"Diantar siapa?" Pertanyaan terlontar disertai tatapan penuh rasa tidak suka. Sangat membuatku tidak nyaman. "Teman, Pak. Kebetulan ada urusannya dekat sini." Aku menundukkan kepala, juga nada suara. Jelas sekali bahwa kebohongan ini sangat memberatkanku. "Masih ingat peraturan tentang tidak boleh...," "Dia sungguh cuma teman," sergahku penuh penekanan. Lagipula aku memang tidak ada hati dengan Taufan. Hanya nyaman melampiaskan rasa kesal dan masalah yang ada. Hanya teman pelarian saja. "Kenapa telepon sama pesan saya diabaikan?" Deg! Pertanyaan beralih. Lebih berat. Karena aku harus menyiapkan jawaban dusta yang lebih banyak. "Ponsel Key ketinggalan di sekolah. Ini sampai mati." Aku meraih, dan mengulurkan ponsel matiku pada Pak Marcel. Wajahnya masih mengeras, dadanya yang naik t

