Pagi hari, cahaya matahari menembus jendela besar kamar itu. Clara terbangun dengan kepala berat, bekas tangis semalam masih terasa di matanya. Ia berjalan ke balkon, menghirup udara dingin Antico yang segar, tapi segar itu tak mampu membersihkan keruwetan dalam pikirannya. Suara langkah berat terdengar. Clara menoleh, mendapati Adrian berdiri di ambang pintu balkon. Kali ini ia tampak lebih segar, rapi dengan kemeja abu-abu dan celana hitam. Tapi tatapan dingin itu sama sekali tidak berubah. “Kamu belum turun sarapan,” ucapnya singkat. Clara menyandarkan tubuh ke pagar balkon, menatapnya penuh perlawanan. “Aku tidak lapar.” Adrian berjalan mendekat. “Bukan pilihan.” Clara menyipitkan mata. “Apa semua hal di hidupku sekarang harus kamu tentukan? Bahkan perutku sekalipun?” Adrian mena

