Aku kembali ke dunia lambatku yang terasa semakin melambat. Kesedihan di hati sedikit demi sedikit bisa dikaburkan. Orang-orang baik di sekitarku selalu menghibur, tidak pernah meninggalkanku sendirian. Soal Taufan, aku sudah malas berinteraksi dengannya sejak pelemparan kotak bekalku. Aku tidak marah. Tidak juga benci. Hanya saja lebih menerima kalau seperti inilah gaya pertemanan kami. Taufan juga masih sama, suka menghilang. Lalu kembali dengan tanda baru di wajahnya. Mungkin di tubuhnya juga. Berkali-kali kudapati ia meringis menahan nyeri. Tapi aku juga ngeri. Ngeri kalau tiba-tiba memberi perhatian, lalu dia menyentakku lagi. Ngeri jika ikut campur urusan, aku yang malah terseret-seret lagi. Seperti tebakanku di awal, dia sudah sering berkelahi, pasti sudah ahli. Ahli juga untu

