Aku meninggalkan Jakarta, meninggalkan proses kemoterapiku tanpa mengatakan pada siapa-siapa dan berpikir untuk memulai hidup baru di Surabaya dan melanjutkan pengobatanku di kota ini. Bukan tanpa alasan aku memilih kota ini, karena sesungguhnya kota ini memiliki banyak kenangan. Aku lahir dan besar di sini sampai berusia 6 tahun dan pergi ke Jakarta bersama ibu karena dia ingin bertemu Ayah, tapi siapa yang menduga kalau di kota itulah sumber penyakitnya bermula. Ibu yang berharap bisa bertemu Ayah tiap hari pada akhirnya berhadapan dengan kenyataan pahit kalau ia ditolak. Ayah malah memintanya kembali ke Surabaya dengan fasilitas yang ia berikan, namun ibu menolak dan pada akhirnya ayah enggan memberi ibu uang bulanan selama hidup di Jakarta. Hidup di kota besar terlalu sulit bagi Ib

