Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, juga kantor tempat Pak Marcel menguras tenaga. Kaca jendela naik dengan sempurna setelah sebelumnya diturunkan untuk bertegur sapa dengan beberapa karyawan kantor yang berpapasan. Mobil jalan menyiput. Sepertinya kaki Pak Marcel tidak menginjak tuas gas. Rasanya, jalan kaki lebih cepat daripada putaran ke empat roda mobil miliknya. Membuatku tidak sabaran. Aku kegerahan di antara deru mesin pendingin mobil yang sudah diputar ke parameter sejuk. Cukup untuk melawan pantulan udara panas dari luar. Arah keluarnya angin dingin pun sudah tersorot ke wajah juga tubuh. Tapi tidak pernah cukup membuatku nyaman saat duduk bersebelahan dengan si pengemudi, pemilik kendaraan. Senandung riang juga siulan tak pernah lepas dari wajah cerah Pak Marcel.

