan pertama menghantam gagang pintu, membuat serpihan kayu beterbangan. Adrian merunduk, menarik Clara ke belakang sofa besar. “Merunduk!” desisnya. Clara menahan napas, tubuhnya menekuk, tangannya mencengkeram erat kalung salib kecil di lehernya. Jemarinya membeku, matanya menolak percaya, sementara tubuhnya goyah seperti daun diterpa angin. Detik berikutnya, pintu ruang persembunyian jebol. Empat pria bersenjata masuk dengan cepat, sorot mata mereka ganas. “Temukan Adrian! Jika perlu jangan biarkan dia hidup!” Deru napas Clara makin cepat. Tubuhnya menempel di balik dinding mencoba berlindung di balik bayangan Adrian yang tegak di hadapannya. Tak selang beberapa lami terdengar suara laki-laki dengan nada penuh ejekan. “Keluarlah, Adrian! Kamu pikir bisa sembunyi di balik pintu itu selamanya? Malam ini hutangmu harus kamu bayar dengan nyawamu.” Adrian menarik napas dalam, jemarinya merapat pada pistol yang baru saja direbut dari salah satu penyerang sebelumnya. Tatapan abu-abu gelapnya menusuk penuh fokus, seakan menimbang setiap detik yang berjalan. “Tetap di belakangku,” ulangnya, kali ini dengan nada lebih tegas. Clara menelan ludah, suaranya nyaris hilang. “A… Adrian, mereka banyak. Bagaimana kalau–” “Tidak ada kalau,” potong Adrian dingin. “Selama aku masih berdiri, mereka tidak akan menyentuhmu.” Suara dentuman dari arah luar menggema keras. Clara memekik pelan dan spontan menunduk, sementara Adrian bergerak cepat. “Turun!” serunya, menarik Clara ke lantai dan menembakkan pelurunya tanpa ragu. Suara letusan menggema, kaca jendela pecah, dan perabotan rumah berjatuhan. Tiga pria maju dengan agresif, melindungi pemimpin mereka yang berteriak, “Tangkap hidup-hidup perempuannya! Bos ingin melihat dalam keadaan utuh!” Adrian mendengus muram, peluru berikutnya menghantam bahu salah satu musuh hingga ia jatuh berteriak. “Langkahi dulu mayatku!” bentaknya. Clara gemetar, tubuhnya seakan membeku, tapi nalurinya memaksa bergerak. Ia merangkak ke sisi meja terbalik, berusaha tidak menghalangi Adrian. Hatinya berdebar cepat, tak tahu apakah ia akan hidup melewati malam ini. Dua pria lain maju sambil menembak membabi buta. Adrian membalas dengan gerakan terlatih, berguling ke samping, menembak sekali, dua kali dan salah satu dari mereka tumbang seketika. Adrian tahu, rumah ini sudah tak bisa dipertahankan. Ia harus membawa Clara keluar sekarang juga. Dengan cepat, ia menembak ke arah lampu gantung kristal besar di atas ruangan. Lampu kristal mahal itu jatuh, menimpa dua penyerang sekaligus, memberi jeda beberapa detik. Adrian segera menarik tangan Clara. “Ikuti aku! Jangan lepaskan tanganku.” Adrian kemudian menembak dengan furnitur yang ia tendang jadi perisai darurat. “Ikuti aku, cepat!” perintah Adrian kemudian berlari cepat menuju pintu lebih kecil yang ada di ruang persembunyian. Clara nyaris tersandung saat berlari, tapi tangannya segera ditarik kembali oleh Adrian. Mereka berlari melewati lorong gelap yang tak pernah Clara tahu berujung di mana. Suara langkah-langkah berat musuh menggema, disertai makian dan teriakan. Adrian benar-benar heran karena musuh masih terus mengejarnya. Lorong rahasia tempat penyelamatan darurat ini hanya diketahui oleh tiga orang saja selain dirinya. Tapi orang-orang yang terus mengejarnya itu seolah tahu kemana harusnya ia pergi dalam situasi darurat seperti ini. “Kita mau ke mana, Adrian?” tanya Clara dengan napas tersengal. “Basement!” Adrian memberi aba-aba, matanya terus memantau setiap sudut. “Tapi mereka… mereka terus mengejar kita!” Clara panik. “Kemana anak buahmu, Adrian?” “Aku akan menyelidikanya nanti. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkanmu. Percayalah padaku.” Adrian menoleh sekilas, sorot matanya penuh tekad yang dingin. “Kita tidak akan mati malam ini.” Clara berlari tertatih, tapi genggamannya pada Adrian erat. Mereka melewati lorong panjang yang terasa lembab. Di ujung lorong menuju basement suara peluru meleset ke arah dinding, seorang musuh berhasil menyusul mereka. Wajahnya tertekuk penuh amarah, pistol terarah pada Adrian. “Adrian!” Clara menjerit. Adrian menembak lebih dulu. Pria itu ambruk dengan mata terbelalak. Ketika akhirnya mereka mencapai basement, Adrian mendapati Marco, orang kepercayaannya, sudah menunggu dengan mobil yang mesinnya menderu. Wajah Marco penuh darah dan keringat, tapi matanya tetap sigap. “Cepat, Tuan! Mereka sudah menguasai hampir seluruh rumah!” Adrian mendorong Clara masuk ke dalam mobil, lalu melompat di kursi penumpang depan. Mobil melaju kencang menembus gerbang yang sudah porak-poranda. Clara buru-buru masuk ke kursi penumpang, tangannya gemetar mencoba memasang sabuk pengaman. Marco segera menginjak pedal gas, mobil meraung, menabrak pintu basement yang hingga terbuka lebar. Malam di luar menyambut mereka dengan kebisingan sirine jauh di kejauhan. Clara menoleh ke belakang. Dari jendela, ia melihat rumah megah Adrian, tempat yang seharusnya menjadi benteng terkuat kini dilahap api dan asap tebal. Air matanya mengalir tanpa sadar. Luka batin Adrian makin dalam karena rumah yang selama ini jadi simbol kekuasaan dan kekuatannya hancur. Adrian menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, tangannya menggenggam pistol di pangkuan. Di balik tatapan dinginnya, hatinya berteriak kencang, “Ada yang mengkhianatiku!” Dan ia bersumpah akan mengejar pengkhianat itu hingga akhirat. *** Mobil melesat keluar, ban meninggalkan jejak berasap di jalan berbatu. Di kaca spion, lampu mobil lain segera menyala, mengejar dengan kecepatan gila. Clara menoleh panik, suaranya pecah. “Mereka… mereka mengejar kita!” Kejar-kejaran terjadi di jalan gelap pinggiran kota Valderossa. Mobil yang dikendarai Marco meliuk di antara tikungan tajam, sementara suara tembakan sesekali meledak dari mobil pengejar. Kaca belakang retak ketika peluru menghantam, membuat Clara menunduk sambil menutup telinganya. Clara terdiam, tubuhnya bergetar, matanya menatap Adrian yang begitu dingin, seolah dunia ini hanyalah medan perang baginya. Namun di balik ketegasan itu, Clara melihat sekilas sesuatu beban yang berat, luka batin yang tersembunyi. “Kenapa aku? Kenapa mereka juga menginginkan aku?” Clara bertanya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin. Adrian tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan. “Karena kamu sudah masuk ke dalam hidupku. Dan bagi mereka, itu berarti kamu adalah sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk mengancamku.” Clara menunduk, hatinya serasa terhimpit. Ia tak pernah meminta semua ini, tapi entah bagaimana ia tahu takdirnya sudah terikat pada laki-laki di sampingnya. Suara tembakan kembali terdengar. Adrian menggeram, Marco membanting stir, membuat mobil mereka masuk ke jalan alternatif yang lebih sempit. Lampu mobil pengejar masih membuntuti, tapi jaraknya mulai terpangkas. “Pegangan erat!” Adrian memperingatkan. Mobilnya melompat melewati jalan menurun curam, hampir membuat Clara berteriak. Namun strategi itu berhasil: salah satu mobil pengejar kehilangan kendali dan terguling ke parit, menyisakan hanya satu kendaraan yang masih mengikuti. Marco menginjak rem mendadak, membuat Clara hampir terhempas ke depan. Mobil musuh di belakang tak siap, menabrak pagar besi dengan keras, lalu terbakar. Jalan kembali sunyi, hanya suara mesin mobil yang menderu pelan. Clara terengah, tubuhnya lemas, matanya masih basah. “Kita… selamat?” Untuk pertama kalinya malam itu, Adrian menoleh padanya. Tatapan abu-abunya melembut, walau masih dingin. “Untuk saat ini.” ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD