8. Alasan untuk Tetap Hidup

1447 Words
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah gudang tua dekat Pelabuhan Ferrovia yang merupakan pusat penyelundupan apa pun yang berbau illegal seperti penyelundupan senjata, narkoba, dan dijadikan tempat pertempuran mafia. Marco memarkir mobil, lalu Adrian segera keluar dari mobil. Ia membuka pintu penumpang untuk Clara, menuntunnya keluar dari dalam mobil. Sementara itu Marco menghubungi seluruh tim keamanan yang dimiliki oleh Valente Corp untuk melakukan perlindungan ketat di sekitar tempat persembunyian sementara Adrian. Gudang itu tampak kosong, hanya ada beberapa lampu gantung redup dan aroma debu pekat. Aroma asin laut bercampur minyak menyelimuti suasana malam yang gelap, berkabut dengan suara rantai besi berderak. Daerah ini dikuasai oleh keluarga Valente secara turun temurun. Namun akhir-akhir ini musuh sudah mulai berani mengusik untuk merebut kekuasaan Valente Corp. Adrian berjalan mantap, menekan tombol di dinding. Sebuah pintu baja tersembunyi terbuka, mengarah ke ruang bawah tanah. “Di sini kamu akan aman,” katanya singkat. Clara memandang sekeliling dengan ragu. “Tempat ini… milikmu?” Adrian mengangguk, wajahnya kembali dingin. “Markas sementara. Tidak ada yang tahu kecuali orang-orang yang benar-benar kupercayai.” Clara terdiam. Kata-kata itu justru membuat hatinya berdegup lebih kencang. Apakah ia termasuk dalam lingkaran kepercayaan Adrian? Atau hanya pion sementara dalam permainan berbahaya ini? Clara menatap gudang itu dengan ragu. “Apa tempat ini… benar-benar aman?” Adrian yang sedang menekan tombol di sisi pintu gudang untuk menutup pintunya menatap ke arah Clara. Tatapannya tajam, seolah menembus kegelapan malam. “Jika aku bisa mempercayai orang-orangku. Kalau tidak…” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Clara. “…maka aku sudah dikhianati sejak awal.” Clara terdiam, merinding mendengar kata-kata itu. Di dalam hatinya, ia tahu satu hal pasti bahwa badai yang datang malam ini baru permulaan. Terlebih ketika melihat Adrian melakukan sesuatu pada deretan tombol di samping pintu baja. Clara menebak laki-laki itu sedang mengubah kode akses pintu gudang ini. Namun sebelum sempat Clara bertanya lebih jauh, Adrian meraih lengannya dengan lembut setelah menyelesaikan kesibukannya. Tatapannya menusuk, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Bisa dikatakan seperti pengakuan diam-diam. “Kamu harus tahu satu hal, Clara. Mulai sekarang, hidupmu tidak lagi sama. Dan aku… tidak akan membiarkan siapa pun mengusikmu.” Clara tertegun, bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar. Ia hanya bisa menatap mata Adrian yang penuh luka sekaligus tekad membara. Dan di ruang bawah tanah yang sunyi itu, ia menyadari banyak hal, salah satunya badai yang dimulai malam ini baru saja menyingkap rahasia yang lebih dalam dan tak ada jalan untuk mundur lagi. *** Di sofa panjang dan empuk yang diduduki oleh Clara selama beberapa menit terakhir tak juga membuat gadis itu merasa tenang dan nyaman. Ia masih diselimuti oleh rasa syok akibat baku tembak di rumah Adrian. Sementara itu Adrian yang masih terjaga terlihat menahan amarah dan frustrasi karena musuh tahu lokasi rumahnya. Laki-laki itu berusaha menyembunyikan rasa waswas di balik sikap tenang dan tatapan dinginnya. Meski Adrian telah meminta Clara untuk tidur, tentu saja hal itu menjadi hal paling sulit yang bisa dilakukannya saat ini. Terlebih dengan posisi Adrian yang terlihat siap kapanpun jika musuh menyerang kembali. Laki-laki itu duduk di tengah-tengah ruangan, termenung dengan pistoll di tangannya. Suasana semakin hening dan mencekam karena tak satupun di antara keduanya yang mengawali untuk memulai sebuah obrolan kembali. Sebenarnya Clara ingin merawat luka Adrian. Namun Clara tak memiliki keberanian bahkan untuk sekadar mendekati laki-laki itu. Clara memilih duduk di sofa sembari memeluk lututnya, tubuhnya terbungkus selimut meski ia tidak merasa dingin. Pikirannya dipenuhi suara tembakan, jeritan, darah yang berceceran. Sementara Adrian berdiri tak jauh dari sofa sedang mengganti kemejanya dengan kemeja baru yang tersimpan di gudang tersebut. Menunjukkan bahwa Adrian tak sekali dua kali mengunjungi gudang ini. Clara memperhatikannya diam-diam. Untuk pertama kalinya, ia melihat pria itu bukan sebagai sosok mafia yang dingin, tapi sebagai manusia. Ada luka di sana, tapi bukan hanya luka fisik, sesuatu yang jauh lebih dalam. Namun belum sempat Clara mengutarakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, terdengar suara dering pesawat telepon internal yang terletak di luar ruangan yang menjadi tempat mereka berlindung sementara. Adrian bergegas keluar untuk menerima panggilan telepon itu. Ketika Clara mencoba menyusul laki-laki itu, pintu ruangan sudah tertutup sekaligus dikunci dari luar. Clara hanya bisa pasrah dan menunggu Adrian menyelesaikan kekacauan malam ini. *** Pagi harinya Adrian membawa Clara kembali ke rumahnya. Rumah megah itu kini nyaris porak poranda akibat pertempuran semalam. Suasananya jauh lebih sunyi setelah badai tembakan. Bau mesiu masih tertinggal di udara, bercampur dengan amis darah yang menempel di lantai marmer. Tubuh-tubuh tak bernyawa para penyerang tergeletak, sebagian sudah mulai diseret oleh anak buah Adrian untuk disingkirkan. Clara berdiri kaku di dekat dinding, tubuhnya masih gemetar. Jemarinya dingin, matanya membesar menatap pemandangan yang seperti mimpi buruk. Ia tidak pernah menyangka akan melihat kematian begitu dekat dan menyadari bahwa inilah kenyataan hidup bersama seorang pria seperti Adrian. Kondisi Adrian tampak jauh berbeda dengan keadaan Clara. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, sorot matanya dingin seperti baja. Namun, di balik sikapnya yang tegar, ada sesuatu yang nyaris tak terlihat, kelelahan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Clara tahu laki-laki itu pasti tidak tidur semalaman setelah penyerangan dan pertikaian yang membabi buta. Laki-laki masih terus mencari tahu siapa dalang di balik penyergapan rahasia semalam. Dan bisa Clara pastikan, Adrian akan mengejarnya hingga liang lahat sekalipun. Apalagi Adrian begitu yakin pasti ada orang kepercayaannya yang telah membeberkan rahasia tentang kondisi rumahnya, sehingga musuh bisa dengan mudah membobol rumah Adrian yang memiliki akses pengamanan sangat ketat itu. “Bawa mereka keluar. Jangan tinggalkan jejak,” perintah Adrian dengan suara rendah namun tegas kepada anak buahnya. Beberapa pria berpakaian hitam mengangguk, segera melaksanakan instruksi Adrian. Hanya dalam beberapa menit, ruang tamu itu kembali hening, meski noda darah masih membekas di lantai. Clara tak bisa menahan diri lagi. “Adrian…” suaranya bergetar, nyaris patah. “Sampai kapan? Sampai kapan kita harus hidup begini?” Adrian menoleh pelan. Tatapan kelamnya menusuk, seolah ingin menahan banyak hal yang tidak terucap. “Ini bukan sebuah permainan yang ada awal dan akhirnya, Clara. Dunia ini tidak mengenal kata berhenti.” Clara menggertakkan giginya, air mata kembali mengalir. “Tapi aku bukan bagian dari dunia ini! Aku hanya ingin hidup normal. Kenapa aku harus melihat semua ini?” Adrian melangkah mendekat, jaraknya hanya tinggal beberapa langkah. Suaranya turun, lebih dalam, lebih pribadi. “Karena kamu menikah denganku. Sejak malam pertama, hidupmu terikat dengan hidupku.” Clara mundur satu langkah, menahan tangis. “Kalau begitu lepaskan aku! Kalau aku hanya jadi beban dan sasaran kelemahanmu, lepaskan saja aku!” Adrian mendekat lebih jauh, memojokkannya ke arah dinding. Tatapannya tajam, tapi ada retakan di sana, retakan yang penuh dengan sesuatu yang tak bisa ia akui. “Kamu pikir aku bisa membiarkanmu pergi? Setelah semua ini? Setelah mereka tahu siapa dirimu?” Clara tercekat, jantungnya berdebar. “Jadi aku ini hanya sandera dalam hidupmu? Hanya alat untuk kamu lindungi agar musuhmu tidak menang dalam setiap permainan berbahaya kalian?” Adrian meraih wajah Clara, menangkupnya dengan kasar tapi dengan gemetar, seolah ia sendiri bimbang pada apa yang sedang dilakukannya. “Bukan itu, Clara. Kamu… jauh lebih dari itu,” ucapnya setengah menggeram. Clara membeku, matanya membesar menatap pria itu. Bibir Adrian hanya beberapa inci darinya, napasnya terasa panas di wajahnya. Sesaat, dunia hening. Seolah hanya ada mereka berdua, dengan ketegangan yang hampir meledak. Namun, Adrian menahan diri. Ia melepaskan wajah Clara dengan gerakan cepat, seperti marah pada dirinya sendiri. “Sial!” desisnya pelan, sambil berbalik. Clara menyentuh pipinya yang tadi disentuh Adrian. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya, rasa takut bercampur dengan rasa lain yang bahkan lebih menakutkan. Dan Clara tidak pernah berani mendalami rasa lain itu. *** Kamar utama merupakan kamar yang paling bersih dan tidak tersentuh saat terjadi penyerangan semalam, dibanding ruang-ruang lain rumah Adrian. Adrian meminta Clara untuk tetap berada di kamar itu selagi ia dan seluruh anak buahnya membereskan seluruh kekacauan yang terjadi semalam sekaligus membuat rencana balas dendam. Satu jam berlalu. Saat kembali ke kamar Adrian menemukan Clara tidur dengan keadaan meringkuk lengkap dengan selimut yang menutup hingga leher. Sikap Clara masih menunjukkan bahwa trauma berat masih menghantui pikiran gadis itu. Melihatnya membuat Adrian menjadi merasa sedikit bersalah. Harusnya ia memberikan kebahagiaan lebih dulu pada gadis itu, bukannya rasa takut, sedih dan trauma mendalam. Dan yang terpenting bukan ini tujuan utamanya menikahi Clara. Kalaupun Clara harus merasakan takut, sedih dan trauma mendalam ia bisa pastikan bukan pihak lain yang menyebabkannya, melainkan dirinya sendiri yang menimbulkan perasaan seperti itu dalam diri Clara. “Aku akan dengan sabar menunggumu berada di puncak kebahagiaan hanya untuk merenggut semuanya darimu dan membuatmu merasakan kehampaan yang pernah kamu berikan padaku, Clara Moretti." Senyum sinis, penuh kebencian dan dendam mendalam samar-samar terlukis di wajah tampan Adrian ketika melihat kondisi Clara beberapa jam terakhir. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD