Red - 42

1703 Words
Saat ini situasi di tengah arena dihebohkan dengan kemunculan puluhan-atau bahkan-ratusan ninja yang berpakaian serba hitam, menutupi seluruh tubuh mereka kecuali daerah sekitar mata. Para ninja itu berdiri secara bergerombol, memenuhi lapangan dengan semua perhatian terfokus pada Paul yang kini sedang ada di tengah-tengah lapangan, mencekik dan mengangkat leher Victor Osvaldo dengan tangan kanannya. Tentu saja, seluruh ninja memandangi Paul dengan tatapan yang sangat tajam sebab saat ini dia sedang menyakiti bos kebanggaan mereka, itulah kenapa masing-masing dari mereka tampak mendesah kesal dan memasang kuda-kuda p*********n, tapi mereka tidak bisa asal menghajar orang lain, karena harus menunggu perintah dari bos mereka, Victor Osvaldo. “Ninja, ya?” Menoleh dan mengamati ninja-ninja yang ada di sekelilingnya, Paul hanya mendengus dengan terkekeh. “Aku baru ingat kalau kau juga punya bawahan sebanyak ini, terakhir kali aku melihat ninja-ninja menjengkelkan ini saat aku digendong dan dibawa pulang dari Kota Sablo ke Kota Swart oleh mereka, setelah menyesaikan masalah Naomi di sana. Aku tidak percaya akan melihat mereka lagi, terlebih sekarang aku menjadi incaran mereka semua,” Paul tersenyum tipis sembari menurunkan tubuh Victor Osvaldo ke permukaan lapangan, kemudian ia melepaskan cekikan tangannya di leher Si Bangsawan Berambut Emas dan membiarkan orang itu beraksi sesukanya. Sebetulnya Paul bisa saja tidak membebaskan Victor dari cekikannya, tapi itu bakal jadi masalah karena saat ini ada banyak ninja yang mengelilinginya, itulah kenapa dia mengambil jalur aman terlebih dahulu dalam menghadapi kejadian ini. Meskipun begitu, Paul tidak melakukan itu karena takut atau merasa terancam oleh kehadiran ratusan ninja tersebut, malah sebaliknya, matanya terbuka lebar dan mulutnya tersenyum lebar. Paul benar-benar gembira menyadari bahwa di sekelilingnya ada banyak bahan untuk dijadikan sebagai tempat pelampiasan kemarahan yang terpendam. Hadirnya ratusan ninja di sekitarnya membuat Paul jadi merasa beruntung, bahkan sangat beruntung, sebab dia tidak bosan lagi karena dia bisa membantai manusia berjumlah banyak di lapangan ini, tanpa harus khawatir dirinnya dimasukkan ke dalam dipenjara. “Hah… Hah… Hah…,” Setelah terbebas sempurna dari cekikan tangan Paul, Victor memegang lehernya dengan terengah-engah, mengambil napas sebanyak mungkin untuk mengisi kesesakan yang sebelumnya dirasakan. Sungguh, dengan ini dia sudah dicekik dua kali oleh Paul, tepatnya setelah kejadian di ruang pembawa acara tempat para gladiator bertanding, di mana pertama kalinya mereka bertemu dan memantik suatu konflik besar. “Aku senang sekali kalau kau masih mengingat mereka, jujur saja, aku terkadang lupa pada keberadaan mereka walau aku tahu, mereka selalu mengintai dan mengikutiku dari kejauhan tiap saat.” “Begitu, kah?” Paul tersenyum miring merendahkan. “Lalu, sekarang kau mau melakukan apa dengan memanggil ninja-ninja setiamu ini?” tanya Paul dengan menaikan sebelah alisnya, tampak tidak peduli dengan kehadiran ninja-ninja hitam itu. “Mengeroyokku? Memburuku? Membunuhku?” Di sisi lapangan, Koko merapatkan dua tangannya, keringat bercucuran di wajah dan tangannya, Si Lelaki Cantik itu terlihat gelisah dan resah, mengkhawatirkan situasi pertandingan yang sedang berlangsung, tepatnya saat ia melihat pasangannya telah memanggil ratusan ninja dan Sang Mentor sama sekali tidak terpengaruh oleh itu, malah sebaliknya, mentornya malah tampak bahagia. Itu aneh. Terlalu aneh. Tapi untuk saat ini, Koko hanya bisa percaya dan berusaha agar ia dan Victor bisa menaklukkan Paul dan lolos ke babak berikutnya, semoga saja begitu, karena akan sangat memalukan jika mereka berdua gagal dalam babak pertama ini, soalnya ini baru permulaan dan tidak mau ketinggalan sesuatu dari teman-temannya yang lain. Menggelengkan kepalanya, Victor memberikan jawaban atas pertanyaan Paul dengan gaya yang santai d an biasa-biasa saja. “Tidak, aku tidak akan langsung memerintahkan mereka untuk membunuhmu, karena aku masih punya perasaan. Aku tahu rasanya dikeroyok oleh banyak orang, apalagi mereka asemua adalah para ninja yang pandai bertarung, itu bisa sangat membahayakan.” “Aku tidak tahu harus kesal atau senang mendengarnya,” kata Paul dengan mengemeletukkan gigi-giginya sekuat mungkin saking gemasnya pada Victor setelah lelaki berambut emas itu mengatakan hal tersebut. “Tapi yang jelas aku tahu kalau sekarang kau sedang meremehkanku,” Paul mengepalkan dua tangannya, keningnya jadi berurat, ia tampak sangat jengkel setelah mendengar perkataan-perkataan Victor barusan. “Jangan kira hanya karena kau punya ‘senjata-senjata hidup’ seperti mereka, aku akan ketakutan dan memilih menyerah, itu sangat mustahil, b******k!” “Apa yang kau bicarakan, Paul?” Victor memiringkan kepalanya, terlihat tidak paham mengapa Paul bisa berkata begitu. “Apakah kau berpikir aku sedang meremehkanmu hanya karena aku punya bawahan-bawahan ninja seperti mereka? Kau salah paham, Paul. Meskipun memang benar aku meminta bantuan pada mereka untuk mengalahkanmu, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk meremehkanmu, aku tidak punya waktu untuk sekedar merasa sombong di sini karena situasinya sedang tidak memungkinkan.” “Tidak memungkinan apa? Kau ini terlalu banyak bicara, jika kau memang ingin mengalahkanku, maka perintahkan mereka semua untuk menyerangku sekarang juga! Aku sudah tidak sabar ingin menghantam dan menghajar mereka! Agar kau bisa tahu kalau aku tidak selemah yang kau pikirkan!” “Kau ini kenapa?” Victor menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak paham mengapa Paul jadi terkesan jengkel padanya. “Sudah kubilang, aku tidak meremehkanmu sedikit pun di sini, Paul. Aku malah takut padamu, dan itulah kenapa aku memanggil ninja-ninjaku agar mereka bisa melindungiku dan bertarung melawanmu.” “Jangan banyak omong! Sudah cepat lakukanlah! Perintahkan mereka untuk menyerangku, Bodoh!” Saat ini situasi di tengah arena dihebohkan dengan kemunculan puluhan-atau bahkan-ratusan ninja yang berpakaian serba hitam, menutupi seluruh tubuh mereka kecuali daerah sekitar mata. Para ninja itu berdiri secara bergerombol, memenuhi lapangan dengan semua perhatian terfokus pada Paul yang kini sedang ada di tengah-tengah lapangan, mencekik dan mengangkat leher Victor Osvaldo dengan tangan kanannya. Tentu saja, seluruh ninja memandangi Paul dengan tatapan yang sangat tajam sebab saat ini dia sedang menyakiti bos kebanggaan mereka, itulah kenapa masing-masing dari mereka tampak mendesah kesal dan memasang kuda-kuda p*********n, tapi mereka tidak bisa asal menghajar orang lain, karena harus menunggu perintah dari bos mereka, Victor Osvaldo. “Ninja, ya?” Menoleh dan mengamati ninja-ninja yang ada di sekelilingnya, Paul hanya mendengus dengan terkekeh. “Aku baru ingat kalau kau juga punya bawahan sebanyak ini, terakhir kali aku melihat ninja-ninja menjengkelkan ini saat aku digendong dan dibawa pulang dari Kota Sablo ke Kota Swart oleh mereka, setelah menyesaikan masalah Naomi di sana. Aku tidak percaya akan melihat mereka lagi, terlebih sekarang aku menjadi incaran mereka semua,” Paul tersenyum tipis sembari menurunkan tubuh Victor Osvaldo ke permukaan lapangan, kemudian ia melepaskan cekikan tangannya di leher Si Bangsawan Berambut Emas dan membiarkan orang itu beraksi sesukanya. Sebetulnya Paul bisa saja tidak membebaskan Victor dari cekikannya, tapi itu bakal jadi masalah karena saat ini ada banyak ninja yang mengelilinginya, itulah kenapa dia mengambil jalur aman terlebih dahulu dalam menghadapi kejadian ini. Meskipun begitu, Paul tidak melakukan itu karena takut atau merasa terancam oleh kehadiran ratusan ninja tersebut, malah sebaliknya, matanya terbuka lebar dan mulutnya tersenyum lebar. Paul benar-benar gembira menyadari bahwa di sekelilingnya ada banyak bahan untuk dijadikan sebagai tempat pelampiasan kemarahan yang terpendam. Hadirnya ratusan ninja di sekitarnya membuat Paul jadi merasa beruntung, bahkan sangat beruntung, sebab dia tidak bosan lagi karena dia bisa membantai manusia berjumlah banyak di lapangan ini, tanpa harus khawatir dirinnya dimasukkan ke dalam dipenjara. “Hah… Hah… Hah…,” Setelah terbebas sempurna dari cekikan tangan Paul, Victor memegang lehernya dengan terengah-engah, mengambil napas sebanyak mungkin untuk mengisi kesesakan yang sebelumnya dirasakan. Sungguh, dengan ini dia sudah dicekik dua kali oleh Paul, tepatnya setelah kejadian di ruang pembawa acara tempat para gladiator bertanding, di mana pertama kalinya mereka bertemu dan memantik suatu konflik besar. “Aku senang sekali kalau kau masih mengingat mereka, jujur saja, aku terkadang lupa pada keberadaan mereka walau aku tahu, mereka selalu mengintai dan mengikutiku dari kejauhan tiap saat.” “Begitu, kah?” Paul tersenyum miring merendahkan. “Lalu, sekarang kau mau melakukan apa dengan memanggil ninja-ninja setiamu ini?” tanya Paul dengan menaikan sebelah alisnya, tampak tidak peduli dengan kehadiran ninja-ninja hitam itu. “Mengeroyokku? Memburuku? Membunuhku?” Di sisi lapangan, Koko merapatkan dua tangannya, keringat bercucuran di wajah dan tangannya, Si Lelaki Cantik itu terlihat gelisah dan resah, mengkhawatirkan situasi pertandingan yang sedang berlangsung, tepatnya saat ia melihat pasangannya telah memanggil ratusan ninja dan Sang Mentor sama sekali tidak terpengaruh oleh itu, malah sebaliknya, mentornya malah tampak bahagia. Itu aneh. Terlalu aneh. Tapi untuk saat ini, Koko hanya bisa percaya dan berusaha agar ia dan Victor bisa menaklukkan Paul dan lolos ke babak berikutnya, semoga saja begitu, karena akan sangat memalukan jika mereka berdua gagal dalam babak pertama ini, soalnya ini baru permulaan dan tidak mau ketinggalan sesuatu dari teman-temannya yang lain. Menggelengkan kepalanya, Victor memberikan jawaban atas pertanyaan Paul dengan gaya yang santai d an biasa-biasa saja. “Tidak, aku tidak akan langsung memerintahkan mereka untuk membunuhmu, karena aku masih punya perasaan. Aku tahu rasanya dikeroyok oleh banyak orang, apalagi mereka asemua adalah para ninja yang pandai bertarung, itu bisa sangat membahayakan.” “Aku tidak tahu harus kesal atau senang mendengarnya,” kata Paul dengan mengemeletukkan gigi-giginya sekuat mungkin saking gemasnya pada Victor setelah lelaki berambut emas itu mengatakan hal tersebut. “Tapi yang jelas aku tahu kalau sekarang kau sedang meremehkanku,” Paul mengepalkan dua tangannya, keningnya jadi berurat, ia tampak sangat jengkel setelah mendengar perkataan-perkataan Victor barusan. “Jangan kira hanya karena kau punya ‘senjata-senjata hidup’ seperti mereka, aku akan ketakutan dan memilih menyerah, itu sangat mustahil, b******k!” “Apa yang kau bicarakan, Paul?” Victor memiringkan kepalanya, terlihat tidak paham mengapa Paul bisa berkata begitu. “Apakah kau berpikir aku sedang meremehkanmu hanya karena aku punya bawahan-bawahan ninja seperti mereka? Kau salah paham, Paul. Meskipun memang benar aku meminta bantuan pada mereka untuk mengalahkanmu, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk meremehkanmu, aku tidak punya waktu untuk sekedar merasa sombong di sini karena situasinya sedang tidak memungkinkan.” “Tidak memungkinan apa? Kau ini terlalu banyak bicara, jika kau memang ingin mengalahkanku, maka perintahkan mereka semua untuk menyerangku sekarang juga! Aku sudah tidak sabar ingin menghantam dan menghajar mereka! Agar kau bisa tahu kalau aku tidak selemah yang kau pikirkan!” “Kau ini kenapa?” Victor menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak paham mengapa Paul jadi terkesan jengkel padanya. “Sudah kubilang, aku tidak meremehkanmu sedikit pun di sini, Paul. Aku malah takut padamu, dan itulah kenapa aku memanggil ninja-ninjaku agar mereka bisa melindungiku dan bertarung melawanmu.” “Jangan banyak omong!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD