Cukup lama Danu tidak menjawab, Nuri menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat apa telepon ini masih tersambung tidaknya. Ternyata masih, tapi kenapa Nuri tidak menemukan suara dari lawan bicaranya?
"Hallo, Mas Danu masih di sana?"
"Dari suaramu," Danu langsung menjawab pertanyaan pertama Nuri dengan lirih begitu mendengar nada curiga dari suara Nuri.
Nuri berdehem pelan, mencoba menghilangkan dahak yang membuat suaranya serak. Tadi ia sudah berpikir yang tidak-tidak kalau mantan majikannya itu tahu dirinya menagis karena menyembunyikan pelacak di tubuh atau barang bawaannya, tapi begitu tahu ternyata itu dari suaranya, mendadak Nuri merasa malu sendiri. Bodoh karena sudah berpikir terlalu jauh.
"Oh, iya maksudnya mas Danu tahu aku lagi nangis dari suara saya? Ini sudah enggak kok. Ngomong-ngomong ada apa mas Danu nelepon saya?" Nuri berusaha bertanya dengan nada biasa saja, tidak terlalu memperlihatkan kalau baru saja dirinya menangis perih.
"Lio," Danu menjawab singkat.
"Ada apa dengann Lio, Mas?"
"Lio yang menanyakan kamu," mas Danu kembali menjawab lirih.
Nuri mengernyitkan dahi, heran dengan suara Danu yang terdengar pelan. Apa mantan majikannya itu sedang sariawan? Nuri mencoba menerka akan keadaan Danu sekarang.
Terdengar helaan napas kasar yang ke luar, sebelum kemudian suara Danu kembali terdengar. "ya, sudah saya tutup."
klik
Nuri mengerjapkan mata dua kali, lalu menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia melihat layar ponsel yang sudah mati, pertanda Danu benar-benar mematikan sambungan teleponnya.
"Kadang aku gak ngerti apa yang mas Danu ini bicarakan dalam maksud ucapannya," Nuri bergumam sambil menyimpan kembali ponsel ke dalam tas miliknya. "Lio?" Nuri berkata sambil tertawa tak percaya. "mas Danu atau Lio yang ingin nenelponku?"
Saat Nuri melihat tas dengan isi yang berceceran, segera ia membereskannya kembali. Kini tidak ada lagi tangisan, karena baginya cukup menangis untuk melegakan hati saja. Tangisan tidak akan menyelesaikan masalah, dia hanya perlu kuat seperti apa kata ibunya dulu.
Selesai dengan beres-beres, bergegas Nuri menyiapkan diri. Hari ini dirinya akan mengunjungi rumah sang ibu mertua, mumpung mereka tidak ada di rumah. Namun, begitu selesai dengan dirinya, ponselnya kembali berdering, memperlihatkan nomer yang tidak pernah ingin dia lihat.
Nuri mencoba abai, tapi dering itu kembali terdengar. Dengan sedikit kesal ia mengangkat telepon. "Hallo, assalamualaikum. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, Nuri. Apa kabar, Nak?" Suara berat dan sedikit basah dari sebrang telponnya terdengar penuh rindu, bahkan Nuri menyadari ada sedikit Isak di sana. Bukan Nuri tidak tersentuh dan tidak sama rindunya, tapi rasa kecewa dan marah lebih mendominasi saat ini.
"Ada apa telepon?" Nuri bertanya tak acuh.
Terdengar helaan putus asa, mungkin karena menyadari bahwa orang yang saat ini diajaknya bicara masih menyimpan amarah bahkan mungkin dendam. "Bapak rindu sama kamu, Nak. Tidak bisakah pulang sebentar? Rasanya lama sekali kita tidak berjumpa."
"Sudah bicaranya?" Nuri menjawab ketus. "Kalau sudah aku mau matikan, ada urusan."
"Ya sudah, kalau memang Nuri ada urusan, matikan saja. Assalamualaikum." Suara berat dan sedikit basah itu terdengar lirih.
Nuri menggigit bibir bawahnya, menahan desakan berat pada dadanya yang mana itu membuat kedua matanya berat oleh genangan air mata. "waalaikum salam."
Setelah ponsel kembali mati, Nuri menengadah, ia menahan air mata yang lagi-lagi ingin tumpah. Sejujurnya ia juga sangat merindukan laki-laki yang menjadi cinta pertama sekaligus penghancur hatinya yang pertama, dialah seorang laki-laki yang tega membunuh istrinya sendiri dan menghancurkan hati beserta kepercayaan putrinya.
Nuri teramat membenci ayah kandung yang ia panggil bapak itu, tapi ia juga tidak bisa menampik kalau rasa rindu kerap kali membuat dirinya harus menahan diri agar tidak menghampiri dan memeluk laki-laki tua dan ringkih itu.
Nuri benar-benar benci dengan perasaannya sendiri. Ia rindu pada bapaknya, tapi ego dalam dirinya tidak bisa ia pungkiri menang dalam menguasai hati. Andai dulu bapaknya tidak membawa wanita hamil ke rumah, pasti ibunya sampai saat ini masih ada.
Astaghfirullah, Nuri langsung beristighfar dalam hati. Ia merutuki diri sendiri yang mengeluhkan masalah hidup dan matinya seseorang, padahal dia sendiri tahu kalau semua itu sudah ada yang mengaturnya.
Setelah menguatkan hati, Nuri ke luar dengan langkah pasti. Hari ini ia akan mengunjungi rumah ibu mertuanya, ingin membuktikan perkataan Gani tentang rumah dan kendaraan yang ada di sana.
"Eh, kamu Nuri istrinya Gani kan?"
Nuri langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendenga sapaan dari ibu-ibu sebelah kontrakannya. Mengangguk mengiyakan pertanyaan dari sang ibu. "Ya, ada apa Bu?"
"Saya yang punya kontrakan, maaf banget nih kalau harus bicara blak-blakan gini. Gani belum bayar uang sewa kontrakan untuk satu bulan, dia hanya baru ngasih DP seratus ribu. Gimana ini kelanjutannya? Masih ada sisa 900 ribu lagi yang belum dibayar. Gani bilang sisanya akan ia bayar saat istrinya datang, jadi kamu kan yang bayar sisanya?"
Nuri melirik kontrakan yang saat ini ia tinggali, kecil dan dindingnya pun sedikit kusam. Melihat rumah yang tidak begitu bagus, Nuri kira harga sewanya akan murah. Ia tak menyangka ternyata bisa semahal itu.
Tiba-tiba pikiran licik meracuni otaknya, Nuri menyeringai samar begitu satu pemikiran masuk. Ia menggelengkan kepala, membuat wanita yang punya kontrakan mengernyit heran.
"Maaf Bu, saya tidak akan membayar kontrakan ini, hari ini juga saya mau pindah. Mengenai uang seratus ribu yang sudah mas Gani berikan, anggap saja itu uang sewa selama saya tinggal beberapa hari ini. Terima kasih untuk sebelumnya, mari Bu saya masuk dulu mau beres-beres barang."
"Loh," Ibu pemilik kontrakan melongo, tidak menyangka penyewa baru kontrakannya malah memilih pergi. Rugi bandar dia kalau begini caranya. Sudah mah rumah kontrakannya ini lama tidak ada penyawa, eh giliran ada yang nyewa malah mau pergi lagi.
Ini tidak bisa dibiarkan, bisa rugi dirinya. Sang ibu pemilik kontrakan menyusul Nuri yang sudah masuk ke dalam kontrakan, berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang saling meremas gelisah.
"Em, kamu tidak ingin mempertimbangkannya lagi? Cari kontrakan di sekitar sini susah, pada mahal lagi. Karena kontrakan ini sudah yang paling murah, rumahnya bersih, airnya juga bagus. Rata-rata kontrakan di sekitar sini 1,5 juta ke atas, gak sayang apa uang kamu kalau dipaka buat bayar kontrakan segitu mahalnya?"
Nuri yang sedang memasukan semua barang ke tas besar miliknya menoleh singkat, sebelum kemudian meneruskan aktivitasnya. "Saya bukan orang jauh. Sebelum kerja ke luar negri saya sudah mengenal daerah sini, jadi saya tahu kualitas kontrakan yang seperti apa dan harganya berapa."
Diam-diam ibu pemilik kontrakan mencebik, kesal karena ia sudah menyangka perempuan yang dibawa Gani menyewa adalah orang yang tidak mengenal daerahnya. Kalau sudah begini, bagaimana cara dirinya mendapat keuntungan lebih?
Pemikiran licik hinggap di otaknya. Ibu pemilik kontrakan itu menyeringai samar, mengetuk pintu untuk menarik perhatian Nuri. Setelah mendapati Nuri melihat ke arah dirinya, ia melipat tangan di depan d**a dan memasang wajah angkuh.
"Kalau kamu mau pergi dari kontrakan saya, kamu tetap harus bayar sisa uang pelunasannya. Itu sudah menjadi perjanjian antara saya dan Gani, jadi kamu tidak bisa pergi sebelum sisa uang pelunasan itu dibayar."
Nuri kini benar-benar menghentikan aktivitasnya, berdiri menatap ke arah ibu pemilik kontrakan dengan pandangan datar. Menatap balik ibu pemilik kontrakan dengan satu alis terangkat, memasang wajah menantang. "Lunasin?"
"Ya," ibu pemilik kontrakan mengangguk kuat.
"Bukankah itu perjanjian antara Ibu dan mas Gani?" Nuri bertanya dengan menyembunyikan nada mengejek dalam suaranya. Ia menyeringai samar, sangat samar hingga ibu pemilik kontrakan tidak menyadarinya.
"Kami memang berjanji, jadi sebelum pergi bayar dulu sisa uang sewanya! Kala kamu tidak mau bayar, maka barang kamu akan saya ambil." Ancam ibu pemilik kontrakan sambil melirik tas besar di belakang tubuh Nuri. Tatapannya memancarkan kelicikan, jelas saja dalam otaknya sudah tersusun rencana demi menyelamatkan dirinya dari kerugian.
