Dua hari setelah Ibu menghilang, aku merasa buntu tak bisa berpikir dengan jernih dan tidak mampu terlelap tiap malam. Aku terjaga dan hanya tidur beberapa jam karena berpikir bagaimana nasibnya di luar sementara polisi yang sudah menerima laporan orang hilang masih belum memberikan kabar apa pun. Aku selalu menangis menyesali diri ketika sendiri. Aku memang tak menjadi anak yang baik bagi Ibu dan kadang kala merasa kesal akan semua ucapan juga tindakannya, tapi membayangkan keadaan buruk yang bisa saja ia terima ketika berada di luar rumah membuatku ingin mati saja rasanya. Menjelang dini hari aku berjalan meninggalkan apartemenku dengan mata kuyu, bercampur rasa lelah karena pekerjaan dan segala pikiran yang semrawut memenuhi kepalaku membuatku merasa kalau seluruh tembok sedang menceki

