Dengan menaiki taksi online aku kembali ke apartemenku yang masih sama sunyinya dengan kemarin. Tak ada yang bisa ku hubungi, Maya sibuk, Ibuku tak mengenaliku, Brian kembali pada calon istrinya, sedangkan Adri sudah meninggalkanku selamanya. Tak ada yang bisa kulakukan. Bayangan Adri yang berdiri di hadapanku dengan wajah sendu kerap kali membuatku merasa tercekik. Aku seperti penjahat tak berperasaan yang pantas dihujat dan dibenci. Tidak ada tempat bagiku di dunia ini lagi. Aku duduk merenung dalam kegelapan tanpa tahu harus berbuat apa, dan segera seluruh rasa sakit dari kesepian menusuk jantungku. Aku merasa terluka dan terpuruk, hingga berusaha menemukan obat dengan minum wine seperti dulu, hal yang selalu kulakukan saat merasa lelah dengan kehidupan. Kutenggak minuman itu sedikit d

