Bab 6. Ancaman membongkar rahasia

1619 Words
Nuri menatap laju lalang mobil yang melintas di depannya, sedangkan dirinya sendiri saat ini tengah duduk di kursi tunggu dalam halte. Niat tujuannya yaitu menuju rumah yang Gani sebutkan dibangun dekat rumah ibu mertuanya, tapi mendadak ia berubah pikiran karena mengingat Gani pernah mengatakan meminta waktunya untuk membuktikan bahwa rumah itu ada dalam satu Minggu ke depan. Bukan Nuri akan ikut berhenti menyelidiki kejanggalan-kejanggalan tentang sikap Gani, tapi ia hanya ingin mencari bukti itu dengan cara lain. Bukankah di sekitar lingkungan ini dirinya masih memiliki sahabat? Ya, Nuri memutuskan untuk meminta bantuan dari Vanny. Sayangnya saat ini Nuri tidak memiliki nomer ponsel Vanny, jadi ia mutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Begitu bus berhenti, Nuri langsung berdiri dan masuk ke dalam bus. Ia duduk di sisi jendela kaca, memperhatikan jalanan yang padat akan kendaraan. Kalau sebelum ia pulang ke Indonesia, Nuri begitu sudah tidak sabar ingin segera menginjakan kaki di negara ini. Namun, setibanya di sini, Nuri malah memiliki sejuta rasa yang sulit ia gambarkan dalam hatinya. Bukan penyesalan, tapi rasa sakit yang sulit ia lukiskan. Gani, satu nama itu sangat sakit saat Nuri mengingatnya. Setelah berkeliling beberapa saat, akhrinya Nuri menemukan kontrakan cukup nyaman. Isi kontrakan sudah lengkap, membuatnya puas karena tidak perlu membeli perabotan baru untuk mengisinya. Ya, walaupun harganya dua kali lipat dari sewa kontrakan sebelumnya, tapi ia cukup puas karena ia tidak perlu lagi membeli makanan dari luar. "Ini kuncinya ya Mbak," pemilik kontrakan berwajah tembam itu menyerahkan kunci pada Nuri. "kalau Mbak memerlukan apa-apa, bisa langsung hubungi saya." "Terima kasih, Mas." Nuri berucap sambil menerima kunci. Selesai menata semua barang, Nuri merebahkan diri dengan nyaman di atas ranjang. Walau kasurnya tipis dan agak keras, tapi ini masihlah jauh lebih nyaman dari pada berbaring di atas tikar. Namun, rupanya kenyamanan Nuri tidak bisa bertahan lama, dering ponsel dengan layar yang menunjukan nama Gani membuatnya mendengkus kesal. "Ya, assalamualaikum. Ada apa, Mas?" "Waalaikumsalam." Gani menjawab dengan suara tertahan. "Kamu benar-benar keterlaluan, Dek." Nuri bangun duduk, sedikit memiringkan kepala begitu mendengar nada geram dari Gani. Salah satu sudut bibirnya tertarik, puas akan peringatan kecil dari dirinya. Siapa suruh main-main dengannya, Gani salah kalau memanggap Nuri adalah perempuan penurut dan tidak tahu apa-apa. "Maksud Mas Gani apa menyebut aku keterlaluan?" Nuri bertanya seolah dirinya belum tahu apa-apa, padahal apa yang menjadi kemarahan Gani sudah dapat ia tebak. Memangnya apa lagi selain ibu pemilik kontrakan yang menagih sisa uang sewa dan tentang kepergiannya yang mendadak? "Kenapa kamu pergi dari kontrakan ini, Dek? Tidak ijin pula, kamu mau jadi istri durhaka yang pergi tanpa mengabari suami terlebih dahulu?" Gani menyolot marah, bahkan helaan napas kasar sangat jelas dapat Nuri dengar. "Aku cari kontrakan yang lebih nyaman, kenapa?" Nuri menjawab kelewat santai, tidak mempedulikan kemarahan Gani yang sudah diujung tanduk. "'Kenapa' kamu bilang, Dek?" Gani meninggikan suaranya. "Kamu pergi dan suruh Mas yang bayar sisa uang sewa kontrakan. Yang pegang uang kan kamu, mana ada Mas uang segitu banyak buat bayar kontrakan. Cepat kasih tahu di mana alamat kontrakan kamu sekarang, biar Mas susul untuk ambil uang dan buat bayar kontrakan ini! Ibu pemilik kontrakan sudah menagih, ini Mas saja bahkan harus membujuknya lebih dulu hanya untuk menelpon kamu." Nuri tertawa jahat sampai puas dalam hati, memang itu tujuannya. Nuri ingin menunjukan pada Gani tentang siapa di sini yang lebih banyak membawa pengaruh, tapi Gani seolah tidak merasa sudah banyak bergantung pada dirinya. Sedikit pelajaran, itu tidak masalah bukan? Nuri berucap secara internal. "Yang membuat perjanjian dengan ibu pemilik kontrakan kan kamu Mas, kenapa pula harus aku yang bayar? Dari awal aku nyuruh Mas buat langsung pulang ke rumah kita, tapi kamu ngeyel dengan berbagai alasan. Aku tidak mau tahu tentang pembayaran uang sewa kontrakan yang itu, karena sekarang aku sudah menemukan kontrakan nyaman dengan fasilitas lengkap. Bayar saja sendiri, jangan minta uang padaku!" "Gila kamu, Dek!" Gani terengah semakin marah. "makin hari kamu makin ngelunjak, mentang-mentang punya uang sendiri jadi tidak ada sopan santunnya pada suami. Ingat letak surgamu ada dalam Ridho Mas, mau jadi apa kamu di akhirat nanti bila terus membangkang begini?" "Aku ngelunjak dan membangkang?" Nuri tertawa tak percaya. "Terserah apa katamu, Mas. Yang jelas aku tidak mau mengeluarkan uang lagi sebelum rumah dan yang lainnya kamu buktikan benar adanya. Kalau sampai itu semua tidak ada, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kamu, Mas." "Rumah itu ada," Gani menekan ucapannya. "Kenapa sih Dek kamu tidak percaya banget sama Mas? Apa selama ini Mas pernah membohongi kamu? Tidak bukan. Lantas apa yang membuat kamu tidak begitu percaya dan bahkan menyimpan sikap curiga begitu? Mas tersinggung, Dek." "Ya, buktikan dulu ucapan Mas itu. Sudah ya, aku ngantuk. Di sini walau kasurnya tidak begitu empuk, tapi tetap lebih mending dari pada tidur di atas tikar. Assalamualaikum, Mas Gani." tut Nuri langsung mematikan sambungan telpon, tidak mempedulikan Gani yang pastinya masih ingin mengoceh meminta alamat kontrakannya sekarang. Nuri memutuskan untuk membersihkan diri, hari ini ia berencana untuk belanja kebutuhan pribadinya. Di tambah tidak ada bahan masakan apa-apa, membuatnya mau tidak mau harus pergi ke luar belanja sayuran. Selesai dengan dirinya, Nuri pergi ke pusat perbelanjaan. Ia membeli semua kebutuhannya. Waktu ia akan pulang dengan naik taksi, ia malah menjumpai Gani lewat dengan mengendarai motor. Penasaran ke mana Gani pergi, Nuri memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. "Pak ikuti pengendara motor yang memakai jaket warna merah itu!" Nuri berucap sambil menunjuk Gani. Setelah mendapati anggukan dari sang supir, Nuri lantas segera masuk ke dalam taksi. Mau ke mana kamu, Mas? Nuri berucap dalam hati. Nuri menukik kedua alis heran, menatap Gani tidak mengerti yang kini mulai masuk ke dalam gang. Beruntungnya gang ini masih bisa dilewati mobil, hadi dirinya tidak perlu turun untuk mengikuti Gani. "Berhenti, Pak! Kita jaga jarak dari dia," Nuri memberi arahan pada supir agar lekas berhenti dengan posisi mobil yang tidak menarik perhatian orang-orang. Setelah memastikan mobil berada pada jarak aman, Nuri mengalihkan perhatian pada Gani yang sudah turun dari motor. Terlihat Gani menyalami dua orang yang ia temui, bercakap-cakap sebentar lalu berpisah. Nuri tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan, sebab jarak pandangnya tidak memungkinkan. Namun, yang pasti satu hal yang Nuri tangkap, Gani menerima amplop cukup tebal dari dua orang itu. Begitu melihat Gani sudah naik motor dan melewati mobil taksi yang ia naiki, Nuri langsung bersembunyi agar tidak terpergok Gani. Nuri kembali mengangkat kepala setelah tahu Gani sudah pergi. Karena rasa penasaran dalam hatinya belum terpuaskan, Nuri memilih kembali mengikuti Gani. "Lanjut ikuti, Pak!" "Baik," sang supir taksi menjawab sambil mulai melajukan kembali mobil. Nuri menyipitkan mata begitu mendapati Gani berhenti di depan rumah sakit, lalu turun dan satu orang laki-laki datang mengambil kunci motor. Kalau motor yang saat ini Gani naiki bukan miliknya, berarti Gani meminjam dari orang itu. "Apa mau turun di sini saja, Mbak?" Sang supir taksi bertanya. Ia jadi bingung sendiri karena mendapati penumpangnya kali ini seperti tengah mengintai, sedangkan dirinya tidak bisa terus seperti ini karena masih banyak waktu yang bisa ia pergunakan untuk mencari penumpang lain. Syukur-syukur kalau penumpangnya ini membayar ongkos jalan lebih, kalau hanya sesuai tarip jalan kan dirinya yang rugi. Melihat Gani yang masuk ke dalam rumah sakit, Nuri mengangguk mengiyakan pada sang supir. Ia mengeluarkan uang, menyerahkannya pada sang supir. Setelah itu ia turun, dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah sakit sebelum ia kehilangan jejak Gani. Sayangnya saat masuk ke dalam rumah sakit, Nuri benar-benar kehilangan Gani. Ia tidak menyerah, lantas Nuri segera mencari Gani tanpa bertanya pada siapapun. Hingga sampai di depan lift, Nuri melihat Gani masuk ke dalam sana. Tidak mungkin Nuri ikut masuk ke dalam lift, jadi opsi yang ia pilih adalah menaiki tangga darurat. Setelah memastikan Gani akan turun di lantai berapa, Nuri berlari meniki tangga. Begitu sampai di atas lantai, ia bersembunyi di belakang tembok. Kebetulan Gani baru saja ke luar dari lift, membuatnya tidak kehilangan jejak. Nuri kembali mengikuti Gani. Ia mulai tahu ke mana Gani sekarang, sebab Nuri sudah melihat sang ibu mertuanya tengah duduk di kursi tunggu. Begitu Gani datang, ibu mertuanya itu langsung berdiri dan menghampiri Gani. Untuk mencuri dengar, Nuri memilih tembok tidak jauh dari mereka yang bisa menyembunyikan tubuhnya. "Bagaimana uangnya?" Ibu mertua Nuri bertanya. Ia langsung berdiri begitu Gani datang, menengadahkan tangan ke depan Gani. "Atau sudah kamu baya biaya administrasinya?" "Belum Bu," Gani menjawab sambil mengeluarkan amplop dari saku jaketnya. Ia menyerahkannya pada ibunya. "ini aku dapat hasil minjam dari teman." Nuri yang bersembunyi di belakang tembok mengernyitkan dahi, tidak mengerti kenapa sampai sebegitunya Gani bela-belain meminjam uang. Rasa penasaran dalam hatinya semakin kuat, siaa gerangan perempuan yang akan melahirkan itu? "Enggak. Enggak mungkin banget perempuan yang melahirkan itu simpanan mas Gani," Nuri berbisik tak percaya pada dirinya sendiri. "Pasti pikiran aku yang terlalu buruk pada mas Gani." "Loh kok malah minjam? Memangnya si Nuri tidak mau kasih?" Luly--ibu mertua Nuri menatap Gani kesal. Gani menggelengkan kepala, menatap sang ibu sambil menghela napas perlahan. "Nuri tidak mau ngasih uang sebelum rumah dan motor itu ada, dia bahkan mengancam akan melakukan sesuatu bila terbukti rumah dan motor itu tidak ada. Sekarang Nuri pindah dari kontrakan, jadi mau tidak mau aku yang harus bayar sisa sewa uang kontrakan. Ternyata ibu pemilik kontrakan itu sangat licik, dia bilang tidak mau tahu aku harus bayar sisanya." "Loh," Luly menukik kedua alisnya tidak mengerti. "Kok bisa Nuri pindah? Dan kenapa kamu harus mau membayar sisa sewa uang kontrakan bila hanya ditinggali sebentar?" "Ibu pemilik kontrakan itu mengancam akan membongkar rahasia kita pada Nuri bila aku tidak mau membayarnya. Aku pusing Bu, kepala rasanya mau pecah. Mana Nuri tidak mau memberitahukan alamatnya sekarang lagi." "Keterlaluan," Luly berkacang pinggang sambil melengoskan wajah. "Rahasia apa yang mereka katakan?" Nuri berucap pada dirinya sendiri. "Jangan bilang rahasia itu ada hubungannya dengan perempuan yang melahirkan itu." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD