Aksa tertawa mendengar penjelasan Oji bagaimana dia mengerjai Alika kemarin. “Bener yang pernah lu bilang, Alika itu tulalit.” “Kapan gue ngomong?” “Aduh lu pasti lupa. Udah ah nggak usah dibahas. Sumpah gue males. Kayak dejavu.” Oji menyesap rokok dan seketika asap kelabu itu membumbung di udara. “Apa yang mau lu tahu? Gua ceritain asal bukan tentang Alika.” “Kalau tentang Fey?” “Nah itu apalagi, gue juga males.” Padahal Oji hanya sedang menutup rapat perasaannya agar tidak melebar dan membuat orang lain tahu semuanya. “Loh kok gitu sih, terus gue harus tanya tentang apa?” “Ya, apapun kecuali mereka berdua.” Aksa mendengkus. Dia melambaikan tangan pada pelayan kafe. “Arabian satu.” “Gue.” Oji berpikir sejenak untuk memilih kopi apa yang akan dia minum pagi ini. “Americano ajalah

