“Key, kamu inget gak gimana moment pertama kita bertemu?” tanya Rony suatu hari ketika kami berjalan beriringan menuju tempat biasa aku mengambil angkot kedua menuju rumah. Tangan kami saling menggenggam tak ada yang ingin melepaskan. “Ehm,” aku terbatuk sesaat, mencoba mengumpulkan memori lama. Memori yang saat itu tidak begitu berarti tapi membuat tertawa geli saat mengenangnya. “Aku malah lebih inget ketengilan kamu seh, dibanding dengan bagaimana saat kita pertama bertemu.” Ada helaan nafas menyayangkan mengiringi perjalanan kami. Disusul air muka rekan jalanku berubah menjadi dingin dan datar. Kecewakah dia? “Kamu marah? Aku kan sudah pernah bilang. Kamu mengusik hatiku itu beberapa bulan belakangan. Memori di kepala aku menyimpan ekstra tentang kamu untuk kejadian-kejadian mula

