Bab 4. Permasalahan tentang uang

1723 Words
Melihat Gani sudah menutup sambungan telponnya, buru-buru Nuri kembali ke tempat duduknya semula. Ia berpura-pura tidak mengikuti dan mendengar semua percakapan Gani di telpon, Nuri bersikap seolah biasa saja seperti tadi. Begitu mendekati Nuri, wajah Gani terlihat gelisah. Ia berkali-kali mencuri pandang padanya, tapi tidak ada satu patah katapun yang keluar. Ia menghela napas, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Nuri melirik Gani yang baru saja mendudukkan diri di sampingnya, diam-diam memperhatikan raut wajah Gani yang kusut. Nuri memejamkan mata, ingin menolak tentang satu kelebat pikiran meruacuni otaknya. Tidak mungkin kalau yang melahirkan itu selingkuhan atau bahkan sudah menjadi istri simpanan Gani saat ini, jelas tadi Nuri mendengar Gani menyebut 'bu'. Berarti yang tadi menelpon Gani adalah ibu mertuanya, lantas kalau bukan selingkuhan Gani siapa? Nuri tahu kakaknya Gani sudah di steril, jadi tidak mungkin hamil lagi. "Mas Gani angkat telepon dari siapa barusan?" Akhirnya Nuri melayangkan pertanyaan yang mengganjal dalam hatinya itu. Ia ingin tahu, penasaran dengan apa yang membuat wajah kusut suaminya ini. "O-oh, itu ibu Dek." Gani menjawab agak gugup. Berkali-kali ia mengusap tengkuk, seperti orang tengah kebingungan. "Kenapa ibu menelpon?" Gani menunduk, pandangan matanya bergerak gelisah. Ia langsung mendongak dan menatap ke arah Nuri dengan pandangan penuh permohonan. "ibu masuk rumah sakit Dek, beliau darahnya naik lagi. Mas butuh uang buat biaya, apa Adek mau memberikannya?" Nuri tersenyum kecut, ternyata Gani membohonginya. "Ya sudah, ayo kita sama-sama ke rumah sakit sekarang. Lagi pula setelah kepulangan aku dari luar negri, sepertinya kalau bukan aku yang menemui ibu dan mbak Alya, mereka tidak akan pernah mau mendatangiku lebih dulu." Gani langsung menahan tangan Nuri yang hendak berdiri, membuat Nuri mengernyitkan dahi bingung. Melihat wajah kebingungan Nuri, buru-buru Gani menarik tangannya. Ia tersenyum merasa bersalah, menghindar bersitatap langsung dengan Nuri. "Kamu kan masih capek, jadi lebih baik istirahat saja di sini. Biar Mas saja yang ke rumah sakit, setelah keadaan ibu nanti membaik kita sama-sama tengok ke rumah. Bagaimana, apa kamu setuju?" Gani bertanya sambil menatap sesekali ke arah lain. Ia terlihat sekali sangat takut kalau Nuri menolak dan tidak memberinya uang, mau bagaimanapun yang saat ini sangat ia butuhkan adalah uang Nuri. "Kalau begitu silahkan Mas pergi sendiri," Nuri berucap enteng, membuat senyum lega hadir di bibir Gani. Nuri menekan hatinya, mencoba tidak meluapkan emosi saat ini juga. "Tapi jangan harap aku mau ngasih kamu uang, Mas. Tingkahmu sangat mencurigakan, semua uang kiriman aku selama ini juga belum terlihat bentuknya. Jadi dengan alasan apa kali ini aku juga harus percaya padamu?" Senyum lega di bibir Gani perlahan surut, ia menatap Nuri kecewa. Kenapa susah sekali membujuk istrinya ini? Gani menggeram dalam hati. Ia sudah kebingungan, ibunya juga pasti menungguinya di rumah sakit saat ini. Berharap dirinya membawa uang untuk biaya persalinan. Akh, kenapa jadi kacau seperti ini? Lagi-lagi Gani menggeram dalam hati. Padahal sebelum kepulangan Nuri ke Indonesia semu masih baik-baik saja, sekarang setelah istrinya ini pulang semua jadi tidak terkontrol. Dirinya mengemis-ngemis pada Nuri, seolah dirinya adalah laki-laki miskin dan tidak punya harga diri. Padahal dirinya ini imam, seseorang yang berhak atas diri Nuri. Gani lupa kalau seseorang bisa menjadi imam tatkala semua perbuatan dan tindakannya tidak melenceng dari ajaran agama. Nuri tau akan hal itu, sudah menebak sedikit banyak tentang kelakuan Gani di belakangnya selama ia bekerja di luar negri. "Kamu egois Dek, mentang-mentang kamu yang memiliki uang. Apa kamu sudah tidak menganggap Mas ini imam dan suami kamu? Kenapa kamu tidak bisa menurut dengan semua yang Mas ucapkan barusan? Kamu seolah mencurigai Mas, memangnya Mas selama ini salah apa padamu?" Gani meluapkan kekecewaannya seolah yang bersalah di sini adalah Nuri. Ia tentu tidak akan pernah mau menyalahkan dirinya karena baginya ia adalah laki-laki yang berhak atas diri Nuri. Nuri tertawa tak percaya, menatap Gani seolah suaminya itu adalah jelmaan manusia tidak punya malu. "Kamu tidak salah dalam berbicara?" "Mas berbicara apa adanya?" Gani menjawab lugas, penuh percaya diri, bahkan sama sekali tidak menunjukan raut rasa bersalah sama sekali setelah menuduh Nuri yang salah di sini, padahal jelas Gani tahu yang mencoba membodohi di sini adalah dirinya. Karena Gani sendiri yang mengatakan dirinya egois, maka Nuri akan menjelma menjadi orang egois. Ia melipat tangan di depan d**a, menatap Gani dengan pongah. "Kalau begitu silahkan kamu pergi sendiri. Dia ibumu, bukan ibuku. Jadi jangan meminta uang aku buat biayain pengobatannya, puas kamu Mas?" "Ibu Mas, ibu kamu juga Dek. Kenapa jadi begini?" Gani menatap Nuri tak percaya. "Pernahkan ibu menganggap aku menantunya selama ini? Tidak Mas. Hingga setelah keberangkatan aku ke luar negri, barulah ibu kamu mulai bicara dengan lembut itu pun karena aku mengirimnya uang. Sebelumnya jangankan mengajak aku bicara, menoleh saja tidak kalau kita pas ketemu di jalan. Ibu tidak pernah suka aku, dia kerap kali memusuhi. Ibu kamu tidak pernah mau menerima aku, itu kah yang Mas barusan bilang ibu Mas ibu aku juga?" Nuri membalas ucapan Gani dengan sama marahnya. Ia tidak suka Gani berbicara seolah uangnya sangat berhak di pakai oleh ibu mertuanya, sedangkan ibu mertuanya itu hanyalah menganggapnya ada saat dirinya punya uang saja. Gani menggertakan gigi dengan marah. Bukan seperti ini rencananya, tapi kenapa malah membuat dirinya tidak berkutik. Seharusnya setelah mendapat gertakan barusan dari dirinya, Nuri meminta maaf karena merasa bersalah sudah berlaku kurang ajar pada suaminya. Terlampau kesal, Gani berdiri dan menghampiri tas Nuri yang dibawanya dari luar negri. Tanpa permisi ia langsung mengambil tas, membuka resleting untuk mencari uang di dalamnya. Nuri yang melihat kekurang ajaran Gani langsung menghampirinya, mencoba menahan apa yang akan Gani lakukan. Kurang lebih Nuri tahu apa yang diinginkan Gani dari tasnya, tentu saja uang memangnya apa lagi. "Kamu mau ngapain, Mas? Jangan lancang!" Nuri menggeram marah, menarik tas dari tangan Gani. Namun, karena tenaganya yang kalah jauh dari tenaga Gani, Nuri tidak berhasil menarik tas miliknya. Gani melirik Nuri sinis, "tentu saja mencari uang. Jangan coba menglanagi Mas, mau durhaka kamu?" Sadar dirinya tidak akan menang, Nuri menghentikan aksinya dalam merebut tas. Ia hanya diam saat Gani membongkar tas miliknya, mengeluarkan semua isi di dalamnya ke lantai. Diam-diam Nuri menyeringai begitu Gani tidak menemukan apa-apa kecuali baju-baju dan barang tidak penting lainnya, puas karena sebelumnya ia sudah antisipasi dengan menyembunyikan harta berharga milikinya. Gani menghempaskan tas ke lantai, menata Nuri dengan nyalang. "Di mana kamu menyembunyikan uang kamu, Dek?" Mendengar nada cukup tinggi yang Gani ke luarkan, Nuri langsung menatapnya tajam. Gani sedikit tersentak, tapi itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum ekspresinya normal kembali. "Kamu menanyakan uang padaku, Mas? Gak salah? Memangnya itu uang siapa? Uang aku kan. Sebelum rumah, motor, dan semua uang aku yang dikirim padamu belum jelas sekarang ada di mana, maka jangan harap kamu akan mencicipi uangku lagi Mas. Camkan itu!" Gani mengerang frustasi, mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ia menatap Nuri dengan pandangan geram. "Rumah dan motor itu ada Dek di ruamh ibu, kenapa sih kamu gak percaya banget? Juga masalah uang yang raib karena tokonya digusur, itu Mas tidak pernah berbohong. Kalau kamu tidak percaya, ayo kita samperin teman Mas yang tokonya juga sama kena gusur." "Baik, ayo." Nuri langsung menyanggupi ajakan Gani barusan, membuat Gani terbelalak terkejut. "Ta-tapi nanti, setelah Mas pulang dari ruamh sakit." Gani menjawab terbata. Ia tidak menyangka Nuri akan langsung mengiyakan ajakannya barusan. Bodohnya dirinya, seharusnya tidak mengatakan hal barusan. Sekarang terpaksa Gani harus mengatur ulang rencana, karena pastinya sang ibu di rumah sakit sudah menunggu dirinya dan tentu saja uangnya. Ah, ribet sekali. Gani merutuk dalam hati. "Kenapa harus di nanti-nanti, bukannya lebih cepat itu lebih bagus?" Nuri menyeringai sambil melipat tangan di depan d**a. Gani membuka mulut, tapi kembali menutupnya. Setelah terdiam beberapa saat, barulah ia membuka suara dengan nada sedikit menggertak. "Kamu kan tahu sekarang ibu lagi di rumah sakit. Ibu prioritas Mas sekarang, kalau ada apa-apa sama dia bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?" Nuri sedikit memiringkan kepala, "kenapa jadi aku yang tanggung jawab? Aku tidak membuat ibu sakit, jadi alasan apa yang membuat kamu mengatakan aku harus tanggung jawab kalau ada apa-apa sama beliau?" Baru saja Gani ingin menjawab perkataan Nuri, sebuah dering telepon kembali masuk. Gani melihat layar ponselnya, lalu menyimpannya kembali tanpa mengangkat panggilan itu. Gani menoleh ke arah Nuri dengan pandangan penuh pengertian. "Kalau kamu masih mau berbakti dan menghormati Mas sebagai suami, tolong mengertilah. Mas butuh uang itu sekarang, Dek." Nuri membuang wajah, jujur saja hatinya begitu sakit melihat Gani yang mati-matian menginginkan uangannya. "Aku tidak mau mengerti, Mas. Silahkan kamu pergi, lihat kondisi ibu kamu itu. Selain Mas, bukankah ada mbak Alya juga. Minta saja uang padanya, jangan meminta uang padaku." Andai Nuri tidak tahu bahwa Gani berbohong, ia tidak akan sekeras ini padanya. Untuk ibu mertuanya, ia sama sekali tidak akan susah mengeluarkan uangnya walau selama ini sang ibu tidak pernah menganggapnya. Karena bagaimanapun, ibu mertuanya itu sudah ia anggap ibu sendiri. Namun, ia tahu bahwa Gani menginginkan uangnya bukan untuk berobat sang ibu, Nuri curiga uang itu untuk selingkuhan Gani. Ya Allah, sungguh sakit. Nuri meratapi nasibnya sendiri. Secepatnya ia akan menyelidiki kecurigaannya pada sang suami, agar secepatnya pula ia menentukan langkah apa yang akan ia ambil ke depannya. Apa pun itu, Nuri hanya bisa berharap kalau apa yang akan ia pilih nanti adalah yang terbaik bagi semua orang. Gani melirik Nuri kecewa, sebelum kemudian ke luar dari rumah kontrakan yang ia sewa baru-baru ini setelah kepulangan Nuri dari luar negri. Mungkin begitu sampai ke rumah sakit, Gani hanya akan mendapat omelan dari sang ibu. Ini semua karena Nuri, kenapa Nuri bisa jadi sepelit ini? Gani mengerang frustsi secara internal. Setelah kepergian Gani, Nuri menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia menangis tersedu, rasa sakit hati itu menjalar dalam dadanya. Dulu ibunya meninggal karena serangan jantung setelah mengetahui sang ayah membawa perempuan hamil ke rumahnya. Nuri benar-benar membenci seorang pengkhianat, karena secara tidak langsung mengingatkannya pada sang ayah yang sudah menyebabkan sang ibu meninggal dunia. Di saat Nuri menangis pilu, ponselnya berdering. Awalnya Nuri mengabaikan panggilan itu, tapi rasa penasaran membuatnya menyerah dan mengambil ponsel miliknya. Begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya, alis Nuri menukik heran. 'Mas Danu' Nuri menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel pada telinganya. Dengan suara serak , Nuri menjawab penelpon. "Hallo, mas Danu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Cukup lama Danu tidak bersuara, hingga akhirnya terdengar lagi yang di mana langsung mengejutkan Nuri dengan perkataannya. "Indah ... jangan menangis!" Suara Danu terdengar lembut dipendengaran Nuri. "Ba-bagaimana bisa mas Danu tahu kalau saat ini saya tengah menangis?" Nuri bertanya dengan tidak menyembunyikan keterkejutan pada suaranya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD