Nuri mendongak ke arah seorang wanita yang baru saja memanggilnya, sedikit tidak menyangka akan bertemu dengan sahabat baiknya di sini.
"Vanny? Iya, ini saya Nuri Van." Nuri berdiri, menerima pelukan Vanny sebentar. "Kamu apa kabar? Makin cantik aja yang sudah jadi nyonya Pandu Winato."
Pipi Vanny bersemu, tersipu malu dengan guyonan Nuri. Dia berdehem singkat untuk menetralkan k*********a, lalu mengajak Nuri untuk kembali duduk di kursi.
"Saya baik, lalu kamu juga apa kabar? Lama tidak jumpa, sekarang malah makin cantik dan bersih saja. Kalau tidak salah, sudah dua tahukan kita tidak ketemu?" Vanny menghitung dengan menggulirkan matanya ke atas, mengingat-ngingat kapan terakhir kalinya dia dan Nuri bertemu.
"Seperti yang kamu lihat, saya baik. Ya, kita memang sudah dua tahun tidak bertemu. Saya kerja di Singapura, terpaksa jadi TKW demi mengubah nasib Van," Nuri menjawab dengan perasaan sedikit sedih.
Vanny adalah teman SMA-nya dulu. Di saat semua orang menjauhinya karena tahu kalau dirinya hanya anak orang miskin yang bahkan sudah tidak mempunyai ayah dan ibu, hanya Vanny-lah yang mau berteman dengannya. Pertemanan mereka berlanjut hingga dewasa, tapi sayangnya Nuri dari awal tidak seberuntung Vanny yang dapat melanjutkan pendidikan.
Vanny mengangguk mengerti. Dia juga memang sempat mendengar kalau sahabatnya ini kerja ke luar negri, tapi sejujurnya tidak pernah menyangka kalau menjadi TKW. Padahal dulu dia pernah menawarkan kerja di perusahaan tekstil ayahnya, tapi dengan sopan Nuri menolak karena tahu ayahnya tidak akan setuju.
Ya, Vanny memang ditentang oleh kedua orang tuanya untuk berteman dengan orang-orang semacam Nuri, miskin dan tidak punya apa-apa. Namun, Vanny tentu saja tidak sepicik kedua orang tuanya. Melihat ketulusan yang terpancar dari mata Nuri, Vanny diam-diam masih suka menjalin pertemanan dengan Nuri di belakang kedua orang tuanya bahkan sampai sekarang. Beruntungnya suaminya sekarang tidak melarang dirinya berteman dengan Nuri seperti kedua orang tuanya.
"Gimana keadaan suami kamu? Kamu sudah cerai ya?"
"Hah?"
Vanny membenarkan letak posisi duduknya agar lebih condong ke arah Nuri. Mengeluarkan ponsel canggih dari dalam tas tangan yang dia bawa. Setelah mengotak-atiknya sebentar, ia menyodorkannya pada Nuri.
Nuri yang tidak begitu mengerti menerima ponsel yang di sodorkan sahabat baiknya ini. Saat ia melihat apa yang ada di dalam ponsel, saat itu juga ia melotot terkejut.
"Itu Gani suami kamu bukan sih? Kok bisa ya dia poto dengan perempuan lain? Makanya aku kira kalian sudah cerai, terus Gani menikah lagi dengan wanita itu."
Nuri belum menjawab pertanyaan dari Vanny, dia memilih membuka profil perempuan bernama Paramita itu. Setelah di buka, ia secroll ke bawah. Betapa terkejutnya Nuri saat melihat ada begitu banyak poto-poto perempuan bernama Paramita dan Gani suaminya yang terlihat mesra, bahkan dengan caption 'selalu bahagia'. iyuh.
Apa-apaan mas Gani? Nuri membatin marah.
Melihat reaksi Nuri yang terkejut dan seolah tidak menyangka akan melihat hal seperti itu, Vanny menyimpulkan kalau Nuri masihlah berstatus istrinya Gani. Ia meringis, berarti selama ini Nuri banting tulang kerja di luar negri, sedangkan suaminya malah enak-enakan dengan perempuan lain. Sungguh, Vanny hampir tidak bisa membayangkan bagaimana kalau apa yang menimpa Nuri juga menimpa dirinya.
"Nuri, sata ... " Vanny bahkan sampai kehilangan suaranya saat melihat wajah merah dengan mata berkaca-kaca Nuri. Perasaan rasa bersalah langsung menyerangnya. Seharusnya tadi dia bertanya dulu sampai jelas, bukan malah nunjukin sesuatu yang bisa saja ternyata salah paham.
"Ini benar mas Gani, lalu siapa perempuan yang ada di sampingnya ini?" Bukan Nuri bertanya pada Vanny, tapi lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri. Tak dikira sesaknya hati Nuri sekarang bagaimana. Suami yang ia kira setia ternyata bisa berfoto semesra itu dengan perempuan lain.
Apa yang sebenarnya kamu lakukan di belakangku, mas Gani? Nuri berkata secara internal.
Satu bulir aur mata jatuh, buru-buru ia menghapusnya. Pandangan matanya tetap ke bawah, ke arah layar ponsel yang memperlihatkan Gani tengah merangkul seorang perempuan berbaju kurang bahan dengan senyuman lebar.
Nuri menoleh ke arah Vanny begitu ponsel di tangannya diambil. Ia kembali menunduk, menyembunyikan kemarahan bercampur luka yang pastinya tampak jelas terlihat dari dalam matanya.
"Kamu gak perlu lihat postingan ini lagi, Nuri. Ini belum tentu mereka adalah pasangan, bisa saja saudara atau teman." Nada suara Vanny terdengar ragu, walau begitu dia tetap berusaha menyakinkan Nuri untuk tidak dulu berpikir macam-macam. "Lebih baik kamu tanyakan secara langsung pada suamimu. Minta penjelasan padanya dan maaf bila saya sudah menunjukan foto ini barusan sama kamu. Sungguh, saya tidak punya niat untuk memanas-manasi rumah tangga kalian."
Nuri tersenyum sambil mengangguk. "Seharusnya kamu tidak perlu minta maaf, justru dengan adanya foto ini saya bisa cari tahu kelakuan suamiku selama ini. Jangan merasa bersalah, saya sangat berterima kasih Van."
Vanny memasang wajah sedih, menggenggam dengan erat satu tangan Nuri yang ada di atas meja. Sungguh dia akan sangat kasihan sekali kalau sampai benar suami sahabat baiknya ini berlaku curang di belakang. Nuri sudah cukup menderita dari semenjak kedua orang tuanya meninggal, lalu hidup dengan paman yang bibinya tidak menyukai Nuri.
Nuri balas memegang tangan Vanny. Kalau boleh dibilang iri, sesungguhnya Nuri sangat iri dengan kehidupan Vanny. Vanny adalah anak orang kaya, dari kecil di kelilingi orang-orang yang sayang padanya. Setelah menikah suaminya pun sangat mencintai dirinya, tapi Nuri sadar diri siapa dirinya sampai harus iri pada orang sesempurna Vanny. Diijinkan menjadi sahabatnya saja sudah lebih dari cukup, Nuri mensyukuri akan hal itu.
"Ini Neng bakso uratnya," si abang bakso mengantarkan pesanan Nuri tadi, hingga membuat pegangan tangan antara Nuri dan Vanny langsung terputus.
"Makasih Bang," Nuri berucap agak serak.
"Sama-sama Neng."
"Mau makan bareng?" Nuri menawari Vanny.
"Tidak, terima kasih. Saya juga sudah pesan, kok."
Tidak lama pesanan Vanny datang, keduanya makan bersama sambil sesekali bercerita. Sangat hangat, Nuri bahkan lupa kapan terakhir kali ia bisa makan bakso setelah menikah dengan Gani dulu.
"Kamu tinggal di dekat sini ya, Van?" Nuri bertanya sambil memasukan satu suap bakso bulat ke dalam mulutnya.
Vanny mengangguk santai, membelah bakso menjadi dua. "Iya, rumahku tidak jauh dari sini. Kapan-kapan kamu mampir ya."
"Saya usahain," Nuri meringis kecil.
Vanny hanya mengangguk, tidak ada niatan untuk memaksa. Terakhir kali dulu berkunjung ke rumahnya, Nuri memang mempunyai kenangan sangat menyakitkan. Ibunya mencaci maki Nuri, menganggap Nuri hanya benalu yang bertopeng sahabatnya saja.
"Ngomong-ngomong apa sudah ada kabar dari kakak laki-lakimu yang pergi itu," Nuri bertanya setelah menelan bakso terakhir, mendorong mangkuk dan meminum teh yang sudah disediakan si abang tukang bakso.
Dulu Vanny sering curhat padanya tentang sosok kakak laki-laki beda ibu. Laki-laki dingin yang tidak pernah menganggap keluarganya ada. Terakhir Vanny mengatakan kalau Kakaknya itu nekat pergi dari rumah.
"Kak Aji memang dapat dihubungi, tapi terakhir kali datang ke sini malah bertengkar lagi dengan mamah. Maklumlah mungkin mamah takut kak Aji ngambil alih perusahaan, secara dia anak dari istri pertama papah."
Aji, nama itu mengingatkan Nuri pada sosok majikan dinginnya di Singapura. Fardanu Aji Waluyo. Nama yang sangat pasaran, pikirnya sambil terkekeh geli.
"Sekarang dia ada di Singapura, kerja sendiri, punya perusahaan sendiri." Vanny melanjutkan.
"APA?"
"kenapa kamu kayak terkejut gitu?" Vanny bertanya heran.
Nuri menggelengkan kepala, lalu lanjut memakan bakso lagi. Bisa saja nama mereka sama, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Lagi pula, bukankah majikannya itu sudah mempunyai seorang anak, sedangkan kakak Vanny setaunya adalah pria singgel dan belum menikah.
Ini memang agak aneh. Nuri hanya tahu kalau Lio adalah anaknya Danu, tapi sejujurnya ia tidak pernah tahu siapa mantan istri Danu. Selama dua tahun kerja di sana, Nuri sengaja tidak mencari tahu karena memang tidak mau dianggap mencampuri urusan sang majikan.
"Van, saya duluan ya. Bakso saya sudah habis, takutnya mas Gani pulang. Dah," Nuri melambaikan tangan, lalu beranjak bangun dan pergi setelah mendapat balasan lambaian dari Vanny.
Begitu Nuri sampai di ruma kontrakan, dia mendapati Gani sudah duduk di kursi yang terdapat di depan pintu. Mengingat foto mesra Gani dengan wanita lain di ponsel Vanny tadi, seketika amarah langsung hampir menguasai hatinya.
Tanpa menoleh ke arah Gani, Nuri langsung masuk ke dalam rumah kontrakan. Ia tahu Gani mengikutinya masuk, tapi sengaja mengabaikannya karena tidak ingin menambah amarah dalam d**a. Namun, sepertinya usaha dirinya akan sia-sia, karena Gani nyatanya malah duduk di sampingnya seolah sengaja mendekatinya.
"Kamu dari mana, Dek? Mas ada bawakan makanan buat kamu, tapi waktu Mas sampai di rumah kontrakan kamu sudah tidak ada. Jadinya Mas tungguin kamu di depan pintu." Gani bertanya sambil menatap wajah dingin Nuri. Ia tidak mengerti kenapa Nuri sampai memasang wajah seperti ini, karena yang ia ingat tidak ada satu kesalahan pun yang dapat memicu Nuri marah.
Nuri melirik Gani sinis. Sayangnya ia tidak memiliki bukti foto Gani dan wanita lain tengah bermesraan, jadi saat ini belum bisa membuat Gani mengakui siapa wanita itu. Ia sudah tahu watak Gani yang suka mengelak saat disudutkan, kecuali akan menjawab kalau benar-benar sudah tersudut.
Mungkin untuk saat ini Nuri harus mengikuti arus permainan Gani dan mencari tahu segala kemungkinan yang selama ini disembunyikan Gani dai dirinya. Dari awal ia datang, sebenarnya Nuri sudah curiga pada sikap Gani. Mana mungkin uang yang selama ini ia kirim tidak bisa membuat sebuah rumah selesai, bahkan dulu saat awal ia mengirim uang Gani sudah mengatakan akan langsung membangun rumah.
2 tahun bukan waktu yang sebentar, apa lagi Nuri rutin mengirimkan uang untuk membeli cicilan semua bahan bangunan. Masa selama waktu yang lama itu rumah belum jadi juga? Dan juga, ia masih mempertanyakan ke mana motor yang dulu Gani bilang uang kirimannya dibelikan pada motor?
"Habis beli bakso," Nuri menjawab apa adanya.
Untuk saat ini Nuri akan diam sebentar, mempersiapkan diri untuk segala kemungkina yang terjadi. Kalau bisa Nuri mengelu, saat ini hatinya sungguh pilu. Suami yang percayai sepenuh hati ternyata menyimpan sebuah misteri. Kini Nuri jadi bertanya-tanya, siapa perempuan yang waktu dibandara menjawab telpon di ponsel Gani dari dirinya. Jangan-jangan itu adalah perempuan yang ada di ponsel Vanny, perempuan yang berfoto mesra dengan Gani.
Gani meletakan kantong plastik berisi nasi bungkus ke atas tikar, lalu membukanya. Ia menyodorkannya pada Nuri, "makanlah nasi ini, Dek! Bakso kurang baik bagi kesehatan."
Nuri melirik Gani sinis, "kamu ngatai bakso kurang sehat, apa kamu melihat cara pembuatannya? Tidak bukan. Jadi jangan asal bicara, bisa saja apa yang kamu ucapkan barusan membuat hati orang lain sakit hati dan mendoakan kamu yang buruk. Hati-hati dengan lidahmu, Mas!"
Gani mengernyit semakin bingung, masalah bakso saja yang menurutnya sepele bisa membuat Nuri seemosi ini. Sebenarnya Nuri kenapa! Gani mengeram secara internal, frustasi menghadapi Nuri yang tidak bisa ia tahu sabab-musababnya menjadi sesinis ini.
Satu Minggu ini, Nuri akan berencana menyelidiki semuanya. Siapa perempuan itu, bagaimana rumah yang dibangun hasil kiriman uangnya itu, dan tentang semua ucapan Gani yang mengatakan penggusuran ruko yang dibelinya. Sebetulnya masih banyak lagi yang harus Nuri selidiki, tapi untuk saat ini cukup segitu dulu.
Nuri paling tidak suka seorang pengkhianat, karena mengingatkan pada sosok laki-laki yang seharusnya melindungi keluarga tapi malah merusak kelurga itu sendiri.
"Sayang," Gani memanggil pelan dan hati-hati.
Nuri menoleh, menatap Gani dengan pandangan tidak terlalu suka. Kalau sudah memanggil sayang, biasanya Gani selalu menginginkan sesutu dari dirinya. Mungkin bisa hak-nya atau mungkin sesutu berbentuk materi.
"Ada apa, Mas?" Nuri menjawab agak ketus.
Selama semua belum jelas, jangan harap Nuri akan memberikan apa yang Gani inginkan. Mati-matian dia selama 2 tahun kerja di Singapura untuk menjaga hati, karena mau bagaimanapun majikannya itu adalah laki-laki pemikat hati. Nuri berusaha setia, tidak berpindah ke lain hati. Bukannya ia tidak tahu kalau sebenarnya Danu--majikannya itu selalu memperhatikannya dengan tatapan berbeda. Ada sorot sayang dan cinta, tapi Nuri sengaja tak mengacuhkannya karena mengingatkan diri pada sosok laki-laki yang menjadi suaminya di rumah.
Nuri memag memutuskan setia, tapi bila sosok suami yang berusaha ia jaga hatinya malah mendua jadi jangan salahkan Nuri kalau ia membalasnya dengan sama. Nuri bukan wanita baik hati yang rela tersakiti dan menerima dengan ikhlas, tapi Nuri adalah wanita pedendam yang tidak mau sakit hati sendirian.
"Masalah uang modal untuk usaha Mas bagamana, Dek? Mas harus segera buka usaha, bukankah mulai sekarang Adek gak bisa lagi ngirimin uang buat Mas? Jadi mau tidak mau Mas harus mulai usaha agar keuangan kita stabil di masa depan."
"Tentu saja aku akan usaha, Mas. Namun, bukan berarti uangnya akan aku berikan padamu untuk kamu kelola. Sekarang aku sudah ada di sini, jadi mari kita usaha sama-sama. Bukankah itu lebih baik?" Nuri menatap Gani dengan pandangan bertanya. Tentu saja Nuri tidak akan membiarkan Gani menggunakan uangnya lagi, sebelum semua uang yang ia kirim ada bukti keberadaannya.
"Mas hanya gak mau kamu kecapean, jadi biarkan Mas saja yang usaha kali ini. Cukup adek bekerja selama dua tahun di luar negri, mulai sekarang Mas sebagai kepala keluarga yang akan menggantikannya. Mas ingin menebus semua kesalahan Mas selama ini karena tidak becus menjadi suami sekaligus imam yang baik bagimu. Untuk saat ini biarkan Mas dulu yang membangun usahanya, selanjutnya Adek baru boleh ikut campur. Bagaimana, Dek?"
Begitu kekeuh Gani melarang, maka semakin besar pula kecurigaan Nuri. Nuri tetap tidak percaya dengan semua ungkapan Gani barusan. "Tidak perlu Mas, aku bahkan sudah terbiasa bekerja dari kecil. Jadi biarkan kita bangun usaha kali ini sama-sama."
"Tapi--,"
Perkataan Gani langsung terputus begitu mendengar dering telpon, buru-buru Gani mengangkatnya dan berlalu dari hadapan Nuri. Nuri yang melihat wajah Gani yang mendadak pucat menjadi penasaran, bergegas dia mengikuti Gani untuk mendengar obrolannya dengan si penelpon.
"Apa? Sudah pecah ketuban. Ibu tolong bawa dulu ke rumah sakit, nanti biar aku yang nyusul! Masalah biayanya akan aku usahakan, bu."
'siapa yang melahirkan hingga membuat mas Gani sepanik itu?' batin Nuri mendadak tidak tenang.
***