"Tentu saja sisa uang sewanya akan dibayar. Ibu tenang saja, tidak perlu khawatir kalau saya pergi dari sini juga." Nuri menjawab kalem, tertawa jahat dalam hati begitu mendapati wajah sumringah ibu pemilik kontrakan.
"Nah, begitu dong. Jadi saya kan tidak perlu khawatir juga kalau untuk satu bulan ke depannya kontrakan ini kosong, soalnya akan megang uang dari kamu." Ibu pemilik kontrakan menjawab dengan nada ceria. Ia tidak menyangka ternyata penghuni baru kontrakannya akan melunasi uang sewa kontrakan, bahkan ia juga tidak menyangka akan semudah ini mendapatkan uang darinya.
Ah, rezeki memang tidak ke mana. Ucap dalam hati si ibu pemilik kontrakan.
Nuri tersenyum sambil menganggukkan kepala, lanjut beres-beres barang yang akan ia bawa untuk ke luar dari kontrakan. Satu kejutan akan ia suguhkan pada Gani, sebagai hadiah atas pengkhianatan yang ia lakukan padanya.
"Kalau begitu mana uangnya," si ibu pemilik kontrakan menengedahkan telapak tangan pada Nuri, meminta uang yang diharapkan dirinya. Wajah sumringah tidak bisa lagi disembunyikannya, uang 900 ratus ribu sudah menari-nari di depan mata.
Wajah Nuri beriak, ia berdiri dan menyampaikan tas besar pada pundaknya. Lanjut ia mengambil tas kecil, lalu menatap si ibu pemilik kontrakan dengan satu alis terangkat. Ada senyum samar dalam bibirnya, berjalan mendekat ke arah si ibu pemilik kontrakan.
"Ibu waktu itu membuat perjanjian dengan siapa?" Nuri bertanya setelah dirinya berdiri di depan si ibu pemilik kontrakan. "Sama saya atau mas Gani?"
"Gani lah," si ibu pemilik kontrakan menjawab walau ia sedikit kebingungan dengan pertanyaan dari Nuri. Ia sudah mengatakannya di awal, tapi ia tidak tahu maksud pertanyaan dari Nuri barusan yang seolah mengulang ingin mempertegas sesuatu.
Nuri tertawa pelan, menatap si ibu pemilik kontrakan dengan pandangan penuh makna. Nuri mengeluarkan satu kunci dari dalam tas miliknya, lalu mengulurkan tangan dengan kunci dalam genggamannya.
"Saya titip kunci ini untuk mas Gani, tolong ya Bu."
"Loh, Gani gak ikut pindah?" Si ibu pemilik kontrakan bertanya dengan kedua alis menukik bingung. "Kok kuncinya kamu suruh saya berikan pada Gani? Maksud kamu ini apa? Saya hanya meminta uang yang seharusnya menjadi milik saya, yaitu sisa sewa yang 900 ratus ribu."
"Bukankah Ibu membuat perjanjian tentang biaya sewa uang kontrakan ini dengan mas Gani? Jadi urusan masalah sisa sewa uang kontarkan juga dengan mas Gani. Saya tidak ada sangkut pautnya, akan lebih baik kalau Ibu bicaraan langsung tentang uang sisa sewa kontrakan itu dengan mas Gani. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum." Nuri melenggang pergi, mengabaikan ekspresi si ibu pemilik kontrakan yang melongo tidak habis pikir.
Begitu Nuri sudah berjalan jauh, barulah si ibu pemilik kontrakan sadar dari rasa tidak percayanya. Sialan, kalau begini jadinya ia harus bertemu dengan Gani untuk menagih uang.
"Tapi Gani pasti bayar kan?" Si ibu pemilik kontrakan sedikit berteriak, sebab Nuri sudah berjalan agak jauh.
Nuri menoleh, mengangguk mengiyakan membuat si ibu pemilik kontrakan berwajah sedikit lega. Biarkan Gani membayar uang sewa kontrakan ini, tambah-tambah pusing sekalian pikirannya akibat memikirkan uang yang harus ia bayarkan ke sana-sini. Nuri bukan jahat, tapi ia mau lihat sejauh mana suaminya itu akan bertahan dalam situasi sulit yang ia ciptakan sendiri.
Sedangkan Nuri, ia sudah tahu ke mana sekarang tujuannya. Ia akan mengejutkan Gani, tidak peduli Gani akan marah atau tidak. Yang jelas saat ini sebelum ia menemukan kebenaran siapa yang melahirkan itu sehingga membuat Gani gelisah, ia akan menyelidikinya terus. Nuri curiga, jangan-jangan selama ia bekerja di luar negri diam-diam tanpa sepengetahuannya Gani sudah menikah kembali.
Kalau sampai itu semua terjadi, lihat saja apa yang akan ia perbuat pada Gani dan selingkuhannya itu. Nuri bertekad kuat dalam hati.
***